Strongest Hunter

Strongest Hunter
Arc 2 Episode 60



Kevin menghabiskan waktunya bersama teman temannya dengan bermain game dan bercanda gurau sebelum esok harinya pergi berpetualang.


Makan malam bersama sambil tertawa bersama-sama, dan berakhir tidur bersama Linda yang terlihat raut wajahnya sangat sedih.


'Bos berangkat sekarang saja, besok besok malah tidak jadi.' ucap Kuro.


'Ya udahlah kalau gitu.' ucap Kevin mencium kedua pipi Linda lalu menuliskan sebuah surat dan di taruh di atas meja kamar.


Setelah itu dia berganti pakaian dan menghilang dari kamarnya, Kevin terbang ke arah barat di tengah malam yang dingin.


'Ke arah selatan bos, sepertinya ada yang menarik.' ucap Kuro.


"Oke!" jawab Kevin semangat.


Dengan kecepatan cahaya Kevin terbang ke arah selatan sambil memperhatikan hutan di bawahnya.


30 menit terbang, Kevin melihat api besar yang menjulang tinggi. Kevin mendarat di lokasi tersebut dan melihat sebuah desa kecil yang terbakar hebat. Terlihat di sana juga terdapat sekelompok orang yang berpakaian hitam sedang membentuk lingkaran besar.


Terlihat seorang pria kekar sedang memegang pedang besar mengarahkan ke leher seorang anak kecil yang terus memohon mohon untuk di bebaskan.


"Mohon ampuni aku tuan! aku mohon!" ucap anak kecil tersebut yang berusia sekitar 8 tahun.


"Buat apa aku mengampuni mu? anak kecil sampah yang tidak memiliki bakat sama sekali! cuih...." ucap seorang pria paruh baya meludahi wajah anak kecil tersebut.


"Ampuni aku tuan! aku mohon!!!" ucap anak kecil itu.


"Cepat penggal dia!!! aku sudah muak!!!" teriak pria paruh baya itu.


Saat sedang mengayunkan pedang besarnya ke arah anak kecil itu, tiba tiba algojo berbadan besar itu terjatuh dengan kepala yang sudah hancur menjadi bubur.


"Sekte aliran hitam!" ucap Kevin penuh amarah.


Dengan kecepatan cahaya Kevin menggunakan kedua pedangnya menyerang mereka semua.


Crashh..


Crashh...


Crashh...


Semua orang yang berkerumun itu terjatuh satu persatu dengan kepala yang sudah terpisah. Kini hanya tinggal pria paruh baya tadi yang meludahi anak kecil.


"Kau salah satu petingginya ya?" tanya Kevin dengan aura membunuh yang sangat pekat.


"K-kau siapa?! beraninya menggagalkan ritual kami!!!" teriak pria paruh baya itu tergagap.


"Ingatlah, namaku adalah Kevin Bearnet Patriark Sekte Naga Langit!" ucap Kevin memotong salah satu tangan pria paruh baya itu dan memukul kepalanya dengan keras hingga tak sadarkan diri.


"Kau baik baik saja?" tanya Kevin pada anak kecil yang ketakutan itu.


"I-iya a-aku baik baik saja, t-tapi orang tuaku semuanya tewas di penggal oleh orang orang ini." jawabnya dengan tergagap.


"Syukurlah kalau kau baik baik saja, ayo ikut aku, kita kuburkan semua mayat warga dan orang tuamu." ucap Kevin membuka topengnya dan mengeluarkan pasukan undead miliknya.


"Gali kuburan dan makamkan para mayat itu, cepat! aku tidak ada waktu lagi." ucap Kevin.


"Baik tuan besar!" ucap para pasukan undead dengan cepat mengerjakan apa yang di perintah Kevin.


Setelah semua beres, Kevin menaburkan bunga di semua makam, setelah itu dia duduk di reruntuhan rumah menunggu anak kecil tadi yang sedang menangis di makam kedua orang tuanya.


"Ayo cepat! tidak ada gunanya kau menangisi mereka! sampai matamu buta juga mereka tidak akan hidup lagi! ayo berangkat sebelum pasukan sekte aliran hitam lain datang!" teriak Kevin mematikan rokoknya.


