TIARA NANDINI

TIARA NANDINI
Berlatih bela diri



Tiara terbangun dari tidurnya. Beberapa saat kemudian, ia berdiri dan mendekatkan dirinya pada sebuah jam yang tertempel pada dinding.


Penerangan di rumah Satria hanya menggunakan petromax, jadi Tiara tidak dapat melihat jam dinding dari kejauhan. Tapi, Satria memasang petromax disetiap sudut rumah. Jadi, rumah itu seperti bintang ditengah hutan.


Pada saat itu, sudah pukul lima pagi. Tiara tak melihat Tina di kamar. Tiara berjalan pelan keluar dari kamar Tina, terdengar suara dari luar rumah. Karena penasaran, akhirnya dia melangkahkan kaki menuju teras rumah.


Sesampainya di teras rumah, Tiara melihat Satria dan Tina yang sedang berlatih bela diri. Tiara memperhatikan keduanya, dengan gerakan-gerakan bela diri mereka.


Satria menyadari, jika Tiara sedang mengamati dirinya dan adiknya. Satria pun menghentikan gerakan bela dirinya. Satria menghadapkan tubuhnya ke arah teras rumah.


"Sudah bangun Tiara, mau nggak ikut latihan bela diri?" tanya Satria.


"Aku? Boleh-boleh, tapi aku sholat shubuh dulu ya. Bang Satria sama Tina sudah sholat shubuh?" tanya Tiara balik.


"Udah tadi," kata Tina.


"Kita tadi sudah sholat shubuh kok, Bunga," ucap Satria.


"Yaudah, aku sholat dulu ya," ucap Tiara.


"Oke," respon Satria.


Tiara turun dari rumah panggung itu, dia berjalan menuju samping rumah untuk mengambil air wudhu. Setelah wudhu, Tiara naik ke rumah panggung, dan masuk kedalam rumah.


Beberapa saat kemudian, Tiara telah selesai melaksanakan ibadah sholat shubuh. Tiara pun segera keluar rumah, dan turun menghampiri Satria dan Tina.


"Aku sudah siap!" teriak Tiara.


"Kemari, Bunga!" perintah Satria.


"Tina, aku ajarin Bunga dulu ya," ijin Satria pada adiknya.


"Oke, Kak. Aku mau masuk dulu ambil air minum." Tina membalikkan badannya, dan berjalan menaiki anak tangga di rumah panggungnya.


"Oke, kita mulai ya. Pertama-tama, kamu harus melakukan pemanasan."


Satria mencontohkan beberapa gerakan pemanasan, Tiara pun mengikuti instruksi dari Satria. Satria tersenyum, saat melihat semangat yang ditunjukkan Tiara dalam pemanasan itu.


Setelah beberapa saat, pemanasan selesai. Satria mulai memberikan beberapa teknik dalam latihan bela diri itu. Satria terkejut, karena Tiara dapat menangkis setiap gerakan yang Satria lakukan. Sampai-sampai, membuat Satria kewalahan.


"U-udah Bu-nga, aku capek," ucap Satria terengah-engah.


"Kamu ini sebenarnya jago bela diri ya?" tanya Satria pada Tiara.


"Aku? Jago bela diri? Masa sih?" tanya Tiara balik.


"Iya, kamu bisa menangkis semua serangan dariku," jawab Satria masih terengah.


"Waaah ... hebat kamu, Bunga!"


Tina bertepuk tangan dari teras rumah. Rupanya, Tina sudah dari tadi melihat pertarungan antara Satria dan Tiara. Tina sangat kagum, melihat Tiara disetiap gerakannya.


Tina turun dari rumah panggung, dan berjalan mendekati Tiara. Tina ingin, Tiara mengajarinya gerakan seperti yang Tiara tadi lakukan. Tina berpikir, jika dia bisa menguasai gerakan seperti Tiara, tak akan ada orang yang berani mengganggunya.


"Bunga ...." Tina memeluk Tiara dengan erat, sambil mengoyangkan badan Tiara kekanan dan kekiri.


"U-udah Tina, a-aku kesu-sahan ber-na-pas," ucap Tiara putus-putus.


"Eh, maaf Bunga." Tina pun segera melepaskan pelukannya.


Sementara Tiara, dia mengatur napasnya dan merasa lega sekarang. Tiara terkejut dengan sikap Tina, yang tiba-tiba saja memeluknya dengan erat.


"Ajarin aku bela diri kayak tadi dong, kamu hebat sekali bela dirinya," pinta Tina.


