
Kini Kevin sedang berada di restoran mewah yang di dekat gedung turnamen, di restoran ini terkenal dengan makanannya yang sangat lezat dan mahal tentunya.
Kevin menepati janjinya kemarin untuk mengajak ketiga muridnya jika salah satu dari mereka lolos ke semifinal. Namun di tengah kegembiraan mereka Kevin melihat wajah Brian yang memancarkan kesedihan yang mendalam.
"Tak apa apa kalau belum bisa lolos, turnamen selanjutnya masih ada dan berusahalah untuk yang terbaik." ucap Kevin menenangkan hati Brian.
"Maaf sudah membuat kecewa." ucap Brian menangis.
"Siapa yang kecewa? lihat tidak ada yang kecewa di sini, semua mendukungmu untuk bangkit. Mereka ikut senang karena peningkatan mu yang melebihi junior mu, tapi kekuranganmu hanyalah kendali emosi. Hanya itu tidak ada kekurangan lainnya di dirimu." ucap Kevin.
"Benarkah?" tanya Brian.
"Tentu saja, sudah jangan menangis malu di lihat Doni." ucap Kevin melirik ke arah Doni yang sedang menahan tawa.
"Aku tidak menangis kok." ucap Brian sok kuat walaupun air matanya terus mengucur.
Semua orang di meja itu tertawa terbahak-bahak karena tingkah laku Brian. Saat sedang enak enak makan tiba tiba Kevin merasakan rasa sakit yang teramat sangat menyakitkan dari dalam tubuhnya.
Kevin menahan rasa ingin teriak dengan meringiskan bibirnya dan mengepalkan tangannya erat erat. Namun yang Kevin tidak sadar ada darah yang mengalir di sudut bibirnya.
"Kamu kenapa?" tanya Tasya khawatir bercampur panik.
"Ini kartu ATM ku bayar semua makanannya pakai ini, aku pergi dulu ada urusan mendadak." ucap Kevin mencoba tersenyum di balik rasa sakit yang amat menyiksa.
"Kemana?" tanya Tasya menarik tangan Kevin.
"Besok aku balik kok." ucap Kevin membelai pipi Tasya lalu menghilang di telan sebuah portal.
"Dia ada urusan dengan kakaku, kalian tenang saja disini." ucap Virzha melihat sesuatu yang aneh di dalam tubuh Kevin.
"Kakakmu? apa maksudnya?" tanya Aurora sedikit marah.
"Kita pulang dulu ke rumah, nanti aku ceritakan di sana semuanya." jawab Virzha mengajak semuanya pulang ke kediaman klan Bailly.
Tasya membayar semua makanan menggunakan kartu ATM Kevin lalu pulang ke kediaman klan Bailly bersama teman teman Kevin yang lain.
.
.
.
Sesampainya di klan, mereka langsung masuk ke rumah Virzha termasuk Abraham yang juga kepo dengan keadaan cucunya yang bodoh itu.
"Ada apa dengan Kevin?" tanya Aurora langsung karena sudah sangat khawatir.
"Kau ingat kejadian waktu portal break waktu itu?" tanya Virzha pada Aurora.
"Ingat kenapa?" tanya Aurora semakin khawatir.
"Dari situlah semua ini bermula, Kevin yang saat ini bukanlah Kevin yang lemah seperti yang kalian kenal dulu. Raganya memang Kevin tetapi jiwanya yang berbeda." ucap Virzha menjelaskan.
"Apa maksudmu!" teriak Aurora menggoyangkan tubuh Virzha yang tertunduk sedih.
"Nak dengarkan dulu penjelasan suamimu." ucap Abraham menenangkan anaknya.
"Jiwa Kevin sebenarnya sudah di tukar sejak dia masih dalam kandungan tapi satu kejadian di portal waktu itulah puncak dari kejadian ini. Jiwa Kevin di tarik ke suatu dunia asalku dulu dan di beri misi yang sangat mustahil di selesaikan. Mengejutkan nya dia berhasil menyelesaikan misi yang tidak bisa aku sebutkan itu dengan mudah." ucap Virzha menarik nafas.
"Setelah itu dia di kembalikan ke bumi dengan kekuatan yang tidak ada bandingannya bahkan hunter terkuat pun bisa di kalahkan nya dengan mudah tanpa mengeluarkan keringat sedikitpun. Aku, aku yang di anggap yang terkuat di negeri ini saja bisa di musnahkan nya dalam sekali kedipan mata." ucap Virzha yang membuat semua orang di sana berhenti bernafas sejenak.
