
Tepat pukul 14.00 waktu setempat tiba-tiba portal yang semula tidak menimbulkan masalah kini bergetar hebat dan mengeluarkan aura kegelapan yang menjijikan dari retakan portal tersebut.
Di saat hunter hunter di sana menjaga kewaspadaan, berbeda dengan Kevin dan temannya yang teriak teriak karena memenangkan pertandingan yang hard game.
"Wuuuuu!!! akhirnya glory juga!!!!" teriak Kevin bahagia.
"Akhirnya!!! naik legend 4!!!!" teriak Riski senang.
"Anj*ng baru legend empat! cupu batt bangs*t!" ucap Demian.
"Iya cupu banget!" ucap Dion yang sudah glory poin 4000 tapi pakai akun kecilnya.
"Legend abadi hahahaha....." ucap Rizal tertawa terbahak-bahak.
"Hoeyyyy!!! kalian bisa diam tidak!!! lihat portal itu sudah retak!!! kalau takut bantu minimal jangan buat gaduh!!" teriak Bone marah.
"Belum juga meledak dah panik aja kalian ini. Kalaupun keluar monster ya tinggal lawan ngapain panik aneh banget!" ucap Deni.
"Takut bilang dekk.." ucap Riski.
"Palpalepalpale..." ucap Riski melanjutkan.
"Bodoh!" ucap Demian memukul Riski di bagian kepalanya.
"Diam!!!!" teriak Aron muak.
Hening.........
Kevin menghidupkan rokoknya lalu mengaktifkan mata Rinnegan miliknya yang sudah berevolusi untuk menganalisis jenis portal yang akan dia hadapi.
'Hanya kelas Naga? haihhh buang buang waktuku!' ucap Kevin dalam hati.
'Sepertinya bukan sekedar kelas Naga bos, ada satu hal yang aneh dan menarik perhatian ku di dalam portal sialan itu.' ucap Kuro.
[Masuk saja tuan, mau menunggu sampai kapan bos? kita harus jemput bola jangan menunggu bola]
'Oke deh Bob!' ucap Kevin pasrah.
"Mau ikut gak?" tanya Kevin pada Dion.
"Kemana?" tanya Dion balik.
"Masuklah, ngapain nunggu kek orang bego gini." jawab Kevin memakai jubahnya dan mengeluarkan dua pedangnya lalu berjalan ke arah portal.
"Gass ayok!!! bosen aku disini!" ucap Riski semangat mengikuti Kevin.
Mereka berenam berjalan menuju portal lalu berhenti tepat di depan portal itu menunggu Kevin yang sedang merapalkan mantra pembuka Gate.
"Hentikan!!!!" teriak Aron mencegah tetapi sudah terlambat.
"Open Gate!!" teriak Kevin sembari tersenyum.
"Mundur sedikit." ucap Kevin pada teman temannya.
Setelah mundur beberapa langkah Kevin langsung membuat segel dinding segi enam lalu mengajak teman temannya untuk masuk ke dalam dan bersenang-senang bersama.
"Mari kita pesta!!!" ucap Kevin menyeringai.
"Hahahaha....sesi yang paling aku tunggu tunggu!!!" ucap Deni menyeringai di ikut teman temannya yang juga ikut menyeringai.
Mereka berenam masuk ke dalam portal meninggalkan hunter hunter yang merinding karena melihat senyuman iblis dari keenam orang yang di anggap kutu buku.
"Ayo ikuti mereka! jangan sampai mereka mati konyol!" teriak Aron masuk ke dalam portal diikuti para hunter dan drone yang ikut meliput ke dalam portal.
"Kelas Naga! sialll!!!!! jangan pergi sendirian! tetap bersama!!!" teriak Aron memberi arahan.
Mereka semua berjalan dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi, berbeda dengan Kevin dan temannya yang berjalan sangat santai sambil membantai monster yang mereka temui.
"Membosankan! di mana monster monsternya? sedari tadi yang keluar hanya satu atau dua saja! haihhh...." ucap Dion bosan.
"Jangan bicara begitu, aku pernah mengalaminya sekali dan persis seperti yang kau ucapkan barusan. Dan kau tau apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Kevin dengan muka serius.
"Apa? apa?" tanya Rizal antusias.
'Grudukk...grudukkkkk......'
Suara langkah kaki dari ribuan makhluk terdengar sangat jelas dan dapat di rasakan dari getaran tanah.
"Ini yang terjadi, ribuan monster kelas Raja Iblis berdatangan menyerbu dan bosnya yang sudah kelas Dewa Iblis datang menyusul! tapi beruntung kali ini hanya portal kelas Naga jadi kemungkinan hanya monster kelas SSS+ yang bergerombol dan bosnya yang sudah menginjak kelas Iblis." ucap Kevin.
