
Keesokan harinya
Setelah melakukan olahraga pagi, Kevin lanjut sarapan memakan masakan buatan Tasya. Kevin sarapan sambil menatap ketiga hewan peliharaannya yang bersifat aneh akhir akhir ini.
'Tumben hewan hewan bodoh ini anteng, biasanya banyak tingkah.' batin Kevin heran.
'Sepertinya mereka ketakutan dengan aura iblis yang mencoba membobol pelindung yang Bos buat.' ucap Kuro melihat mimik wajah ketiganya yang terlihat amat ketakutan.
Kevin lanjut makan lalu setelah itu dia duduk di teras sambil sebat dan menatap langit yang bewarna merah gelap dan terus menerus mengeluarkan aura yang semakin kuat di hari hari berikutnya.
'Sebentar lagi.' batin Kevin sambil menyedot rokoknya.
[Apa perlu saya buka 100% tuan?]
'Jangan, belum saatnya. Aku tidak mau kekuatan asliku di ketahui oleh iblis itu. Sementara pakai 50% dulu saja.' jawab Kevin tegas.
[*Dia tidak tau saja berapa maksimal persentase kekuatannya*]
'Tuan, ada tiga portal yang muncul bersamaan sebentar lagi, tetapi ketiganya ada di tempat yang berbeda beda dan waktu breaknya juga ada jangka waktu yang cukup lama.' ucap Dexter.
'Jarak berapa hari?' tanya Kevin.
'2 Minggu tuan, tuan harus setidaknya melatih teman temanmu supaya selamat di Ragnarok nanti.' jawab Dexter.
'Baiklah.' ucap Kevin.
Saat Kevin ingin menelepon teman temannya yang sudah pulang, kebetulan Deni menelepon Kevin duluan.
"Halo, kenapa?" tanya Kevin.
"Kerumah om Dion sekarang, penting!" jawab Deni menutup teleponnya sepihak.
"Yang mau ikut pulang enggak?" tanya Kevin teriak.
"Ikut!" jawab Tasya dari dapur.
"Buruan!" ucap Kevin mengambil kunci dan memanasi mobilnya.
Setelah itu Kevin pamit pada orangtuanya untuk pulang ke rumah. Setelah berpamitan dengan orangtuanya Kevin dan Tasya langsung berangkat ke rumahnya.
.
.
.
.
Sesampainya di rumah Tasya langsung masuk kedalam untuk beres beres, sedangkan Kevin melepaskan tiga hewan peliharaannya ke halaman rumah lalu pergi ke rumah Dion yang ada di sebelah.
Kevin memencet tombol bel dan menunggu sambil melihat orang-orang sekitar yang menatapnya sinis sambil melakukan aktivitas sehari-hari.
"Masuk buruan!" ucap Dion menarik tangan Kevin ke dalam rumah.
Kevin di ajak masuk ke dalam dan menemui teman teman lainnya di ruang keluarga yang sedang resah kebingungan.
"Napa dah?" tanya Kevin bingung melihat teman temannya yang resah kebingungan.
"Aku kemarin di undang ke Asosiasi Hunter buat rapat, kata mereka di setiap negara di bumi muncul tiga portal dongeon yang ada di atas kelas Dewa Iblis. Mereka minta kita berenam buat selalu standby kalau di butuhkan mendadak. Mereka nyuruh kita terbang pakai beast spirit kalau tiba tiba di butuhkan segera." ucap Deni.
"Terus?" tanya Kevin.
"Sekarang kita di butuhkan!!" teriak Deni membuat semuanya kaget termasuk Kevin.
'Kring...kringgg....kringgg...'
Ponsel Kevin berbunyi dan memunculkan nama Ayah.
"Halo ayah, ada apa?" tanya Kevin.
"Kau si butuhkan di Jogja! cepat pakai beast mu buat terbang ke sana! ada tiga guild lainnya yang aku kirim dari jakarta untuk bantu di sana!" jawab Virzha.
"Ya." ucap Kevin menutup telepon.
"Apa?" tanya Dion.
"Keluarin elangmu kita ke jogja sekarang." jawab Kevin berjalan keluar.
"Kita bersiap sekarang!" ucap Dion masuk kedalam kamar untuk ganti baju.
Tak lama kemudian dia keluar kamar dengan pakaian lengkap dan berlari keluar rumah untuk memanggil beastnya.
Sedangkan Kevin hanya berganti baju dan memakai jubahnya lalu pamit pada istrinya yang sedang beberes rumah.
"Ayo!" ajak Dion yang sudah ada di atas beastnya yang berbentuk seekor elang dengan di kelilingi petir merah.
