
Keesokan harinya
Saat Kevin dan Tania sedang sarapan bersama di restoran motel, mereka melihat keempat temannya yang baru pulang dengan kondisi mabuk menuju ke kamar merek.
'Mereka kent* ga ya?' batin Kevin penasaran.
'Sepertinya iya bos, terlihat dari wajah mereka yang terlihat puas dan plong.' ucap Kong.
"Ada apa yang?" tanya Tania yang melihat Kevin melamun.
"Enggak kok." jawab Kevin lanjut makan.
"Aku mau beli pakaian, anterin ya habis ini." ucap Tania.
"Ya." jawab Kevin.
Setelah sarapan, mereka berdua pergi ke toko pakaian di dekat motel untuk membeli beberapa pakaian baru.
Setelah membeli pakaian, Kevin mengajak Tania pergi jalan jalan. Kevin mengajak Tania ke Bazar untuk melihat lihat apa yang di jual di sana.
"Aku mau beli camilan dulu, kamu tunggu sini ya." ucap Tania pergi.
Kevin berjalan ke pedagang tua yang menjual batu kali jika di lihat oleh orang biasa.
"Kakek jual berapa batu batu ini?" tanya Kevin memilih batu batu yang ada di sana.
"Satu batu satu koin diamond nak." jawab kakek itu.
'Bob aku punya koin diamond tidak?' tanya Kevin lupa.
[Ada banyak gunungan koin itu sampai berceceran kemana mana di gudang penyimpanan tuan]
'Tolong pindah segunung koin saja ke cincin ku.' ucap Kevin sambil memilih batu yang akan dia beli.
[Baik tuan]
Saat memilih dan memilah, Kevin menemukan dua batu inti api surgawi yang cocok untuk membuat pil tingkat Mitos dengan kesempurnaan 100%.
Kevin memisahkan kedua batu itu lalu kembali memilih yang lainnya.
'Bos pilih batu hitam besar itu! batu itu cocok untuk menggabungkan pedang darah dan dua pedang yin yang milikmu.' ucap Kong semangat.
"Yang itu di jual kek?" tanya Kevin menunjuk sebongkah batu berukuran sebesar bola basket berwarna hitam legam.
"Iya nak, satu koin emas saja untuk batu itu." jawab kakek itu.
"Aku beli dua batu ini dan batu itu kek." ucap Kevin menyodorkan dua kuon diamond dan satu koin emas.
"Terimakasih nak sudah belanja di kios kecil kakek." ucap kakek itu berterima kasih.
Kevin hanya menganggukkan kepala lalu pergi menemui Tania yang menoleh kesana sini mencari Kevin.
"Ayo, malah diem." ucap Kevin memanggil Tania.
Mereka jalan jalan dari pagi sampai siang membeli berbagai makanan dan barang. Setelah puas jalan jalan, mereka kembali ke motel untuk makan siang.
"Yang lain mana?" tanya Kevin tanya Kevin menghampiri Dion yang sedang makan siang sambil video call istrinya.
"Masih tidur di kamar." jawab Dion.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Tania membaca menu yang di berikan pelayan.
"Gado gado aja." jawab Kevin.
"Oke." jawab Tania menuliskan pesanan di catatan yang di beri oleh pelayan tadi.
Sambil menunggu, Kevin melihat berita terbaru di ponselnya.
"Besok kita pengawalan ke kerajaan Nuvoleon, bayaran 1 koin diamond, makan sama motel di tanggung customer." ucap Kevin pada Dion.
"Jam berapa berangkat?" tanya Dion.
"Jam 7 kita kumpul di alun-alun kota terus berangkat ke arah barat." jawab Kevin.
Dion menganggukkan kepala tanda paham, lalu kembali makan sambil berbincang-bincang dengan istrinya melalui video call untuk melepas rindu.
Sore harinya Kevin dan Tania masuk ke dalam kamar setelah berbincang bincang dengan Dion di restoran seharian. Mereka berdua rebahan setelah membersihkan diri.
"Apa?" tanya Kevin merasa di tatap oleh Tania.
Tania hanya menggesekkan kepalanya di dada Kevin dengan wajah memerah.
'Kenapa dia ini?' batin Kevin bertanya-tanya.
[Panggilan itu tuan! begitu saja tidak paham!]
'Bos tidak peka! dasar bodoh! dia mau ehem ehem bos!' ucap Kong.
'Yakin kau? dia belum pernah memintanya loh!' ucap Kevin tidak percaya.
'Ahh bos tidak paham sih!' ucap Kong kecewa.
[Ayo semua tutup telinga dan fokus gym! jangan terpengaruh oleh suara bising di luar!]
'Ayo ayo ayo! olahraga!' ucap Kong.
Sistem menutup akses suara maupun pandangan keluar dunia jiwa lalu mengawasi beast spiritual Kevin berlatih mengembangkan diri.
"Kamu yakin?" tanya Kevin gerogi.
Tania hanya menganggukkan kepala lalu dengan agresif menciumi bibir Kevin sambil menggesekkan miliknya ke milik Kevin.
