TIARA NANDINI

TIARA NANDINI
- Daffa dan Daffi -



Delapan belas tahun kemudian. Anak kembar Tiara dan Satria kini telah berusia delapan belas tahun. Dan hari ini adalah hari pertama mereka masuk kuliah, setelah kegiatan maba selesai dilaksanakan. Mereka kuliah di kampus yang berbeda, yang satu di kampus A dan yang satu di kampus B.


Anak kembar Tiara dan Satria bernama, Daffa Anggara dan Daffi Anggara. Nama Anggara sendiri diambil dari nama belakang Satria. Daffa dan Daffi tumbuh menjadi remaja yang tampan, pintar, dan sopan. Tak heran jika di sekolah, Daffa dan Daffi dikagumi oleh banyak teman perempuan mereka.


Hari ini, Daffa berangkat ke kampus A menggunakan motor sport-nya yang berwarna hitam. Sedangkan motor sport yang digunakan Daffi untuk pergi ke kampus B, berwarna merah.


"Ma, Daffa pamit mau berangkat ke kampus dulu." Daffa mencium punggung tangan Tiara.


"Daffi juga Ma, mau berangkat dulu." Daffi juga mencium punggung tangan Tiara.


"Iya, kalian hati-hati ya dijalan. Di kampus juga jangan bertingkah yang aneh-aneh. Ingat tujuan kalian kuliah untuk apa!" tegas Tiara.


"Emang kita bakal ngelakuin hal aneh apa, Ma?" tanya Daffa sambil mengernyitkan dahinya.


"Iya nih mama ada-ada aja. Kita ini kan anak kembar yang baik, Ma." Daffi merangkul pundak Daffa.


"Eh, papa sudah berangkat ke kantor ya, Ma?" tanya Daffa teringat dengan papanya.


"Iya, tadi waktu kalian persiapan di kamar kalian," jawab Tiara.


"Ya sudah, Ma, kita berangkat dulu ya, wassalamu'alaikum." Daffa menaiki motornya.


"Wassalamu'alaikum, Ma." Daffi juga menaiki motornya.


"Wa'alaikum salam." Tiara menjawab salam kedua anak kembarnya.


Daffa dan Daffi pun melajukan motor mereka ke kampus masing-masing. Jarak kampus Daffa dan Daffi tak terlalu jauh, mungkin akan memakan waktu sepuluh menit jika ditempuh menggunakan motor sport mereka.


Setelah menempuh perjalanan, kini Daffa telah sampai di tempat parkir kampus A. Daffa melepas helm yang ia kenakan, ia juga melepas jaketnya. Tubuh Daffa nampak kekar dengan pakaian yang ia kenakan. Daffa memakai celana jeans panjang dan kaos lengan pendek dengan kerah dibagian lehernya.


Daffa berjalan menuju ke kelasnya. Daffa mengambil jurusan seperti mamanya, yaitu Fakultas Kedokteran Gigi. Daffa belum mengenal siapa pun di kampusnya, ia hanya berkenalan dengan beberapa teman baru saat kegiatan maba. Tapi kini, ia sudah lupa siapa nama-nama mereka.


Tiba-tiba ada seseorang yang memanggil nama Daffa. "Daffa!" teriak seseorang itu.


Daffa pun menoleh ke sumber suara. "Lo panggil gue, Bro?" tanya Daffa pada seorang laki-laki yang memanggil namanya.


"Iya, jangan bilang lo lupa siapa nama gue!" gerutu laki-laki itu.


"Bener banget, gue lupa siapa nama lo. He-he, sorry ya ingatan gue lagi nge-blank." Daffa merangkul bahu laki-laki itu.


"Ah lo nih, pikun! Catet ya! Nama gue Dion!" tegas laki-laki itu.


"Oke-oke, gue catet nih!" Daffa menggerakkan tangan kanannya seperti sedang menulis ditelapak tangan kirinya.


"Ah lo ini, ayo kita kekelas. Kelas kita kayaknya sama." Dion merangkul bahu Daffa dan mengajaknya menuju ke kelas mereka.


Sesampainya di kelas, Daffa dan Dion memilih kursi mereka. Saat itu masih sepi, jadi ia bisa bebas memilih kursi mana yang akan mereka duduki.


"Kita disini aja." Daffa memegang sebuah kursi dibarisan nomor tiga.


"Ya, oke-lah asal bukan barisan paling depan," ucap Dion.