Dengan cepat anak kecil itu berlari menghampiri Kevin dengan mata yang masih mengeluarkan air mata. Kevin mengeluarkan Bombom lalu menyuruh anak kecil itu naik ke punggungnya dan berangkat melanjutkan perjalanan.


"Siapa namamu?" tanya Kevin yang duduk di belakang anak kecil tersebut.


"Anton kak." jawabnya.


"Berapa umurmu?" tanya Kevin.


"Masih 9 tahun kak." jawab Anton.


Akhirnya setelah 3 jam berlalu, mereka berdua menemukan sebuah kota besar yang terlihat sangat megah dari luar. Kevin menyuruh Bombom untuk turun ke gerbang untuk mengurus proses masuk ke dalam kota.


"Mohon maaf tuan, beast spiritual di larang keras untuk di tunggangi di dalam kota." ucap penjaga gerbang dengan sopan.


"Ohh maaf." ucap Kevin memasukkan Bombom ke dalam dunia jiwa lalu melanjutkan proses masuk ke dalam kota.


Setelah Anton di buatkan plat identitas baru, mereka berdua pun masuk ke dalam kota dan mencari motel untuk istirahat.


"Pesan satu kamar yang dua kasur." ucap Kevin pada resepsionis.


"Berapa hari tuan?" tanya resepsionis.


"Tiga hari." jawab Kevin santai.


"30 koin emas tuan, semuanya sudah termasuk biaya makan pagi, siang dan malam." ucap resepsionis.


"Ini." ucap Kevin memberikan 30 koin emas.


"Ini kuncinya tuan, selamat beristirahat." ucap resepsionis memberikan kunci kamar nomor 17.


"Terimakasih." ucap Kevin pergi bersama Anton yang terlihat sudah sangat kelelahan.


Saat masuk ke dalam kamar, Kevin menyuruh Anton untuk mandi dahulu baru setelah itu boleh tidur.


"Mandi dulu, habis mandi baru tidur." ucap Kevin.


"Tapi aku tidak punya baju ganti kak." ucap Anton.


"Masalah itu gampang." ucap Kevin.


"Baiklah." ucap Anton menurut lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Kevin membeli beberapa baju untuk anak seusai Anton dan menaruhnya di atas ranjang, setelah itu dia bertapa untuk menyerap energi alam supaya tenaganya kembali pulih dan tubuhnya kembali segar.


'Anak itu punya garis keturunan dewa perang terdahulu bos! kau sangat beruntung!' ucap Cooper.


'Biasa aja.' ucap Kevin tidak merasa senang sedikitpun.


[Tuan, saya mau berbicara tentang nyonya besar]


'Kenapa?' tanya Kevin.


[Sebenarnya saya sudah lama mau memberitahu tuan, tapi takut tuan kaget terus mati]


[Nyonya besar itu adalah cucu dewa Ares, anak dewi Luna si dewi kecantikan dengan dewa Eros si dewa pengatur bencana. Saya ingin memberi tahu pada tuan kalau nyonya besar memiliki roh sihir naga cahaya dan dewi cahaya itu saja]


'Pantes dia bisa lihat Deku! anak dewa dewi!' ucap Kevin paham.


[Tuan harus segera melatih nyonya besar supaya kekuatannya tidak percuma]


'Besok saja kalau aku ketemu.' ucap Kevin santai.


[Ya itu terserah tuan!]


Saat membuka mata, Kevin melihat ke arah jendela, ternyata hari sudah pagi bahkan menjelang siang. Kevin membangunkan Anton yang masih tertidur pulas sampai ngorok.


"Bangun, kita sarapan dulu." ucap Kevin membangunkan Anton.


Anton terbangun dari tidurnya sambil mengelap ilernya.


"Ada apa kak?" tanya Anton.


"Cuci mukamu, kita sarapan di bawah." jawab Kevin.


"Baik!" jawab Anton semangat berlari ke kamar mandi untuk cuci muka.


Setelah selesai, keduanya langsung turun ke bawah untuk sarapan. Anton makan dengan sangat lahap bahkan sampai tambah dua kali.


"Aku mau pergi sebentar, kau mau ikut atau mau di kamar saja?" tanya Kevin.


"Aku di kamar saja, masih capek, kakak kalau mau jalan jalan ya silahkan saja." jawab Anton dengan mulut penuh.


"Jangan keluyuran!" ucap Kevin memperingati Anton.


