
Malam harinya
Kevin bangun dari tidurnya setelah tadi sore adu mekanik dengan Tania sampai teler karena 5 ronde tanpa istirahat!
"Dengkul ku kopong!" gumam Kevin berjalan ke kamar mandi.
'Hahaha...bos kewalahan!' ucap Kong tertawa terbahak bahak.
"Sialan kau bekantan!" ucap Kevin berendam di bathup untuk memulihkan diri.
Setelah merasa segar, Kevin pun mandi, selesai mandi, dia keluar kamar dengan wajah segar.
"Kita mau berangkat kapan vin?" tanya Virzha saat melihat Kevin keluar kamar.
"Sekarang juga boleh ayah." jawab Kevin.
"Bentar ganti baju dulu." ucap Virzha.
Kevin kembali masuk ke kamar untuk ganti baju, setelah selesai, dia pun berangkat ke kerajaan bersama Virzha. Di tengah perjalanan, Virzha kembali bertanya kemana mereka akan pergi.
"Kita mau kemana?" tanya Virzha.
"Ke kerajaan ayah, aku mau tebus dua budak ku yang kemarin hilang entah kemana." jawab Kevin.
"Ohh.." Virzha hanya ber-oh ria dan lanjut berjalan tanpa mencurigai apapun.
Sesampainya di Kerajaan, Kevin langsung mengutarakan tujuannya ke sana. Semua proses dan biaya di jalani Kevin dan Virzha, akhirnya mereka bisa membawa kembali dua orang yang di tahan karena mencuri makanan.
Di bawanya mereka berdua ke Villa oleh Kevin dan Virzha. Di Villa Virzha terus mengingat ingat aura yang keluar dari kedua orang itu.
"Siapa ini vin?" tanya Deni bingung melihat keduanya yang sedang makan dengan rakus dan tubuhnya yang kotor dan kurus.
"Ayah tau pasti." jawab Kevin tersenyum lalu pergi.
"Ayang mau kopi gak?" tanya Tania.
"Boleh." jawab Tania.
Kevin duduk di ruang tengah menonton TV sambil merokok. Tak lama, Kevin mendengar Virzha berteriak keras sambil menangis.
"Bodoh! baru sadar sekarang!" gumam Kevin tersenyum kecil.
Tak lama Tania datang dengan membawa secangkir kopi dan sepiring pisang goreng. Tania menaruhnya di meja dan duduk bersender pada Kevin.
"Kenapa? kamu mau apa? kok manja gini?" tanya Kevin membelai rambut halus nan harum Tania dengan lembut.
"Enggak mau apa apa, cuma pingin deket ayang aja." jawab Tania dengan suara halus.
Kevin hanya tersenyum kecil lalu lanjut menonton TV sambil mengelus kepala Tania. Tak lama, Aurora, Kinar, dan Virzha datang.
"Ada apa ayah?" tanya Kevin.
"Nak, ibu minta maaf ya soal kemarin, ibu terlalu dibutakan dengan kehamilan Kinar jadi lupa dengan perasaan Tania sama kamu." ucap Aurora meneteskan air mata.
"Tidak apa bu, lagian bukan seutuhnya kesalahan ibu." ucap Kevin tersenyum tulus.
"Mama lebih baik fokus pada bayi di dalam kandungan mu saja, tidak usah memikirkan masalah kemarin." ucap Tania tersenyum manis.
"Terimakasih ya nak, ibu bangga punya anak dan menantu seperti kalian." ucap Aurora mencium Tania dan Kevin sambil menangis tersedu sedu.
"Aku juga minta maaf, ucapanku kemarin benar benar membuat hati kalian sakit. Aku menyesalinya, mohon maafkan aku." ucap Kinar menangis.
"Sudah, fokus pada kandungan mu saja, lain kali di jaga mulutnya. Hati orang berbeda-beda, aku sudah memaafkan mu." ucap Tania tersenyum.
"Terimakasih banyak!" ucap Kinar.
Setelah itu keduanya pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
"Dari mana kau dapat info adikmu di penjara?" tanya Virzha.
"Bawahan ku banyak ayah, tersebar ke seluruh alam Fana." jawab Kevin santai.
"Terimakasih sudah menemukan dua adikmu, ayah jadi lega sekarang." ucap Virzha terharu.
"Santai saja ayah." ucap Kevin tersenyum kecil.
Virzha pun pergi untuk melihat kembali kondisi Lia dan Jason di dapur.
"Ayang mau makan apa? biar aku masakin." tanya Tania.
"Bebas, masakan kamu semua enak." jawab Kevin mengecup kening Tania dengan penuh cinta.
