
Siang hari pukul 13:00, Tiara kini telah sampai di rumahnya, ia sedang duduk di ruang tamu. Beberapa saat kemudian, ada seseorang yang mengetuk pintu utama. "Siapa ya itu? Apa si kembar? Tapi, biasanya mereka langsung masuk setelah mengetuk pintu," gumam Tiara.
Tiara pun beranjak dari tempat duduknya, ia berjalan menuju pintu lalu membukanya. "Kakak," ucap seseorang diluar pintu, dan orang itu adalah Salsa, adik angkat Tiara.
"Salsa, kamu kok nggak bilang kalau mau pulang. Ayo masuk, apa kamu sudah ke rumah mama?" tanya Tiara.
"Budhe, apa Mama saja yang disuruh masuk? Aku sama Papa, apa disuruh diluar saja?" tanya seorang gadis berusia dua puluh tahun.
"Ya ampun, maaf Sayang. Ayo masuk dan duduk disini." Tiara menepuk kursi disebelah kirinya.
Gadis itu adalah Alona, anak Salsa dan suaminya yang berkebangsaan Amerika. Nama suami Salsa adalah Dave, Salsa dan Dave adalah teman sewaktu kuliah dulu. Setelah menikah, Salsa ikut dengan suaminya hidup disana, dan sekarang Salsa pulang untuk menjenguk keluarganya yang berada di Jakarta.
"Kakak kembar ganteng pada kemana, Budhe?" tanya Alona.
"Kemana ya? Budhe nggak tahu, budhe juga belum lama pulangnya dari rumah sakit, Al," jawab Tiara.
"Assalamu'alaikum," ucap Daffa dan Daffi didepan pintu.
"Wa'alaikum salam," jawab semua orang yang berada di ruang tamu.
"Eh, kok ada si bule Al disini?" ucap Daffa yang melihat Alona.
"Aku kangen banget sama kalian sepupu gantengku." Alona berlari ke arah Daffa dan Daffi, lalu memeluk sekilas mereka secara bergantian.
"Ayo kita ngobrol di balkon, disini tempat para orang tua." Alona menarik lengan Daffa dan Daffi menuju lantai dua di rumah itu.
"Kak, aku kangen banget sama mama dan papa. Nanti malam kita kesana bersama ya," pinta Salsa.
"Iya, aku juga belum bertemu mama seminggu ini," respon Tiara.
*
*
*
Malam hari, kini Tiara, Dave, dan Salsa telah naik mobil, Daffi lah yang mengendarai mobilnya. Sementara Daffa dan Alona, mereka menaiki motor sport milik Daffa. Mereka melaju ke arah rumah Jihan, mamanya Tiara.
Setelah lima belas menit, rombongan Tiara telah sampai di halaman rumah Jihan. Sementara motor Daffa, telah terparkir di halaman rumah Jihan terlebih dahulu.
Rombongan Tiara pun masuk kedalam ruang tamu, pintu utama saat itu terbuka lebar. "Assalamu'alaikum," ucap rombongan Tiara.
"Wa'alaikum salam," jawab semua orang yang sedang berada di ruang tamu itu. Di ruang tamu itu, ada Jihan, David, Daffa, dan Alona.
"Mama," Salsa berlari ke arah Jihan yang sudah terlihat tua, tubuh Jihan dan David juga mulai menyusut.
"Salsa kangen banget sama Mama." Salsa memeluk Jihan dengan erat.
"Kamu nggak kangen juga sama Papa, Sa? Papa juga pengen dipeluk sama anak Papa yang satu ini," ucap David cemberut.
"Salsa juga kangen kok sama Papa." Salsa beralih memeluk David.
"Mama dan Papa apakah sedang sakit? Sepertinya berat badan kalian menurun lagi," ucap Salsa sedih.
"Kami tidak apa-apa kok, Sa. Mama dan Papa sehat walafiyat kok, kamu tidak perlu khawatir, Sayang," respon Jihan sambil tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu, kalau ada apa-apa jangan dipendam ya Ma ... Pa ... cerita kepada kami para anak cucu kalian," ucap Salsa lagi.
"Iya, Sayang, kami pasti akan cerita jika ada apa-apa," ucap Jihan sambil tersenyum.
