
Satu bulan lagi adalah hari pernikahan antara Davin dan Erina, kedua pihak keluarga sepakat untuk melaksanakan akad dan serepsi disatu gedung yang sama. Segala keperluan, mulai disiapkan. Mulai dari baju pengantin, katering, souvenir, undangan dan masih banyak lagi.
"Yang mau nikah siapa ... yang repot siapa." Ucap Chandra.
"Heh. Jangan asal ngomong kamu ya, kamu besok kalau nikah juga bakal begitu." Ucap Mama Jihan sambil menjitak kepala Chandra pelan.
"Auuu ... sakit Ma ...." Kata Chandra, lalu memegang kepalanya yang dijitak oleh Mamanya.
"Tahu ni Kak Chandra. Namanya juga makhluk sosial, ya saling tolong-menolong lah. Apalagi kita ini keluarga." Salsa berkata kepada Chandra dengan jengkel.
"Iya ... iya ... aku ke kamar dulu ah. Males disini, banyak aura jahat." Ucap Chandra lalu berlari meninggalkan Mama Jihan dan Salsa.
"Eh, jangan kabur kamu Kak." Salsa berkata, lalu melemparkan sebuah bantal ke arah Chandra, bantai itu tadinya berada diatas sofa.
"Udah-udah ... sini bantuin Mama nempelin nama tamu undangan dikertas undangan." Ucap Mama Jihan.
" Iya, Ma. " Jawab Salsa. Salsa kembali duduk disamping Mamanya.
Sepuluh menit berlalu, Salsa kini merasakan perutnya bermasalah. Sepertinya ada sesuatu yang janggal. Salsa berpikir sejenak, dan ternyata saat ini dia sedang kelaparan, yang akhirnya membuat perutnya sakit.
" Ma, aku udah dulu ya bantuinnya. Aku laper, mau makan dulu." Ucap Salsa sambil memegang perutnya.
"Yaudah, sana makan dulu." Respon Mama Jihan.
"Ma, lagi apa?" tanya Tiara tiba-tiba. Tiara baru keluar dari arah kamarnya.
"Ini, lagi nempelin nama tamu undangan untuk nikahan Kakak kamu. Kamu dari mana Ra?" tanya Mama Jihan balik.
"Tadi tu habis update novelku di notebook, trus mandi deh biar seger." Jawab Tiara.
"Kamu nggak pengen istirahat aja nulis novelnya? Mama sama Papa bakal hidupin kamu sayang." Tanya Mama Jihan lagi.
"Gimana ya Ma, aku kayaknya nggak bisa ninggalin karya-karyaku. Karena menulis karya adalah salah satu duniaku, dan impianku ... semoga suatu saat bisa menjadi penulis hebat nomor 1 di negara ini, kalau perlu di dunia." Jawab Tiara. Awalnya Tiara menjawab dengan lesu, namun pada akhir kata-katanya, dia sangat bersemangat.
" Yaudah kalau gitu, tapi jangan lupa jaga kesehatan ya." Ucap Mama Jihan lalu mengecup kening Tiara.
" Iya, Ma." Kata Tiara sambil tersenyum kepada Mamanya. Mama Jihan dan Tiara, kembali melanjutkan menempel nama tamu undangan dikertas undangan.
...***...
Satu bulan berlalu, hari ini adalah hari pelaksanaan akad dan resepsi pernikahan Davin dan Erina. Akad nikah akan dilaksanakan pada jam delapan pagi. Kedua pihak dari keluarga nempelai, telah berkumpul di gedung yang digunakan untuk akad dan resepsi itu. Budhe Lisa, Dika, dan Luna juga hadir dalam acara pernikahan itu. Saat ini, Luna telah hamil beberapa bulan, dan perutnya sudah mulai membuncit.
"Alhamdulillah ternyata Kak Dika benar-benar perkasa." Ucap Chandra sambil melihat kearah perut Luna yang membuncit.
"Eh, jangan lihat istriku lama-lama!" Ancam Dika kepada Chandra.
