
Saat sedang enak enak merokok santai sambil melamunkan wajah Tania, Sammy datang membawakan secangkir teh hangat untuk Kevin dan ikut duduk di teras.
"Berani keluar? ku kira kau takut." ucap Kevin tersenyum masam.
"Kan ada kakak." ucap Sammy santai.
"Sekte itu buat apa mengambil anak anak kecil dari desa ini?" tanya Kevin penasaran.
"Yang aku dengar sih untuk persembahan pada sang Kaisar Dewa Iblis yang sudah lama mereka sembah sembah." jawab Sammy.
"Gak masuk akal! bener bener gak masuk akal mereka ini!" gumam Kevin menggelengkan kepala.
[Tuan, mereka datang, persiapkan dirimu karena para makhluk sampah ini membawa lima monster tingkat Abyss]
"Pergi ke rumah kepala desa, suruh dia untuk mengumpulkan para warga dan berlindung bersama di balai desa. Kita ada tamu." ucap Kevin berdiri.
"Siap!" jawab Sammy berlari dengan cepat seperti tuyul.
'Sekali kali pakai tombak ah!' batin Kevin mengeluarkan Spear God Of War yang berwarna biru laut dengan aura keagungan yang amat menekan.
Kevin berjalan santai dengan Bombom di pundaknya menuju gerbang desa.
"Ayo pak kepala desa!! cepat! biar kakak itu yang menghadang mereka!" teriak Sammy menarik tangan kepala desa yang mematuk melihat Kevin memegang sebuah tombak biru.
"Ayo!" ucap Kepala Desa berlalu cepat diikuti para warga yang panik.
Di Gerbang Desa, Kevin menunggu para sampah itu datang sambil merokok dengan santainya.
Gruduk..gruduk..
Suara puluhan langkah kuda terdengar dan terasa getaran di tanah. Kevin berdiri masih dengan rokok di mulutnya menatap para anggota Sekte aliran sesat dalam kegelapan malam.
"Cih! sampah!" gumam Kevin melapisi tubuhnya dengan susano'o biasa yang berbentuk tulang setengah badan manusia raksasa berwarna merah.
(Kevin kalau lawan monster bakalan pakai susano'o warna biru tapi kalau lawan Iblis dan sekutunya bakal pakai susano'o merah biar nambah damage)
Woshhhh....
Crashh...
Crashh...
Crashh...
"Arghhhhh....." teriakan teriakan orang orang kesakitan terdengar sangat keras di malam hari itu.
Suara tebasan dan tenggorokan yang di potong serta darah yang mengalir seperti keran air terdengar menyelimuti malam dingin waktu itu.
"Bertemulah dengan saudara sesat kalian di neraka!" ucap Kevin membakar puluhan mayat aliran sesat itu dengan api hitam murni dari neraka.
Setelah itu Kevin pergi ke balai desa untuk mengecek keadaan para warga.
"Adakah petualang di antara kalian?" tanya Kevin masih dengan baju berlumuran darah segar.
"Tidak ada tuan." jawab kepala desa merinding melihat Kevin yang di penuhi darah segar.
"10 pria ikut aku, kita serang markas Sekte ini sebelum bulan purnama sempurna." ucap Kevin.
"Baik!" ucap Kepala Desa tegas.
10 orang pria perwakilan dari warga datang menemui Kevin, mereka di berikan sebuah senjata tingkat S yang di dalamnya terdapat kesadarannya sendiri.
Setelah memakai peralatan yang lengkap, mereka pun sesegera mungkin berangkat ke markas Sekte aliran sesat itu yang berada di kedalaman hutan.
Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah kastil megah yang di jaga oleh puluhan orang berpakaian serba hitam.
"Kalian tunggu di sini, biar aku yang buka jalan. Kalau semua penjaga sudah habis, langsung pergi ke ruang bawah tanah, ada penjaga berpakaian yang sama langsung tebas jangan takut." ucap Kevin berbisik.
"Baik!" ucap mereka bersamaan.
Kevin dengan kecepatan tinggi langsung menghabisi puluhan penjaga itu menggunakan Dual Death Dagger miliknya. Menggorok leher para penjaga dan membakarnya dengan api hitam lalu melanjutkan pembantaian nya masuk ke dalam kastil.
"Ayo!" ucap seseorang pria memimpin para warga masuk ke ruang bawah tanah.
Sedangkan Kevin berjalan ke lantai atas sambil membunuh para penjaga dan anggota sekte sesat.
"Apa kekuatan kalian? lemah sekali!" teriak Kevin sangat keras hingga menggema ke semua ruangan.
Woshhh....
Tiba tiba Kevin terpental keluar menabrak tembok kastil karena terlalu meremehkan lawan dan menghilangkan dinding pelindung abadi pasif dari kekuatan yang dia serap.
