
Akibat terjerumus kedalam sebuah saluran irigasi, terdapat beberapa luka dibadan Tiara karena dia menabrak batu disana. Salsa yang melihat kakaknya terjatuhpun terkejut. Salsa langsung berlari ke tempat Tiara terjatuh, dan membantu Tiara untuk bangkit. Salsa menanyakan keadaan Tiara, dibagian mana kakaknya merasakan sakit.
"Kak, yang sakit yang mana?" Salsa mengamati badan kakaknya.
"Banyak Sa, tapi cuma perih sih. Kita istirahat dulu ya, nanti bisa lanjut lagi kalau udah nggak perih," rintih Tiara.
"Iya Kak, pasti itu. Kita istirahat dulu. Bentar ya aku kabari Kak Chandra agar jemput." Salsa mencari kontak Chandra diponselnya.
Lima belas menit kemudian, Chandra telah sampai di tempat Tiara dan Salsa. Chandra turun dari mobilnya, dan melihat Tiara yang sedang mengelus kedua kakinya.
" Duh, kok bisa jadi begini sih Ra?" Chandra melihat pakaian Tiara tertempel beberapa lumut.
" Bentar ya, aku ambilin baju ganti Kak Tiara. Disebelah mana Kak Chandra?" Salsa berjalan menuju mobil.
"Di tempat duduk depan, Sa." Chandra menoleh kearah Salsa.
Salsa sudah mengatakan kepada Chandra pada saat menelepon tadi, agar membawakan baju ganti untuk Tiara. Setelah Salsa mengambil pakaian gantinya, ia menemani Tiara menuju toilet umum di lapangan itu.
" Bisa nggak Kak sendiri?" Salsa berniat membantu Tiara untuk berganti pakaian.
"Bisa Sa, tenang aja." Tiara masuk me toilet umum itu.
Tiara mulai melepas baju yang ia kenakan, ia merasa tubuhnya seperti diberi sedikit sayatan. Perlahan, Tiara mengganti pakaian yang ia kenakan. Sepuluh menit kemudian, Tiara keluar dari toilet umum itu.
Tiara dan Salsa meninggalkan toilet umum itu, tak lupa mereka membayar biaya penggunaan toilet umum itu kepada orang yang berjaga. Tiara berjalan pelan sambil digandeng oleh Salsa.
"Kita pulang ya sekarang," ajak Chandra.
"Baik, Kak," jawab Tiara.
"Kamu hati-hati ya Sa bawa motornya." Tiara melihat kearah Salsa.
"Pasti Kak. Kakak juga hati-hati ya, Kak Chandra jangan ngebut ya bawa mobilnya!" Salsa memicingkan matanya kearah Chandra.
"Iya-iya, nggak usah melotot gitu," respon Chandra.
Chandrapun melajukan mobilnya, Tiara ikut bersama dengan Chandra. Sedangkan Salsa, ia akan mengendarai sepeda motor milik Tiara. Setelah selesai bersiap, Salsa menghidupkan sepeda motor itu, dan melajukannya.
...***...
Malam hari, di rumah Papa David. Semua orang sedang berkumpul di ruang keluarga. Semua orang sedang mengkhawatirkan Tiara, karena sebuah insiden tadi siang.
"Sayang ... gimana keadaan kamu?" tanya Mama Jihan.
"Aku baik-baik saja Ma, cuma badan perih sedikit," jawab Tiara.
"Kamu pinter dan jago silat Ra. Tapi saat ini, kayaknya kamu kurang beruntung masalah mengemudi." Chandra menatap Tiara.
"He-he, iya Kak." Tiara menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Udah, nggak apa-apa Ra. Besok kamu pasti bisa jika sungguh-sungguh belajar!" Papa David menyemangati Tiara.
"Iya Pa." Tiara tersenyum kepada Papanya.
Tiara yang merasa lelah, langsung tertidur pulas diatas ranjangnya. Sementara Salsa masih belum mengantuk, ia memutuskan untuk melihat bisnis online yang belum lama ia bangun.
Keesokan harinya, Tiara merasakan sakit diseluruh badannya. Tiara merintih, dan mencoba membangunkan Salsa. Salsa yang mendengar rintihan Tiarapun terbangun, dan menghampiri ranjang Tiara.
"Kakak kenapa Kak?" tanya Salsa khawatir.
"Badanku sakit semua, aku minta tolong panggilin Mama ya," pinta Tiara.