"D-dari mana kau tau semua ini? dan kemana jiwa anakku yang sebenarnya?" tanya Aurora syok sambil menangis.
"Aku yang memintanya pada kakakku, aku melakukan ini karena jiwa anak kita sudah mati dan aku tidak mau melihatmu stress berat karena kehilangan anak. Jadi aku memohon pada kakakku untuk mengorbankan raga anaknya untuk memindahkan jiwa anaknya pada raga Kevin." jawab Virzha.
"Siapa nama Kevin yang sebenarnya?" tanya Aurora.
"Ashura Bearnet, sang penyandang gelar Dewa Kuno. Bukan tanpa alasan dia di beri julukan Dewa Kuno, dia di beri gelar itu karena dia memiliki banyak gelar Dewa di namanya. Dewa Keabadian, Dewa Kematian, Dewa Perang, dan Dewa Kegelapan. Kalian ingat dengan tato di tangan kirinya? itu adalah tato tanda kontrak abadi dengan Sang Naga Penguasa segalanya." jawab Virzha mengambil nafas.
"Dia membutuhkan waktu yang sangat amat lama untuk mengalahkan sang naga dan mengontraknya secara abadi. Itulah mengapa dia melakukan latihan tertutup selama 2 tahun, tak lain tak bukan untuk membangkitkan kekuatan aslinya dan mengalahkan sang naga penguasa." ucap Virzha.
"L-lalu bagaimana dengan titan waktu itu?" tanya Tasya memberanikan diri.
"Kau sudah taukan sebenarnya?" tanya Virzha tersenyum manis.
"B-bagaimana bisa ayah tau segalanya?" tanya Tasya balik sambil sedikit mengundurkan diri.
"Kau tidak sadar? aku dan suamimu itu adalah ras Dewa, kami sering melakukan pertemuan rahasia hanya dengan jiwa kita saja. Aku juga sudah meminta ijin padanya sebelum aku menceritakan ini semua." jawab Virzha.
"Kemana dia sekarang?" tanya Dion.
"Sedang bertemu dengan ayahnya, mungkin membahas tentang Ragnarok atau yang lainnya." jawab Virzha.
"Apa itu Ragnarok?" tanya Riski bingung.
Di dunia jiwa Kevin
Saat ini Kevin sedang di sembuhkan oleh ayahnya yang sengaja membuat penyakit itu supaya bisa bertemu dengan anaknya.
"Sudah ayah." ucap Kevin merasa sudah plong.
"Baiklah." ucap Andreas menyudahi proses healing.
"Kau sudah tau kan kalau Kaisar Dewa Iblis sudah bangkit?" tanya Andreas balik.
"Sudah." jawab Kevin menghidupkan rokoknya.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Andreas.
"Menunggu sambil sedikit berlatih, aku yakin dia tidak akan datang secara tiba tiba tanpa persiapan apapun. Lagi pula dia itu Iblis, pasti memiliki cara licik, ntah itu menyuruh Diablo melawanku duluan untuk mengetahui kelemahanku atau menyuruh bawahannya yang lain saat Ragnarok nanti." jawab Kevin santai karena semua alur kehidupannya sudah dia perhitungkan antara kerugian dan keuntungan.
"Baguslah kalau kau sudah punya alur sendiri, selanjutnya telan ini untuk memperkuat jaringan tubuhmu yang belum sempurna itu." ucap Andreas memberikan tiga pill sebesar kelereng pada Kevin.
"Terimakasih ayah, sampaikan salamku pada kakek." ucap Kevin mencium tangan ayahnya sebelum menghilang.
"Sampai jumpa." ucap Andrean terbang kembali ke langit.
Setelah ayahnya pergi, Kevin bertanya pada sistem tentang tiga pil di genggamannya.
"Apa ini bob?" tanya Kevin.
[Saya tidak tau, supaya saya tau lebih baik tuan menelan semuanya]
"Sialan kau bob!" ucap Kevin kesal.
Kevin menarik nafas dalam dalam lalu menelan tiga buah pil pemberian Andreas sekaligus.
Woshhhh........
Tubuh Kevin bersinar terang hingga membuat keempat Beast Spirits Kevin menutup mata mereka dengan telapak tangannya. 10 menit kemudian cahaya yang menyilaukan itu hilang dan memperlihatkan Kevin dengan pakaian yang sulit di artikan.
