TIARA NANDINI

TIARA NANDINI
Semangat baru



Kelas telah berakhir. Kini, Tiara dan Chika sedang berada di kantin sekolah. Mereka menunggu kedatangan Reno. Karena Reno tak kunjung datang, Chika pun mengirim pesan kepada Reno.


"Ra ... aku WhatsApp Kak Reno dulu ya." Chika mulai mengetik pesan untuk Reno.


"Oke, Chik," ucap Tiara.


Chika :"Kak, aku sama Tiara udah di kantin, kak Reno cepet ke sini ya, kita tunggu"


Ting ... handphone Reno berbunyi. Reno pun mengambilnya, dan membalas pesan yang masuk.


Reno : "Oke, Chik, aku otw ya."


Lima menit kemudian, Reno sudah sampai di kantin sekolah. Ia berjalan mencari keberadaan Tiara dan Chika. Tak lama, ia pun menemukan mereka.


"Sini Kak, nyemil dulu." Chika menyodorkan camilan ke arah Reno, Reno pun mengambilnya.


"Ra, kamu mau cerita apa, udah ada Kak Reno juga nih." Chika memandang Tiara.


Tiara mengingat kejadian tadi malam, ketika pak Dadang dan bu Dira datang ke rumahnya. Tiara menceritakan rencana mereka menjodohkan dirinya dengan anak mereka, jika dia tak mampu membayar hutang yang dikatakan mereka.


Brakkkkkkkk


Tampak Reno menggebrak meja sambil berdiri, Tiara dan Chika kaget akan respon Reno. Semua orang yang berada di kantin pun memandang ke arah suara keras itu.


"Ra ... mereka pasti bohong! Mereka cuma pengen jadiin kamu pembantu buat nggurus anaknya itu." Wajah Reno memerah karena emosi.


"Kamu tenang aja, aku bakal bantu kamu nggurus ini." Reno bergegas meninggalkan Tiara dan Chika.


"Ya udah yuk, Ra, kita pulang dulu, semoga Kak Reno ada cara buat bantu kamu." Chika mengajak Tiara pulang, tak lupa dia membayar dahulu apa yang dia beli di kantin.


"Iya ,Chik. Makasih ya udah dengerin curhatan aku." Tiara menoleh ke arah Chika, Chika hanya menganggukkan kepalanya.


...***...


Malam hari di kamar Tiara. Tiara sudah membersihkan diri, dan bergegas menuju tempat tidur.Tiara melihat handphone sekilas, lalu meletakkan kembali di atas meja.Tiara pun terlelap dalam tidurnya.


Jam setengah lima pagi. Alunan nada berdering, nada itu adalah alarm di handphone Tiara, Tiara yang mendengarnya pun langsung terbangun.


"Kenapa ya mataku berair?" Tiara mengusap air matanya.


"Aku ingat, tadi malam aku bermimpi bertemu bapak dan ibu." Tiara bermonolog.


Tiara mengingat di dalam mimpinya itu, orang tuanya berpesan, agar Tiara tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Tiara harus semangat belajar dan mengejar mimpi-mimpi nya.


Tiara beranjak dari tempat tidurnya, lalu mengambil air wudhu, dan melaksanakan ibadah sholat shubuh. Setelah selesai sholat, ia memasak untuk ia sarapan. Setelah itu ia melakukan rangkaian kegiatan sebelum ia berangkat sekolah.


Kini, Tiara sudah siap untuk bersekolah. Mimpinya tadi malam, seperti suntikan energi bagi Tiara. Tiara pun kini lebih bersemangat dan ceria memulai hari.


Tiara berjalan keluar rumah, di depan rumah ternyata sudah ada Chika yang menunggunya. Semenjak orang tua Tiara meninggal, Chika selalu menghampiri Tiara ke rumahnya, saat akan berangkat ke sekolah.


"Udah lama, Chik?" Tiara menghampiri Chika.


"Baru aja dateng, yuk berangkat!" Chika berjalan bersama Tiara menuju tempat pemberhentian angkutan umum.


Setelah berjalan beberapa menit, mereka telah sampai di tempat pemberhentian angkutan umum. Tak lama setelah itu, angkutan umumnya telah tiba. Tiara dan Chika pun segera masuk kedalam angkutan umum.


Setelah menempuh perjalanan. Angkutan umum itu telah sampai di depan sekolah Tiara dan Chika. Kedua gadis itu pun turun, lalu memberikan beberapa lembar uang kepada sopir angkutan umum itu.


"Ra ... Tiara ...." Reno memanggil Tiara.


"Ada apa, Kak?" Tiara memandang Reno.