Skipp! adegan porno dilarang! dosa!
Mereka berdua melakukan hubungan suami istri sampai malam dan ketiduran karena kelelahan bertempur di atas kasur.
Keesokan harinya
Kevin dan Tania memutuskan untuk mandi bersama karena tubuh mereka yang terasa sangat lengket, dan di dalam kamar mandi mereka melakukannya lagi dengan nafsu yang menggebu.
Setelah keduanya puas secara jasmani dan rohani, mereka pun ganti baju mengenakan pakaian baru yang di beli kemarin. Setelah berpakaian rapi, mereka turun ke bawah untuk sarapan. Jam saat itu menunjukkan pukul 06.00 namun teman temannya sudah kumpul di restoran motel dengan pakaian rapi dan wajah semangat.
"Wihh tumben." ucap Kevin.
"Iyalah!" ucap Deni dengan wajah sumringah.
"Aku pesan makan dulu ya." ucap Tania.
"Aku nasi ayam aja sama teh hangat." ucap Kevin.
Tania menganggukkan kepala lalu pergi ke kasir bagian restoran untuk memesan sarapan. Setelah selesai dia kembali ke meja di mana Kevin dan teman temannya duduk berbincang-bincang.
"Makanlah bodoh! ngapain liatin aku!" ucap Kevin merasa di tatap oleh teman temannya saat bermain game.
"Kepo kok sama urusan orang." ucap Kevin kesal.
"Sombong! aku juga udah ngerasain ya!" ucap Deni kesal melihat wajah Kevin yang menunjukkan bahwa ia punya cewek cantik.
"Gak tanya aku cok!" ucap Kevin tidak peduli.
"Pernah kok sama yang udah longgar, cobain yang masih rapet! bangga kok sama yang longgar!" ucap Dion.
"T-tapikan...." mau menjelaskan tapi Deni kehabisan kata katanya.
"Jangan nangis gitu dong, percaya kok aku tenang aja." ucap Kevin menahan tawa melihat Deni murung.
"Anj*ng kau vin!" ucap Deni mengelap matanya.
Setelah mereka selesai sarapan bersama, mereka pergi ke alun alun kota untuk menemui rombongan yang akan mereka kawal ke Kerajaan Nuvoleon. Sesampainya di alun-alun kota, Deni terkejut melihat empat kereta kuda mewah yang di jaga hampir 20 orang prajurit Kerajaan.
"Udah di jaga 20 prajurit masih sewa petualang? buang buang duit aja." ucap Deni merasa aneh.
"Prajurit itu bukan spesialis pengawalan antar Kerajaan, mereka cuma di ajarkan penjagaan dan perlindungan ke keluarga kerajaan. Bukan buat menyerang balik kalau di tengah jalan mereka di cegat bandit atau monster kuat. Beda cerita kalau mereka di kawal prajurit perang, mereka gak akan nyewa lagi yang namanya petualang karena keamanan sudah terjamin sama prajurit erang itu sendiri." ucap Kevin menjelaskan.
"Jadi gitu ya." ucap Deni paham.
Kevin menghampiri Jhon yang sedang berbincang-bincang dengan seorang pria dengan mahkota di kepalanya.
"Selamat pagi tuan." sapa Kevin pada Jhon.
"Ohh akhirnya datang juga! selamat pagi!" ucap Jhon senang.
"Bisa kita berangkat sekarang? supaya nanti tidak ketemu malam di perjalanan." ucap Kevin.
"Baiklah, kalian tunggu di gerbang kota, kami akan segera menyusul." ucap Jhon.
Kevin menganggukkan kepala lalu memberi isyrat pada teman temannya. Mereka ber delapan menghilang dari hadapan para prajurit dan keluarga kerajaan yang sedang berbincang-bincang di luar kereta kuda.
"Kecepatan tingkat Raja! aku kira kecepatan ini tidak akan ada di kota kecil seperti ini." ucap Raja Kerajaan Nuvoleon yang bernama Bobi Brave biasa di panggil yang mulia Brave.
"Mari yang mulia kita bersiap." ucap Jhon.
Mereka pun berjalan setelah semua keluarga kerajaan masuk ke dalam kereta kuda. Sedangkan Kevin dan teman temannya kini berada di luar gerbang sedang merokok sambil menunggu rombongan kerajaan datang.
Kevin menjelaskan tentang isyarat isyarat yang akan mereka pakai seterusnya. Hal ini Kevin lakukan supaya musuh tidak sadar akan gerak gerik yang akan mereka lakukan selanjutnya.
Tak lama setelah Kevin selesai menjelaskan tentang isyarat pergerakan dan kode kode lainnya, rombongan Kerajaan Valverde datang dan sedang mengurus administrasi keluar kota.
"Aku sama Tania di depan, Riski Rizal kanan kiri, Deni, Agus sama Dion belakang. Jangan lengah, kalau merasa ada keanehan di jalan langsung kasih kode peluit tiga kali." ucap Kevin.
