TIARA NANDINI

TIARA NANDINI
Liburan



Malam hari. Tiara sedang berada di ruang tamu, beserta kedua orang tua dan juga kedua saudaranya. Tiara mendapatkan hadiah dari keluarganya, hadiah itu diberikan atas keberhasilan Tiara mendapatkan gelarnya.


"Semoga kamu suka hadiah dari Mama ya, Sayang." Mama Jihan memberikan sebuah kotak dengan bungkus berwarna merah muda, kepada Tiara.


"Terima kasih ya, Ma." Tiara tersenyum pada Mamanya.


"Hmm, kamu mau kado apa dari Papa? Maaf ya, Ra. Papamu ini belum membelikan hadiah untuk kamu," ucap Papa David dengan sedih.


"Tidak apa, Pa. Tiara bakal terima apapun pemberian dari Papa," respon Tiara dengan seulas senyum.


"Aku juga belum beli hadiah ini, Ra. Maaf ya," ucap Chandra.


"Nggak apa-apa, Kak," respon Tiara.


"Kalau hadiah Salsa, pasti Kakak suka." Salsa memberikan sebuah kotak dengan bungkus warna merah darah.


"Duh, warna bungkusnya kok serem. Isinya serem nggak ya?" tanya Tiara.


"Enggak serem kok isinya," jawab Salsa.


"Papa punya ide! Gimana kalau besok pagi kita liburan ke Puncak Bogor. Pasti seru!" ucap Papa David dengan semangat.


"Puncak Bogor? Boleh-boleh, Pa. Udara disana pasti masih sejuk, dan bakal banyak pemandangan indah disana." Tiara bersemangat mendengar ide dari Papanya.


"Asyik, kita liburan!" Salsa bersemangat dan mengangkat tangan kanannya keatas.


"Kalau gitu, kita siap-siap dulu buat besok," ucap Chandra.


"Iya-ya. Yaudah, sekarang kita masuk ke kamar masing-masing buat persiapan barang pribadi."


Mama Jihan mengajak semua orang di rumahnya, untuk melakukan persiapan untuk esok hari. Karena, jarak rumah ke Puncak Bogor akan memakan waktu sekitar dua jam setengah. Mereka pun berencana berangkat lebih awal.


...***...


Keesokan harinya. Pada pukul enam pagi, Tiara dan keluarganya sudah berada didalam mobil. Mereka hanya membawa beberapa camilan, dan berencana sarapan dijalan yang akan mereka lewati nanti.


"Sudah siap semua?" tanya Papa David.


"Siap!" seru semua orang yang berada didalam mobil.


"Kita berangkat ya, bismillah." Papa David mulai menjalankan mobil.


"Bismillahirrahmanirrahim, semoga lancar selamat sampai tujuan," ucap Tiara.


"Aamiin ...," jawab semua orang yang berada didalam mobil.


"Aku udah nggak sabar pengen sampai sana. Pengen menikmati udara yang sejuk, nggak kayak udara di Jakarta yang gersang," celoteh Salsa.


"Sama, Sa. Mama pengen berfoto dikebun teh, pasti cakep hasilnya." Mama Jihan membayangkan dirinya yang sedang berfoto disekitar perkebunan teh.


"Pada halu aja," ucap Chandra sambil memainkan ponselnya.


"Biarin! Eh, Kak. Gimana perasaannya kerja di rumah sakit? Pasti bau obat ya?" tanya Salsa.


"Ya gitulah, dienakin aja. Kalau bau obat itu ya ditempat tertentu, nggak disemua tempat kok," jawab Chandra.


"Aku dah nggak sabar pengen kerja di rumah sakit juga kayak kamu, Kak." Tiara membayangkan dirinya yang sedang memeriksa kesehatan gigi, kepada para pasiennya di sebuah ruang praktik.


"Besok Kakak tanyain ke pihak rumah sakit deh, ada lowongan buat dokter gigi apa nggak?" ucap Chandra yang masih memainkan ponselnya.


"Baik, Kak. Terima kasih banyak ya," ucap Tiara.


"Oke Ra," respon Chandra.


"Tumben kamu anteng, Ndra? Biasanya paling rame dimanapun tempatnya. Lagi ada masalah?"


Mama Jihan merasa sedikit aneh dengan sikap Chandra, yang terlihat tak seperti biasanya. Walaupun mungkin itu lebih baik. Tapi, Mama Jihan takut jika Chandra sedang ada masalah pribadi dan tidak berbagi cerita ke keluarganya.


" Enggak kok, Ma," jawab Chandra tanpa ekspresi.


"Kita sarapan dulu ya, ayo turun!" Papa David membuka pintu mobil, lalu merenggangkan otot-otot tubuhnya.


"Baik, Pa," ucap Tiara.


"Huaaa ...," Salsa menguap, dia baru saja bangun dari tidurnya.


