TIARA NANDINI

TIARA NANDINI
Resepsi pernikahan



Seminggu kemudian. Satria dan keluarganya, membawa banyak seserahan yang dibawa ke rumah keluarga Tiara. Satria membawa keluarganya untuk melamar Tiara secara resmi.


Proses lamaran, berjalan dengan lancar dan khidmat. Sesekali, terlihat air mata bahagia menetes dipipi Mama Jihan. Mama Jihan senang sekaligus sedih. Mama Jihan tentu saja senang, melihat putrinya menemukan jodohnya. Namun, Mama Jihan juga sedih karena akan ditinggalkan oleh Tiara jika sudah menikah nanti.


Setelah beberapa jam, proses lamaran pun selesai. Satria dan keluarganya pamit untuk pulang. Setelah kepulangan Satria, Tiara merasa lega karena sedari tadi pipinya merona dengan keberadaan Satria.


Proses lamaran dimulai pukul satu siang, dan berakhir setengah jam sebelum waktu sholat ashar. Kini, Tiara dan keluarganya sedang berkumpul di ruang tamu.


"Alhamdulillah ... kamu laku, Ra. Aku, kapan ya?" tanya Chandra pada Tiara.


"Emang aku dagangan, Kak?" tanya Tiara balik sambil cemberut.


"Aku do'ain deh, semoga ... kakakku yang tampan ini, segera menemukan jodohnya," ucap Tiara sambil mengangkat kedua tangannya, seperti orang yang sedang berdo'a.


"Aamiin," jawab semua orang yang berada di ruangan itu.


"Kakakmu yang tampan ini, selalu mendo'akan perjaka tua seperti kamu, Ndra," ucap Davin sambil menahan tawa.


"Aku bukan perjaka tua, aku ini masih muda. Lihatlah karismaku!"


Chandra yang semula duduk, kini telah berdiri dan berlagak seperti seorang model. Semua orang yang berada di ruangan itu, hanya menggelengkan kepala mereka melihat tingkah dari Chandra.


Malam hari. Kini, semua orang di rumah itu, sedang menikmati hidangan makan malam di meja makan. Mereka tampak lahap menikmatinya.


"Rumah makan pilihan mama, memang bagus. Makanannya, enak-enak. Mama pernah pesan antar sebelumnya?" tanya Salsa pada Mama Jihan.


"Iya, Sa. Makanan disana memang enak-enak. Mama pernah makan disana sekali, dan karyawan disana pernah bilang, jika kita bisa pesan dari rumah dan mereka akan kirim ke alamat rumah kita," jawab Mama Jihan menjelaskan.


"Eh, iya Rin, tanggal lahiran kamu, kapan?" tanya Mama Jihan pada Erina.


"Kayaknya satu bulan lagi, Ma," jawab Erina.


"Waah ... berarti barengan sama resepsinya Tiara dong," kata Mama Jihan.


"Eh iya ya, Ma. Kok aku nggak kepikiran ya, tadi?" tanya Erina pada dirinya sendiri.


"Semoga ... kamu dan bayi kamu sehat dan selamat. Masalah laki-laki atau perempuan, itu tidak terlalu penting, semua anugerah dari Allah." Mama Jihan mendo'akan menantunya, dan cucunya.


"Iya, Ma. Aamiin, yang penting sehat dan selamat." Erina tersenyum kepada Mama Jihan.


Setelah makan, mereka berkumpul di ruang keluarga untuk menonton acara televisi bersama-sama. Terdengar gelak tawa diantara mereka, karena yang mereka tonton adalah sebuah acara komedi.


...***...


Satu bulan kemudian. Hari ini pukul delapan pagi, kedua pihak keluarga dari Tiara dan Satria telah berkumpul di sebuah gedung yang digunakan untuk akad dan resepsi pernikahan.


Satria telah duduk didepan bapak penghulu, Satria telah siap mengucapkan ijab qabul. Kini, Satria sedang mengucapkan ijab qabul untuk menikahi Tiara, Satria pun dengan lantang dan keras mengucapkannya.


Setelah ijab qabul diucapkan, semua orang yang berada ditempat itu, mengucapkan kata sah bersama-sama. Ada air mata bahagia yang menetes ke pipi Tiara. Mama Jihan yang melihatnya, langsung menempelkan kapas pada air mata itu, agar riasan cantik Tiara tidak luntur.


