Strongest Hunter

Strongest Hunter
Arc 2 Episode 34



Keesokan harinya


Kevin dan Dion berjalan ke Asosiasi Petualang yang sangat ramai akan para petualang yang ingin menguji kembali kemampuannya dan naik tingkat. Setalah mendaftarkan diri Kevin dan Dion masuk ke dalam ruangan khusus pengujian untuk pemula.


Dion menyelesaikan test dengan sangat mudah dan mendapatkan nilai sempurna yang membuatnya mendapatkan plat Petualang tingkat SS. Kevin juga bisa dengan sangat mudah melewati ujian itu dan mendapatkan plat petualang tingkat SSS+.


"Kita cari rumah untuk tempat tinggal tetap dulu, bakalan rugi besar kalau terus nginep di penginapan." ucap Kevin.


"Aku gak punya uang vin." ucap Dion.


"Masalah uang gampang, yang penting kita ada rumah dulu." ucap Kevin.


Mereka berdua pergi ke kantor properti di ibukota, segala bentuk rumah ada di sana tinggal pilih sesuai dana yang ada. Karena rumah ini akan di tinggali banyak orang Kevin memilih kategori Villa yang tidak terlalu besar tapi mewah yang harganya satu juta koin platinum.


"Ini surat suratnya dan kunci villa nya tuan." ucap broker (sebutan penjual properti).


Setelah semua selesai Kevin dan Dion kembali ke penginapan untuk makan siang bersama.


"Paman sudah dapat restorannya?" tanya Kevin sambil makan steak pesanannya.


"Sudah, sekarang tinggal mencari orang untuk di ajak kerja sama membangun restoran dari nol." jawab Boy.


"Aku mau berkerja sama dengan paman, tapi dengan syarat istri temanku ini harus menjadi manager utama. Dia sangat pandai megurus tentang bisnis." ucap Kevin.


"Berapa dana yang akan kau gelontorkan?" tanya Boy.


"Dua juta koin platinum, kalau kurang aku bisa tambah satu juta koin lagi." jawab Kevin santai.


"Deal!" ucap Boy menjabat tangan Kevin dengan semangat.


"50:50 ya paman, untung di bagi dua." ucap Kevin.


"Siap!" jawab Boy gembira.


Selesai makan siang Kevin dan Dion mengajak Laras dan Bella pergi ke rumah yang sudah Kevin beli mahal mahal.


"Mewah sekali! pasti mahal!" ucap Laras kagum.


"Supaya tidak menginap ke penginapan lagi jadi lebih baik membeli rumah saja sekalian." ucap Kevin.


Mereka berkeliling Villa untuk melihat fasilitas yang ada dan kelengkapan alat dapur serta alat elektronik yang tertulis di list.


"Kalian mau ngapain ke ibukota? kok ngebet banget pengen ikut?" tanya Kevin penasaran.


"Kita di undang ke pernikahan seseorang yang waktu itu pernah aku tolong di hutan larangan. Kebetulan ketemu kau yang mau cari yang lainnya jadi sekalian aja." jawab Dion.


"Kapan?" tanya Kevin.


"Besok malam di kediaman Clan Baker." jawab Dion.


"Owalah gitu ya paham paham." ucap Kevin.


Setelah itu merek pun memilih kamarnya masing masing untuk istirahat, Kevin memilih kamar utama sebagai kamarnya karena luas dan strategis saja letaknya. Kevin menghampiri Laras sebentar untuk memberikan sekantong koin platinum sebagai pegangan untuk beli bahan makanan atau sebagainya.


Kevin kembali ke kamarnya dan jiwanya masuk ke dalam dunia jiwa untuk menanyakan langkah selanjutnya.


"Habis ini mau ngapain?" tanya Kevin.


"Bos fokus mencari para sahabatmu dan istrimu saja, setelah semuanya berkumpul nanti kita bicarakan langkah selanjutnya mu bagaimana." ucap Kong.


[Tuan jangan berharap dengan Tasya, sebaiknya lupakan saja karena sistem merasakan firasat yang tidak mengenakkan hati]


"Ya tuan, benar katanya, aku juga merasakan hal yang tidak mengenakkan hati belakangan ini." ucap Dexter.


'Wooggg..wuuuuuuu.....'