"Ya sudah, aku masak dulu ya." ucap Tania pergi setelah mencium pipi Kevin.
Saat sedang asik menonton TV, Deni, Agus, dan Riski datang membawa rokok dan kopinya masing-masing.
"Gus, besok cari cewek yok, aku iri sama mereka mereka ini!" ucap Deni yang sedari tadi melihat kemesraan Kevin dan Tania.
"Gas aja aku mah! kebetulan besok kan minggu." ucap Agus setuju.
"Jam 8 berangkat kita!" ucap Deni semangat.
Saat sedang ngobrol, bel Villa berbunyi, Deni dengan cepat pergi ke gerbang untuk melihat siapa yang datang.
"Loh, sudah pulang kak?" tanya seorang wanita cantik, imut, dan manis namun bodynya kurang jos bagi Deni.
"Siapa ya?" tanya Deni lupa.
"Aku Rina, cewek yang waktu itu luka." jawabnya memperkenalkan diri.
"Ohhh yang waktu itu, ayo masuk masuk." ucap Deni membuka gerbang.
Mereka pun masuk ke dalam Villa setelah menutup gerbang. Melihat Deni masuk ke rumah membawa seorang gadis, membuat Riski dan yang lain heran.
"Duduk situ dulu ya, aku panggil tante Laras dulu." ucap Deni pergi karena gerogi.
Tak lama Laras dan Aurora pun datang menemui Rina, sedangkan Deni kembali duduk bersama Kevin dan yang lain di ruang tengah.
"Gerogi banget den! santai aja napa!" ucap Riski menggoda.
"Diam kau bab*!" ucap Deni kesal.
Riski dan Agus tertawa terpingkal pingkal, sedangkan Kevin hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.
"Nak, apa masih ada kamar?" tanya Aurora pada Kevin.
"Masih ada satu bu." jawab Kevin.
"Oh ya sudah." ucap Aurora kembali ke ruang tamu.
Tak lama kemudian, Tania memanggil Kevin untuk segera makan malam.
"Ayang ayo makan." ucap Tania menghampiri Kevin.
"Oke!" jawab Kevin beranjak dari tempatnya diikuti Deni, Riski dan Agus.
Kevin duduk di kursi samping Tania yang sedang mengambilkan makanan.
"Kakak hebat! bisa menemukan kami!" ucap Jason deng tubuh cungkring nya.
"He biting! diam kau!" ucap Kevin menahan tawa melihat tubuh kurus adiknya itu.
"Hahaha...itu kena kipas angin terbang!" ucap Deni tertawa terbahak-bahak.
"Ayah! mereka jahat!" ucap Jason memeluk ayahnya menangis.
"Makanya kerja! jangan nyolong!" ucap Virzha semakin membuat Jason menangis.
Hal ini membuat Kevin dan teman temannya tertawa keras.
"Sttt! mau makan jangan brisik!" ucap Laras menggandeng Rani duduk di kursi meja makan.
"Ampun bu bos!" ucap Deni seketika terdiam.
Mereka pun makan bersama di selingi canda tawa, perasaan kekeluargaan yang sangat hangat membuat mereka senang.
"Vin." panggil Dion.
"Napa?" tanya Kevin dengan mulut penuh.
"Kau ngarasa in?" tanya Dion membuat semua orang berhenti mengunyah termasuk Kevin.
'Sial! aku terhanyut!' batin Kevin melotot.
[Santai saja tuan, ini kan memang misimu, membunuh Diablo itu hanya sampingan]
Kevin memberi kode untuk diam dan lanjut makan. Selesai makan malam, Kevin naik ke atap Villa melihat ke sekeliling untuk memantau keadaan.
"Tunjukkan dirimu, akan aku lihat sampai mana tangan kanan sang Kaisar iblis yang menjijikkan itu!" gumam Kevin.
Sebuah ledakan dahsyat hingga membuat guncangan dahsyat di wilayah Kerajaan Valhala. Aura Iblis yang sangat pekat menyebar luas.
"Tunjukkan dirimu bajing*n rendahan!" gumam Kevin mengeratkan tinju.
"A-ayang..." panggil Tania tergagap karena merasakan aura Kevin yang merembes keluar.
"Kenapa?" tanya Kevin seketika berubah menjadi lembut.
"Takut..." jawab Tania memeluk erat Tania yang ketakutan dengan aura milik Diablo.
"Gak papa, gak usah takut." ucap Kevin menenangkan Tania dan mengajaknya turun ke bawah.
"Ada apa?" tanya Virzha.
"Diablo, ayah jaga yang lain biar aku cari dia." ucap Kevin dengan memakai topeng, jubah andalannya serta mata Rinnegan dan God Of Eyes yang sudah aktif.