Kevin menganggukkan kepala lalu membuat sayap dari petir emasnya dan melesat menembua awan.
"Ayo Dom!" ucap Dion pada elangnya.
Woshhh.....
Elang petir itu melesat menembus awan dan mengikuti aura milik Kevin melalui indra perasanya.
"Mana Kevin? gak kelihatan anj*ng!" tanya Riski menengok kanan kiri.
"Udah jauh di depan dia, petir emas itu kecepatannya hampir menyamai kecepatan cahaya jadi gak usah nyariin dia." jawab Dion.
30 menit kemudian Elang Petir milik Dion menukik tajam ke atas gedung tinggi di kota Jogja. Di sana Kevin sudah menunggu sambil makan bakso jumbo dan beberapa gorengan tersedia di sana.
"Lambat! tadi kalau dateng lebih cepet ku beliin bakso tapi ya udah lah." ucap Kevin memberikan seekor monster banteng pada Elang milik Dion.
"Minimal gorengan lah ya." ucap Riski mencomot bakwan di plastik.
"Boleh kalau gorengan." ucap Kevin menganggukkan kepala.
Ternyata Kevin di sana bersama seekor monyet albino yang sedang fokus memperhatikan portal dongeon sambil makan kacang.
"Itu monyetmu vin?" tanya Deni melihat seekor monyet albino di pinggir gedung.
"Iya." jawab Kevin ikut memperhatikan setiap perkembangan portal dongeon yang ada di sebuah tanah lapang yang luas dan di kelilingi para Hunter dengan jarak 1km.
"Kau udah tau ini semua kan vin?" tanya Rizal tiba tiba.
"Iya." jawab Kevin singkat.
"Gate Of Ruin, tiga tahap kemunculan gerbang kehancuran bumi." jawab Kevin yang membuat Rizal melebarkan matanya.
Monyet albino yang adalah Kong menengok ke arah Kevin dan menganggukkan kepalanya.
"Kalian turun kebawah dan atasi gerbang itu, aku awasi dari sini. Aku mau kalian berjuang sendiri tanpa bantuanku mulai sekarang." ucap Kevin.
"Kenapa?" tanya Riski kaget.
"Aku mau kalian bisa berjuang di Ragnarok nanti dan tidak mau mati sia sia sebagai manusia lemah." jawab Kevin.
"Oke kalau itu mau mu." ucap Deni mengeluarkan tombaknya dan terjun ke bawah dan diikuti yang lainnya.
Tepat sesaat setelah mereka menapaki tanah, portal dongeon pun meledak dan memuntahkan berbagai macam monster kelas Setan kebawah bersama dengan seekor monster raksasa bermata seratus sebagai bosnya.
"Argus! sudah ku duga!" ucap Kevin memakan bakso dengan santainya tanpa ada beban.
Dibawah
Saat ini Dion dan yang lain sedang bertarung habis habisan melawan monster kelas setan dengan bekerjasama satu sama lain demi membunuh semua monster di sana.
"Om bendung!" teriak Demian meminta perlindungan pada Dion untuk memulihkan HP dan Mana miliknya.
Dion membuat dinding pelindung 5 lapis di sekitaran tempat Demian memulihkan tubuh. Sedangkan Deni, Riski, dan Rizal saling bahu membahu mengalahkan monster kelas setan yang lebih kuat dari yang lainnya.
"Kita lakukan sekali lagi!" teriak Deni membuat tombak api.
"Baik!" jawab Riski dan Rizal ikut menyalurkan elemen mereka ke tombak yang di buat Deni.
"Serangan gabungan!!!" teriak ketiganya bersamaan dengan tombak tiga elemen yang melesat secepat kilat.
Woshhh......
Duarrrrr.....
Tombak tiga elemen itu berhasil menembus jantung monster yang sedari tadi kebal terhadap serangan ketiga orang itu.
"Yeahhh!!!" teriak ketiganya kegirangan.
Setelahnya mereka bertiga lanjut melawan monster kelas setan lainnya yang menyerang hunter lain yang sudah mulai kewalahan.
"Om sudah!" teriak Demian dari dalam dinding pelindung.
Dion membuka dinding pelindungnya lalu kembali by1 melawan panglima dari semua monster kelas Setan di sana berupa raksasa bermata satu/ Cyclops.
"Kalian bantu yang lainnya! biar aku lawan raksasa bodoh ini!" teriak Dion pada keempat temannya.
"Baik!" jawab keempatnya pergi bersamaan membantai monster kelas setan yang belum sempurna kekuatannya.