"Uihhh mengerikan!!!" ucap Riski.
Benar saja yang si ucapkan Kevin barusan, gerombolan monster kelas SSS+ mengepung mereka berenam deng bos mereka yang baru menginjak kelas Setan mengamati dari jauh dengan bentuk Kadal berbadan manusia.
"Kalian siap?" tanya Kevin memegang erat kedua pedangnya lalu mengaliri api biru untuk memperkuat serangan.
"Kau siap maka kami juga siap." jawab Dion mengeluarkan palu gadanya dan mengaktifkan baju zirah nya.
"Jangan tanya siap atau tidak pada kami." ucap Deni mengeluarkan tombaknya dan mengaktifkan juga baju zirah nya.
"SSS+? tidak masalah jika harus mati matian." ucap Rizal dan Riski bersamaan dengan memakai busur dan baju zirah yang sama.
"Butuh HP? datanglah padaku." ucap Demian membuat tembok pelindung dari tanah dan memakai baju zirah nya dan tongkat sihirnya.
"Aku terkesan." ucap Kevin memakai zirah dari susanoo nya setelah mengaktifkan mata Rinnegan miliknya.
Mereka berlima bertarung habis habisan dengan suport dari Demian yang memiliki mana melimpah ruah karena dari salah satu klan unggulan di Jakarta. Jika terluka maka Demian akan langsung menyembuhkan luka itu tanpa diminta sekalipun.
"Fokus pada yang lain jangan padaku! heal mu akan percuma!" teriak Kevin di sela sela pertarungan.
"Baikk!!!" jawab Demian memfokuskan heal nya pada empat temannya.
'Teman temanmu lumayan juga bos.' ucap Kong.
'Aku juga lumayan kaget tadi.' ucap Kevin tersenyum kecil.
'Tuan, saya sudah mengetahui aura yang Anda kenali semalam, aura itu adalah pecahan setengah dari diriku yang di segel oleh pak tua sialan itu di dongeon ini.' ucap Dexter setelah menganalisis jenis aura yang akrab dengan dirinya.
'Kau cari arahnya nanti akan aku datangi tempatnya setelah mengalahkan kadal gurun itu.' ucap Kevin.
'Baik.' ucap Dexter.
Kevin mempercepat pembantaian monster kelas SSS+ tanpa menggunakan skill satupun karena Kevin berniat melatih terus menerus teknik Dual Swords miliknya ini.
'Slashh...slashhhh....slashh.....'
Sekali tebas mati, sekali tebas mati, hal ini terus di lakukan Kevin untuk mempercepat peperangan ini. Reflek yang bagus dan penguasaan pedang yang indah membuat setiap mata yang melihat terpesona.
"Cepat bantu mereka!!!" teriak Aron.
"Oraaaa!!!!" teriak mereka menyerang kumpulan monster dengan semangat membara.
Merasa jika para kroco sudah tertangani Kevin berlari ke arah bos dongeon dengan mengaktifkan perfect susanoo miliknya yang tingginya setara gunung gunung.
"Marilah brengsek!!!" teriak Kevin dengan tangan kanan yang hampir putus namun memaksakan diri melawan bos dongeon sendirian karena menyadari akan terlibatnya bos dongeon dalam peperangan.
"Healing!" ucap Kevin yang membuat tangan kanannya kembali menyambung dan bisa digerakkan kembali.
Kevin dengan mudah melawan bos dongeon karena tangannya yang sudah pulih, dalam beberapa menit saja bos dongeon sudah tergeletak dengan kepala terpisah dari tubuhnya.
Setelah mengambil jantung dan inti cristal nya Kevin pergi menghilang karena tau kalau para keroco sudah bisa di tangani dengan mudah. Jadi Kevin memilih mencari belahan kekuatan Dexter yang tersegel di tanah ini.
'100 meter lagi ke barat tuan.' ucap Dexter.
Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit Kevin pun menemukan sebuah Altar yang di jaga oleh seorang malaikat bersayap enam yang sudah menunggu kedatangan Kevin selama ribuan tahun.
"Hormat pada tuan besar Ashura!" ucap malaikat tersebut menunduk.
"Kau tau di mana potongan itu?" tanya Kevin.
"Biar saya tunjukkan arahnya tuan besar." jawab malaikat.
Mereka berdua berdiri di tengah altar lalu tiba tiba mereka teleport ke sebuah bangunan yang sudah runtuh. Di sana Kevin melihat ratusan malaikat yang menjaga sebuah bola hitam raksasa dengan aura yang mengerikan.
"Itu adalah potongan kekuatan milik Naga Penguasa tuan besar, anda bisa menyerapnya sekarang juga karena sang Naga sudah bersatu dengan anda seutuhnya." ucap malaikat.
