
Setelah selesai sholat shubuh berjamaah, mereka pun bersiap untuk pergi ke pasar, menjual ikan-ikan yang sudah di-asap oleh Satria.
Ketiga orang itu berjalan, menyusuri jalan ditengah hutan. Satria selalu membawa senjata tajam dimanapun dia berada, hal itu untuk berjaga-jaga jika ada serangan, entah dari binatang atau dari seorang pemburu hewan di hutan.
Setelah berjalan lama, akhirnya mereka sampai di ujung hutan. Mereka beristirahat sejenak, sambil meminum air mineral yang mereka bawa dari rumah.
"Huuh ... huuh ... huuh ...,capek banget ya ternyata," ucap Tiara.
"Bunga, kamu masih kuat nggak? Sepuluh menit lagi, kita sampai di pasar kok, letak pasar memang tak jauh dari tepi hutan ini," tanya Satria.
"Masih kuat kok, Bang," jawab Tiara.
"Tina, kamu kuat nggak buat jalan lagi?" tanya Satria pada adiknya.
"Kuat Kak, tapi istirahat bentar ya," pinta Tina.
"Baiklah," respon Satria.
Ketiga orang itu, beristirahat selama beberapa menit. Setelah selesai istirahat, mereka melanjutkan langkah kaki mereka menuju pasar. Sesampainya disana, mereka melihat banyak orang lalu-lalang berbelanja.
"Kita ke tempat penjual ikan asap dulu yuk," ajak Satria.
"Baik," ucap Tiara dan Tina bersamaan.
Tiara dan Tina mengikuti Satria dari belakang. Setelah beberapa saat, mereka sampai ke tempat yang mereka tuju. Satria pun menurunkan ikan asap yang ia bawa.
Penjual ikan asap itu menimbang ikan asap yang dibawa oleh Satria, kemudian memberi uang dari jumlah ikan asap yang dijual Satria.
"Eh, Satria. Ngomong-ngomong, siapa gadis cantik berjilbab ini?" tanya pedagang ikan asap.
"Dia temanku, Pak," jawab Satria.
"Ah masa sih? Kulihat, sepertinya kalian berjodoh," kata pedagang ikan asap, sambil tersenyum.
"Ah, bapak ini. Selalu saja, menggodaku." Satria mengingat jika setiap berjumpa, selalu digoda urusan jodoh oleh pedagang itu.
"Tapi yang ini beda, bapak yakin. Semangat ya, mengejar jodohmu." Pedagang itu menahan tawa, melihat ekspresi lucu dari Satria karena ia goda.
"Ah sudah ya Pak , saya permisi dulu," pamit Satria.
"Tunggu-tunggu, ini ada sedikit uang lebih buat kamu. Anak bapak lagi ulang tahun, kata dia suruh bagi-bagi rejeki ke orang lain, walaupun sedikit," ucap pedagang ikan asap.
"Tapi, ini kebanyakan, Pak." Satria melihat tiga lembar uang seratus ribuan.
"Tidak kok. Yaudah, sana kalau mau belanja kebutuhan pokok. Di warung pojok sedang ada diskonan, sana borong! Nanti keburu habis." Pedagang itu mendorong pelan tubuh Satria.
"Baiklah Pak, sekali lagi terima kasih, wassalamu'alaikum," pamit Satria.
"Wa'alaikum salam," jawab pedagang ikan asap.
Satria berjalan menghampiri Tiara dan Tina yang sedang duduk di kursi, yang jaraknya agak jauh dari lokasi pedagang ikan asap tadi.
Setelah itu, mereka makan di warung makan yang letaknya tak jauh dari situ. Setelah makan, mereka berbelanja kebutuhan pokok. Satria membelikan satu set pakaian untuk Tiara dan adiknya.
Setengah jam kemudian, ketiga orang itu kembali menyusuri jalan di hutan untuk pulang. Mereka berjalan agak cepat, karena tiba-tiba saja langit menjadi mendung.
Langkah demi langkah telah terlewati. Kini, mereka telah sampai di rumah panggung itu. Semua barang diletakkan diteras rumah, mereka duduk di teras dengan napas terengah-engah.
"Kaki-ku u-dah gempor ini, ka-mu capek nggak, Tina?" tanya Tiara terengah.
"Ca-pek Bunga, a-ku udah lama nggak i-kut ke pasar," jawab Tina juga terengah.
Beberapa saat kemudian.
