TIARA NANDINI

TIARA NANDINI
Pembalasan Tirta



Pagi hari.


Hari ini seperti biasa, Tiara telah berada di kampus nya. Dia dan semua teman sekelas nya, sedang belajar di ruang praktik Fakultas Kedokteran Gigi.


Disisi lain, terlihat Tirta yang sedang menunggu Tiara di luar ruang praktik. Setelah setengah jam menunggu, akhirnya Tiara keluar dari ruang praktik itu. Tiara terkejut saat melihat Tirta, Tiara pura-pura tidak melihatnya dan melewati Tirta.


"Ra, kamu pura-pura nggak kenal aku ya?" Tirta bertanya sambil memegang tangan Tiara.


"Tolong ya, jangan sembarangan pegang-pegang!" kata Tiara "oh iya, kamu jangan deket-deket sama aku. Nanti pacar kamu marah." Imbuh Tiara.


"Pacar? Aku nggak punya pacar. Siapa yang berani ngaku-ngaku?" tanya Tirta sambil berpikir, siapa orang yang berani mengaku sebagai pacarnya.


"Aku nggak tau, nggak kenal. Yang aku ingat rambutnya pirang." Jawab Tiara.


Sejenak Tirta berpikir, saat mendengar nama pirang ia teringat oleh Chelsea.


"Oh si Nenek Lampir ya? Udah nggak usah percaya, dia itu emang ngejar-ngejar aku, tapi aku nggak suka sama dia." Ucap Tirta di akhiri dengan senyuman.


"Aku nggak perduli, itu bukan urusan aku. Dan kamu tau? Dia nyiram kepalaku dengan segelas lemon tea yang dingin. Dia pikir aku pelet kamu, supaya kamu deketin aku. " Ucap Tiara menggandeng tangan Dinda lalu pergi meninggalkan Tirta.


Tirta terkejut saat mendengar Chelsea menyiram Tiara dengan segelas lemon tea, Tirta pun bergegas mencari Chelsea untuk melakukan pembalasan.


Dinda hanya diam, menyaksikan percakapan antara Tiara dan Tirta. Sementara teman Tiara yang lain, menonton dari kejauhan. Sekarang Tiara dan Dinda menuju ke taman kampus.


Di taman kampus.


"Ra, siapa dia? Beraninya megang tangan kamu." Tanya Dinda.


"Aku nggak kenal sama dia. Beberapa hari yang lalu, waktu aku sedang di kantin tiba-tiba dia datang dan memperkenalkan dirinya padaku." Jawab Tiara.


"Ganggu banget sih Ra, dan gara-gara cowok tadi kamu jadi kena siram lemon tea. Nyebelin banget si cewek pirang itu." Ucap Dinda sambil cemberut.


"Udah lah nggak usah dipikirin, kita ke kantin yuk, aku laper." Tiara berkata dengan memegang perutnya. Tiara dan Dinda pun pergi ke kantin kampus.


Di sisi lain.


Terlihat Chelsea sedang berdiri didepan mobilnya, di tempat parkir. Tirta melangkah menuju tempat Chelsea berdiri.


" Eh sayang, kamu kangen ya sama aku? Kamu bawa lemon tea ya? Kamu tau aja kalau aku lagi haus." Ucap Chelsea lalu berusaha mengambil lemon tea yang berada ditangan Tirta, namun Tirta tak mengizinkannya.


"Iya dong." Ucap Tirta sambil menyiram kepala Chelsea, dengan segelas lemon tea yang sangat dingin.


"Gimana? Udah seger kan?" ucap Tirta lalu pergi meninggalkan Chelsea "oh iya, kamu jangan ganggu Tiara lagi! Pembalasan akan lebih kejam dari apa yang kamu perbuat!" Tirta berhenti dari langkahnya, dan memberi peringatan untuk Chelsea. Setelah itu ia melanjutkan langkahnya.


"Chel, kita ke toko baju terdekat yuk cari baju ganti." Ucap teman Chelsea pelan, dia takut jika Chelsea akan mengamuk. Teman Chelsea tak berani membela Chelsea, dia takut dengan Tirta yang murka.


"Nggak, aku mau pulang." Ucap Chelsea lalu masuk kedalam mobilnya. Chelsea mengendarai mobilnya dengan kencang.


...***...


Pukul 14:00 WIB.


Di kamar tidur Tiara.


Tiara kini telah berada di kamarnya. Setelah dari kantin ia langsung pulang menuju rumahnya. Tiara kini sedang asyik melihat beranda diakun Instagramnya, tiba-tiba nada dering handphone Tiara berbunyi. Terdapat pesan dari WhatsApp-nya dengan nomor baru.


Nomor baru : Ini aku Tirta, ni aku kirim video pembalasan untuk perbuatan Chelsea.


(Tirta mengirim video, saat dia menyiram kepala Chelsea dengan segelas lemon tea)


Tiara melihat kiriman video itu. Tiara tak membalas, dia meletakkan kembali handphone nya. Tiara merasa sangat terganggu, dengan keberadaan Tirta yang terus mendekatinya.