Dion bertarung dengan hebat bersama titan miliknya yang dia sumon. Ya, Dion memiliki satu titan yang tak kalah hebat dengan milik Kevin. Titan Dion ini memiliki sebutan sebagai Raja Para Titan yang menurut Dion dan Titan itu sendiri kekuatannya tak jauh berbeda dengan Deku si Dewa para Titan.
(Kek gitu gambarannya! namanya Dog!)
Pertarungan antara Dion dan Titan miliknya melawan Cyclops yang besarnya sama dengan ukuran Titan Dion yaitu 100m berlangsung sengit dan merusak berbagai macam fasilitas kota.
Kerusuhan tersebut berlangsung selama 2 jam tanpa ada jeda sedikit pun, setelah semua monster kelas Setan terbunuh termasuk panglimanya barulah Argus sangat bos dongeon mulai menunjukkan adanya pergerakan dengan membuka semua matanya yang membuat semua hunter di sana merinding ketakutan.
"B-bagaimana ini?" tanya seorang hunter di samping Riski yang bergetar ketakutan.
"Mau gimana lagi? lawan lah!" ucap Deni berdiri dengan sisa sisa tenaganya yang sudah terkuras habis tadi.
"Mau tidak mau!" ucap Dion mengelap darah yang mengalir di sudut bibirnya.
"Demi menjaga para warga kita harus mempertaruhkan nyawa kita!" ucap Riski menggenggam erat busurnya walaupun ada sedikit rasa takut di dalam lubuk hatinya.
Boommm......
Woshhhhh.....
Ledakan energi yang amat sangat besar terjadi dan mengusir debu debu yang beterbangan akibat ledakan barusan. Terlihat sebuah raksasa yang besarnya jauh lebih tinggi dari Dog Titan milik Dion.
Memiliki enam tangan, enam mata, dua sayap seperti kelelawar, empat tanduk dan berambut panjang serta mengeluarkan aura bewarna ungu yang di anggap sebagai energi terkuat dari semua energi.
(Kayak gitu gambarannya)
Di atas kepala raksasa itu ada Kevin yang sedang duduk makan kacang sambil merokok bersama seekor monyet albino.
"Istirahat aja! yang ini biar jadi tanggungjawab ku!" teriak Kevin mengacungkan jempolnya.
Dion dan yang lainnya terduduk lega karena akhirnya bisa istirahat juga.
"Gord! bunuh dia tanpa ampun!" ucap Kevin memerintah Titan yang dia naiki.
'Groahhhhh.....'
Gord nama dari Titan tersebut langsung menyerang Argus dengan sangat semangat tanpa memberikan kesempatan pada Argus untuk menyerang balik. Di pandangan para hunter pertarungan kedua raksasa itu terlihat sengit dan seimbang, namun di mata orang yang tepat, pertarungan keduanya sangat terlihat jomplang sebelah dan terlihat jika Gord sedang menyiksa tubuh Argus dengan sangat mengerikan.
Dalam waktu 20 menit saja Argus si raksasa bermata 100 mati dengan semua matanya di makan oleh Gord dan tubuhnya hangus di bakar api perak milik Gord.
"Kembalilah ke samping kakakmu!" ucap Kevin.
Gord menganggukkan kepala lalu menghilang dari pandangan semua orang untuk bertemu kakaknya yang sudah lama tidak bertemu.
Kevin menghampiri teman temannya sendirian karena Kong sudah kembali ke dunia jiwa untuk minum minum. Kevin mengapresiasi apa yang di lakukan oleh teman temannya yang sangat mengagumkan tadi.
"Bagus bagus! tapi kekuatan kalian masih kurang, aku harap kalian bisa menambahkan porsi latihan kalian dan dua minggu kemudian bisa menunjukkan nya padaku." ucap Kevin.
"Oke!" jawab Demian senang karena di puji bukan karena latar belakangnya tapi karena hal yang di lakukannya secara pribadi.
"Minimal traktir lah ya." ucap Rizal memegang perutnya yang keroncongan.
"Dih! beli pakai uangmu sendirilah! kemarin kan dapat banyak crystal! dah aku mau pulang." ucap Kevin membuka portal menuju rumahnya.
Sesaat setelah portal itu hilang barulah mereka berlima sadar jika mereka ditinggal di kota orang.
"Kevin kon*ol! anak anj*ng! awas kau besok!" teriak Deni kesal.
Dion memanggil beastnya lalu mengajak teman temannya untuk kembali ke Jakarta setelah di beri sedikit jatah crystal oleh hunter di sana.
Bersambung......