
H-1minggu tournamen
Saat ini Kevin sedang jalan jalan sore bersama Linda di taman kota yang terlihat sangat indah dan sejuk. Keduanya duduk di bangku taman yang di sediakan, ngobrol tentang hubungan mereka, apa yang mengganjal, apa yang harus di perbaiki, menyampaikan unek-unek satu sama lain, dan lain-lain.
Keduanya ngobrol hingga malam hari karena harus terjadi debat satu sama lain dahulu lalu saling membela diri tidak mau di salahkan hingga akhirnya Kevin yang mengalah.
Akhirnya setelah saling memaafkan dan saling memahami satu sama lain mereka berdua berjalan pulang ke Villa.
Di tengah perjalanan mereka di hadang oleh segerombolan pria yang jumlahnya mencapai 50 orang berpakaian full hitam namun wajahnya masih terlihat jelas.
"Ada apa?" tanya Kevin yang saat itu tidak menggunakan topengnya.
"Wah wah wah...ada gadis cantik nihhh....bolehlah kita sodok hahaha...." ucap seorang pemuda kekar di ranah Tyrant tingkat 6.
"Ide bagus tuh bos! kayanya gede juga!" ucap seorang pria hitam gempal mencoba menyentuh bagian dada Linda.
Crackkkk...
Crashhh....
Kevin mencengkram tenggorokan nya lalu menariknya sekuat tenaga hingga semua organ tubuh nya tertarik keluar dan pria itu tewas seketika.
Woshhhh....
Kevin membakar organ tubuh manusia itu dengan api emasnya lalu menyeringai menatap pria kekar di hadapannya yang bergetar ketakutan melihat elemen api emas milik Kevin.
"Dari sekte mana kalian teman temanku?" tanya Kevin menekan semua orang yang mengerubungi keduanya dengan aura milik Leo yang berakibat tubuh mereka kaku dan tidak bisa di gerakan.
"A-ampuni kamu tuan!" ucap pria kekar itu.
Plak..
Plak..
"Aku tanya dari sekte mana? jawabannya bukan itu dasar bodoh!" ucap Kevin menampar kedua pipi pria itu.
"D-dari sekte Elang hitam tuan." jawabannya.
"Siapa namamu?" tanya Kevin.
"Mord." jawabnya masih bergetar ketakutan.
Buaghhh...
Krakk...
Krakk...
"Arghhhhh....." teriak Mord kesakitan.
"Kalau kau berani menampakan wajahmu di depanku sekali saja, akan aku bunuh kau saat itu juga! camkan baik-baik." ucap Kevin memukul perut Mord dan mematahkan kedua tangannya.
"Ini berlaku pada kalian juga! berani menampakan wajah kalian di depanku maka akan aku bakar kalian hidup hidup dengan api emas!" ucap Kevin sebelum berjalan pergi.
Kevin membiarkan mereka semua kaku seperti itu tanpa memulihkan mereka semua seperti semula.
Tak lama para tetua sekte Elang hitam berdatangan dan syok melihat satu murid andalan mereka mati mengenaskan.
"Ada apa? bagaimana bisa begini?" tanya tetua 1 bernama Moi.
"Ada satu pasangan yang tiba tiba menyerang kami! padahal kami tidak menggoda mereka!" ucap Mord berbohong.
"Iya benar tetua! kami diserang tiba tiba oleh sepasang pemuda!" ucap murid 2 bernama Ronal.
"Bajing*n! besok kita cari! kita balaskan dendam saudara kita!" ucap Moi menyuruh tetua lainnya membawa murid murid lain yang masih kaku ke penginapan.
Sedangkan Kevin, dia kini sedang bersantai menonton TV di Villa bersama Rizal yang di tugaskan istrinya momong anaknya yang bernama Diel.
"Jubahnya gimana vin? kau lupa ya?" tanya Rizal.
"Oh iya! udah jadi kok cuman lupa aku bagiin aja! untung kau ingetin!" ucap Kevin menepuk jidat lalu mengambil 7 jubah di inventori nya.