"Jangan bilang sudah aktif!" ucap Virzha kaget.
Kevin hanya tersenyum kecil lalu pergi menghilang dari hadapan mereka.
(Topeng Kevin mengikuti bentuk wajahnya waktu pakai topeng itu, kalau senyum topeng nya ikut senyum, kalau kedip ikut kedip, kalau ngomong mulutnya ikut bibir kevin yang di balik topeng, dan waktu marah topeng akan mengeluarkan keempat taringnya dan berubah menjadi topeng Dewa Kematian.)
"Ayo masuk nak, jangan di luar, dingin." ajak Aurora masuk ke dalam Villa.
Mereka masuk kedalam Villa dengan wajah yang bertanya tanya melihat keterkejutan Virzha tadi.
"Kenapa Om?" tanya Dion.
"Gak papa, tadi cuma kaget aja." jawab Virzha masih takjub dengan pengelihatan nya tadi.
"Kita harus gimana ini?" tanya Riski tidak tega melihat Bella yang sedari tadi menangis dengan keras karena ketakutan.
"Kita buat Array penghalang." jawab Virzha keluar diikuti para pria lain.
Mereka mulai membuat lingkaran besar, lalu mengucapkan mantra. Tiba tiba sebuah kubah transparan menutupi semua bagian Villa, Bella sedikit demi sedikit mulai tenang lalu kembali tidur.
"Kita tunggu Kevin di dalam." ucap Virzha serius.
Mereka kembali kedalam dan duduk di ruang tengah melindungi para wanita yang ketakutan sambil saling berpelukan.
Di kedalaman Hutan Iblis
Kevin saat ini sedang mengawasi para Petualang yang jumlahnya mencapai ratusan bersama Raja Kerajaan Valhala serta Bams yang sedang berpencar di hutan Iblis mencari sumber ledakan dahsyat tadi.
'Aku sudah siap Bos!' ucap Kong yang sedari tadi sudah melakukan pemanasan setelah mendengar perintah Kevin.
"Tunggu waktu yang tepat! kita akan langsung membunuh bajing*n rendahan itu!" ucap Kevin yang sedang duduk di atas punggung Bombom di atas langit.
'Laksanakan komandan!' ucap Kong tegas.
'Dia terlihat berbeda.' bisik Cooper pada Kuro saat melihat aura Kong saat ini.
'Dia akan serius pada waktunya dan akan mematuhi Bos di waktu yang tepat, jika tidak di saat saat begini dia akan terus meledek bos.' ucap Kuro.
Setelah 3 jam terus mengikuti para rombongan Petualang dan Raja Kerajaan Valhala yang bernama Raja Bros. Akhirnya rombongan itu menemukan asal ledakan tadi yang di sebabkan oleh seorang pria dengan dua tanduk di dahinya dan tubuh berwarna merah darah khas seorang Iblis.
"Akhirnya setelah aku tunggu tunggu! kalian para ras rendahan datang juga untuk mengantarkan nyawa!" teriak pria itu yang ternyata adalah Diablo.
"Apa yang kau lakukan di wilayah ku!" teriak Raja Bros.
"Masih belum paham! biar aku jelaskan, aku kesini untuk membunuh kalian!!!" teriak Diablo menspawn ribuan monster Iblis tingkat SSS yang langsung menyerang robongan petualang yang rata rata hanya ada di tingkat kultivasi Geatrhering Spirit.
Boommmm.....
"Akhirnya aku menemukan mu juga wahai ras menjijikkan!" ucap Kevin mengeluarkan aura Imortal Supreme yang di gabung dengan aura milik Kong yang menyelimuti tubuh Kevin berbentuk sebuah zirah perang.
Woshhhh....
Kevin dengan kecepatan cahaya mencekik Diablo dengan kencang.
Krek....
Leher Diablo di hancurkan oleh Kevin dengan sekali tekan, namun sialnya tubuh Diablo berubah menjadi butiran debu.
"Hahahaha.....kau pikir aku bodoh? aku sudah mengetahui auramu dari tadi! dasar bajing*n licik!!" teriak Diablo di atas langit mengendarai seekor Naga kegelapan yang mengeluarkan aura kegelapan yang sangat amat pekat.
"Kalian pergi! biar aku yang urus ini semua!" ucap Kevin meregangkan otot-otot nya.
"T-tuan yakin?" tanya Bams mengenali Kevin karena topengnya.
"Apakah aku terlihat bercanda?" tanya Kevin mengeluarkan aura yang lebih mengerikan dengan topengnya yang sudah memunculkan empat taring.
"B-baiklah! kita mundur! jaga gerbang kota!" teriak Bams bergetar ketakutan.
