
Hari tournamen pun tiba
Ratusan sekte berkumpul di satu kota untuk mengikuti satu tournamen terbesar dalam sejarah. Dari sekte aliran hitam hingga sekte aliran putih berkumpul di kota Giok ini untuk memeriahkan tournamen sekaligus memperebutkan gelar juara.
Di tournamen ini hanya ada satu peraturan, yaitu tidak di perbolehkan memanggil bantuan dari sesama murid ataupun tetua sekte. Boleh membunuh, menggunakan pil peningkat, memanggil beast atau roh, semua hal curang yang selama ini di pikirkan boleh di gunakan dengan bebas.
Gedung yang di gunakan berbentuk seperti stadion sepakbola namun di dalamnya terdapat 10 arena bertarung, tempat duduk penonton seperti tribun pada umumnya namun terdapat tribun VVIP untuk patriark sekte dan jajarannya dan tribun VIP untuk orang-orang yang sanggup membayar sekaligus ingin mendapatkan fasilitas yang mewah.
Kedua kategori tribun khusus tersebut berbentuk kamar kaca yang hanya terdapat 15 kamar saja untuk VIP dan 100 kamar untuk VVIP karena menyesuaikan slot setiap sekte. Kevin sudah memesan satu kamar VIP untuk tempatnya menonton bersama teman-temannya.
Kini mereka semua sudah berada di kamar yang di pesan Kevin menunggu pembukaan tournamen.
"2x lipat lebih gede dari stadion ya, luas banget." ucap Demian kagum.
"Kau bayar berapa vin buat kamar VIP ini?" tanya Deni kepo.
"1000 koin platinum." jawab Kevin santai sambil merokok karena jendela sudah di buka.
"Ehh mahal banget nak! kalau segitu mendingan kita nonton di tribun aja." ucap Aurora.
"Murah kok mah, aku juga mau lihat perkembangan murid-murid lebih jelas. Lagian seribu koin itu buat semua pertandingan dari awal sampai final." ucap Kevin.
"1000 koin sedikit kok itu, lagian dia udah maling jutaan koin diamond dari Kerajaan dulu." ucap Andreas.
"Hehehe...ketahuan deh..." ucap Kevin nyengir.
"Peraturan nya gimana ini?" tanya Dion.
"Bebas, yang penting gak boleh ada yang bantu gelud dari satu perguruan." jawab Kevin.
"Boleh bunuh?" tanya Dion.
"Boleh, disahkan jadi pemenang dan gak akan dapat hukuman apapun." jawab Kevin.
"Lumayan beresiko yaa..." ucap Dion menggaruk tengkuknya.
"Wajarlah ada sekte aliran hitam juga, jadi orang orang anggap ini sebagai ajang balas dendam antar sekte." ucap Kevin.
"Vin ada cewe vin! gilee cantik bener!" ucap Agus spontan yang membuatnya di tabokin Devina.
"Itu tuan putri Ayla, dari Kerajaan Discworld, mempunyai 5 pengawal yang di sebut sebagai 5 pilar Discworld. Mengajukan 5 orang Kerajaan untuk ikut pada tournamen ini, kelima orang itu sudah ada di ranah Tyrant." ucap Virzha.
"Nama lengkapnya siapa?" tanya Andreas.
"Rayla Belinda, anak dari raja Groth yang terkenal sangat ampuh di alam ini." jawab Virzha.
"Loh sama kayak namamu hahaha...." ucap Kevin menggoda Linda yang mukanya terlihat cemberut dari tadi.
"Ayang diam!!!" ucap Linda kesal melihat Kevin yang tertawa terbahak-bahak.
"Ngamok hahahah......" ucap Kevin semakin tertawa kencang.
"Bodoamat!" ucap Linda merajuk.
"Yahhh ngambek, ya udah gak jadi beli seblak." ucap Kevin.
"Aaaaaa....." rengek Linda memukul pelan dada Kevin.
"Iya iyaaa....hahaha..." ucap Kevin memeluk Linda gemas.
Pembukaan tournamen pun di mulai dengan pidato raja Dyrot, raja Kerajaan Valdeman yang membosankan. Setelah itu di lanjut pidato raja Groth sebagai tamu istimewa. Setelah itu barulah ketua umum Asosiasi Petualang membunyikan gong sebagai tanda tournamen di buka.
"Raja Brave juga datang ternyata." ucap Demian menunjuk kamar VIP nomor 7.
"Weehh iya! itu anaknya yang dulu pingin kau ajak kenalan kan vin!" ucap Deni.
"Tambah cantik ya dia, kulitnya lebih mulus." ucap Kevin membuatnya mendapat tamparan kecil dari Linda.
"Udah ah vin! jangan kayak gitu kasihan Linda!" ucap Aurora menasehati Kevin anaknya.