Timy ikut mengaum sedih karena merasakan hal yang sangat mengganggu di hatinya.


"Anak pintar jangan sedih ya...ututututu...." ucap Kong membelai kepala Timy.


"Selagi belum melihat secara langsung aku tidak akan melupakannya." ucap Kevin tetap pada prinsip nya.


"Tuan fokus dulu mencari para sahabatmu, jangan sampai teralihkan pada wanita yang belum tentu jodoh di alam ini." ucap Cooper.


"Baiklah." ucap Kevin kembali ke dunia nyata lalu tidur.


Keesokan harinya


Saat ini Kevin, Dion dan Laras sedang bersiap untuk pergi mendatangi undangan dari Clan Baker. Mereka datang dengan kereta kuda yang mewah yang di beli Kevin tadi siang.


Mereka masuk ke dalam kesiaman Clan Baker tanpa hambatan karena Dion memberikan plat khusus yang di berikan oleh orang yang dia tolong beberapa waktu lalu.


Setelah memarkirkan kereta kudanya, Kevin dan Dion bersama Laras mendatangi pesta pernikahan yang meriah dan mewah.


"Aku ambil makanan dulu ya." ucap Kevin berjalan ke bagian makanan.


Saat sedang mengambil makanan Kevin merasakan aura keempat sahabatnya yang berada di sana namun entah di mana. Kevin mengaktifkan mata Rinnegan nya dan melihat satu persatu krng di sana.


Akhirnya Kevin menemukan empat orang yang sedang makan di meja yang sama sambil ketawa ketiwi dan memandangi podium di mana pengantin pria dan wanita duduk.


Kevin dengan membawa makanannya menghampiri keempat pemuda itu untuk sekedar bertegur sapa.


"Permisi, boleh tanya sebentar." ucap Kevin di sambut baik oleh keempatnya.


"Ada yang bisa kami bantu tuan?" tanya salah satu dari mereka.


"Apakah dari kalian ada yang bernama Deni Subagio?" tanya Kevin sedikit tersenyum lalu pergi begitu saja kembali ke meja tempat Dion dan istrinya duduk.


"Siapa dia? kenapa dia tau namaku?" tanyanya.


"Sebaiknya kita tanyakan padanya sekarang." ucap salah satu dari mereka.


Mereka berempat mendatangi meja Kevin dan Dion untuk sekedar bertanya.


"Mohon maaf tuan, kalau kami boleh tau anda siapa ya?" tanya salah satu pemuda itu dengan sopan.


"Kevin, dia Dion, ini Laras, ini Bella." jawab Kevin singkat padat jelas.


Keempat pemuda itu mematung dengan air mata yang mulai menetes.


"Jangan nangis gobl*k! ntar di kira kita ngapa ngapain kalian!" ucap Kevin panik.


"Om Dion!" ucap Riski menangis memeluk erat Dion.


"Jangan nangis tol*l! ntar kita diusir!" ucap Dion panik karena di lihatin oleh para tamu undangan.


"Maaf semua, kami sudah lama tidak bertemu jadi tolong di wajar kan." ucap Kevin tidak enak.


Pada tamu hanya menganggukkan kepala tanda paham dan wajar dengan perlakuan mereka yang menangis di tempat ramai.


"Udah udah! cengeng bet jadi laki tol*l!" ucap Dion menyuruh Deni dan yang lainnya duduk.


Kevin melihat pengantin baru yang duduk di atas podium sedang suap suapan kue dan di abasikan oleh para tamu dengan kamera ponsel mereka. Namun di dalam hati Kevin, dia merasakan rasa sakit hati yang sangat perih.


Kevin mengaktifkan mata Rinnegan nya dan melihat ke arah wanita yang menjadi pengantin itu dan boommm.....sesuai dugaan sistem. Pengantin wanita itu adalah Tasya karena auranya yang sangat amat melekat di hati Kevin.


'Sabar tuan, mungkin ini sudah jalannya.' ucap Cooper merasa malang dengan nasib Kevin.


Kevin tersenyum masam dan memilih untuk fokus makan tanpa menengok ke suara podium supaya hatinya tidak merasakan sesak.


Saat acara selesai pengantin pria bersama pasangannya berjalan menghampiri Dion dan yang lainnya untuk berterimakasih sekaligus berjabat tangan karena sudah datang.