Rombongan kerajaan itu pergi dari lokasi pertarungan meninggalkan ribuan monster Iblis yang berpindah mengincar Kevin.
"Para pasukan ku datanglah!!!" teriak Kevin mengangkat tangannya ke atas.
Seketika ribuan undead yang tingkatnya lebih tinggi dari para monster Iblis yang di spawn Diablo muncul dari dalam tanah dan langsung menyerang para monster Iblis itu dengan brutal karena mereka tidak bisa mati dan abadi jika bertarung malm hari.
"Kong!" teriak Kevin memanggil Kong karena melihat Naga tunggangan Diablo semakin membesar dan tingkatannya semakin tinggi serta mengeluarkan aura yang lebih besar dari sebelumnya.
"Groahhhh....." Kong mengaum dan mengeluarkan aura yang jauh mengerikan di banding Naga itu.
"Beraninya kau ras rendahan menginjakkan kakimu di depan tuan besar!" teriak Kong membesarkan tubuhnya hingga mencapai 400m lebih tinggi dan besar 2x lipat dari Naga Kegelapan itu.
"Sampah!" teriak Diablo langsung menyerang Kevin dengan kekuatan penuh.
Kevin dan Kong dengan mudah tanpa berusaha keras menghindari semua serangan Diablo.
"Sampah! ras menjijikkan! kekuatan pun menjijikkan! tidak ada kuat kuatnya!!" teriak Kong memukul Naga yang di tunggangi Diablo dengan keras yang membuat Naga itu menjadi butiran darah.
"Cuih! lemah!" ucap Kong meludah.
Diablo yang melihat itu langsung ketakutan setengah mati, dia membuka portal menuju dunia Iblis dengan terburu-buru namun Kevin dengan cepat menendangnya hingga mematahkan beberapa tulang rusuknya.
"Aku serahkan padamu bos!" ucap Kong masuk ke dalam dunia jiwa karena urusannya sudah selesai.
"Tangan kanan kok lemah! cuih! sampah!" ucap Kevin meludahi wajah Diablo yang kesakitan.
"Terpaksa!" gumam Diablo memakan sebuah pil berwarna merah darah.
Woshhhh....
"Hahaha....akan ku bunuh kau serangga!!!" terik Diablo yang berubah bentuk, tanduknya lebih panjang dan besar, memiliki dua sayap kelelawar, ekor Iblis, menggenggam satu tongkat emas, dan mengeluarkan aura yang lebih besar dari sebelumnya.
Keduanya pun bertarung dengan brutal, jual beli serangan yang membuat cekungan cekungan besar di sana akibat serangan yang meleset. Kecepatan yang bahkan tidak bisa di lihat oleh mata manusia biasa.
Dengan God Of Eyes miliknya, Kevin dengan mudah memprediksi semua arah serang yang akan di lancarkan oleh Diablo.
"Bajing*n kau!!!" teriak Diablo ngos ngosan karena mana nya sudah mulai habis.
"Kenapa? kau sudah kehabisan mana?" tanya Kevin meremehkan.
"Arghhhh....." teriak Diablo menyerang Kevin dengan amarah yang menggebu gebu.
Ting..
Ting...
Tingg...
Suara dentingan senjata antara keduanya terdengar sangat nyaring. Karena sudah bosan, Kevin pun dengan kekuatan 50% menendang perut Diablo yang membuatnya terpental sangat jauh.
Boommm..
Terdengar suara ledakan akibat tubuh Diablo yang menabrak sebuah batu besar.
"Sial! organ ku hancur semua!" ucap Diablo memuntahkan banyak sekali darah.
"Kenapa? sakit?" tanya Kevin menatap rendah Diablo.
"Tuan besar akan membalaskan dendam ku!" teriak Diablo sekencang mungkin.
"Kaisar lemah tidak ada tandingannya dengan ku!" ucap Kevin mencengkram kepala Diablo dan mencabutnya dengan paksa dari tubuhnya.
"Arghhhh...." teriak Diablo kesakitan.
Crashhh....
Kepala Diablo terpisah dari tubuhnya sekaligus dengan organ tubuh yang sudah hancur lebur.
"Sampah!" gumam Kevin membakar tubuh Diablo dengan api emasnya lalu pergi begitu saja setelah melihat para Undead selesai menghabisi ribuan monster.
Kevin kembali ke Villa dengan membawa ribuan Crystal di cincinnya, dia pergi mandi karena melihat teman temannya sudah tidak ada di ruang tengah. Setelh selesai mandi, dia langsung tidur dengan memeluk tubuh Tania yang meringkuk di atas ranjang.
Bersambung....