TIARA NANDINI

TIARA NANDINI
Wisuda



Malam hari, Tiara sedang melihat beberapa foto dan video yang dikirim digrup whatsapp, dan grup itu bernama Extraordinary KKN. Foto dan video yang dikirim adalah hasil dari kegiatan KKN di sekolah menengah pertama tadi siang.


Tiara tersenyum melihat foto dan video tersebut, karena didalam video tersebut menggambarkan antusiasme semua siswa dalam mengikuti acara pemeriksaan gigi.


Mereka juga bersemangat dalam mendengarkan materi tentang gigi, yang disampaikan oleh kakak-kakak KKN. Ada siswa yang merekam, mencatat, bahkan meminta file materi tentang gigi.


"Kakak, lagi apa?" Tiba-tiba Salsa membuka pintu kamar.


"Lagi lihat foto, Sa," respon Tiara.


"Wih, kayaknya asyik ya kegiatannya. Pada antusias gitu siswanya." Salsa ikut melihat foto digrup itu.


"Iya, Sa. Aku seneng lihatnya, karena mereka bersemangat banget." Tiara tersenyum kepada Salsa.


"Oh iya Kak, kok Kakak udah lama nggak cerita tentang Kak Tirta dan Kak Aditya? Apa mereka nggak deketin Kakak lagi?" tanya Salsa.


"Aditya dijodohin sama orang tuanya, dia juga dilarang ketemu sama aku. Waktu itu dia telepon aku, dan beritahu semuanya. Kalau aku sih alhamdulillah aja, Sa. Karena aku memang belum kepikiran masalah percintaan."


Tiara menjelaskan kepada Salsa, tentang Aditya yang sudah tak lagi mengejarnya. Sebenarnya Aditya ingin menolak perjodohan itu, tapi orang tua Aditya mengancam akan bunuh diri jika Aditya menolak perjodohan itu.


"Gitu ya. Kalau Kak Tirta, gimana?"tanya Salsa lagi.


"Tirta disuruh pindah kuliah keluar negeri oleh kedua orang tuanya. Dia kuliah di negara kelahirannya, Perancis," jawab Tiara.


"Nggak pamit sama Kakak?" Salsa masih penasaran tentang Tirta.


"Pamit sih, waktu itu aku selesai kuliah. Trus dia nunggu aku didepan kelas. Dia pamit kalau mau pindah kampus, dia nangis gitu. Dia sempat mau peluk aku, tapi aku tolaklah!" Tiara emosi mengingat Tirta yang ingin memeluknya.


"Eh, masa sih sampai nangis?" Salsa membayangkan wajah Tirta yang sedang menangis.


"Iya, Sa," ucap Tiara.


"Ada-ada aja sampai nangis. Eh, Kakak udah makan belum? Kita makan yuk," ajak Salsa.


"Belum sih, yaudah yuk." Tiara meletakkan ponselnya, dan berjalan bersama Salsa keluar kamar menuju dapur.


...***...


Beberapa semester kemudian. Tiara telah melewati beberapa semester yang sedikit sulit, kini Tiara telah selesai dengan skripsinya. Dan satu bulan lagi, Tiara akan melaksanakan wisudanya.


Mama Jihan mulai sibuk mencarikan kebaya untuk Tiara, Mama Jihan membawa Tiara ke beberapa butik ternama. Sebenarnya, Tiara bisa saja membeli kebaya di online shop. Namun, Mama Jihan bersikeras membelikannya kebaya di butik ternama.


"Ra, gimana menurut kamu? Bagus yang mana?" Mama Jihan membawa beberapa kebaya dengan berbagai warna.


"Aku pilih yang ini ya, Ma. Bentar, aku coba dulu." Tiara memilih asal satu kebaya, Tiara ingin segera selesai urusan kebayanya.


"Gimana, Ma? Bagus nggak?" tanya Tiara memperlihatkan kebaya yang ia kenakan.


"Waah ... bagus, Ra. Anak Mama memang paling cantik." Mama Jihan melihat Tiara dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"Alhamdulillah kalau gitu. Yaudah yuk kita bungkus, trus pulang," ajak Tiara.


"Tapi kamu yakin mau yang ini? Apa kamu beli dua aja," ucap Mama Jihan.


Setengah jam kemudian, Tiara dan Mamanya telah selesai mengantri untuk membayar. Keduanya kini sudah berada didalam mobil, Mama Jihan mengendarai mobil keluar dari halaman butik.