"Ba-baik Kak." Salsa sedikit panik dan bergegas keluar kamar.
Setelah beberapa saat, Mama Jihan dan Salsa telah sampai di kamar Tiara. Mama Jihan segera membawa Tiara ke tukang pijat. Disana, seluruh badan Tiara dipijat. Dan setelah selesai dipijat, Tiara merasa badannya tidak sakit lagi.
"Terima kasih ya Ma, Sa. Sudah bawa aku kesini, tadi waktu bangun tidur sampai sebelum dipijat, badan aku sakit semua." Tiara mengingat saat ia merasakan sakit disekujur tubuhnya.
"Iya, sama-sama," ucap Mama Jihan dan Salsa bersamaan.
...***...
Satu minggu kemudian, hari ini Tiara berniat untuk kembali belajar mengendarai sepeda motor. Kali ini, Tiara ditemani Salsa dan juga Chandra. Mereka bertiga telah berada di sebuah lapangan.
Kini, Tiara sudah siap dengan segala persiapannya. Bahkan, dia sampai memakai pelindung lutut dan siku tangan. Tiara berjaga-jaga jika dia terjatuh kembali dari sepeda motornya.
Tiara mulai menarik gas dengan pelan, kemudian menambah sedikit gasnya. Gerakan sepeda motor yang Tiara kendarai berjalan stabil, dengan kecepatan sedang. Tiara melakukannya dengan penuh konsentrasi.
Dihari-hari berikutnya, Tiara menyempatkan kembali belajar mengendarai sepeda motor disela waktu kuliahnya. Dan tepat dua minggu, Tiara telah mahir mengendarai sepeda motornya sendiri.
Setelah itu, Tiara pergi mengurus surat izin mengemudinya. Tiara ditemani Salsa, mereka ikut mengantri dengan orang-orang yang akan membuat surat izin mengemudi juga.
Setelah menunggu lama, akhirnya nama Tiara dipanggil juga. Tiara bersiap menaiki motor yang digunakan untuk tes mengemudi. Dengan sedikit tegang, Tiara menjalankan motornya. Rintangan demi rintangan dia lalui, dan akhirnya dia dapat menyelesaikan semua rintangan yang diberikan.
Setelah itu, Tiara melanjutkan proses akhir. Dia mengisi data dirinya dan melakukan pas foto. Tiara tampak rapi dengan pakaian yang ia kenakan. Tiara tersenyum dan menegakkan badannya saat ia sedang difoto.
Setelah proses tersebut, Tiara dan Salsa duduk dan mengantri untuk menunggu hasil dari apa yang dia lakukan saat itu, yaitu sebuah kartu surat izin mengemudi.
Karena dirasa lama, Salsa memutuskan untuk pergi ke sebuah kantin yang tak jauh dari tempat mereka duduk. Salsa pergi ke kantin untuk membeli beberapa camilan dan dua botol air mineral berbotol sedang.
"Ini buat kamu Kak." Salsa telah kembali dari kantin, dan dia memberikan air mineral dan camilan kepada Tiara.
"Makasih, Sa." Tiara tersenyum kepada Salsa.
"Sama-sama Kakak aku yang paling cantik," respon Salsa.
Setelah menunggu cukup lama, nama Tiarapun dipanggil. Tiara maju kesumber suara, dia mengambil kartu surat izin mengemudinya. Tiara sangat senang mendapatkan kartu itu.
Tiara dan Salsa segera pulang, setelah selesai dengan urusan membuat surat izin mengemudi. Kali ini, Tiara yang mengendarai sepeda motor itu. Tiara sangat bahagia dengan pencapaiannya, karena itu adalah hasil dari jerih payahnya. Dan tentunya, ada dukungan juga dari orang terdekat.
Sebelum pulang ke rumah, Tiara dan Salsa ingin menyempatkan waktu untuk mampir ke rumah anak-anak panti. Tiara segera melajukan sepeda motornya kearah rumah anak-anak panti.
Setelah beberapa saat, Tiara dan Salsa telah sampai di halaman rumah anak-anak panti. Tiara dan Salsa melepaskan helm yang mereka pakai.
Tiara dan Salsa berjalan mendekati pintu di rumah itu, sambil membawa beberapa kotak martabak manis dan martabak telur. Rencananya, semua makanan itu akan dinikmati bersama dengan anak-anak panti.