
Mama Jihan menghentikan pelukannya, ia memegang kedua pipi Tiara. Mama Jihan mengusap air mata yang mengalir pada pipi Tiara.
"Tiara Sayang, ini mama kamu, Mama Jihan." Mama Jihan memperkenalkan dirinya pada Tiara.
"Iya, Ma." Tiara menganggukkan kepalanya pelan. Walaupun Tiara belum mengingatnya, tapi Tiara juga tidak ingin membuat keluarganya kecewa.
Kemudian, Mama Jihan memperkenalkan anggota keluarga yang lain kepada Tiara. Tiara hanya mengulas senyum, pada anggota keluarganya. Mereka secara bergantian memeluk Tiara.
"Sayang, kita balik ke rumah kita ya di Jakarta," ajak Mama Jihan pada Tiara.
Tiara terdiam sejenak.
"Baik, Ma. Aku mau ikut, tapi Bang Satria dan Tina juga harus ikut," respon Tiara.
"Boleh, jika memang mereka menyetujuinya," kata Mama Jihan sambil tersenyum.
"Bang Satria ... Tina ... kalian ikut bersama keluargaku ya," ajak Tiara pada Satria dan Tina.
Satria dan Tina saling bertatapan.
"Baiklah, jika kamu memaksa. Tapi, aku ingin menjenguk kediaman orang tuaku sebelum berangkat," pinta Satria.
"Baiklah, abang kasih tahu saja alamatnya dimana." Tiara tersenyum manis mendengar Satria yang menyetujui untuk ikut dengan keluarganya.
Deg.
Jantung Satria berdetak dengan kencang, setelah ia melihat senyum manis dari Tiara. Satria heran dengan perasaan yang sedang ia alami.
Ada apa dengan jantungku ini ? tanya Satria dalam hati.
"Halo, Bang Satria? Kok ngelamun? Ayo, kita ke rumah orang tua Abang dan Tina.
"Tapi kalau orang-orang itu berada disana, bagaimana? Aku tidak mau membuat keluarga kamu celaka," ucap Satria.
"Kita bawa polisi aja, buat jaga-jaga!" ucap Tiara yakin.
"Apa perlu?" tanya Satria.
"Perlu untuk keamanan kita," jawab Tiara.
Tiara menceritakan kepada keluarganya, kejadian yang menimpa keluarga Satria. Papa David meminta bantuan penjaga pos arum jeram, untuk menghubungi polisi setempat.
Setelah polisi datang, keluarga Tiara, Satria, dan adiknya menuju ke lokasi rumah orang tua Satria. Setelah menempuh perjalanan, mereka sampai di lokasi.
Di depan rumah orang tua Satria, terdapat sebuah mobil hitam yang terparkir. Rombongan mobil dari Tiara pun turun dari mobil mereka. Mereka berjalan pelan, beberapa polisi yang datang bersiap dengan pistol ditangan mereka.
Tiba-tiba, ada seorang laki-laki tua berambut putih yang muncul dihadapan mereka. Laki-laki tua itu meneteskan air matanya, saat melihat keberadaan Satria dan Tina.
"Cucuku ... kalian masih hidup," ucap laki-laki tua itu dengan derai air mata. Laki-laki tua itu berjalan mendekati Satria dan Tina, dengan tongkat ditangannya.
"Maaf, Anda siapa, Pak?" tanya Satria penasaran.
"Kakek minta maaf, karena kakek tak pernah sekalipun mengunjungi kalian secara langsung. Dan terlebih, ibumu menyatakan jika aku telah tiada. Tapi, ini bukan salah ibumu juga, karena kakek sudah melarang hubungan ayah dan ibumu. Akhirnya, ibumu memutuskan untuk kabur dari rumah, dan menikah dengan ayahmu."
Kakeknya Satria menjelaskan hal yang terjadi dimasa lalu, yang berkaitan dengan kedua orang tua Satria dan Tina.
"Mungkin, ibumu tidak mau anak-anaknya menanyakan hal yang berkaitan dengan seorang kakek yang jahat," imbuh kakeknya Satria.
"Kakek juga ingin meminta maaf, karena orang yang membunuh kedua orang tua kalian, ternyata adalah saingan bisnisku. Mereka beberapa kali meneror orang tua kalian, dan berakhir dengan membunuh orang tua kalian. Percayalah, saat mendengar hal itu, darahku mendidih dengan apa yang pembunuh itu lakukan." Kakeknya Satria, tertunduk lesu.