Saat pengantin wanita berjabat tangan dengan Kevin, tiba tiba dari matanya meneteskan air mata melihat Kevin yang tersenyum manis dengan terpaksa.


"Selamat sudah sah mempunyai istri tuan muda, semuga cepat di beri momongan dan langgeng sampai akhir hayat." ucap Kevin memberi doa sambil melihat cincin di jari manis Tasya perlahan hangus menghilang.


"Terimakasih banyak doa nya." ucap pengantin pria yang bernama Billy.


"Kalau begitu kami pamit pulang karena sudah larut, terimakasih banyak atas jamuannya yang sangat mewah dan nikmat ini." ucap Kevin.


"Sama sama, boleh tau namamu?" tanya Billy.


"Kevin Bearnet, panggil saja Kevin." jawab Kevin tersenyum ramah sambil menundukkan kepala.


"Sampai jumpa di lain waktu Kevin, senang bertemu pemuda sopan sepertimu." ucap Billy memberi hormat.


"Sampai jumpa." ucap Kevin pergi diikuti yang lainnya setelah berpamitan.


Mereka kembali ke Villa untuk beristirahat karena sudah larut. Kevin langsung masuk ke dalam kamar sementara Deni dan yang lain memilih kamar yang cocok untuk mereka tidur.


Kevin merebahkan tubuhnya sambil menatap plafon kamar, dia pergi ganti baju lalu kembali rebahan dan menutup mata untuk masuk kedalam dunia jiwa.


[Sudah saya bilang tuan lupakanlah wanita itu tapi tuan ngeyel ya sudah terima saja akibatnya]


"Yang sabar ya bos, kau pasti mendapatkan yang jauh lebih baik dan cantik." ucap Kong.


"Bos, yang mulia tuan besar ingin berbicara di dalam gubuk." ucap Kuro.


Kevin berjalan dengan lemas menuju gubuknya, di dalam gubuk sudah ada Andreas dan Virzha yang duduk bersama seorang wanita cantik berambut panjang, bermata coklat, dan berkulit putih oriental dengan dada yang lumayan istimewa. Namun sayangnya wajahnya yang menunjukkan kejutekan maksimal membuat Kevin semakin tidak bersemangat.



(Kayak gitu gambarannya)


"Ada apa ayah?" tanya Kevin murung.


"Jangan sedih begitu, kalau dia bukan takdirmu ya sudah ikhlas kan saja untuk orang lain. Lagian kau sudah pernah mencobanya bukan? hahahaha...." jawab Andreas tertawa terbahak-bahak bersama Virzha.


"Intinya aja ayah, emosiku sedang tidak stabil loh ini." ucap Kevin kesal.


"Jangan marah gitu dong anakku, ini aku membawa istri baru untukmu pilihan dari kedua ibumu! semangatlah kau wahai anak muda!!!" ucap Andreas dengan semangat.


"Dia terlihat tidak suka ayah, jadi jangan memaksakan. Aku sendiri pun juga tak masalah masih bisa bahagia tanpa adanya pendamping." ucap Kevin.


"Tapi kami masalah! kalau kau tidak mau maka habis kami di pukuli oleh dua iblis itu!" ucap Virzha merinding di angguki Andreas juga.


"Biar aku yang bicara nanti ayah, mendengar penjelasanku mereka berdua pasti akan paham." ucap Kevin.


"Baiklah kalau begitu kami akan pergi, nanti ponselmu jangan sampai mati oke! kalau ponselmu mati kami ikut mati!" ucap Andrean.


"Iya ayah." ucap Kevin pergi keluar gubuk dan duduk di batu pinggir danau sambil merokok dan minum arak buatan Kong dengan alkohol rendah.


"Bos jangan memikirkannya terlalu dalam, nanti tubuhmu drop malah repot sendiri kau." ucap Kong.


"Santai aja, aku lagi coba lupain dia kok. Aku lagi cari cara biar semua ingatan tentang dia hilang." ucap Kevin terus memandangi danau yang indah.


"Semoga berhasil bos, kalau gagal jangan di paksakan masih ada hari esok untuk berusaha." ucap Kong.


"Baiklah." ucap Kevin.


Bersambung......