"Bagus bet!" ucap Rizal kagum dengan bahan dan model jubahnya yang menutupi satu badan namun tetap mudah dalam bergerak kesana sini.
"Iyalah siapa dulu!" ucap Kevin bangga.
"Dem panggil yang lain!" teriak Rizal pada Demian yang berjalan ke arah mereka dengan menggendong anaknya yang bernama Seno.
"Yaa.." jawab Demian menurut.
Tak lama teman teman yang lain pun berdatangan sambil merokok padahal ada anak kecil.
"Matiin rokoknya bodoh! gak baik buat bayi!" ucap Kevin.
"Oh iya deng!" ucap Deni mematikan rokoknya lalu duduk.
"Ada apa sih?" tanya Agus.
"Pilih tuh jubahnya, jangan yang ada tulisannya itu punyaku." ucap Kevin.
"Beda sendiri vin punyamu, ada huruf kunonya! keren!" ucap Riski.
"Yang paling gede buat Dion." ucap Kevin.
"Haha..kau tau aja..." ucap Dion tertawa kecil.
"Besok kita ke Asosiasi buat urus pembentukan guild, semua ikut bawa fc data diri." ucap Kevin.
"Siap ketua!" ucap Deni senyum senyum sendiri.
"Stelan putih pakai jubah ini, oh iya ini topengnya." ucap Kevin memberikan 6 topeng Hannya berbeda-beda ekspresi wajah dan beda warna.
"Topengnya udah aku stel biar ngikutin raut wajah kita jadi kalau mulut kita mangap topengnya juga ikut mangap." ucap Kevin.
"Keren anjay!" ucap Agus.
Setelah briefing mereka semua pun menyimpan jubah dan topengnya ke cincin penyimpanan masing-masing. Setelah itu mereka pun pergi ke dapur untuk makan malam karena sudah di panggil oleh Aurora.
Keesokan harinya
Setelah semua selesai kini mereka melakukan foto sebagai id card anggota guild The Beast yang resmi. Jam 4 sore mereka baru selesai mengurus semua pendaftaran, id card pun sudah jadi dan di bagikan ke masing masing anggota.
"Makan gak nih?" tanya Kevin.
"Jelas! mati kita kalau jalan ke villa!" ucap Deni.
"Ya udah ayoklah." ucap Kevin.
Mereka berjalan mencari restoran Indonesia untuk makan karena setelah sarapan pagi tadi mereka belum menyentuh satu makanan pun.
Mereka makan di restoran dengan lahap, selesai makan mereka memilih untuk istirahat sebentar sambil merokok santai.
'Bos sisa inti core Phoenix hitam kemarin mau di apakan?' tanya Kuro.
'Buat apa bob?' tanya Kevin pada sistem.
[Tuan bisa menyerapnya dan menjadikan burung itu sebagai roh sihir tuan lalu mendapat kan elemen racun, tuan juga bisa memberikannya pada Bombom sebagai camilan]
'Mending ku serap anj*ng! Bombom dah gendut gitu loh!' ucap Kevin.
'Grohhhh...' Bombom tersinggung.
[Ya sudah nanti tuan datang saja ke dunia jiwa untuk menyerapnya]
'Oke.' ucap Kevin lanjut bersantai.
"Guild kerjanya apaan vin?" tanya Deni.
"Ya sama kayak di bumi, ngurus monster liar yang masuk ke desa desa atau perkotaan. Ambil misi di Asosiasi buat membesarkan nama guild sama masih banyak lagi." jawab Kevin.
"Ohh kurang lebih sama ya kerjaannya." ucap Deni menganggukkan kepala tanda paham.
Karena sudah hampir malam mereka pun memutuskan untuk kembali ke villa takut yang lain khawatir. Saat berjalan menuju Villa mereka melihat pertarungan antara tetua sekte aliran hitam melawan tetua sekte aliran putih entah apa masalahnya.
"Nonton dulu seru ni kayaknya." ucap Kevin.
"Tontonan gratis nih!" ucap Deni menghidupkan rokoknya.
