
Keesokan paginya
Kevin berjalan masuk ke gedung pelatihan yang di gunakan oleh para jenius klan berlatih. Saat baru memasuki gedung, Kevin melihat dua murid pribadinya sedang di bully habis habisan karena pakaian mereka yang lusuh dan compang-camping.
"Kemari kalian berdua." panggil Kevin pada Doni dan kakaknya.
"Baik guru!" jawab mereka berdua.
Semua anak anak yang membully mereka berdua langsung terdiam seribu bahasa karena mereka sudah tau kekuatan milik Kevin yang sebenarnya.
"Siapa namamu?" tanya Kevin pada kakak Doni.
"Kenzo guru." jawabnya tegas.
"Baik Kenzo, aku mau tau apakah kau sudah bisa mengendalikan elemenmu atau belum. Silahkan perlihatkan padaku." ucap Kevin.
Kenzo memperlihatkan elemen petir merahnya yang di bentuk bulat di atas tangannya.
"Lemparkan ke sana." ucap Kevin menunjuk boneka percobaan.
Woshh....
Boommm.....
Bola petir itu melesat sangat cepat dan meledak tepat setelah mengenai boneka percobaan itu.
"Hebat!!!! kakak memang hebat!!" ucap Doni kagum.
"Bagus bagus, sekarang Doni coba buat bola kecil seperti kakakmu dan lesatkan ke boneka di sampingnya." ucap Kevin.
"Baik guru." ucap Doni mencoba membuat bola cahaya.
Doni hanya mampu membuat bola cahaya sekecil *** ping-pong dan melemparkan ke bonek percobaan.
Wosss......
Duarrrr......
Tak di sangka, efek ledakan dari bola Doni lebih besar dari milik kakaknya.
"Kau sangat hebat adikku!" ucap Kenzo bertepuk tangan.
"Tapi kenapa bisa guru? bolaku lebih kecil dari milik kakak tapi kenapa ledakannya lebih besar?" tanya Doni bingung.
"Perbedaan elemen kalian jawabannya, cahaya akan lebih brutal jika volumenya sekecil mungkin, berbeda dengan petir, petir akan lebih brutal jika volumenya sangat besar. Kira kira begitu jawabannya." ucap Kevin.
"Wahhh....ilmu baru!" ucap Doni dengan mata berbinar.
"Kalian berdua fokus belajar mengendalikan besar kecilnya serangan terlebih dahulu, aku mau memanggil satu teman kalian untuk ikut berlatih." ucap Kevin menjauh dan menelepon Dion.
"Kakak, kau harus kuat!" ucap Dion menyemangati kakaknya.
"Kau juga adikku!" ucap Kenzo mulai berlatih sesuai kitab yang di berikan Kevin.
"Halo, kau bisa ajak Brian ke sini gak? ke klan." tanya Kevin pada Dion melalui telepon.
"Bisa bisa, mau ngapain si?" tanya Dion balik.
"Adalah, kau bawa dia dulu kesini nanti aku jelasin rincinya." jawab Kevin.
"Oh, ya otw." ucap Dion menutup telepon.
Sambil menunggu Kevin memperhatikan dengan saksama dua muridnya yang sedang berlatih dengan sangat giat.
'Mereka terlihat antusias bos.' ucap Kong.
'Karena mereka berusaha buat bos gak kecewa.' ucap Kuro.
'Masuk akal juga.' ucap Kong.
'Apa aku harus latih fisik mereka dulu bob?' tanya Kevin.
[Tidak perlu tuan, latihan fisik membutuhkan waktu yang panjang sedangkan tuan hanya memiliki waktu dua bulan lagi. Tuan kalau mau lebih baik melatih mereka dalam menghemat mana yang mereka miliki saat bertarung dan menggunakan kecerdasan untuk bertarung sembari menguras energi lawan]
'Okelah saran mu itu, minggu ke dua nanti aku terapin.' ucap Kevin mempertimbangkan saran sistem.
"Guru aku capek! boleh istirahat sebentar?" tanya Doni kelelahan.
"Ya, istirahat 30 menit habis itu lanjut lagi." jawab Kevin.
"Yeayy!" teriak Doni pergi mengambil bekal buatan ibunya untuk di makan bersama kakaknya.
Saat sedang merokok di luar gedung, Dion bersama Deni dan teman temannya datang menghampiri Kevin yang sedang santai merokok tanpa beban di bawah tanda larangan merokok.
"Anj*ng santai banget dia ya." ucap Rizal.