"Kita cuci muka dulu yuk, Sa." Tiara mengajak Salsa ke sebuah wastafel, yang letaknya tak jauh dari toilet di rumah makan itu.


"Oke, Kak," respon Salsa.


Setelah mencuci muka, Tiara dan Salsa menuju kedalam rumah makan itu. Tiara dan keluarganya memesan makanan, sesuai dengan selera mereka masing-masing.


"Hmm, enak ini ayam bakarnya," ucap Tiara.


"Iya Kak, bener. Inimah the best !" Salsa juga memesan makanan yang sama seperti pesanan Tiara, yaitu ayam bakar.


"Kalau Mama sama Papa sehati kali ini, kami memesan lele bakar." Papa David menggoyangkan ekor lele yang dia pesan.


"Apaan sih Papa? Malah buat mainan! Udah-udah makan lagi." Mama Jihan melanjutkan makannya.


Sementara Chandra hanya diam menikmati makanan yang ia pesan, ia seperti sedang memikirkan sesuatu, tapi entah apa yang sedang ia pikirkan. Kedua orang tua dan juga saudara Chandra, hanya menatap Chandra dengan heran.


Satu jam berlalu. Kini, perjalanan akan dilanjutkan. Karena Papa David telah lelah, Papa David meminta Chandra untuk mengemudikan mobil kali ini.


Selama perjalanan, hanya ada percakapan antara Mama Jihan dan kedua putrinya. Chandra hanya diam saat mengemudi, sedangkan Papa David tertidur karena kekenyangan.


Satu jam setengah kemudian, mobil yang dikemudikan Chandra telah sampai didepan sebuah penginapan yang berada di Puncak Bogor. Papa David membangunkan Tiara, Mama Jihan, dan juga Salsa. Kebetulan, saat itu mereka sedang tertidur.


"Bangun ... bangun! Sudah sampai," ucap Papa David mengejutkan Mama Jihan dan kedua putrinya.


"Udah sampai ya, Pa?" tanya Tiara.


"Sudah, Ra," jawab Papa David.


"Huaaa, kok udah sampai? Aku kan pengen lihat pemandangan sebelum sampai penginapan." Salsa merasa kecewa karena dia tertidur.


"Udah Sa, nggak apa-apa. Nanti kita keliling pakai mobil." Mama Jihan berusaha menenangkan Salsa.


"Hore! Yaudah yuk kita masuk ke penginapan dulu," ajak Salsa.


"Oke, Sa," respon Tiara.


Tiara dan keluarganya turun dari mobil, mereka masuk kedalam penginapan dan melakukan pendaftaran di resepsionis. Setelah mendapatkan kamar, mereka masuk kedalam kamar mereka.


Papa David memesan dua kamar dengan ranjang yang besar. Kamar yang satu akan ditempati oleh Papa David dan Chandra. Sedangkan kamar yang lainnya akan ditempati oleh Mama Jihan dan kedua putrinya.


Setelah cukup beristirahat, Papa David mengajak keluarganya untuk berkunjung ke sebuah perkebunan teh. Sepanjang perjalanan, mereka menikmati pemandangan yang asri dan udara yang sejuk.


"Sejuk banget udaranya, pemandangannya juga indah," ucap Salsa sambil melihat sekeliling dari dalam mobil.


"Iya, Sa," respon Tiara.


"Jadi pengen deh punya rumah disini." Salsa membayangkan dirinya sedang bangun tidur disebuah rumah panggung diantara perkebunan teh.


"Beneran? Aku do'ain deh kamu dapat jodoh orang sini. Gimana?" ucap Tiara sambil menaik-turunkan alisnya.


"Enggak ah Kak, takutnya jarang sinyal. Repot kalau nggak bisa buka laptop sama ponsel." Seketika wajah Salsa berubah, dari yang girang menjadi lesu.


"Iya juga sih," ucap Tiara.


Setelah beberapa saat, mobil yang mereka naiki telah sampai didepan gapura yang bertuliskan perkebunan teh cinta. Tiara dan keluarganya turun dari mobil, mereka membawa beberapa barang pribadi mereka.


Papa David menuju ke tempat pendaftaran, dia membayar tarif masuk ke perkebunan teh. Tarif masuk per orang adalah lima belas ribu. Saat berada di perkebunan teh, para pengunjung diminta untuk menjaga kebersihan.


Tiara dan keluarganya mulai memasuki gapura, jarak gapura dengan perkebunan teh sekitar lima menit jika berjalan kaki. Setelah sampai, Mama Jihan dan kedua putrinya mengambil banyak foto.


Papa David terlihat sedang berbincang dengan beberapa pekerja laki-laki di perkebunan teh, sedangkan Chandra hanya terdiam sambil berjalan menyusuri perkebunan teh disana.