...***...


Satu bulan kemudian. Pagi ini Tiara dan keluarganya telah berada di sebuah gedung tempat pelaksanaan wisuda. Tiara telah duduk dibarisan wisudawan, dan keluarganya duduk dibarisan keluarga wisudawan.


Pembukaan acara telah dilakukan, dan kali ini adalah sambutan dari salah satu dosen di kampus itu. Dosen tersebut mengucapkan selamat, kepada seluruh mahasiswa yang telah berhasil lulus.


Dosen tersebut berharap, agar para wisudawan dapat melanjutkan mimpi-mimpinya. Dosen tersebut juga berterima kasih atas kerja keras para mahasiswa, yang telah mendapatkan juara dalam berbagai lomba yang diikuti dengan mengatasnamakan kampus mereka.


Setengah jam kemudian, sambutan pun telah selesai diucapkan. Dan kini, adalah acara inti. Satu-persatu wisudawan dipanggil untuk naik keatas panggung. Tiara mendapatkan urutan ke dua puluh.


Setelah beberapa saat, nama Tiara pun dipanggil. Tiara segera melangkahkan kakinya menuju panggung. Kini, Tiara telah mendapatkan toga dan ijazahnya. Setelah itu, Tiara berjabat tangan dengan beberapa dosen yang berada di atas panggung.


Tiara berfoto sejenak dengan beberapa dosen, setelah itu Tiara turun dari panggung wisuda. Tiara menuju ke tempat duduknya semula. Tiara merasa lega, karena hari yang ia tunggu akhirnya datang juga.


Setelah beberapa jam, acara wisuda telah selesai. Tiara berfoto dengan teman-temannya dan juga keluarganya. Karena ada pertemuan antar mahasiswa yang memenangkan perlombaan atas nama kampus, akhirnya keluarga Tiara kembali terlebih dahulu.


Kini, Tiara dan beberapa teman lainnya telah berada di sebuah restoran. Mereka berangkat bersama menggunakan sebuah bus, bus itu secara khusus disewa oleh pihak kampus.


Karena acara di restoran kali ini sudah direncanakan. Jadi, Tiara telah membawa pakaian ganti yang tidak terlalu formal. Tiara telah mengganti kebayanya di gedung wisuda tadi, sebelum berangkat ke restoran.


"Ra, kamu mau duduk dimana?" tanya Rindu, ia adalah mahasiswa yang memenangkan perlombaan catur.


"Situ aja yuk!" ajak Tiara menuju ke meja dekat kasir.


"Oke," respon Rindu.


"Hei-hei, aku boleh gabung disini nggak?" tanya Adi, Adi adalah mahasiswa yang memenangkan perlombaan panjat tebing.


"Boleh," jawab Rindu. Sementara Tiara, tak mengucapkan sepatah-katapun.


"Terima kasih Rindu," ucap Adi.


"Ra, kamu mau pesen apa?" tanya Adi kepada Tiara.


"Aku sama Rindu tadi udah pesen sama pelayannya," jawab Tiara.


"Gitu ya. Eh, aku ke toilet dulu ya." Adi pergi meninggalkan Tiara dan Rindu.


"Ndu, kita cari tempat lain yuk," ajak Tiara pada Rindu.


"Trus pesenan kita gimana?" tanya Rindu.


"Kita ke lantai atas aja, nanti bilang sama pelayanannya, supaya antar pesanan kita kesana." Tiara mengajak Salsa ke lantai atas. Sebelum itu, Tiara telah memberitahu kepada pelayan restoran.


"Okelah, Ra." Rindu mengikuti Tiara naik ke lantai atas.


Beberapa saat kemudian, Adi telah kembali dari toilet. Adi heran, karena ia tak melihat Tiara di meja yang tadi. Adi berjalan kesana-kemari mencari Tiara, namun hasilnya nihil. Entah mengapa, ia tak berpikir untuk mencari Tiara di lantai atas. Akhirnya, Adi duduk bersama dengan Tio.


Dua jam berlalu, acara makan-makan di restoran telah selesai. Acara itu memang dikhususkan untuk para pemenang lomba yang mewakili kampus. Dan sebelum pulang, masing-masing mahasiswa diberi amplop yang berisi uang sebagai hadiah khusus dari pihak kampus.