"Apa aku bisa ngajarin kamu, Tina?" Tiara tidak yakin jika dirinya mampu melatih Tina bela diri.


"Tentu saja! " jawab Tina antusias.


Tiba-tiba, rasa sakit timbul pada kepala Tiara. Tiara pun memegang kepalanya, pandangan matanya kabur, dan seketika ia jatuh tak sadarkan diri.


"Bunga!" ucap Satria dan Tina panik.


"Duh, kok bisa gini ya, Kak?" tanya Tina pada kakaknya.


"Aku juga nggak tahu. Yaudah, aku bawa Bunga ke kamar kamu dulu ya." Satria menggendong Tiara dan berjalan masuk ke rumah.


"Iya, Kak." Tina mengikuti kakaknya, dari belakang.


Sesampainya di kamar Tina, Satria dan Tina menunggu Tiara disamping tempat tidurnya. Mereka berdua sangat mengkhawatirkan keadaan Tiara.


"Semoga, Bunga segera sadar. Dan semoga, dia baik-baik saja," ucap Tina dengan lesu.


"Iya, aammiin," respon Satria.


"Tina, kamu tungguin Bunga ya. Kakak mau cari ikan di sungai," pinta Satria.


"Baik, Kak. Kakak hati-hati ya cari ikannya," ucap Tina.


"Iya, Kakak pergi dulu ya, wassalamu'alaikum." Satria beranjak dari kamar Tina, dan pergi mempersiapkan alat untuk mencari ikan.


...***...


Pukul delapan pagi. Kini, Tiara telah sadar kembali. Ia terkejut mendengar penuturan Tina, mengenai dirinya yang jatuh tak sadarkan diri. Ia juga heran, kenapa dia bisa lama tidurnya.


"Tina, makasih ya. Kamu dan Kakak kamu selalu nolongin aku, maaf juga telah membuat kalian khawatir." Tiara merasa bersalah, ia merasa menjadi beban kakak-beradik itu.


"Tidak Bunga, kami senang memiliki anggota keluarga baru." Tina tersenyum pada Tiara.


"Terima kasih. Kalau nggak ada kalian, aku mungkin sudah nggak ada." Tiara langsung memeluk Tina.


"Hush! Nggak boleh bicara seperti itu! Mungkin memang sudah takdirnya kita dipertemukan dengan cara seperti ini."


Tina mengelus punggung Tiara. Usia Tina satu tahun lebih tua dari Tiara. Dan kebetulan, Tina bijak dalam perkataan maupun perbuatannya.


"Oh iya, Bang Satria mana, Tina? Tiara menanyakan keberadaan Satria.


"Kakak lagi cari ikan di sungai," jawab Tina.


"Oh, begitu," kata Tiara.


"Iya. Eh Bunga, aku mau tanya, kenapa kamu panggil abang ke Kak Satria? Kenapa enggak kakak aja?" tanya Tina dengan penasaran.


"Kenapa ya? Nggak tahu juga sih, pengen aja." Tiara merasa, lebih senang memanggil Satria dengan panggilan abang.


"Okey lah kalau begitu. Sekarang, kamu mau nggak bantu aku cuci piring di samping rumah?" tanya Tina.


"Tentu saja mau, ayo!" ajak Tiara.


Tina dan Tiara berjalan bersama keluar dari rumah, dengan membawa beberapa perabotan rumah yang kotor. Sesampainya di samping rumah, mereka pun mulai mencuci perabotan rumah yang kotor.


Dua puluh menit kemudian, Tiara dan Tina telah selesai dengan kegiatan mencuci perabotan rumah. Mereka meletakkan perabotan yang sudah bersih, didalam rumah.


Memang sedikit merepotkan, jika harus naik-turun rumah saat harus melakukan hal yang berkaitan dengan air. Tapi, Tina sudah terbiasa dengan hal itu.


"Tina, apa kamu nggak capek harus naik-turun seperti ini?" Tiara merasa kasihan dengan keadaan Satria dan Tina.


"Enggak, aku sudah terbiasa," ucap Tina dengan seulas senyum.


Tiara malu pada dirinya sendiri, karena dia sempat mengeluh dalam hatinya, karena keadaan di rumah Satria. Tiara kini sangat bersyukur, bertemu dengan kakak-beradik yang sangat baik.


Sepuluh menit kemudian, terdengar salam dari luar rumah. Dan sepertinya, itu suara yang berasal dari Satria. Tina dan Tiara bergegas keluar rumah. Dan benar saja, kedua gadis itu melihat kedatangan Satria dengan banyak ikan disisi kanan dan kirinya.