"Assalamu'alaikum," ucap seseorang didepan pintu. Seseorang itu adalah Davin, dibelakangnya ada istri dan anaknya.
"Wa'alaikum salam," jawab semua orang yang berada di ruang tamu.
"Iya, mereka ada diatas," jawab Salsa.
Denis pun naik ke lantai atas, setelah mencium tangan para sesepuh yang berada di ruang tamu itu. "Alhamdulillah, Mama senang keluarga kita berkumpul seperti ini," ucap Jihan lemas.
"Tapi, kurang Kak Chandra Ma," ucap Tiara.
"Aku ada disini, assalamu'alaikum," ucap Chandra didepan pintu.
"Wa'alaikum salam, panjang umur kamu, Ndra. Mamamu ini baru saja membicarakanmu, sini duduk disamping Mama." Jihan menepuk kursi disampingnya.
"Lo, terus Papa pindah kemana, Ma?" protes David, karena tempat duduk yang Jihan tepuk berada ditengah-tengah antara Jihan dan David.
"Terserah Papa aja," respon Jihan.
"Bentar Ma, aku nunggu Susi dulu, istri tercintaku," ucap Chandra.
Susi dan Cinta pun telah berdiri didepan pintu. "Yang ditunggu pujaan hatinya saja kah, Pa? Aku anak Papa satu-satunya lo," protes Cinta.
"Papa percaya kalau kamu itu anak papa yang mandiri dan tegar, jadi kamu nggak perlu ditunggu. Ayo, Ma." Chandra menarik tangan Susi, Susi hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku suaminya itu.
"Ayo Sayang, kita kesana," ajak Susi kepada putrinya.
"Iya, Ma," respon Cinta.
Cinta mendengus kesal, dengan perilaku diskriminasi yang dilakukan oleh papanya sendiri. Cinta berjalan ke arah para tetua dan mencium punggung tangan mereka. "Kak Daffa dan Kak Daffi dimana, Nek?" tanya Cinta kepada Jihan.
"Mereka ada di lantai dua, coba aja tengok," jawab Jihan.
Cinta pun naik melewati tangga demi tangga, kini ia pun sudah berada di lantai dua. Mereka pasti ada di balkon," tebak Cinta.
"Baaaa," teriak Cinta.
Semua orang yang berada di balkon menoleh ke arah Cinta. "Eh, kok ada si bule Al?" tanya Cinta.
"Emangnya kamu tadi nggak lihat apa ada mama sama papa aku dibawah?" tanya Alona heran.
"Tadi ya? Tadi sih tidak ada, apa mereka sedang istirahat dikamar ya?" tanya Cinta balik.
"Entahlah," jawab Alona.
Tadi kebetulan, memang Salsa dan Dave sedang tidak berada di ruang tamu, mereka sedang buang air kecil di toilet yang berbeda.
"Ini momen yang jarang, kita para sepupu bisa berkumpul begini, ayo kita foto bersama," ajak Cinta.
"Oke, mari berpose ria," respon Alona.
Semua orang yang berada di balkon itu berpose dengan berbagai pose, Daffa secara khusus berfoto dengan Alona, si bule cantik itu. "Aku post ah foto aku sama Alona, caption-nya ... si bule cantikku," ucap Daffa.
"Enak aja kamu, Kak, pakai wajahku buat naikin pamormu di sosial media," protes Alona tak terima dengan caption yang Daffa tulis.
"Nggak papa ya, sekali-kali bantu sepupu tampanmu ini," ucap Daffa.
Kelima orang yang berada di balkon itu pun berbincang tentang banyak hal, mereka menceritakan kehidupan mereka masing-masing secara bergantian. Setelah merasa sudah larut malam, mereka pun memutuskan untuk berpindah ke ruang keluarga yang berada di lantai dua. Di ruang keluarga itu, mereka melanjutkan perbincangan mereka.
Disisi lain, para orang tua kini sudah berpamitan menuju ke kamar peristirahatan masing-masing. Setelah anggota keluarga bertambah, David memutuskan untuk menambah beberapa kamar. Kamar itu pun hanya dipakai jika ada tamu yang menginap, atau keluarga besar yang berkumpul seperti sekarang ini.