"Baiklah." ucap Kevin mendekati bola hitam tersebut.
Ratusan malaikat yang menjaga langsung berhenti merapalkan mantra dan tiba tiba bola hitam itu mengecil dan dengan kecepatan kilat masuk ke dalam tubuh Kevin.
"Uhuk..uhuk..." Kevin batuk darah yang berwarna hitam.
'Terimakasih tuan besar, berkat anda kekuatanku sudah kembali sepenuhnya. Anda bisa memakai energi saya dengan sesuka hati mulai sekarang.' ucap Dexter gembira.
'Tidak terjadi apa apa bob?' tanya Kevin.
[Itu karena tuan sudah bergabung sepenuhnya dengan Dexter, jadi energi tadi sudah tidak asing dengan tubuh tuan dan dengan mudah dapat beradaptasi]
"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu, salam untuk pak tua sialan itu ya." ucap Kevin sebelum menghilang.
"Sampai jumpa tuan besar yang agung." ucap para malaikat bersama setelah kepergian Kevin.
Kevin teleport ke tempat di mana teman temannya sedang beristirahat sambil menyembuhkan luka dan memulihkan energi serta mana yang terkuras habis.
"Halo gais." sapa Kevin dengan rokok yang sudah menyala.
"Kemana kau tadi?" tanya Dion penasaran.
"Cari harta karun." jawab Kevin.
"Dapat?" tanya Deni tertarik.
Kevin mengeluarkan aura milik Dexter yang membuat tanah si sekitarnya menjadi cekung.
"Bagaimana? ngeri gak harta karunnya?" tanya Kevin sombong.
"Mantappp!!!!" ucap Rizal kagum.
"Yoiii coyyy!" ucap Demian.
"Udah ayok keluar, pengen mandi air hangat aku di hotel." ucap Kevin mengajak teman temannya kembali ke hotel.
"Gass! dah laper aku!" ucap Riski.
Mereka pun pergi keluar dongeon meninggalkan hunter hunter yang masih sibuk memungut inti crystal yang berceceran.
"Kalian tidak minat dengan crystal?" tanya Aron.
"Tidak, aku punya yang lebih mahal." jawab Kevin sambil berjalan keluar.
"Oke." ucap Aron memantau para hunter supaya tidak saling menyerang karena berebut crystal.
Kevin dan teman temannya memesan taksi untuk kembali ke hotel lebih dulu. Sesampainya di hotel mereka langsung membersihkan diri dan beristirahat sambil memberi kabar pada keluarganya masing-masing.
"Halo, kenapa yang?" tanya Kevin gemetar karena lupa mengabari Tasya sejak semalam sampai.
"Kenapa semalam tidak memberi kabar?" tanya Tasya jutek.
"Anu...maaf ya aku lupa." jawab Kevin masih gemetar.
'Bos aura kemarahannya sampai sini.' ucap Kong ketakutan.
"Lupa apa lupa?" tanya Tasya marah.
"Lupa yang sumpah." jawab Kevin.
"Jangan jangan kamu lupa gara gara lagi sama cewek lain ya!" ucap Tasya curiga.
'Waduh bos! kau dalam bahaya!' ucap Kong panik.
"Enggak sumpah! coba tanya Dion nih!" ucap Kevin memberikan ponselnya ke Dion yang sedang berada di kamarnya berkunjung bersama Deni dan yang lainnya.
"Semalam kami juga enggak ada yang kasih kabar kok, baru tadi pas selesai mandi kita kasih kabar ke keluarga. Ini aku baru aja selesai telpon Laras, jangan salah paham dulu ya. Kemarin emang badan capek banget terus langsung tidur paginya sarapan terus rapat habis itu berangkat ke lokasi." ucap Dion menjelaskan.
"Kalau sampai Kevin main cewek langsung foto terus kirim aku ya." ucap Tasya masih kesal.
"Siap komandan!" jawab Dion menutup telepon.
"Ngerinya dia kalau marah!" ucap Kevin gemetar.
"Resiko Vin, pekerjaan kita ini punya resiko paling berbahaya!" ucap Dion yang juga masih gemetar akibat di marahi Laras tadi.
"Ngeri njir kalau punya istri begitu!" ucap Deni ketakutan.
"Itu sisi kecilnya kok, sisi besarnya lebih lembut tenang aja. Kemarahan mereka juga demi kebaikan kita juga." ucap Kevin.
"Iya bener kata Kevin." ucap Dion.
"Tetep aja ngeri anjir!" ucap Deni.
Setelah berbincang-bincang hingga larut mereka pun kembali ke kamarnya masing-masing untuk istirahat.