
Kini, mobil Denis telah sampai di halaman rumah si kembar. "Thank you Kak sepupu yang ganteng dan berduit, besok-besok traktir lagi ya," ucap Daffa.
"Ih kok gue merinding ya dengar pujian lo, Fa. Kalau cewek cantik yang muji mah nggak masalah," respon Denis.
"Ha-ha-ha-ha." Daffa merespon dengan gelak tawanya.
"Aku nginep disini ya," ucap Cinta tiba-tiba.
"Ya sudah, nanti kabari papa mamamu," ajak Daffa.
"Iya." Cinta mengirim chat kepada kedua orang tuanya.
Si kembar dan Cinta keluar dari mobil Denis. "Mau nginep sekalian nggak, Kak?" tanya Cinta kepada Denis.
"Next time-lah, gue pulang dulu ya, wassalamu'alaikum." Denis menutup kaca mobilnya dan pergi dari tempat itu.
"Yuk masuk yuk," ajak Daffi.
Ketiga orang itu berjalan pelan menuju teras rumah. "Cin, laki-laki yang tadi itu siapa? Kurang ajar banget sampai ngatain kamu murahan." Daffa teringat laki-laki yang menghina sepupunya sewaktu di cafe.
"Hmm dia itu teman SMA-ku dulu, aku sudah bilang kalau aku nggak suka sama dia, tapi dia masih ngotot ngejar aku terus," jelas Cinta.
"Kalau dia berbuat yang enggak baik, kamu ngomong sama aku ya, biar aku hajar dia," tegas Daffa.
"Kok ada ya orang model gitu?" Daffi ikut masuk dalam perbincangan.
"Tahu tu, Kak. Malas banget aku sama dia," respon Cinta.
Tok ... tok ... tok ....
"Assalamu'alaikum," Daffi membuka pintu.
"Wa'alaikum salam, eh ada Cinta," ucap Tiara.
"Iya, bibi, paman sudah tidur kah?" Cinta mencari keberadaan pamannya.
"Nggak tahu tuh di kamar Cin, kamu mau nginep disini kan? Barusan papa kamu chat bibi," ucap Tiara.
"Iya, bolehkan, Bi?" tanya Cinta kepada bibi cantiknya.
"Boleh dong, nanti kamu tidur di kamar tamu ya. Bibi mau istirahat dulu, besok jadwal padat soalnya, nanti kalau ada apa-apa minta tolong sama si kembar ya, good night." Tiara pergi meninggalkan Cinta dan kedua anaknya.
"Hey, main ponsel mulu sih." Cinta mengagetkan Daffa dan Daffi yang sedang menatap layar ponsel mereka.
"Lagi ngecek pesan masuk aja," respon Daffa dan Daffi.
"Aku masuk ke kamar tamu dulu ya, ngantuk." Cinta pergi meninggalkan Daffa dan Daffi.
*
*
*
Pagi hari, Tiara kini sudah berada di rumah sakit tempat ia bekerja. Tiara mempersiapkan alat praktiknya dibantu seorang asistennya. "Antrian sudah banyak kah, Mir? tanya Tiara kepada asistennya, Mira.
"Lumayan, Dok," jawab Mira.
"Ini sudah selesai kan ya? Suruh masuk saja pasien nomor satu." Tiara duduk sambil menunggu pasiennya datang.
"Baik, Dok," respon Mira.
"Atas nama Nona Sintia, silahkan masuk," ucap Mira didepan pintu ruangan praktik gigi.
Nama yang bersangkutan pun masuk ke ruangan praktik gigi. "Tindakan cabut gigi ya?" tanya Tiara.
"Iya, Dok, mau cabut gigi," jawab Sintia.
"Baik, Dok," respon Sintia.
"Nona Sintia, tolong tanda tangan ini dulu." Mira memberikan secarik kertas kepada pasien, kertas itu berisi surat pernyataan yang berkaitan dengan cabut gigi.
Tak lama, kertas itu sudah ditanda tangani. "Saya kasih obat bius dulu ya." Tiara menyuntikkan obat bius sebelum proses pencabutan gigi.
"Tunggu obat bius bereaksi dulu, nanti bilang ya kalau sudah terasa kebas," ucap Tiara.
Pasien menganggukkan kepalanya. Setelah beberapa saat, mulut pasien sudah merasa kebas. Tiara pun memulai operasi kecilnya. Di ruang tunggu, sudah ada seorang gadis kecil yang sudah tidak sabar bertemu dengan Tiara.