Terlihat pertarungan yang sangat sengit antara keduanya, jual beli serangan antara keduanya membuat bangunan bangunan di sekitar mengalami banyak kerusakan.
"Sektemu yang menyerang murid muridku yang sedang bersantai hingga menyebabkan satu murid unggulan kami tewas dan satu lainnya kedua tangannya patah! dasar bajing*n!!!" teriak tetua sekte hitam yang ternyata adalah Moi.
"Telusuri dulu muridmu! apa yang mereka lakukan selama ini! pantas atau tidak mereka mendapatkan semua ini! tetua dan murid sama bodohnya!" ucap tetua aliran putih.
Boomm......
Ledakan energi dari kedua tetua itu tak dapat di elakkan lagi, efek ledakan itu menyebabkan beberapa bangunan hancur dan banyak warga terluka parah karena pertarungan mereka berdua.
"Ayo hentikan ini semua sebelum jatuh korban tak bersalah." ucap Kevin mengajak teman temannya.
"Gass!" ucap Dion semangat.
Mereka bertujuh dengan kecepatan penuh mengevakuasi warga yang tertimpa puing-puing bangunan dan warga yang bersembunyi di rumah karena ketakutan.
Sedangkan Kevin berdiri dengan santai di tengah-tengah kedua tetua yang kembali mengadu bola energi.
"Serap!" gumam Kevin menyerap kedua bola energi tersebut.
Syuutttt....
Woshhh....
Kedua tetua itu terpental kebelakang beberapa meter dengan mata terbelalak melihat serangannya di serap dengan mudah.
"Sudah tua bukannya makin dewasa malah makin bodoh! lihat sekitar kalian!" ucap Kevin.
Tetua aliran putih melihat ke sekitar dan merasa bodoh sekali dirinya terpancing emosi dengan mudahnya.
"Siapa kau! bajing*n tengik!" teriak Moi marah.
"Mana muridmu yang tangannya patah? bawa kemari!" ucap Kevin.
Seorang pria menggandeng Mord yang kedua tangannya masih di buntal perban.
"Kau cerita apa pada orang tua ini?" tanya Kevin.
"Itu memang kenyataan! murid sekte Tertai Putih yang menyerang kami saat sedang bersantai! dasar bajing*n!!!" teriak Mord pada Kevin.
"Kau lupa padaku?" tanya Kevin membuka topengnya yang membuat Mord jadi pucat ketakutan.
"Sudah aku bilang semalam kalau kau sampai berani menunjukan wajahmu akan aku bunuh kau dan teman temanmu! ingat kan? sekarang kau malah membuat keributan dengan mulut busukmu itu!" ucap Kevin membuat Mord semakin pucat.
"Dengar orang tua bodoh! semua muridmu semalam melecehkan istriku! muridmu yang mati bodog itu aku yang bunuh! aku tarik kerongkongan nya hingga organnya ikut tertarik keluar! lalu aku bakar organnya dengan api emas! kau tidak taukan masalah ini?!" ucap Kevin.
"Dasar murid bajing*n!!!" teriak Moi marah.
"Wess terlambat, waktumu sudah sampai." ucap Kevin membuat tombak dari petir emas yang sangat besar.
"Maafkan hamba tuan!!!" teriak Mord dan Moi sebelum tersambar tombak petir emas.
Boomm....
Hebatnya lagi ledakannya tertahan olah Array penghalang yang di ciptakan oleh Kevin. Kevin membuat 48 petir emas lainnya dan diisi jiwa pasukan bayangannya.
"Bunuh mereka semua yang semalam mengganggu!" ucap Kevin.
Woshhh...
Semua petir itu berpencar ke semua penjuru mencari orang orang yang semalam. Kevin melihat tetua sekte Teratai Putih yang duduk termenung.
"Lain kali jangan mudah terpancing ya tuan." ucap Kevin sebelum beranjak pergi.
Kevin dan teman-temannya kembali ke Villa, sesampainya di villa mereka semua langsung istirahat tanpa makan malam karena kelelahan.
Bersambung.....