(Kayak gitulah pokoknya.)
Ya, Kevin kini menambah gelar Dewanya yaitu Dewa Cahaya yang Agung.
"Salam pada sang Dewa Agung!!" ucap Kong, Kuro, dan Dexter membungkuk memberi salam.
"Apa ini bob?" tanya Kevin kebingungan.
[Tuan, kau sudah di nobatkan sebagai Sang Mahadewa yang Agung oleh ayahmu. Kau juga di beri 3 gelar Dewa baru, yaitu Dewa Cahaya, Dewa Matahari, dan Dewa Penyembuhan. Semua ini tidak usah tuan pelajari karena otomatis sudah menyempurnakan semua kekuatan yang ada di tubuh tuan]
"Kenapa ayah memberikan ini semua?" tanya Kevin syok berat dengan ke OP an dirinya.
[Karena tuan sudah bisa memprediksi apa yang akan terjadi di kemudian hari dan menyiapkan rencana dari A sampai Z untuk menangani kejadian yang tidak terduga di kemudian hari]
"Tapi tidak gini juga dong! itu sudah wajar di kalangan anak muda sepertiku." ucap Kevin garuk garuk pipi.
[Sudah, tuan terima saja apa yang ayah tuan berikan, sekarang kembalilah ke wujud aslimu dan coba perubahan kekuatan di dalam tubuhmu]
Kevin kembali ke bentuk aslinya dan menyuruh keempat beastnya kembali normal seperti biasanya. Kevin mencoba api hitamnya dengan kekuatan 30%.
Duarrrrr......
Ledakan yang amat sangat dahsyat hingga membuat sebuah danau besar dekat ledakan kering mendadak.
"Apa apaan itu! tidak manusiawi!" teriak Kevin terkaget-kaget sambil mengisi kembali danau tersebut.
Kevin biasanya mengibaskan tangannya berkali-kali untuk mengisi danau besar itu namun sekarang hanya sekali kibasan tangan danau besar itu penuh kembali dengan berbagai kehidupan didalamnya yang pulih kembali.
"Wuuuuuhhhhhh! hebat!!!" teriak Kevin tidak percaya.
[Itu baru 10% tuan, kekuatanmu belum sepenuhnya keluar]
"Bagaimana kalau aku coba 100%?" tanya Kevin.
"Stop bos! 10% saja sudah begitu bagaimana 100%! kau mau kami mati? kau mau dunia jiwa yang nyaman ini hancur?" teriak Kong menghalangi niat Kevin.
"Ya sudahlah kalau begitu, besok kapan kapan saja aku coba." ucap Kevin sedikit kecewa sambil menatap dua telapak tangannya yang terdapat dua lambang berbentuk bulat sempurna dan berbentuk bulan sabit.
[Itu tanda bisa di hilangkan tuan, asal kau tidak memakai lebih dari 5% kekuatanmu maka tanda itu tidak akan muncul]
"Kalau aku pakai 10% kekuatanku bagaimana efek di sekitar?" tanya Kevin.
[Hancur lebur menjadi debu dan kabut darah untuk makhluk hidup. Tapi tenang, tuan bisa gunakan maksimal 50% kekuatanmu di Ragnarok nanti. Sementara pakai saja maksimal 5% kekuatanmu, itu sudah lebih dari cukup untuk membunuh ribuan monster kelas Dewa Iblis]
"Baiklah, terimakasih atas penjelasan nya! aku ergi dulu sampai jumpa! oh ya Kong, aku minta stu gentong ya!" ucap Kevin meminta ijin pada Kong.
"Kenapa hanya satu? lima saja sekalian bos, nanggung!" ucap Kong menawarkan karena masih ada banyak sekali stok arak buah buahan khusus dibuat untuk bosnya.
"Oh, terimakasih kalau begitu!" ucap Kevin memasukkan 5 gentong arak buah raksasa ke dalam cincin penyimpanan lalu pergi keluar dunia jiwa.
Kevin muncul di atas gedung pertemuan klan Bailly di saat matahari akan menampakkan wujudnya. Kevin memutuskan untuk duduk sebentar di sana sambil minum dan merokok.
Setelah matahari meninggi dan orang-orang memulai aktivitas nya Kevin turun dari atap gedung dan berjalan ke rumah ayahnya yang ternyata di sana masih ada teman temannya menunggu kepulangan Kevin.
"Aku pulang!" ucap Kevin masuk rumah.
Bersambung.....