"Ini buat kalian," ucap Satria sambil menyodorkan dua gelas untuk Tiara dan Tina.
"Terima kasih," kata Tiara dan Tina bersamaan.
Tak lama setelah itu, hujan turun deras. Ketiga orang itu, menikmati setiap tetes air hujan yang turun di depan rumah panggung itu.
...***...
Satu bulan kemudian. Hari ini, Satria berniat pergi ke tempat pos arum jeram. Entah kenapa, Satria baru terpikirkan hal itu. Satria ingin menanyakan kepada petugas arum jeram, tentang Tiara. Mungkin saja mereka mengingat wajah Tiara, jika memang Tiara korban arum jeram.
Satria, Tiara, dan Tina telah membawa banyak barang yang diperlukan selama perjalanan. Karena perjalanan memakan waktu yang lama, sekitar dua jam jika berjalan kaki.
Ketiga orang itu mulai berjalan, menyusuri tepi sungai. Arah mereka berlawanan dengan arus sungai. Mereka beberapa kali beristirahat, dan merenggangkan otot ditubuh mereka.
"Sungainya airnya jernih ya," ucap Tiara.
"Iya," respon Tina.
"Iya jernih, makanya aku gunain untuk keperluan kita di rumah," kata Satria.
"Hmm, semoga aku bisa ketemu sama keluarga aku. Aku bakal bawa kalian juga!" ucap Tiara dengan yakin.
"Kok bawa kita sih?" tanya Satria, juga Tina.
"Iya, aku nggak mau lihat kalian menderita lagi," ucap Tiara sedih. Satria dan Tina hanya diam, mendengar ucapan dari Tiara.
Setelah cukup beristirahat, mereka melanjutkan perjalanan mereka. Setelah berjalan lama, akhirnya mereka sampai di pos arum jeram.
Ketiga orang itu berjalan menuju pos itu, dan menanyakan beberapa hal yang berkaitan dengan Tiara. Petugas yang berjaga disitu, mengingat kembali peristiwa satu bulan lalu, dimana ada seorang gadis yang hilang saat naik arum jeram.
"Ya Allah mbak, mbak selamat! Alhamdulillah, saya ikut senang. Saya mengingat bagaimana sedihnya keluarga mbak waktu itu, mereka tampak sangat terpukul setelah diumumkan hasil akhir pencarian," jelas petugas itu.
"Apa bapak mempunyai nomor keluarga yang bisa dihubungi?" tanya Satria.
"Ada, sebentar saya hubungi pihak keluarganya." Petugas itu memberi kabar kepada keluarga Tiara, jika anak gadis mereka masih hidup.
Keluarga Tiara sangat terkejut, sekaligus senang mendengar jika Tiara masih hidup. Mereka langsung bergegas, menuju lokasi pos arum jeram.
Sementara Tiara yang mendengar penuturan petugas arum jeram itu, meneteskan air matanya. Walaupun Tiara tidak ingat siapa keluarganya, namun ia bisa membayangkan betapa hancur keluarganya saat itu.
Tina langsung memeluk erat Tiara, sambil mengelus punggung Tiara. Tina juga menangis mendengar penuturan petugas arum jeram itu, Tina teringat akan mendiang kedua orang tuanya.
Mata Satria berkaca-kaca. Satria bersyukur, karena sebentar lagi Tiara akan bertemu dengan keluarganya. Satria akan membantu, semampu yang ia dapat lakukan.
Setelah dua jam, keluarga Tiara telah sampai di pos arum jeram. Mama Jihan turun dari mobil, berlari sambil meneteskan air matanya. Mama Jihan langsung memeluk Tiara yang sedang berdiri di depan pos arum jeram.
"Sayang, Mama Jihan kangen sama kamu, mama takut jika harus kehilangan kamu lagi." Mama Jihan memeluk erat Tiara ditengah derai air matanya.
Tiara hanya diam tak bersuara, Tiara seperti orang kebingungan. Tiara melihat semua orang yang keluar dari mobil itu, mereka tampak meneteskan air mata mereka.
"Maaf, Bu. Saya mau menyampaikan, jika putri ibu mengalami hilang ingatan," ucap Satria ditengah suasana haru itu.
Deg.
Semua orang yang berada di tempat itu, terkejut mendengar penuturan dari Satria. Mama Jihan yang mendengar penuturan dari Satria, jadi paham kenapa putrinya hanya diam mematung tanpa bicara sepatah katapun.