Karena merasa penat, Tiara menuju ke atas ranjangnya untuk istirahat sejenak. Tiba-tiba Salsa membuka pintu kamar itu. Tiara terkejut lalu bangun dan duduk di tepi ranjang.


"Baru pulang, Sa?" tanya Tiara.


"Iya Kak, tadi habis latihan nari buat acara di kampus." Jawab Salsa.


"Aduh, jangan gitu Kak. Nanti pipi aku jadi jelek." Ucap Salsa dengan cemberut. Tiara pun melepaskan tangannya.


"Eh aku laper, Kakak laper nggak?" tanya Salsa.


"Enggak Sa," jawan Tiara.


"Yaudah, aku cari makan dulu ya di dapur. Bye Kakak." Ucap Salsa lalu meninggalkan kamar itu.


Di dapur.


Salsa mencuci tangannya, lalu membuka tutup saji di atas meja makan. Dia melihat beberapa lauk, Salsa segera mengambil nasi dan lauknya,ia pun memakan dengan lahap karena dia sangat lapar saat itu.


"Hey, pelan-pelan makannya." Ucap Chandra tiba-tiba.


Uhhhuuuukkk. Salsa tersedak karena terkejut. Salsa segera meminum air putih yang berada di depannya.


"Resek banget sih kamu Kak, ngagetin aja." Ucap Salsa dengan emosi.


"Blee ... Kamu aja yang kagetan. Eh, Mama sama Papa dimana ya?" tanya Chandra.


"Aku nggak tau, aku baru pulang dari kampus." Jawab Salsa tanpa melihat Chandra.


"Kakak emang dari mana? Kok nggak tau?" tanya Salsa balik.


"Aku? Ya, dari kampus juga lah." Jawab Chandra lalu berlalu meninggalkan Salsa sendiri. Salsa pun melanjutkan makannya.


...***...


Di rumah Chelsea.


"Arrrrgggh, nyebelin. Tirta malah nyiram aku demi si cewek udik itu." Chelsea bermonolog didalam kamarnya.


Chelsea tak terima karena perlakuan Tirta kepadanya. Chelsea pun memikirkan berbagai cara untuk menyingkirkan Tiara.


Tok tok tok. Suara pintu kamar Chelsea berbunyi.


" Masuk. "Jawab Chelsea singkat. Ternyata yang datang adalah sang Mama.


" Kamu kenapa sayang? Kok teriak-teriak gitu? "tanya Mama Chelsea dengan khawatir.


" Nggak apa-apa kok Ma. "Jawab Chelsea dengan tersenyum. Chelsea tak mungkin menceritakan apa yang dia alami, karena sang Mama pasti malah akan memarahinya karena tindakannya.


" Yaudah, kamu mandi gih biar seger! " perintah Mama Chelsea.


" Iya Ma, aku mandi dulu ya. "Chelsea meninggalkan Mamanya, dan menuju ke kamar mandi.


Chelsea mengguyur tubuhnya dengan air dingin, lalu dilanjutkan dengan berendam di bathtub. Dia masih memikirkan cara untuk menyingkirkan Tiara. Tiba-tiba terlintas dipikiran Chelsea, menyewa seorang preman untuk mencelakai Tiara.


"Nggak perlu sampai mati sih, paling enggak cacatlah biar Tirta nggak ngejar si cewek udik itu." Ucap Chelsea pada dirinya sendiri.


Saat Chelsea mandi, Mamanya masih berada di kamarnya. Mama Chelsea mengambil handphone di sakunya, dia mengirim pesan kepada orang suruhannya.


Mama Chelsea : Gimana, penyelidikan kamu mengenai anak saya?


Orang suruhan : Kemarin saat di kampus , Nona Chelsea menyiram segelas lemon tea di kepala seorang gadis, Bu. Nona Chelsea mengatakan jika gadis itu memberikan pelet kepada calon pacarnya. Dan hari ini, Nona Chelsea di siram segelas lemon tea oleh seorang laki-laki. Laki-laki itu mengatakan, agar Nona Chelsea tak mengganggu Tiara. Tiara ini mungkin gadis yang di siram oleh Nona Chelsea.


Mama Chelsea : Baik, kamu tetap awasi Chelsea saat berada di luar rumah!


Orang suruhan : Baik, Bu.


Mama Chelsea menutup handphone nya dan keluar dari kamar Chelsea. Mama Chelsea sengaja menyuruh orang untuk mengawasi kegiatan Chelsea selama di luar rumah. Karena Chelsea telah berubah, mungkin setelah Kakeknya meninggal. Chelsea sangat menyayangi Kakeknya, begitu juga dengan Kakeknya, sangat sayang dengan Chelsea.


Kakek Chelsea mengalami sebuah kecelakaan, yang merenggut nyawanya. Chelsea sangat terpuruk dengan kepergian Kakeknya. Chelsea dulu anak yang baik, tapi setelah Kakeknya meninggal, dia mulai jadi anak yang pembangkang, dan terkadang pergi ke Club Malam.


Karena hal itulah, Mama Chelsea menyuruh orang mengawasi kegiatan Chelsea, dan tentu saja untuk melindunginya saat ada hal buruk menimpanya.