
Seratus hari telah berlalu, bapak dan ibu Tiara telah pergi meninggalkannya sendirian. Hari-hari Tiara dia lewati dengan hampa. Bahkan kini, dia menjadi seseorang yang pemurung.
Tiara melakukan kegiatannya sebagai siswi kelas XI IPA 3, setelah kepergian orang tuanya, Tiara menjadi tak bersemangat untuk belajar. Bahkan nilainya pun menurun, para guru menyadari akan hal ini.
"Ra ... kamu di panggil guru ke kantor," kata salah satu temannya.
"Oke ... makasih ya." Tiara berjalan pelan menuju kantor guru di sekolahnya.
Tok ... tok ... tok.
"Masuk." Seseorang di balik pintu, mempersilahkan Tiara untuk masuk.
"Duduk disituTiara." Orang itu menunjuk kursi didepannya.
"Baik, Bu." Tiara pun duduk.
"Tiara ... Ibu tahu kesedihan kamu karena kehilangan orang tua kamu. Tapi, kamu harus bangkit, Nak," ucap orang itu. Orang itu adalah Bu Reni, wali kelas Tiara.
"Nilai kamu menurun drastis. Jika seperti ini terus, maka beasiswa kamu bakal di cabut oleh pusat." Bu Reni memperlihatkan nilai-nilai Tiara yang menurun drastis.
Tiara belum menjawab, dia masih tertunduk lesu.
"Bu Reni sudah diperingatkan oleh pusat, jika dalam waktu 2 minggu ini nilai kamu masih kurang baik, terpaksa beasiswa kamu bakal diberhentikan." Bu Reni menambahkan kata-katanya.
"Baik, Bu. Tiara akan berusaha bersemangat lagi dalam belajar," Tiara pun mulai merespon perkataan Bu Reni.
"Ya sudah, kamu kembalilah ke kelas, semangat ya!" Bu Reni tersenyum kepada Tiara.
"Baik, Bu," Tiara membalas senyum Bu Reni, lalu pergi meninggalkan kantor guru.
...***...
Tiara sedang berada di dalam kelas X5. Dia terdiam, dia masih memikirkan perkataan bu Reni tadi. Tiara kebingungan, apa yang harus dia lakukan? Apakah harus menyerah? Atau bangkit dan mewujudkan mimpi? Pertanyaan-pertanyaan itu, seperti berputar-putar dikepalanya.
"Kamu gak papa, Ra?" tanya Reno dan Chika bersamaan.
Reno dan Chika berlari menuju ke kelas X5, setelah mendengar jika Tiara dipanggil untuk menghadap ke ruang guru.
"Gak papa ... nilaiku menurun akhir-akhir ini. Kata Bu Reni, beasiswaku bakal dicabut kalau nilaiku belum membaik," Tiara menjawab dengan lesu.
Reno dan Chika terdiam, mendengar ucapan Tiara. Tiba-tiba, Reno mendapatkan sebuah ide untuk menghibur Tiara.
"Ra ... nanti kita jalan-jalan yuk ke pantai. Kebetulan aku bawa mobil, nanti kita bertiga bareng ke pantai, nanti aku ajak Cindy juga ya." Reno berusaha mencairkan suasana. Reno ingin menghibur Tiara.
"Kak Reno pasti mau ngibur Tiara," pikir Chika dalam hati.
"Iya yuk, Ra. Kita kan dah lama nggak jalan-jalan ke pantai." Chika ikut membujuk Tiara.
Tiara melihat ke arah dua temannya secara bergantian, lalu menyetujui untuk ikut mereka. Tiara berpikir, mungkin dengan refreshing sebentar, akan menjernihkan pikirannya.
"Tapi, nanti aku jemput Cindy dulu ya di sekolahnya." Reno mengeluarkan ponselnya untuk mengabari Cindy.
...***...
Setelah menempuh perjalanan, Reno, Tiara, Cindy, dan Chika telah sampai di pantai. Mereka berjalan menyusuri tepi pantai, setelah cukup lelah ketiga gadis itu beristirahat. Sedangkan Reno lari entah kemana.
"Kak Tiara ... Kak Chika ... aku bawain minuman nih biar seger." Cindy baru saja kembali membeli minuman dingin.
"Makasih, Cin," ucap Tiara dan Chika bersamaan.
"Sama-sama, Kakak." Cindy tersenyum manis.
"Kak Reno kemana ya, Cin?" Chika mencari sosok Reno.
"Gak tau, Kak." Cindy menoleh kekanan dan kekiri mencari keberadaan Reno di sekitar pantai.
"Eh, itu bukannya Kak Reno ya?" Cindy menunjuk ke arah permainan flying fox.
Tiara dan Chika menoleh ke arah yang di tunjuk Cindy. Dan benar saja, jika Reno sedang menaiki wahana itu.
"Keren ... pengen naik, tapi takut." Cindy memuji Kakaknya.
Setelah beberapa saat, Reno pun selesai naik wahana permainan flying fox, kemudian dia menghampiri ketiga gadis itu.
"Kak Reno keren!" Cindy mengacungkan dua jempol kepada Kakaknya.