"Aku udah ada bukti, kalau pak Dadang dan bu Dira itu bohong masalah hutang 50 juta." Reno memutar rekaman yang menyatakan kalau pak Dadang dan bu Dira berbohong.


"Kamu nggak perlu tau gimana caranya aku cari bukti ini, yang penting masalahnya udah selesai, kamu jangan sedih lagi ya," ujar Reno.


Ada perasaan cemburu di hati Chika, ketika melihat perhatian Reno terhadap Tiara. Namun, Chika segera membuang perasaan itu. Chika tau jika Reno suka dengan Tiara, tapi Tiara hanya menganggapnya sebagai seorang kakak. Chika tidak ingin menggunakan cara kotor untuk mendapatkan hati Reno.


"Terima kasih, Kak." Tak terasa, Tiara meneteskan air matanya.


"Sudah ... sekarang kamu jangan sedih-sedih lagi, kamu yang semangat. Katanya kamu mau kuliah di universitas terbaik, kamu harus mulai jadi yang terbaik dari sekarang." Reno menyemangati Tiara.


"Kamu juga Chik, yang semangat belajarnya, katanya kamu pengen kuliah satu universitas sama Tiara." Reno menoleh ke Chika.


"Oke, Kak. Aku akan semangat!" Semangat belajar Chika kini telah penuh, karena perkataan dari Reno.


...***...


Tiara bangkit dari keterpurukannya, hari-harinya disibukkan dengan belajar dan sibuk mengikuti kegiatan OSIS juga PRAMUKA. Tak terasa, waktu berlalu dengan sangat cepat.Kini, Tiara telah duduk di bangku kelas XII IPA 1. Saat ini, Tiara dan Chika sedang berada di taman sekolah.


"Ra ... setelah lulus nanti, kamu udah ada pandangan belum mau kuliah di universitas mana?" Chika mencari tempat duduk di sekitar taman sekolah.


"Pengennya sih di UGM, Chik. Kalau kamu?" Tiara mengikuti langkah Chika.


"Kalau aku sih ngikut kamu, pilihan kamu kan pasti terbaik." Chika mengacungkan ibu jarinya ke arah Tiara.


"Bisa aja kamu, Chik." Tiara menepuk bahu Chika pelan.


"Oh iya, kak Reno kuliah di UGM juga kan?" Chika teringat Reno yang kini tidak lagi satu sekolah dengannya.


"Iya, Chik." Tiara menganggukkan kepalanya.


"Makanya kita semangat belajarnya, biar nanti bisa masuk UGM, tiga bulan lagi kita kan ujian Chik, semoga kita semua lulus dan dapat nilai yang bagus." Tiara menyemangati Chika.


Aamiin." Chika mengamini do'a Tiara.


...***...


Tiga bulan berlalu. Hari ini adalah hari pertama ujian dilaksanakan, para murid membawa kartu ujian mereka masing-masing dan segera masuk ke ruang ujian. Pengawas ujian pun membagikan lembar soal, dan lembar jawaban kepada pada murid.


Tiara mulai membaca soal ujian, lalu mengerjakan soal yang mudah terlebih dahulu. Taka ada suara di ruang ujian, selain suara pengawas yang sesekali memberi arahan kepada para murid yang berkaitan dengan ujian.


Hari-hari di lalui para murid dengan serius, Ujian Nasional hanya di laksanakan selama empat hari. Tiga hari ujian telah berlalu, dan hari ini adalah hari terakhir pelaksanaan ujian.


"Akhirnya, hari ini hari terakhir ujian ya, Ra. Nanti selesai ujian, kita main ke rumah kak Reno yuk, aku kangen sama Cindy," ajak Chika.


"Oke, Chik." Tiara mengiyakan ajakan Chika.


Para murid pun masuk ke ruang ujian masing-masing, setelah lonceng berbunyi.


Seperti hari-hari kemarin, para murid mengerjakan soal ujian dengan tenang. Sesekali pengawas berkeliling di dalam ruang ujian.


Setelah beberapa jam, ujian pun telah selesai dilaksanakan, seluruh murid berjalan keluar dari ruang ujian. Para pengawas juga telah meninggalkan ruang ujian.


"Huaaaa ... akhirnya selesai juga," kata salah satu siswa yang baru keluar dari ruangan.


Tiara yang baru keluar dari ruangan, menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari keberadaan Chika. Tiara menghampiri ke ruang ujian Chika, tapi Chika sudah tidak ada.


"Coba aku WhatsApp dulu deh." Tiara mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.


Tiara :"Chik, kamu di mana? Aku cari kamu di ruang ujian kamu, tapi kamu udah nggak ada".


Chika :"Sorry Ra, tadi aku sakit perut, ini baru keluar dari toilet. Kamu tunggu aku di taman sekolah ya."


Tiara :"Oke."