"Tapi kini, kamu tidak perlu khawatir. Mereka yang membunuh kedua orang tuamu sudah mendapatkan ganjaran setimpal, kamu tidak perlu bersembunyi lagi. Kakek mencarimu kemana-mana, tapi tidak pernah menemukanmu. Tiap hari, kakek menyempatkan berkunjung ke rumah ini. Kakek berharap bisa berjumpa lagi dengan kalian." Kakeknya Satria duduk bersimpuh dihadapan Satria dan Tina.
"Dan akhirnya, Tuhan memberi kakek kesempatan untuk berjumpa dengan kalian. Kakek tidak memaksa kalian untuk bisa memaafkan kakek, itu sepenuhnya hak kalian. Yang pasti, kakek ingin meminta maaf atas semua hal yang terjadi dimasa lalu." Kakeknya Satria masih bersimpuh, sambil meneteskan air matanya.
Satria dan Tina sedikit geram, mendengar penuturan kakek mereka. Tapi, mereka segera meredam emosi mereka. Mereka segera beristigfar, agar mereka bisa berpikir dengan jernih.
"Kakek, saya tidak tahu hal apa yang Anda lakukan dimasa lalu. Saya dan adik saya hanya geram, kenapa orang tua kami menjadi korban dari bisnis Anda. Tapi, terlepas dari hal itu ... mungkin, itulah takdir akhir dari kedua orang tua kami." Satria menutup wajahnya dengan kedua tangannya, air matanya sudah tak dapat ia bendung lagi.
"Maaf ...," ucap Kakeknya Satria lirih.
Tina yang berdiri disamping Satria, langsung memeluknya. Tina juga sedang merasakan pilu. Tina menjadi sangat rindu pada kedua orang tuanya.
Semua orang yang berada ditempat itu, menyaksikan konflik batin dikeluarga Satria. Dipipi mereka, juga mengalir derai air mata. Mereka membayangkan perasaan Satria dan Tina saat ditinggal kedua orang tua mereka.
"Kakek berharap, kalian mau pulang ke rumah kakek. Rumah itu juga telah kakek pindah kepemilikan atas nama kamu, Satria. Kakek juga sudah memilih kalian berdua menjadi ahli waris kakek atas beberapa bisnis yang kakek kelola," ucap kakeknya Satria.
Satria menatap ke arah Tiara.
"Bang, kalau kamu mau ikut dengan kakek kamu, juga tidak apa-apa. Yang terpenting, kalian jangan tinggal di hutan lagi ya," pinta Tiara.
"Iya Bunga ... eh, Tiara ... mungkin aku akan ikut dengan kakekku," ucap Satria.
Kakeknya Satria langsung melihat ke arah Satria dengan bahagia, setelah mendengar perkataan dari sang cucu laki-laki. Ia mengulas senyum dibibirnya.
"Tiara, aku boleh minta nomor ponsel keluarga kamu nggak? Supaya silaturahmi kita, tetap terjaga. Kakek, apa boleh nomor ponsel kakek aku berikan pada Tiara? Karena aku tidak memiliki ponsel sekarang," pinta Satria pada kakeknya.
"Tentu," jawab kakeknya Satria. Ia langsung berdiri dan memeriksa ponselnya.
Papa David dan kakeknya Satria saling bertukar nomor ponsel. Tiara kini tak memiliki ponsel, karena ponselnya ikut hanyut saat dia terjatuh dari perahu arum jeram.
Setelah beberapa saat, Tiara dan keluarganya pamit untuk pulang ke Jakarta. Tapi sebelumnya, Papa David terlebih dahulu berterima kasih kepada semua orang yang berada disitu, karena telah menghubungi keluarganya, atas kembalinya Tiara.
Tiara melihat Satria dan Tina dari dalam mobil, matanya berkaca-kaca sambil melambaikan tangan. Ia mengingat saat-saat kebersamaan mereka.
"Bang Satria ... Tina ..., secepatnya beli ponsel dan hubungi nomor papaku ya," teriak Tiara.
"Oke, Ra," jawab Satria dan Tina bersamaan dengan seulas senyum.
Tiara tersenyum dan menutup kaca mobil yang ia naiki, karena mobil milik papanya itu, sudah melaju meninggalkan rumah orang tua Satria.