Luna langsung tersenyum mendengar ucapan sang suami, Luna merasa suaminya mulai cemburuan, setelah dia tahu bahwa istrinya sedang hamil. Dika juga lebih perhatian kepada Luna, bahkan dirumah Luna tidak diperbolehkan melakukan pekerjaan rumah.
"Ih ... serem ...." Ucap Chandra sambil menutup kedua matanya dengan tangan kanannya.
"Udah-udah, jangan berisik. Acara udah mau dimulai." Ucap Mama Jihan, menengahi.
Acara pertama pun dimulai, yaitu proses akad nikah. Davin pun mengucapkan ijab qabul dengan lancar, dan kini Davin dan Erina telah resmi menjadi sepasang suami istri. Kemudian, Davin dan Erina foto bersama,dan dilanjutkan mengambil foto bersama dengan dua keluarga besar dari mempelai pria dan wanita.
Setelah berfoto, kedua pengantin naik ke panggung pelaminan. Tapi, sebelum naik ke atas panggung, mereka sudah mengganti baju pengantin mereka. Dari yang berwarna putih, menjadi warna biru. Setelah acara inti selesai, satu-persatu tamu naik ke atas panggung resepsi, untuk memberikan ucapan selamat kepada Davin dan Erina atas pernikahan mereka.
Setelah sesi bersalaman selesai, Kedua pengantin kembali berfoto dengan dua keluarga besar mereka. Dan kedua pengantin juga berfoto dengan teman-teman mereka, yang datang diacara pernikahan itu. Setelah acara benar-benar sudah selesai, para tamu pun meninggalkan gedung sambil membawa sebuah souvenir pernikahan.
Karena Davin sudah mempunyai rumah sendiri, Davin mengajak Luna untuk pulang kerumahnya, dan tentu saja kini menjadi rumah mereka berdua. Jarak rumah Davin dengan rumah Papa David, sekitar dua puluh menit jika menggunakan mobil.
Ada rasa sedih di hati Mama Jihan dan Ibunya Erina, karena mereka akan ditinggalkan oleh anak-anak mereka. Namun, mereka segera menepis perasaan itu, karena itu tidaklah baik jika dilanjutkan.
Davin dan Erina pamit kepada seluruh keluarga mereka, yang berada di gedung pernikahan itu, lalu Davin dan Erina meninggalkan gedung itu. Setelah itu, Mama Jihan dan keluarganya pulang ke rumah mereka, keluarga dari Erina juga telah pergi meninggalkan gedung pernikahan.
...***...
Kini, Davin dan Erina telah sampai di rumah mereka. Davin mengambil beberapa barang bawaannya dari dalam mobil, sedangkan Erina hanya mengambil satu tas yang berisi pakaian-pakaiannya. Erina tidak membawa banyak barang-barangnya.
Davin telah jauh-jauh hari mempersiapkan barang-barangnya, lalu menyimpan didalam mobilnya. Karena sejak awal sudah didiskusikan, bahwa setelah selesai acara pernikahan Davin dan Erina akan tinggal dirumah mereka sendiri. Jadi, Erina juga telah mempersiapkan satu tas berisi pakaiannya, yang tadinya dititipkan dahulu kepada Tantenya saat acara pernikahan berlangsung.
"Aku bantu ya, Mas." Ucap Erina.
"Nggak usah sayang. Oh iya, ini kuncinya. Kamu masuk dulu ya." Respon Davin. Davin mengambil kunci rumah yang berada disakunya, dan memberikan kunci itu kepada Erina.
"Baik, Mas." Jawab Erina, lalu melangkah menuju pintu depan di rumah itu.
Erina masuk sambil mengucapkan salam, Erina melihat keadaan rumahnya dan suaminya. Rumah itu berlantai dua, mungkin terlalu luas jika hanya dua orang yang menghuninya. Saat Erina sedang fokus melihat keadaan ruang tamu di rumah itu, tiba-tiba dia terkejut dengan kedatangan Davin, suaminya.
"Kamu kaget ya?" tanya Davin.
"Iya, Mas. Kamu sih, orang lagi fokus liat keadaan rumah kamu kok." Jawab Erina.