"Gak habis pikir aku sama bedebah satu ini." ucap Dion menepuk jidatnya.
"Wehh dah dateng kalian." ucap Kevin berdiri menghampiri teman temannya.
"Vin, kau bisa bacakan?" tanya Riski.
"Bisalah, aku ni ranking satu dari SD sampe SMA ya! ngeremehin banget kau ini." jawab Kevin.
"Kau bisa baca itukan?" tanya Riski menunjuk tanda larangan merokok.
"Itukan di dalam, kalau di luar ya bebas bodoh! percuma kau sekolah kayaknya." jawab Kevin.
"Haihh...Riski Riski, gak di game gak di dunia nyata tetep buta map. Liat noh keterangan nya, khusus di dalam gedung." ucap Deni.
"Ohh gak liat aku." ucap Riski.
"Brian mana?" tanya Kevin tidak melihat tubuh mungil Brian.
"Kenapa kau sembunyi sih yan! kek mau di apain aja dah!" ucap Dion kesal karena Brian selalu bersembunyi di belakang tubuhnya yang besar.
"Hehe..." Brian hanya bisa nyengir tanpa menjawab Dion.
"Gini, aku berencana masukin kau ke skuad perwakilan klan Wiliam, kau mau enggak? kalau mau siang ini kita latihan bareng-bareng." ucap Kevin menjelaskan pada Brian.
"Kenapa harus aku?" tanya Brian tidak PD.
"Ya karena aku memilihmu." jawab Kevin singkat, padat, jelas.
"Kalau aku gak mau gimana?" tanya Kevin.
"Y-ya udah aku setuju." ucap Brian terpaksa.
"Ayo masuk aku kenalin ke dua murid pribadiku." ucap Kevin mengajak masuk ke gedung pelatihan.
Mereka masuk kedalam gedung pelatihan dan langsung membuat mata semua orang terfokus ke mereka karena aura yang mereka keluarkan sangat kuat dan mengerikan.
"Kemari kalian berdua." panggil Kevin pada dua muridnya yang baru saja selesai makan.
"Ada apa guru? ini masih belum 30 menit loh." tanya Doni.
"Ini perkenalkan orang yang aku maksud tadi, namanya Brian." ucap Kevin.
"Salam kenal kak Brian." ucap Doni dan Kenzo bersamaan.
"S-salam kenal." ucap Brian masih canggung.
"20 menit lagi kita lanjut latihan, aku mau kalian bertiga melatih penguasaan mana kalian." ucap Kevin.
"Baik guru!" jawab Dion dan Kenzo semangat.
Tiba tiba kedua kakek Kevin dan ayah Kevin datang bersama tiga pemuda yang memiliki mimik wajah yang sombong dan merasa sudah yang paling kuat.
"Kevin ini adalah anak anak perwakilan dari klan kita yang harus kau latih dalam dua bulan ini, usahakan supaya kita bisa menduduki minimal 3 besar. Jangan mengecewakan kakekmu yang akan pensiun ini." ucap Andi.
"Aku tidak sudi menjadi murid sampah seperti dia!" teriak salah satu anak di belakang mereka bertiga.
"Sampah teriak sampah." gumam Deni ketika melihat kelas orang yang menghina Kevin.
"Kau mau sparing? satu lawan tiga pun aku sanggupi. Melawan sampah klan seperti kalian tidak perlu pakai otak pun bisa aku menangkan dengan mudah." ucap Kevin tersenyum sinis.
"Beraninya kau dasar sampah!" teriak pemuda bernama Roni menyerang Kevin dengan jurus andalannya yaitu kecepatan dan kekuatan tangannya.
Buaghhhh.....
Woshhh.....
Boommm...
Tubuh Roni terpental sangat jauh hanya dengan satu sentilan tak bertenaga.
"Sampah!!" ucap Kevin membuat semua orang di sana ternganga lebar melihat jenius terhebat di klan terpental begitu saja tanpa perlawanan.
"Kalian berdua ayo maju dasar sialan!" ucap Kevin kesal melihat mimik wajah sombong keduanya.
Kedua nya menyerang Kevin secara bersamaan namun sama seperti temannya, keduanya terpental begitu saja hanya dengan satu serangan.
"Aku masih menghormati ayah kalian sebagai petinggi klan saat ini, tapi kalau sampai aku melihat mimik wajah bajing*n kalian, jangan harap ada keringanan dariku." ucap Kevin menatap tajam ketiga pemuda yang baru saja memuntahkan seteguk darah segar.
