
Setelah berhasil menguasai semua yang dibutuhkan, Kevin pun kembali ke kamar Motel tempat Tania tidur tadi. Karena masih jam 3 pagi, Kevin pun memilih untuk duduk di atas genteng motel sambil memandangi bintang bintang yang bersinar indah.
"Penyakit apa yang di derita permaisuri kerajaan ini? aku jadi penasaran!" gumam Kevin sambil sebat.
Kevin melamunkan wajah sang Istri Tania yang sangat cantik sambil senyum senyum sendiri sampai tak sadar kalau mentari sudah menampilkan wujudnya.
"Ahh sudah pagi aja! padahal tadi masih jam tiga!" ucap Kevin tersenyum senang.
'Karena kau melamun bos dari tadi!' ucap Kong.
Kevin masuk ke dalam kamarnya dan membangun kan Tania yang masih tertidur pulas.
"Bangun, sayang bangun." ucap Kevin sangat lembut.
"Hoamm....emhh....kamu udah selesai latihannya?" tanya Tania sambil mengucek matanya.
"Udah, kamu bangun terus mandi, habis itu kita ke kerajaan buat ikut sayembara. Biar besok bisa bebas jalan jalan." ucap Kevin membelai rambut Tania yang sangat lembut.
"Cium dulu." ucap Tania manja.
Kevin mencium Tania berkali kali karena sudah sangat rindu dengan bau khasnya. Setelah puas baru Tania pergi mandi walaupun masih di terjang rasa malas.
'Bob tungku ku gimana?' tanya Kevin.
[Aman tuan, tungku milikmu masih sangat kinclong dan tidak termakan rayap!]
'Oke kalau gitu!' ucap Kevin senang.
Tak lama Tania pun selesai mandi dan keluar dari kamar mandi memakai baju yang sudah rapi dan sangat anggun.
"Kamu udah mandi?" tanya Tania.
"Udah." jawab Kevin menggandeng tangan Tania dan turun ke bawah untuk sarapan.
Karena masih pagi pagi buta, jadi restoran motel pun masih sangat sepi dan sunyi. Hingga tak lama Dion turun bersama Rizal karena mereka berdua satu kamar.
"Tumben bangun pagi." ucap Kevin yang sedang makan bubur ayam.
(Oh iya, Kevin kalau nginep milih motel yang khas Indonesia bukan luar negeri, kenapa bisa tau? karena di setiap motel pasti ada spanduk, nah di spanduk itu warna dasarnya pasti melambangkan negara si pemilik motel)
"Iya, om Dion yang dari tadi brisik mau sarapan gara gara semalem ketiduran dan gak makan malem." ucap Rizal masih dengan mata yang sering merem merem sendiri.
"Hari ini rencana mau kemana?" tanya Dion semangat.
"Kita ke kerajaan pagi ini, jadi kalau yang lain belum bangun ya udah kita berempat aja yang berangkat." jawab Kevin.
"Ohh oke!" ucap Dion lalu pergi memesan sarapan bersama Rizal.
"Kamu kok udah sampai ke puncak duluan sih? kenapa gak nungguin aku!" ucap Tania yang membuat Kevin kaget.
"Salah sendiri setiap hari tidur, jajan, jalan jalan, tidur lagi! gak ada jadwal latihan, tuh sampek pipimu ngembang!" ucap Kevin membuat Tania malu.
"Besok aja deh latihannya! masih belum terlalu semangat!" ucap Tania kembali makan.
Setelah selesai sarapan, mereka berempat menunggu sebentar teman teman lain jika ada yang bangun, tapi setelah satu jam menunggu tidak ada tanda tanda yang lain datang.
Akhirnya Kevin memutuskan untuk berangkat berempat saja dari pada kelamaan menunggu. Mereka berjalan ke arah kerajaan Nuvoleon yang sudah mulai ramai di kunjungi berbagai tabib dari segala penjuru dunia.
Mereka berempat pun sampai di sebuah gerbang raksasa yang di jaga ketat oleh prajurit kerajaan.
"Mau apa kalian?" tanya prajurit tegas.
"Kami tabib dari pegunungan Himalaya, kami mau mencoba menyembuhkan sangat permaisuri yang sudah lama sakit keras." jawab Kevin.
"Tunjukkan kartu petualang atau kartu tabib kalian." ucap prajurit.