"Kok rumah aku? yang bener rumah kita, Sayang." Ucap Davin.
"Iya ... iya ... rumah kita." Kata Erina.
"Yaudah, yuk masuk ke kamar kita." Ucap Davin sambil memegang tangan Erina, lalu melangkah menuju kamar mereka yang berada dilantai dua.
Kini, Davin dan Erina telah sampai di depan kamar mereka. Davin masih menggenggam tangan Erina, dan masuk ke kamar mereka. Erina mengucap salam kembali ketika memasuki kamarnya, tetapi kini ia mengucapkannya dengan suara lirih. Meskipun lirih, tapi masih terdengar oleh Davin, Davin pun menjawab salam itu. Erina terbiasa mengucap salam, ditempat baru yang akan dia huni.
"Yaudah, aku mau mandi dulu ya. Biar seger badannya, ternyata capek juga ya duduk berjam-jam di kursi pelaminan." Ucap Davin.
"Iya Mas, capek." Respon Erina.
Davin pun masuk ke kamar mandi, untuk membersihkan dirinya. Sedangkan Erina, melihat sekeliling kamar. Erina melihat sebuah foto yang tak terlalu besar, tergantung ditembok. Foto itu adalah foto suaminya, Davin. Erina menyentuh foto itu, sambil mengagumi ketampanan suaminya, seketika ia bersyukur berjodoh dengan Davin.
Ceklek.
"Kagum ya sama foto itu? ini ada yang asli, sini kalau mau pegang-pegang." Ucap Davin. Davin yang baru saja keluar dari kamar mandi sambil berkata seperti itu, tentu saja membuat Erina terkejut dan malu.
"Kamu mandi dulu ya, biar seger badannya, biar capeknya hilang. Bisa nggak lepas baju pengantinnya? kalau nggak bisa, aku bisa bantu." Ucap Davin.
"Bi ... bisa ... bisa. Aku mandi dulu ya." Ucap Erina. Erina bergegas masuk ke kamar mandi, karena terburu-buru dia sampai lupa membawa baju ganti.
Sepuluh menit kemudian.
"Mas, boleh minta tolong? ambilin pakaian gantiku, aku tadi lupa enggak bawa." Pinta Erina kepada Davin.
"Ya, sebentar." Jawab Davin. Namun, Davin sengaja tak mengambilkan baju ganti, malah mengambil sebuah handuk yang tidak terlalu besar.
"Ini ....Aku tutup mata, nggak lihat. Kamu keluarin tangan kamu, lalu ambil pakaianmu. Erina pun segera mengambil pakaian itu.
" Lo, kok cuma handuk Mas? mana kecil lagi? "tanya Erina sambil melihat handuk ditangannya.
" Adanya itu, kalau kamu nggak percaya, yasudah keluar dan cari sendiri." Jawab Davin pelan dari luar kamar mandi. Davin berkata sambil menahan tawanya, karena menjahili istrinya.
Erina terdiam mendengar perkataan Davin, ia mondar-mandir didalam kamar mandi. Erina berpikir, bagaimana mungkin ia keluar hanya menggunakan handuk kecil itu. Ya memang, bagaimanapun itu hak dari suaminya, ketika melihat seluruh tubuhnya. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Erina memberanikan diri untuk keluar dari kamar mandi, karena dia juga sudah kedinginan berada disana.
Davin melihat Erina keluar dari kamar mandi, dengan hanya menggenakan handuk yang ia berikan. Davin menelan saliva nya, saat melihat tubuh istrinya dari bawah sampai atas. Davin menghampiri Erina tanpa berkata, ia mencium Erina sambil memeluknya. Erina tersentak dengan perlakuan Davin, namun perlahan mulai menikmatinya. Setelah Davin merasa puas, Davin melepaskan Erina.
"Kita lanjut nanti ya, kita sholat dhuzur bersama. Aku ambil wudhu dulu, dan kamu segera pakai pakaian kamu, nanti kamu kedinginan." Ucap Davin lalu berlalu meninggalkan Erina.
"Lanjut nanti ...?" Erina bermonolog.