[Bodoh! tuan melakukan kesalahan yang fatal dengan menghilangkan pasif kekuatanmu sendiri karena meremehkan lawan!]
"Sorry aku terlalu sombong!" gumam Kevin membersihkan jubahnya lalu berdiri dengan kondisi baik baik saja.
Kevin mengaktifkan pasif kekuatannya dan tetap waspada.
Boomm.....
Seorang pria yang bergandengan dengan seorang wanita keluar membobol tembok dengan wujud setengah iblis.
"Cuih! iblis ternyata!" gumam Kevin meludah.
"Tuan, kami harus bagaimana?" teriak pria yang tadi memimpin para warga bernama Edward di belakangnya terdapat ratusan anak kecil dan gadis gadis cantik serta para warga yang menenteng puluhan kotak berisi barang berharga.
"Diam di situ!" ucap Kevin menyelimuti tubuhnya dengan api emas lalu bergerak dengan kecepatan tinggi menyerang.
"Dasar makhluk sampah! kami ras iblis yang ber-" belum selesai iblis pria itu berbicara kepalanya sudah terpenggal dan terjatuh bersama pasangannya.
"Ras ku lebih suci di banding kalian!" gumam Kevin membakar mayat kedua iblis itu dengan api emas.
Setelah selesai, Kevin menghampiri Edward yang sedang menenangkan para tahanan sekte.
"Kita kembali ke desa." ucap Kevin berjalan diikuti oleh Edward dan yang lainnya.
'Bos, kau tidak punya skill teleportasi?' tanya Kong bingung.
'Kalau keadaan mendesak begini kan kau bisa gunakan bos! beli saja!' ucap Kong memberi saran.
'Tunggu, terus portal yang kau buat untuk nyonya besar itu skill apa?' tanya Kuro bingung.
'Tidak tau, waktu itu aku cuma mentransfer energi ke tubuh Tania habis itu muncul portal aneh itu. Kalau cuma buka portal kuncian aku bisa, tapi kalau buat teleportasi aku gak bisa.' jawab Kevin.
[Tuan berminat mempunyai skill itu? tapi skill ini hanya berguna jika tuan sudah tau gambaran tempat itu, kalau tuan belum tau ya skill ini tidak berguna]
'Nanti saja kalau masalah ini sudah beres.' ucap Kevin tertarik.
Mereka akhirnya sampai di desa dan di sambut oleh para warga dengan suka cita sambil berterima kasih kepada Kevin yang berhasil menyelamatkan kerabat mereka.
Kevin duduk di bawah pohon rimbun dengan posisi bersemedi, jiwa nya masuk ke dunia jiwa dan melakukan komunikasi dengan para Beast Spiritual.
"Sudah ambil saja bos! biar kalau kau mau pulang kau tidak harus perjalanan jauh lagi!" ucap Kong.
"Iya benar! biar hemat waktu dan energi!" ucap Cooper.
"Ya udah, Bob beli skillnya!" ucap Kevin.
[Sudah tuan, tuan tidak perlu melatihnya karena skill ini hanya mengandalkan ingatan dan energi saja bukan kemampuan yang lebih]
"Oke!" ucap Kevin.
Kevin ngobrol sebentar dengan para Beastnya lalu kembali ke raganya. Saat membuka mata, Sammy sudah duduk di sampingnya sambil bermain bersama anak anjing peliharaannya.
"Kenapa?" tanya Kevin datar sambil menyalakan rokoknya.
"Kakak di tunggu di balai desa." jawab Sammy.
Kevin tidak menjawab, dia beranjak pergi ke arah balai desa yang sudah agak reot diikuti Sammy di belakangnya dengan menggendong anak anjingnya. Sesampainya di balai desa, Kevin langsung di sambut meriah oleh para warga dan anak anak yang tadi berhasil di selamat kan.
"Terimakasih tuan, karena anda anak anak kami tidak perlu ketakutan lagi dan kami tidak perlu takut untuk beraktivitas malam hari." ucap Kepala Desa.
"Sama sama." jawab Kevin cuek lalu balik badan ingin pergi melanjutkan perjalanan.
"Kakak tinggal beberapa hari di sini dulu! aku masih ingin bercerita denganmu!" ucap Sammy menggenggam tangan Kevin dengan jari jari mungilnya.
"Buat apa?" tanya Kevin cuek.
"Aku mau bercerita tentang sesuatu padamu!" jawab Sammy dengan tatapan memohon.
[Tuan tinggal di sini dulu, eksplor ke wilayah luar desa siapa tau menemukan harta karun tersembunyi. Lagian desa ini penghasil teh dan kopi terbaik di Kerajaan Valhala, tuan tadi sudah merasakan kopinya kan]
'Iya sih, tapi desa ini masih di wilayah kerajaan Valhala?' tanya Kevin heran padahal sudah sejauh ini.
