
Tiara, Papa David, Salsa, dan Dinda telah selesai menata rumah kakek Tiara, mereka beristirahat sejenak di sofa ruang tamu. Tiba-tiba, ada seseorang yang mengetuk pintu utama di rumah itu.
"Biar aku saja ya Pa, yang buka pintu." Tiara beranjak dari tempat duduknya.
"Iya Ra," ucap Papa David.
Tiara membuka pintu utama itu, dan yang ia lihat adalah sosok Chandra dan Mama Jihan. Mama Jihan dan Chandra masuk sambil mengucap salam.
"Wah ... udah rapi nih. Oh iya, ini Mama bawa makanan dan minuman. Kalian pasti laper dan haus kan?" Kata Mama Jihan.
"Iya Ma, Tiara laper nih." Tiara mengelus-elus perutnya.
"Ini temen kamu ya Ra? Namanya siapa?" tanya Mama Jihan kepada Tiara saat melihat Dinda.
"Namanya Dinda, Ma," jawab Tiara.
"Saya Dinda, Tante." Dinda tersenyum ke arah Mama Jihan.
"Ouwwhh, manisnya." Chandra memperhatikan senyum Dinda.
"Kak Chandra, jangan ganggu Kak Dinda deh. Huss ... huss ... sana!" Salsa mendorong pelan Chandra.
"Apaan sih kamu Sa, itu lo makanan yang Mama beli manis banget," Chandra berusaha mengelak.
"Tapi, Aku bolehkan kenalan sama dia. Eh siapa tadi namanya? Dinda ya. Kali aja kita jodoh," ucap Chandra sambil tersenyum.
"Udah Kak Dinda, nggak usah hiraukan cowok satu ini. Yuk kita pilih makanan yang dibawa Mama," ucap Salsa.
"Baik, Sa," respon Dinda. Dinda tak menghiraukan ucapan Chandra.
Semua orang yang berada di rumah itu, menikmati makanan dan minuman yang dibawakan oleh Mama Jihan. Setelah beberapa saat, Dinda pamit kepada semua orang yang berada di rumah itu. Dinda pamit karena hari sudah sore, dan dua puluh menit lagi waktu sholat maghrib akan tiba.
...***...
Tiara kini sedang berada dikamarnya. Tak selang lama setelah kepulangan Dinda di rumah Kakeknya, Tiara dan keluarganya juga pulang ke rumah mereka.
Kini, Tiara sedang duduk di meja belajarnya dan menatap layar laptopnya. Tiara mengecek keberadaan paket buku yang ia pesan secara online. Lima menit kemudian, Tiara terlelap memiringkan kepala di meja belajarnya.
Setengah jam kemudian, Salsa masuk ke kamar dan melihat Tiara yang tertidur di meja belajarnya. Salsa membangunkan Tiara pelan, Tiara pun terbangun dan berjalan pelan menuju ranjangnya.
Karena sudah mengantuk, Salsa pun ikut tidur. Tak lupa ia membersihkan diri terlebih dahulu dikamar mandi, Salsa tidak mau wajahnya ditumbuhi jerawat jika ia lupa mencuci wajahnya sebelum tidur.
Keesokan harinya. Tiara meminta tolong kepada Chandra untuk menjemput anak-anak panti, dan mengantar mereka ke rumah baru mereka. Kali ini Salsa tidak ikut, karena dia ada janji dengan temannya untuk bertemu.
Setelah beberapa saat, mobil Chandra telah sampai di depan rumah anak-anak panti yang mereka tinggali saat ini. Chandra mengamati rumah itu dari dalam mobilnya, mata Chandra sedikit berkaca. Bagaimana tidak, rumah kayu yang tak terlalu besar itu, harus menampung puluhan anak.
Tiara dan Chandra turun dari mobil, lalu mengetuk pintu rumah itu dan mengucap salam. Terdengar seseorang menjawab salam dari dalam rumah, lalu terbukalah pintu rumah itu. Dan orang itu adalah Pandu, kakaknya Mutiara.
"Kamu Ra, ayo silahkan masuk. Maaf ya tempat kami tidaklah luas." Pandu mempersilahkan Tiara dan Chandra duduk.
"Ini Kakak kamu Kak Ra?" tanya Pandu kepada Tiara, saat melihat Chandra.
"Iya, ini Kakak aku. Namanya Kak Chandra." Tiara memperkenalkan Kakaknya. Chandra dan Pandu saling berkenalan dan berjabat tangan.