Kevin memberikan kartu tabib nya yang sudah di tingkat Legendaris. Sedangkan yang lain menunjukkan kartu petualang mereka. Setelah itu, salah satu prajurit memimpin perjalanan ke tahta sang raja.
(Note: tingkat Tabib: Pemula, Murid, Guru, Guru Besar, Legendaris, Dewa.)
"Salam yang mulia, ini ada tabib tingkat Legendaris yang mau mencoba menyembuhkan yang mulia ratu." ucap prajurit memberi hormat pada sang raja.
"Baik, kamu boleh kembali ke tempatmu." ucap raja Nuvoleon yang bernama Jason Hopus yang biasa di panggil Raja Hopus.
"Baik yang mulia." ucap prajurit pergi.
Di singgasana itu terdapat juga empat anak Raja Hopus serta empat selirnya yang memiliki wajah angkuh dan sombong.
"Selamat pagi yang mulia." ucap Kevin memberi salam.
"Pagi, dari mana asal kalian?" tanya Raja Hopus.
"Kami dari kerajaan Valhala yang mulia." jawab Kevin.
"Ada di ranah apa kalian saat ini?" tanya Raja Hopus.
(Note: tingkat petualang: A, S, SS, SSS, SSS+, Expert, Emperor, Supreme. Tingkat kultivasi sama tingkat petualang beda ya ges!)
Dion dan dua lainnya mengeluarkan aura ranah Master Spiritual yang membuat Raja Hopus tersenyum menyepelekan.
"Cih ranah receh mau menyembuhkan bibi Yuri? bodoh sekali!" ucap pangeran mahkota yang bernama Andrew sombong.
Namun setelah Kevin memberi isyarat untuk menarik aura mereka bertiga, Kevin langsung mengeluarkan aura ranah Heavenly Emperor yang membuat Raja Hopus dan Andrew muntah darah dan jatuh tersungkur tidak bisa bergerak.
Kevin menarik kembali auranya dan Raja Hopus kembali ke tahtanya serta menghapus darah yang masih ada di mulutnya.
"Mari kita ke kamar istriku." ajak Raja Hopus.
Mereka berjalan ke kamar permaisuri, ketika Kevin masuk ke dalam kamar, dia seketika melihat sesosok makhluk yang tinggi besar sedang menduduki tubuh sara permaisuri.
'Kau mau mati atau pergi?' tanya Kevin melalu telepati sambil memegang pedang energi yang sangat kuat.
'Aku pergi yang mulia!' ucap sesosok itu menghilang.
"Baj*ngan mana yang berani menumbalkan wanita secantik ini ke dewa kegelapan?" tanya Kevin langsung membuat semua anggota kerajaan keringat dingin.
"Jangan disini, ini lagi genting!" bisik Kevin kesal.
Tania hanya bisa menahan amarahnya dan fokus melihat wanita cantik yang terbaring lemah dengan kulit yang sudah pucat.
"Tolong keluar sebentar, kami harus fokus untuk memutus kontrak ini!" ucap Kevin yang langsung di sambut baik oleh anggota kerajaan yang tadi masuk ke kamar.
"Sialan! beraninya mereka menumbalkan keluarga nya sendiri!" ucap Kevin tak habis fikir.
"Ayang jangan tergoda!" ucap Tania mencubit perut Kevin dengan keras.
"Enggak yang! kamu lebih semok!" bisik Kevin membuat wajah Tania memerah karena malu.
"Terus gimana Vin?" tanya Dion prihatin dengan keadaan wanita cantik ini.
"Cuman ada satu jalan!" jawab Kevin.
"Apa?" tanya Rizal langsung.
"Menyetubuhi nya!" jawab Kevin langsung membuat Tania menampar pipinya.
"Jangan ngide ya!" ucap Tania marah.
"Loh emang itu satu satunya pengobatan yang! tapi ya bukan aku dong yang harus lakuin!" ucap Kevin mengelus pipinya yang memerah akibat tamparan keras Tania.
"Terus siapa?" tanya Dion bingung.
"Jangan gitu dong bro, ini istri orang! blok!" ucap Rizal merasa di tatap oleh Kevin.
"Kalau gak mau ya udah, biar ku panggil Deni aja." ucap Kevin mengeluarkan ponsel.