"Kevin! sudah hentikan! pelajaran berharga darimu pasti sangat membuat ketiga sialan itu sadar. Sekarang fokus latihlah mereka untuk menjuarai turnamen." ucap Virzha.
"Baik ayah, ayo mulai berlatih." ucap Kevin patuh.
Kevin melatih mereka semua dengan keahliannya masing-masing, seperti Doni dan Kenzo yang dilatih Kevin soal kecepatan karena akan menguntungkan dengan elemen yang mereka berdua miliki.
Roni dan teman temannya di latihan Kevin soal kekuatan fisik karena keuntungan dari fisik mereka yang lumayan berotot. Sedangkan Brian, Kevin melatihnya untuk memaksimalkan bakat langkanya supaya menguntungkan saat pertarungan genting.
Kevin juga menyuruh teman temannya ikut berlatih terserah mau latihan apa yang penting gerak karena semua fasilitas yang di butuhkan mereka sudah lengkap di dalam gedung tersebut.
Dua minggu berikutnya Kevin melatih fisik mereka dengan berlari 10 putaran memutari kediaman klan Wiliam yang luasnya seperti sebuah desa. Latihan mereka di jadwal dengan 2 minggu berlatih skill dan kemampuan dan dua minggu latihan fisik.
Tepat satu bulan setengah latihan berjalan seluruh orang tua di klan Wiliam berbondong-bondong mendatangi gedung pelatihan untuk membawa anaknya pulang dari latihan Kevin kecuali Doni dan Kenzo.
(Semua orang tua berbondong-bondong karena ingin mendukung apa yang di lakukan oleh orang tua ke tiga anak yang akan mewakili klan Wiliam untuk mogok latihan)
"Ayo pulang! kalian tidak ada perkembangan jika terus berlatih dengan sampah ini!!" teriak ibu Roni menyeret anaknya pergi diikuti dua orang tua lainnya.
'Seharusnya sedari awal aku menolak tawaran bajing*n itu!' ucap Kevin marah campur kecewa.
'Lain kali jangan di ulangi bos.' ucap Kong ikut kecewa.
'Tapi jangan berkecil hati bos! kau masih memiliki tiga anak emas di genggamanmu! ayo semangat!!' ucap Kuro menyemangati Kevin.
[Ayo tuan! jadikan ketiga anak emas ini menjadi monster yang membanggakan!]
'Apakah kita akan membuka perguruan?' tanya Kevin tersenyum sinis.
[Boleh saja tuan, tapi usahakan jangan tuan yang memegangnya langsung karena tuan harus fokus mengurusi portal yang semakin berbahaya]
'Suruh bawahanmu saja bos, kau masih punya dua bawahan cadangan kan.' ucap Kong memberi saran.
'Ya, pakai dua bawahan ku yang itu saja bob, suruh mereka berdua membuat perguruan dan nanti aku akan mendaftarkan tiga anak ini atas nama perguruan itu.' ucap Kevin.
[Baik tuan!]
"Kalian pulanglah aku mau meeting dengan para petinggi bajing*n itu." ucap Kevin masih sangat marah karena perjanjiannya telah di langgar.
"Baik guru!" ucap Doni dan Kenzo lalu mereka beres beres dan pulang.
"Aku boleh ikut?" tanya Dion.
"Tidak usah, nanti kau kaget. Kalian ke rumah ayahku aja, lanjut latihan disana." jawab Kevin pergi.
"Oke." ucap mereka.
Kevin pergi ke aula rapat dan mendobrak pintu utama untuk menerobos masuk.
"Aku berhenti jadi pelatih!" ucap Kevin tiba tiba ditengah rapat yang sedang berjalan.
"Kenapa nak?" tanya Andi kaget.
"Kalian sudah melanggar perjanjiannya, jangan harap aku kembali melatih di klan sampah ini!" ucap Kevin di belakang tubuhnya ada siluet Dexter yang terlihat sangat amat marah.
"Berani beraninya kau membangkang dari tugasmu!!!" teriak Ferdi.
Woshhhh......
Kevin membuat sebuah tombak dari petir emas dengan ukuran yang sangat besar dan mengarahkannya ke arah Ferdi.
"Berani berteriak sekali lagi aku bunuh semua keturunanmu tanpa sisa!" ucap Kevin dengan amarah yang memuncak karena sudah tidak tahan harga dirinya di injak injak.
"Apakah karena sudah memiliki kekuatan kau bisa berbuat seenaknya? anak buangan?" tanya Adam yang marah.
Bersambung.........