Pandu terdiam sejenak, dia terkejut dengan penuturan Tiara. Dia merasa hal yang ia dengar adalah sebuah mimpi. Pandu pun segera mencubit tangannya sendiri, dan ia merasakan sakit karena cubitannya.
"Bukan mimpi ...," kata Pandu pelan, namun masih terdengar oleh Tiara dan Chandra.
"Iya, ini bukan mimpi. Mungkin ... ini adalah jawaban dari do'a-do'a kalian, yang dititipkan kepada Papa kami," ucap Chandra.
"Sa-saya ... apakah saya dan anak-anak yang lainnya pantas mendapatnya?" ucap Pandu terbata-bata sambil meneteskan air matanya.
Pandu memang selalu berdo'a, agar suatu saat nanti mempunyai tempat tinggal yang layak dan luas untuk dirinya, Mutiara, dan adik panti yang lainnya.
Tapi, Pandu juga tak menyangka jika do'anya akan segera terwujud. Pandu menundukkan kepalanya, sambil sedikit terisak. Dia mengingat perjuangan dirinya dan adik-adiknya dimasa lalu, yang berat dijalani.
Melihat Pandu yang sedang terisak, Chandra beranjak dari tempat duduknya dan duduk disamping Pandu. Chandra merangkul bahu Pandu, dan menepuk perlahan.
"Sekarang kita beres-beres ya, trus pindah rumah," ucap Chandra pada Pandu.
"Iya," respon Pandu.
Suasana dirumah pada saat itu sedang sepi. Karena, Mutiara sedang mengajak semua anak-anak bermain ditaman umum. Letak taman umum itu, tak jauh dari rumah yang mereka tinggali.
Tiara, Pandu, dan Chandra membereskan semua pakaian dan barang-barang yang berada di rumah itu. Barang-barang tersebut dimasukkan kedalam beberapa tas besar, tas besar tersebut sudah disiapkan oleh Tiara.
Setelah selesai berberes, Chandra, Tiara, dan Pandu menghampiri Mutiara dan anak-anak yang lain di taman kota. Tapi sebelum itu, Pandu terlebih dahulu berpamitan kepada pemilik rumah kayu tersebut.
Chandra menjelaskan hal yang terjadi kepada Mutiara dan anak-anak yang berada di taman kota itu. Dan hal itu tentu saja membuat mereka terkejut sekaligus senang, karena mereka akan menempati rumah baru.
Chandra segera membawa sebagian anak dan mengantarkan mereka ke rumah baru mereka. Karena jumlah anak yang lumayan banyak, tak memungkinkan jika dilakukan dengan satu kali angkut.
Setelah Chandra sampai di rumah baru, Chandra menurunkan semua barang-barang. Chandra memberikan kunci rumah kepada Tiara. Setelah itu, Chandra kembali untuk menjemput sebagian anak yang masih di taman kota.
"Masya Allah, besar sekali rumah ini," ucap Pandu.
"Ini untuk kalian," jawab Tiara sambil tersenyum.
"Secepatnya, aku ingin bertemu dengan Papa kamu dan berterima kasih padanya," kata Pandu.
"Iya Kak, nanti aku kabari Papa supaya kemari," ucap Tiara.
"Seharusnya aku yang datang ke Papa kamu, Ra." Pandu merasa tidak sopan jika Papanya Tiara yang menghampiri Pandu. Seharusnya Pandu lah yang menghampiri ke kediaman Papanya Tiara.
"Nggak apa-apa Kak, Papa itu orangnya santai," respon Tiara. Setelah perbincangan itu, keduanya diam dengan pikiran masing-masing.
Setelah beberapa saat, Chandra telah sampai lagi di gerbang rumah barunya anak-anak panti. Semua anak yang berada didalam mobil pun turun dari mobil, mereka kagum saat melihat bangunan yang berdiri dihadapan mereka.
Ada beberapa anak yang bersujud syukur di depan rumah itu, sambil menangis terisak. Mereka tak menyangka jika rumah mereka kini sangat bagus dan besar menurut mereka.
Setelah beberapa saat, semua orang masuk kedalam rumah. Mereka membersihkan tangan mereka sebelum memakan makanan yang tadi sempat dibeli oleh Chandra disebuah mini market.
Semua orang yang berada dirumah itu saling berbincang, dan terdengar canda tawa diantara mereka. Bisa dibayangkan betapa bahagianya mereka saat itu.