[Iya tuan masih satu wilayah]
"Baiklah, aku tinggal satu minggu disini." ucap Kevin menghela nafas.
"Ayo ke rumahku kak!" ajak Sammy semangat menyeret tangan Kevin.
Kevin hanya ikut dengan pasrah meninggal kan warga yang sedang berpesta dengan meriah. Sesampainya di rumah reot peninggalan orang tua Sammy, Kevin masuk ke dalam dan Sammy mengunci pintu rumah lalu duduk di depan Kevin.
"Kakekku mau bicara kak." ucap Sammy tiba tiba mengeluarkan sebuah siluet kakek kekar dan mengeluarkan aura yang mendominasi.
"Salam yang mulia MahaDewa Agung!" ucap Kakek itu menundukkan kepala sambil tersenyum.
"Ada apa?" tanya Kevin melepas topengnya karena risih jika berbicara dengan sesepuh memakai topeng.
"Perkenalkan saya Tian, saya ingin mengajukan saran untuk yang mulia." jawabnya sangat senang karena bisa melihat wajah asli orang paling di segani di Alam Dewa itu.
"Saran apa?" tanya Kevin sambil menghidupkan rokoknya.
"Saya beberapa hari yang lalu menemukan tiga tambang emas dan dua tambang berlian di kaki gunung belakang desa yang mulia, anda bisa memanfaatkannya untuk mengembangkan desa ini serta memperlebar wilayah desa supaya bisa di bangun beberapa insfrastruktur baru seperti restoran, motel, Paviliun, dan yang lainnya." jawab Tian.
"Lalu?" tanya Kevin mulai tertarik.
"Saya sarankan yang mulia untuk memerintah desa kecil ini dan menjadikannya kota besar yang megah nan mewah. Tepat di kaki gunung terdapat sebuah tempat yang amat luas dan indah yang di apit oleh dua perbukitan indah dan subur. Tempat itu cocok untuk di jadikan sebuah Sekte karena tempatnya yang strategis dan tanahnya yang subur dan cocok untuk di tanami tanaman herbal." jawab Tian.
"Aku pikiran dulu ya, setelah ini aku mau eksplor dulu, kalau cocok aku akan ambil alih desa ini." ucap Kevin.
"Terimakasih sudah mendengarkan saran saya yang mulia." ucap Tian kembali masuk ke dalam tubuh Sammy.
"Kau mau ikut tidak? aku mau pergi sebentar." ucap Kevin menawari Sammy.
"Tidak, aku mau tidur, sudah mengantuk." jawab Sammy menolak.
Kevin mengangguk lalu memakai topengnya dan pergi ke lima titik yang sudah di tandai oleh sistem.
[Bagus tuan! tanahnya subur sekali! aku yakin buah buahan surgawi juga akan tumbuh jika tanahnya begitu subur seperti ini. Tuan hanya tinggal membuat sumber air tak terbatas untuk mengaliri ladang]
"Gimana tambang tadi?" tanya Kevin terus berjalan mengikuti jalan setapak.
[Bagus tuan, tambang itu setidaknya akan bertahan sangat lama karena belum pernah terjamah dan stok di dalam tanah yang masih sangat melimpah ruah. Sekarang tuan tidak perlu mengkhawatirkan ekonomi desa, tuan sekarang pergi ke tempat yang di bilang kakek tadi untuk survei]
Kevin terbang dengan kecepatan sedang sambil menengok kekanan kiri melihat keadaan sekitar. Akhirnya dia sampai di sebuah padang rumput yang luasnya 2x lapangan bola dengan angin sepoi-sepoi yang sangat menyegarkan.
'Cocok sekali bos!!!' teriak Kong dari dalam dunia jiwa.
'Cocok tuan! tuan bisa mengandalkan dua bukit itu sebagai benteng pertahanan, tapi jangan lupa buat juga tembok besar di sekeliling Sekte untuk jaga jaga.' ucap Dexter.
"Gunung itu apa ya?" tanya Kevin penasaran.
[Tempat singgah Phoenix Emas tuan, Dewanya para Beast Burung]
"Kalian tertarik?" tanya Kevin tersenyum kecil.
'Lain kali saja bos! kita fokus upgrade desa jadi kota dulu. Kalau semua sudah beres baru kita naik ke atas untuk menundukkan burung perkutut itu.' ucap Kuro.
"Oke!" jawab Kevin kembali ke gerbang desa menggunakan skill teleportasi untuk uji coba.
Seketika Kevin kembali ke gerbang desa tanpa merasakan lelah dan merasa skill ini sangat worth it.
Bersambung.....