"Mulus loh ris, liat tete nya, gede anj*ng! pahanya putih mulus! wahh gak kebayang gimana nikmatnya kalau jonimu masuk ke sana! behhhh pasti langsung di kenyot kenyot rasanya!" bisik Dion yang membuat Rizal ngac*ng.
"Ehh aku berubah pikiran vin!" ucap Rizal buru buru.
"Nahh, ni ****** nya, tenang aja aku gak ngintip kok!" ucap Kevin membuat dinding penghalang pengelihatan.
"Yakin nih?" tanya Rizal dari dalam yang kini sudah bugil.
"Udah cepetan!" ucap Kevin yang sedang main kartu dengan Dion, sedangkan Tania mendengarkan musik melalui headset karena risi kalau mendengarkan ******* orang lain.
Suara ******* dari Rizal dan teriakan kenikmatan nya membuat Kevin dan Dion tertawa cekikikan.
"Udah belom?" tanya Kevin menggoda.
"Bentar lagi!" teriak Rizal masih keenakan.
"Ahhhhh anj*ng keluar!!!!" teriak Rizal membuat mereka berdua tertawa lepas.
"Gimana? enak gak?" tanya Dion melihat Kevin masih tertawa terbahak-bahak.
"Mantap om!" jawab Rizal nyengir.
"Gimana tuh vin?" tanya Dion sesekali ikut tertawa..
"Kau pertama kali ris?" tanya Kevin.
"Iya hehe...." jawab Rizal malu.
"Loh kemarin bertiga katanya BO." ucap Kevin.
"Deni sendiri yang BO habis kalah 50.000 koin platinum waktu itu. Nahh hari ini adalah hari di mana keperjakaanku hilang di telan istri orang." ucap Rizal.
"Waahhh kalau gitu sih harus kawin cok! gak bisa ini!" ucap Kevin tidak rela.
"Lah gimana si! tau gitu gak aku genjot tadi!" ucap Rizal.
"Lagian kau gak bilang kalau masih perjaka!" ucap Kevin.
"Ahhh sialan kau Vin!" ucap Rizal marah walaupun senang di dalam hatinya.
"Gini aja, kita buat strategi kalau cewek ini habis di setubuhi sama orang gak di kenal terus kena virus mematikan, nanti pasti Raja sialan itu ceraikan cewek ini!" ucap Kevin memberi ide.
"Ya terserah mu aja!" ucap Rizal senyum senyum sendiri.
"Si anj*ng seneng bang*at!" ucap Kevin mengejek Rizal.
Setelah itu Kevin keluar setelah menyuruh Rizal membenarkan pakaian permaisuri raja yang tadi di bugili Rizal.
"Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Raja Hopus sok panik.
"Maaf yang mulia, permaisuri terkena virus mematikan yang hanya 5% kemungkinannya untuk sembuh, dan lagi virus ini bisa menular ke orang yang berdekatan dengan tubuh si inang." jawab Kevin dengan wajah sedih yang di buat buat.
"Lebih baik ayah ceraikan saja dia! dari pada menyebarkan penyakit di karajaan ini!" ucap Andrew.
"Tolong bawa juga wanita itu bersamamu, ini surat cerai dariku dan ini uang untuk biaya perawatannya serta ini uang untuk bayaran mu, sekarang kau boleh pergi!" ucap Raja Hopus.
'Bodoh! mau maunya di bodoh bodohi!' batin Kevin menatap punggung Raja Hopus yang pergi begitu saja.
Kevin kembali masuk ke dalam kamar.
"Masukin ke cincin penyimpanan dulu! nanti di motel kita unboxing!" ucap Kevin buru buru.
Setelah semua beres, mereka pun kembali ke motel dengan wajah cerah bahagia, terutama Rizal. Sesampainya di motel, mereka langsung masuk ke kamar yang sudah di pesan oleh Rizal selama dua hari khusus untuk wanita ini.
"Gimana lanjutannya vin?" tanya Rizal.
"Nih minumin potion ini, kau jangan keluar keluar, jelasin semua yang udah terjadi lengkap sama yang tadi aku ceritain. Jangan di jurang kurangi, di lebih lebihin aja gak papa." ucap Kevin tersenyum memberikan dua potion hijau dan kuning.
"Masalah dongeng serahin semua ke aku!" ucap Rizal bangga.
Setelahnya Kevin, Dion dan Tania pun kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
Bersambung.....