"Aman kak!" jawab Anton mengacungkan jempolnya.


Selesai sarapan Kevin pergi keluar motel, sedangkan Anton kembali ke kamar untuk melanjutkan tidurnya. Kevin jalan jalan keliling kota melihat lihat infrastruktur yang ada di kota tersebut.


'Bos, kau tidak rindu dengan nyonya besar?' tanya Kong penasaran.


'Kalau di pikirkan terus nanti perjalananku jadi terganggu.' jawab Kevin santai.


'Bagus! aku bangga denganmu!' ucap Kong sangat bangga.


Kevin membeli beberapa jajanan dan duduk di sebuah tempat yang di persiapkan untuk nongkrong atau sekedar beristirahat saja.


Kevin duduk sambil memakan makanan yang tadi dia beli sambil memandangi orang orang yang berlalu lalang. Karena sedang makan, maka topengnya dia lepas dan terpampang lah wajah tampan Kevin yang membuat para gadis meleleh terpesona.


'Bos kau membuat para gadis tergila-gila!' ucap Kong sedikit iri.


'Biarkan saja.' ucap Kevin cool.


'Dingin sekalii!!!! berrrrrrrr!!!!!' teriak Kong membuat Kevin tertawa terbahak bahak di dalam hatinya.


Setelah semua makanannya habis, Kevin lanjut merokok supaya pikirannya tenang. Saat sedang enak enak ngerokok Kevin di hampiri seorang pria tinggi besar berwajah sangar.


"Apa?" tanya Kevin datar.


"Tuan di suruh menghadap pada tuan putri." jawabnya dengan suara berat.


"Tuan putri? siapa?" tanya Kevin heran.


"Tuan putri Ayla dari Kerajaan Discworld." jawab pria itu.


"Siapa kau?" tanya Kevin mengerutkan alisnya.


"Aku Ethan, salah satu pilar dari Kerajaan Discworld, aku di perintahkan tuan putri untuk menemuimu dan menyuruhmu untuk menghadap padanya." jawabnya.


"Tidak mau." ucap Kevin cuek.


"Beraninya kau membantah perintah tuan putri! bajing*n!" teriak Ethan marah lalu mengayunkan pedangnya yang semua ada di sarungnya.


Prangggg....


Pedang Ethan hancur berkeping-keping sebelum mengenai Kevin. Hal ini membuat Ethan kaget dan langsung melompat mundur dan meningkatkan kewaspadaan nya.


"Kau siapa? berani memerintah ku?" tanya Kevin menyebarkan aura naga penguasa milik Dexter yang berpengaruh sedikit pada Ethan.


"Wahhh...kau lumayan juga ya, coba kalau pakai ini." ucap Kevin mengeluarkan aura miliknya yang dia beri nama aura penguasa.


Seketika Ethan terjatuh tak sadarkan diri tanpa perlawanan dengan telinga, hidung dan mulut mengeluarkan darah segar.


"Dasar lemah!" ucap Kevin berbalik pergi.


Kevin kembali ke motel dengan badmood, menggerutu sepanjang jalan dan mengumpat i Ethan.


Saat sampai di motel, Kevin mengajak Anton berbicara empat mata karena saat itu Anton sedang tiduran sambil menonton TV.


"Kau mau kuat tidak?" tanya Kevin tiba tiba.


"Yaaa!!!" teriak Anton keras menjawab pertanyaan Kevin.


"Biasa aja!" ucap Kevin menjitak kepala Anton.


"Maaf!" jawab Anton tegas.


"Besok kita berangkat ke hutan Mati, kau akan aku latih supaya menjadi kuat. Tahun depan kau ikut tournament di kerajaan Valderman, target ku kau masuk ke 10 besar! tidak juara satu tidak apa apa!" ucap Kevin.


"Siap komandan!" jawab Anton memberi hormat ala tentara.


"Siapkan tubuhmu!" ucap Kevin tegas dan beranjak pergi.


"Kakak mau kemana?" tanya Anton.


"Panggil aku bos! kakak kakak ku pukul kau!" ucap Kevin.


"Bos mau kemana?" tanya Anton memberi hormat.


"Makan." jawab Kevin.


"Baik bos!" ucap Anton.


Kevin turun ke bawah untuk makan, padahal tadi sudah makan.


Bersambung.....