"Pa, kok lama ya, aku sudah nggak sabar mau ketemu bu dokter. Kira-kira dokternya cantik atau ganteng ya?" ucap gadis kecil itu.
"Papa juga nggak tahu, Sayang," respon laki-laki paruh baya disebelah gadis kecil itu.
Satu jam kemudian, operasi pencabutan gigi telah selesai, gigi pasien yang pertama sangatlah rapuh. Hal itu tentu saja membuat proses pencabutan gigi berjalan agak lama.
Setelah pasien pertama keluar dari ruang praktik, Mira membersihkan kursi dental itu lagi. "Sudah siap, Dok," ucap Mira.
"Ya sudah, kalau begitu suruh masuk pasien nomor dua," respon Tiara.
"Baik, Dok." Mira berjalan membuka pintu.
"Atas nama Nona Chaira, silahkan masuk," ucap Mira.
Nama yang dipanggil pun masuk ke ruang praktik gigi. "Tiara," gumam seseorang yang mendampingi pasien.
Tiara yang mendengar namanya disebut, langsung mendongakkan kepalanya mencari sumber suara. "Aditya," gumam Tiara pelan.
"Papa kenal sama bu dokter?" tanya Chaira.
"Ah, iya Papa kenal dengan bu dokter," jawab Aditya.
"Ah, silahkan duduk. Chaira mau bersihin karang gigi ya? Nanti dokter periksa dulu ya keadaan gigi Chaira, Chaira duduknya pindah disana ya Sayang." Tiara menunjuk ke kursi dental.
"Baik, bu dokter," respon Chaira.
Tiara segera melakukan pengecekan terhadap gigi Chaira. "Gigi kamu sepertinya baik-baik saja, kondisinya bersih lho. Wah, Chaira pasti rajin merawat kebersihan gigi ya," puji Tiara kepada pasien kecilnya.
"Iya, Dok, eh tapi-tapi Chaira kan sering makan yang manis-manis, jadi Chaira pikir perlu mengecek gigi Chaira ke dokter cantik," ucap Chaira.
"Karena gigi kamu baik-baik saja, dokter kasih vitamin saja ya buat kamu. Ini dokter ada hadiah juga buat anak hebat yang sudah berani datang ke dokter gigi." Tiara memberikan sebuah mainan anak-anak kepada Chaira. Chaira yang masih berumur enam tahun itu pun masih sedang jika diberi mainan anak-anak.
"Wah, terima kasih bu dokter cantik," ucap Chaira tersenyum.
"Sama-sama," ucap Tiara.
"Kalau begitu, sekarang gantian pasien yang lain ya. Maaf ya Chaira, kita tidak bisa berlama-lama berbincang," ucap Tiara.
Chaira pun turun dari kursi dental. "Ayo Pa, kita pulang." Chaira menarik tangan Aditya.
"Sebentar," ucap Aditya.
Aditya berjalan ke meja Tiara. "Apa kabar kamu, Tiara?" tanya Aditya, pandangannya tak dialihkan dari wajah Tiara yang masih tampak cantik itu.
"Alhamdulillah baik, maaf ya saya tidak bisa berbincang tentang hal pribadi. Karena anak kamu sedah selesai, tolong tinggalkan ruangan ini, diluar masih ada orang yang mengantri untuk memeriksa keadaan gigi mereka," ucap Tiara tanpa melihat ke arah Aditya.
"Baik, wassalamu'alaikum." Aditya keluar ruangan dengan menggandeng tangan Chaira.
Aditya memang masih saja terpana saat melihat Tiara. Tapi, sekarang dia tahu diri, dia tidak ingin mengganggu Tiara lagi. Aditya sadar jika Tiara tidak menyukainya, pertemuan kali ini ia anggap sebagai pengobat rindu saja, terhadap seseorang yang dulu ia kejar.
"Siapa tadi, Bu? Dari tadi saya perhatikan, dia terus memandangi Anda ketika Anda merawat pasien cilik tadi," kepo Mira.
"Hanya teman lama, kamu panggil pasien berikutnya," ucap Tiara tanpa ekspresi.
"Baik, Dok." Mira langsung memanggil nama pasien berikutnya. Duh, aku kayaknya sudah salah kepo nih. Kayaknya hubungan dokter Tiara dengan pria tadi, tidak biasa dimasa lalu. Besok-besok tidak perlu membahasnya lagi ah, batin Mira.