"Selamat pagi!" teriak seorang gadis cantik yang baru masuk kedalam ruang kelas itu. Gadis cantik itu memakai celana jeans panjang, yang dipadukan dengan kaos lengan panjang. Rambut panjangnya ia kuncit satu dibagian tengah belakang.


"Hah, baru ada dua biji orang!" ucap gadis itu.


"Biji? Dikira kita tanaman!" protes Dion.


"Eh, ada Kakak tampan." Gadis itu berjalan menghampiri Daffa.


"Iya, nama kamu siapa, Cantik?" tanya Daffa kepada gadis itu.


"Namaku belahan jiwamu," jawab gadis itu.


"Duh bisa aja, serius ini," ucap Daffa.


"Aku Daffa, sorry nih kita kan bukan mahrom, jadi nggak boleh saling bersentuhan," jelas Daffa.


"Oh tampan sholehku, jadi makin sayang deh sama kamu," ucap Vanessa.


"Sudah, kamu duduk ditempat duduk kamu sana," usir Daffa.


"Aku pengen duduk deket kamu," ucap Vanessa kepada Daffa.


"Emm, gini aja, kamu duduk disamping Dion aja ya. Sudah termasuk deket kan? Cuma jarak satu orang aja kok," ucap Daffa.


"Sebenarnya, satu orang aja tuh udah kayak tembok besar cina," respon Vanessa.


"Kamu jangan berlebihan gitu dong, Nes. Kejam banget, aku disamain sama tembok," ucap Dion sambil cemberut.


"Sabar ya, mungkin sudah takdirmu duduk disamping orang yang kejam sepertiku," ucap Vanessa sambil tertawa.


*


*


*


Disisi lain. Daffi sudah duduk didalam kelasnya di kampus B, ia memilih program kuliah S1 Jurusan Manajemen Bisnis. "Fi, kok ngelamun?" tanya seseorang yang duduk disampingnya. Seseorang itu bernama Mike, ia adalah teman baru Daffi di kampus.


"Kurang minum nih kayaknya aku," jawab Daffi.


"Ya sudah, kita ke kantin dulu yuk, kita beli air mineral dulu," ajak Mike.


"Oke," respon Daffi.


Daffi dan Mike berjalan bersama menuju ke kantin. Tiba-tiba ada seorang gadis yang menabrak Daffi. "Hey, kalau jalan lihat-lihat dong," protes Mike.


"Duh maaf banget." Gadis itu menelungkupkan kedua tangannya didepan dadanya.


"Eh, kamu cantik. Karena kamu cantik, jadi dimaafin deh," ucap Mike.


"Kamu nggak apa-apa? Kenapa kamu lari?" tanya Daffi.


"Hmm itu, aku dikejar sama cowok cupu. Dia bilang jatuh cinta pada pandangan pertama sama aku," jelas gadis itu.


"Eh, nama kamu siapa?" tanya Mike penasaran.


"Namaku Alea, sekali lagi aku minta maaf. Aku pamit, mau masuk kelas dulu." Alea pergi meninggalkan Daffi dan Mike. Ia masuk ke kelas yang sama dengan Daffi dan Mike.


"Eh, dia masuk ke kelas kita, Fi." Mike memandang Alea yang masuk ke kelasnya.


"Iyakah? Berarti sekelas ya sama kita," respon Daffi.


"Suatu kebahagian bisa satu kelas sama cewek cantik," ucap Mike sambil tertawa bahagia.


"Ah, pikiranmu cewek terus! Ayo ah kita ke kantin, keburu kering nih tenggorokannya." Daffi menarik tangan Mike, mereka kembali berjalan menuju kantin kampus.


Sesampainya di kantin, mereka langsung memesan air mineral. "Alhamdulillah," ucap Daffi setelah meneguk air mineralnya.


"Fi, mau camilan nggak?" Mike menyodorkan satu bungkus keripik kepada Daffi.


"Enggak ah, yuk balik lagi ke kelas," ajak Daffi.


"Kok cepet banget sih? Nggak duduk-duduk dulu?" ucap Mike.


"Dosen kita ini katanya galak loh, bisa dipenggal kepala kita kalau telat masuk kelas," jelas Daffi.


"Eh, iyakah? Ya sudah, yuk kita ke kelas." respon Mike. Daffi dan Mike kembali ke kelas mereka, setelah membayar air mineral yang mereka beli. Serem amat sampai dipenggal kepalanya, batin Mike sambil memegangi kepalanya dibagian belakang.