"Iyalah ... siapa dulu ...." Reno membanggakan dirinya.
Sebenarnya, Reno ingin mengajak ketiga gadis itu untuk naik flying fox, tapi mereka takut ketinggian. Reno pun mengurungkan niatnya.
Tiara masih seperti biasa, lebih banyak diamnya, seperti mayat hidup. Reno pun mengiyakan ajakan Tiara, mereka berempat bergegas pulang.
...***...
Malam hari. Tiara sedang memakan seiring nasi, dia melihat kursi lain di meja makan. Lagi-lagi dia menangis,teringat akan orang tuanya.
Tok ... tok ... tok.
Ketukan pintu membuat Tiara tersadar dari tangisannya. Tiara beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu utama di rumahnya.
"Siapa?" Tiara membuka pintu.
"Pak Dadang dan Bu Dira, ada apa ya?" Tiara melihat ke kedua tamunya.
"Kamu nggak mempersilahkan kami masuk dulu?" tanya Bu Dira.
"Baik, silahkan masuk. Pak ... Bu ...." Tiara menunjuk ke ruang tamu.
"Langsung saja! Tiara, orang tua kamu punya hutang sama saya, kamu harus membayarnya!" gertak Pak Dadang memperjelas maksud kedatangannya.
"Benarkah, Pak? Berapa ya hutangnya?" Tiara keheranan, karena orang tuanya tidak terbiasa dengan berhutang.
"Hutangnya lima puluh juta," Pak Dadang menjawab dengan yakin.
"Nggak mungkin, Pak. Orang tua saya tidak terbiasa dengan berhutang." Tiara terkejut dengan penuturan Pak Dadang.
"Kamu kira saya berbohong? Saya nggak mau tau, kamu harus mengganti orang tua kamu untuk membayar hutangnya. Kalau kamu tidak mau, kamu harus mau dinikahkan dengan anak saya, Asep." Pak Dadang beranjak dari tempat duduknya, dan berlalu meninggalkan rumah Tiara bersama Bu Dira.
Asep, seketika dia teringat dengan teman masa kecilnya dulu.Waktu umur sembilan tahun, dia mengalami kecelakaan yang menyebabkan kerusakan otaknya. Setelah Kecelakaan itu, Asep bertingkah seperti anak yang berumur dua tahun.
...***...
Di dalam kamar Tiara. Tiara merenungi keadaannya, dia merasa tekanan hidup datang silih berganti setelah kepergian orang tuanya. Tiara pun terlelap dalam pikirannya.
Alarm diponsel Tiara berbunyi,menandakan pukul setengah lima dini hari. Tiara segera bergegas untuk menunaikan sholat subuh, lalu bersiap-siap pergi ke sekolah.
"Ra ... Tiara ..., kamu udah siap belum?" Chika telah sampai di depan rumah Tiara.
"Masuk Chik, aku lagi sarapan." Tiara membuka pintu rumahnya.
"Kamu udah sarapan belum? Sarapan bareng aku ya." Tiara hendak mengambilkan sarapan untuk Chika.
"Udah Ra ... tadi udah kok di rumah." Chika menghentikan tangan Tiara yang hendak mengambilkan sarapan untuknya.
"Yaudah ... tunggu aku bentar ya." Tiara segera menyelesaikan sarapannya.
"Oke," respon Chika. Setelah selesai persiapan, Tiara dan Chika bergegas berangkat ke sekolah.
...***...
Kini, Chika dan Tiara telah sampai di gerbang sekolah. Mereka berjalan bersama memasuki halaman sekolah mereka. Keadaan halaman waktu itu sudah ramai, dengan kedatangan para siswa dan siswi.
"Chik, nanti pulang sekolah aku mau cerita sama kamu, sama Kak Reno juga." Tiara menatap Chika dengan serius.
"Kamu nggak papa kan, Ra?" Chika memegang kedua pundak Tiara dan menatap wajah Tiara dengan serius.
"Aku lagi ada masalah, aku mau minta saran kamu sama kak Reno," ucap Tiara.
"Yaudah, nanti kamu cerita sama aku dan Kak Reno."
Chika merangkul bahu Tiara, lalu mereka melangkahkan kaki menuju ke kelas mereka. Chika dan Tiara mengobrol dengan asyik, sampai tak terasa jika lonceng masuk pun berbunyi.
Teng ... teng ... teng.
"Wah lonceng udah bunyi, Ra. Kita masuk kelas dulu yuk!" ajak Chika, lalu melangkah ke arah kelas masing-masing.
"Iya, Chik," respon Tiara.
"Ra, di kelas kamu ada anak pindahan katanya ya?" tanya Chika lalu menoleh ke arah Tiara.
"Katanya sih iya, aku belum liat juga sih," jawab Tiara tanpa melihat ke arah Chika.
"Nanti cerita-cerita ya, orangnya gimana." Chika mulai dengan mode bergosipnya.
"Apaan sih kamu Chik? Tukang gosip!" Tiara melirik ke arah Chika, Chika hanya tertawa mendengar perkataan Tiara.