Tiara yang duduk tak jauh dari meja penghulu, kini diantar Salsa dan mamanya untuk duduk disamping Satria. Tiara segera mencium punggung tangan Satria, setelah duduk disampingnya.


"Alhamdulillah, sekarang kalian sudah resmi menjadi sepasang suami-istri," kata bapak penghulu.


"Iya, Pak. Alhamdulillah," ucap Tiara dan Satria bersamaan.


Setelah beberapa saat, acara dilanjutkan dengan resepsi pernikahan. Tiara dan Satria naik ke atas panggung pernikahan. Acara demi acara di gedung itu, telah selesai dilaksanakan.


Kini, adalah sesi untuk berfoto dengan kedua pengantin. Keluarga besar dari Tiara dan Satria, berbaris dan diambil fotonya oleh fotografer yang sudah mereka sewa. Setelah itu, dilanjutkan dengan berfoto bersama teman dari kedua pengantin.


"Waah, Tiara ... selamat ya untuk kamu dan suami. Semoga langgeng terus," ucap Dinda kepada Tiara.


"Iya, semoga kamu juga segera menyusul," respon Tiara sambil tersenyum manis.


"Apaan sih kamu? Udah ya, itu antrian udah panjang."


Dinda berjalan meninggalkan panggung resepsi. Waktu itu, setelah Tiara pulang dari hutan. Dinda yang mendapat kabar dari mamanya Tiara pun terkejut, mengenai keadaan Tiara yang hilang ingatan. Sejak saat itu, Dinda sering mengunjungi rumah Tiara untuk berteman lagi dengannya.


"Selamat ya, Ra," ucap Reno.


"Sayang ... selamat juga dong buat suaminya." Gladys mencubit pinggang suaminya.


"Selamat ya, Tiara dan suami atas pernikahannya," ucap Gladys mencontohkan pada suaminya.


"Iya-iya, selamat ya ... Tiara dan suami. Semoga langgeng terus," ucap Reno.


"Aamiin," jawab Tiara dan Satria bersamaan.


"Tiara dan suami selamat ya, atas pernikahan kalian. Segera launching baby ya," ucap Chika sambil memeluk Tiara.


"Iya-iya, tunggu aja ya," respon Tiara.


"Permisi ... apa boleh gantian?" tanya seseorang laki-laki dibelakang Reno.


"Oh iya, Pak. Kami pamit dulu," jawab Reno.


"Kita pamit ya, udah antri banyak," ucap Reno pada Tiara dan suaminya. Reni, Gladys, dan Chika pun berlalu meninggalkan panggung resepsi.


"Iya, makasih ya." Tiara melambaikan tangan ke arah teman-tamannya.


Tiara dan suaminya, kembali menyambut para tamu undangan yang naik keatas panggung untuk memberi selamat kepada mereka. Dua jam kemudian, acara resepsi pernikahan Tiara dan Satria telah selesai dilaksanakan.


Tiba-tiba, suasana menjadi panik ketika air ketuban Erina pecah di gedung itu. Semua anggota keluarga, segera mengantar Erina ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Erina dibawa masuk ke ruangan bersalin, dan hanya Davin yang boleh masuk untuk menemani. Sedangkan anggota keluarga yang lain, sibuk mengurus administrasi untuk kelahiran bayi Erina.


Setelah lima jam, terdengar suara tangis bayi yang melengking. Ya, bayinya telah lahir dengan cara normal. Bayi itu berjenis kelamin laki-laki, ia sama tampannya dengan sang ayah.


Davin pun langsung mengadzani anak laki-lakinya, setelah dibersihkan oleh perawat di rumah sakit itu. Davin mencium kening anaknya, kemudian mencium kening istrinya.


"Terima kasih, Sayang. Kamu telah berjuang untuk anak kita," ucap Davin sambil tersenyum pada Erina.


"Iya, Mas," tutur Erina.


Erina masih merasakan lemas disekujur tubuhnya. Apalagi, dia baru saja dijahit pada bagian jalan lahir bayinya. Mengingat hal itu, membuat Erina bergidik. Walaupun Erina sudah paham tentang proses melahirkan namun dia juga baru pertama kali itu merasakannya.


Erina mengingat rasa sakit yang luar biasa disekujur tubuhnya, dari beberapa jam sebelum lahiran, sampai bayi sudah keluar dari perutnya. Erina kini benar-benar mengerti, perjuangan dari seorang ibu sewaktu melahirkan anak mereka.