"Deni kol yang mulai!" ucap Kevin.
"Dihh nyalahin!" ucap Deni kesal.
"Hahaha...." Kevin tertawa geli melihat wajah jelek Deni ketika kesal.
"Mukamu kek pantat monyet kalau marah den hahaha..." ucap Riski tertawa kencang.
"Anj*ng gak tahan aku hahahaha...." ucap Kevin tertawa kencang sampai nangis.
"Pantat monyet masih lebih mulus kali!" ucap Agus.
"Udahlah! anj*ng!" ucap Deni mengerucut kan bibirnya.
"Nohh kan persis hahahaha...." ucap Riski semakin tertawa kencang.
Saat mereka sedang tertawa kencang tiba tiba sebuah ledakan besar terjadi di tengah arena 7.
Boomm....
"Apaan tuh?" tanya Kevin kaget.
"Roh sihir." jawab Andreas.
"Ini berapa sesi ayah?" tanya Kevin pada Virzha.
"Karena pesertanya 5000 orang, tiga hari ini pertandingan kelompok 20 peserta setiap arena, setiap arena di ambil satu pemenang. Hasil akhirnya 250 peserta, lanjut pertandingan per arena 5 peserta di ambil satu pemenangnya. Hasil akhir 50 peserta, lanjut pertandingan per arena 5 peserta lagi di ambil satu pemenang juga. Hasil akhir 10 peserta, baru satu lawan satu terus hasil akhirnya kan 5 peserta, kelima peserta itu di undi namanya yang beruntung bisa langsung lompat ke final." ucap Virzha mengambil nafas.
"Empat peserta sisanya lanjutkan pertandingan satu lawan satu, yang menang lanjut tanding buat tentuin juara tiga sekaligus masuk final. Nah yang kalah tadi tanding lagi buat nentuin juara 4 sama juara 5." ucap Virzha selesai menjelaskan.
"Ohhh lama juga ya berarti." ucap Kevin paham.
"Iya hampir satu bulan lamanya, hitung hitung juga menguntungkan sekitar." ucap Virzha.
Pertandingan hari ini tidak ada yang menarik, semua monoton karena di setiap arena pasti tidak imbang lawannya. Karena tidak seru Kevin mengajak teman temannya untuk pergi ke Asosiasi Petualang dan mengambil satu misi sebagai penghibur mereka di waktu luang.
"Ahh gak seru! ambil misi aja yok, gabut aku." ucap Kevin.
"Gass, ngantuk aku lihat pertarungan mereka." ucap Deni.
"Ayo gas." ucap Dion setuju.
"Iyaa.." jawab Andreas.
Mereka bertujuh pun pergi ke Asosiasi petualang untuk mengambil misi.
"Kok rame vin?" tanya Deni heran dengan Asosiasi petualang yang bukanya sepi malam tambah ramai dari biasanya.
"Gak tau juga aku." jawab Kevin.
Saat ingin melangkah masuk gerbang, mereka tiba tiba di hadang oleh dua penjaga tinggi besar sangar.
"Guild?" tanya salah satu penjaga bernama Edith.
"Ya." jawab Kevin.
"Scan Id card terlebih dahulu." ucap Edith menunjuk sebuah kotak kecil di sampingnya.
"Baiklah." ucap Kevin menurut.
Mereka scan lalu setelah itu baru di perbolehkan masuk ke area Asosiasi. Kevin mengajak teman tamannya ke papan misi kelas Naga.
"Cuman satu? mana cuman kulit ular naga lagi!" ucap Dion tidak puas.
"Gak seru, ular naga lemah, kita cari yang ke desa desa aja." ucap Kevin mengajak teman temannya ke papan misi kelas Abyss.
Di sana ada puluhan kertas misi dari paling ringan sampai paling berat. Kevin ingin mengambil satu kertas berisikan misi mengusir satu monster iblis kelas Abyss beserta para bawahannya yang paling lemah berada di kelas Iblis.
Baru saja menyentuh kertas misi, tiba tiba seorang pemuda tampan rupawan ikut menyentuh kertas misi tersebut.
"Tuan ingin mengambil misi ini?" tanya Kevin sopan.
"Iya, apakah tuan juga sama?" tanya pemuda itu balik.
"Iya, tapi lebih baik tuan yang ambil, saya lihat tuan sudah mengincar misi ini sejak lama." ucap Kevin mengalah.
"Terimakasih tuan, tuan sangat rendah hati.." ucap pemuda itu mengambil kertas misi lalu pergi menghampiri seorang wanita cantik dan rombongan pemuda lain.
"Kita ambil misi lain!" ucap Kevin kembali membaca kertas misi satu persatu.
"Yang ini aja vin! lawan Cyclops kelas Dewa Iblis! gas gak sih!" ucap Deni semangat.
"Gass banget niii!" ucap Dion dengan semangat membara.
"Hahahah....jeli juga matamu den! bentar aku urus formulirnya! tunggu sini!" ucap Kevin semangat.
Kevin mengurus semua formulir yang di butuhkan, setelah beres mereka pun pergi dengan penuh semangat. Saat ingin keluar gerbang Asosiasi mereka kembali di hadang oleh Edith.
"Kalian yang mau ambil misi tingkat Abyss? yang melawan raksasa kelas Dewa Iblis?" tanya Edith.
"Benar." jawab Kevin.
"Kami berdua di perintah untuk mengawal kelompok kalian, supaya jika terjadi sesuatu bisa cepat di tangani." ucap Edith menunjuk rekan kerjanya bernama Atlas.
"Tidak perlu tuan, kami bisa menanganinya sendiri." ucap Kevin menolak.
"Perintah ini tidak boleh di tolak, kami akan tetap mengawal kalian." ucap Atlas.
"Baiklah kalau itu mau kalian, apakah kalian bisa terbang?" tanya Kevin.
"Bisa, kami sudah di ranah Heavenly Emperor jadi bebas terbang tanpa hambatan." jawab Edith.
(Ranah Nirvana ke atas bisa bebas terbang tanpa pakai mana)
"Kalau begitu mari kita ke lokasi." ajak Kevin.
Mereka pun berangkat ke sebuah desa terpencil sesuai lokasi di kertas misi yang tadi di ambil. Sesampainya di gerbang desa tersebut, mereka heran karena tidak melihat satu manusia pun yang berlalu lalang layaknya desa biasanya.
"Haloooo....." teriak Deni sambil clingak celinguk.
"Besstttttt.... tuannnnn......" panggil seseorang dengan suara kecil.
Mereka semua menengok ke belakang dan melihat seorang pria paruh baya sedang bersembunyi di balik semak hutan.
"Ada apa tuan bersembunyi di semak semak seperti itu?" tanya Kevin.
"Sttttt jangan keras keras! ayo ikut saya ke perkemahan, nanti saya ceritakan semuanya." jawab pria itu dengan suara kecil.
Mereka pun mengkitu pria paruh baya itu memasuki semak belukar dan berjalan lumayan jauh mengikuti jalan setapak hingga sampai di sebuah perkemahan besar.
"Di sinilah kami mengungsi dari raksasa bermata satu yang gemar memakan manusia." ucap pria bernama Yosh duduk di sebuah bangku yang berbentuk melingkar i sebuah tumpukan arang.
"Lalu?" tanya Kevin ikut duduk di bangku tersebut.
"Sudah 5 tahun sejak raksasa itu muncul kami mengajukan surat misi ke kerajaan, tapi sampai saat ini baru tuan tuan ini yang datang. Setelah ribuan nyawa masyarakat melayang baru kali ini kerajaan mengutus satu kelompok untuk mengurus perkara ini." ucap Yosh kecewa.
"Bukan kerajaan yang tak mau tapi raksasa itu yang terlalu kuat, levelnya jauh lebih kuat di banding perualang di kerajaan ini. Kami akan berusaha sekuat mungkin untuk mengusir raksasa itu." ucap Kevin.
"Kami akan membantu doa dari sini, saya harap tuan tuan tidak terluka parah." ucap Yosh tersenyum tulus.
"Terimakasih do'anya, kalau begitu kami pergi dahulu." ucap Kevin pamit.
"Hati hati tuan tuan sekalian." ucap Yosh.
Mereka kembali ke desa dan menyebar dua dua, sedangkan Kevin sendirian keliling desa mencari inti masalah semua ini.
"Mana? gak ada." gumam Kevin celingak celinguk.
Boommm.....
Sebuah ledakan dahsyat terjadi sampai menggetarkan tanah dan meruntuhkan bangunan desa yang sudah lapuk.
Kevin dengan kecepatan penuh menghampiri asal ledakan yang ternyata di tempat bagian penelusuran Dion dan Demian. Di sana muncul raksasa yang tingginya setara dengan menara Eiffel, berkata satu dan tidak hanya satu melainkan 10 raksasa dengan satu bos Cyclops bertubuh 2x lebih besar dari lainnya.
Belum lagi bawahan mereka yang berupa monster kelas Iblis sampai Kaisar Iblis. Keadaan ini bukannya membuat Kevin dan kawan-kawan takut, tapi malah menjadi gembira bercampur semangat membara.
"Pesta besar!!!" teriak Dion semangat.
"Gak usah banyak omong! kalian satu satu biar aku urus bosnya sama satu bawahannya sekaligus!" ucap Kevin dengan sangat semangat.
Bersambung.....