Mereka menganggukkan kepala lalu Kevin dan Tania jalan duluan untuk memimpin rombongan Kerajaan di sambung Riski Rizal yang melipir ke bagian kanan dan kiri. Lalu terakhir Deni, Dion dan Agus jaga bagian belakang sambil menyimpan sebuah Pedang sedang dan kampak di pinggang mereka untuk jaga jaga.
3 jam berjalan
"Jangan lengah, jalur ini rawan bandit." ucap Kevin memperingati Jhon yang ikut berjalan di belakang Kevin dan Tania.
"Baik." ucap Jhon memegang gagang senjata nya untuk bersiap tanpa mengendurkan kewaspadaan.
"Kanan lima yang!" ucap Tania siap dengan lima kunai di tangannya.
"Den belakang 10!!" teriak Riski memanah beberapa bandit yang menyerang lewat belakang.
"Kiri 7 Zal!" teriak Kevin melompat setinggi mungkin lalu melemparkan beberapa kunai secara memutar.
"****! rawan banget anj*ng!" gumam Kevin menyebarkan indra perasaannya ke segala arah.
"Fokus depan yang!" ucap Kevin pada Tania karena dirinya ingin pergi ke bagian belakang sebentar.
Kevin memberikan intruksi pada Dion lalu kembali ke depan untuk memimpin rombongan. Setelah melewati beberapa rombongan bandit yang akan menyergap, akhirnya Kevin memutuskan untuk membangun tenda di sebuah lahan yang lumayan luas.
"Kita bangun tenda di sini." ucap Kevin memberi kode pada yang lainnya untuk menyisir di daerah dekat lokasi.
[Jiwa kepemimpinan tuan memang tidak bisa di ragukan lagi!]
Setelh melaporkan hasil penyisiran, mereka pun membagi tugas untuk membangun sebuah tenda dan mencari kayu bakar untuk masak makan malam.
"Beli di mana ni tenda?" tanya Deni takjub dengan kelengkapan dan kepraktisan tenda yang baru dia dirikan.
"Toko sistem lah mana lagi." jawab Kevin.
"Pantes aja canggih gini!" ucap Deni.
Tak lama yang lainnya pun datang membawa banyak sekali kayu bakar dan ayam hutan yang di tangkap saat sedang mencari kayu bakar tadi.
"Jekpot nih! dapet tiga lewat gitu aja pas lagi cari kayu!" ucap Riski memberikan tiga ayam hutan tangkapannya ke Kevin.
"Bersihin yang, aku buatin bumbunya." ucap Kevin pada Tania.
"Okey!" ucap Tania pergi ke sungai kecil dekat tenda.
"Ada rokok vin?" tanya Deni merasa asam pada mulutnya.
Kevin melemparkan satu slop rokok surya ke hadapan Riski lalu kembali membuat bumbu dan memotong motong sayur-sayuran untuk di masak.
Tak lama Tania datang dengan membawa tiga ekor ayam hutan yang sudah bersih dan panci yang berisi beras bersih yang sudah diisi air.
"Dah tinggal di bolak-balik aja sambil nunggu nasinya mateng." ucap Kevin duduk di samping Tania yang sedang meminum teh hangat dengan jaket yang menutupi tubuhnya supaya tidak dingin.
Sambil menunggu matang, mereka ber delapan bercanda tawa sambil merokok dan minum kopi serta susu hangat. Di dekat tenda mereka, berdiri tenda yang sangat mewah berlogo Kerajaan Valverde yang para prajurit dan keluarga kerajaan nya sedang berpesta.
Jhon yang melihat kesederhanaan Kevin dan teman temannya namun bisa sebahagia itu merasa iri.
"Vin, kalian berdua ini sebenarnya punya hubungan apa?" tanya Deni penasaran dan merasa cemburu dengan kedekatan keduanya.
"Nih liat nih dasar buta!" jawab Kevin menunjuk sebuah cincin berlian di jari manis Tania di depan muka Deni.
"Yahhh ketikung hahahaha....." ucap Rizal tertawa keras melihat Deni yang mau menangis.
"Sian amat nasibnya hahaha...." ucap Demian ikut tertawa terbahak-bahak.
"Kau kan udah ada yang nunggu di rumah! ngapain cari lagi tol*l! jangan sia siain yang di rumah! tampangmu itu susah buat cari cewek kayak Tania! malah mustahil! masih untung ada yang mau sama kau!" ucap Riski menasehati Deni.
"Jahat kau Ris anj*ng!" ucap Deni mengelap air matanya.
"Jangan nangis dong! cengeng banget jadi laki!" ucap Dion menepuk-nepuk pundak Deni.
Memang selama ini Deni selalu mencoba untuk pdkt dengan Tania, namun Tania nya secara terang terangan menolak keberadaan Deni yang membuatnya risih.
"Besok cari di kerajaan Nuvoleon, kau mau harem kan!" ucap Kevin memberi saran.
"Aku pingin punya istri tiga!" ucap Deni menenggak arak yang di sediakan Kevin.
Setelah makanan matang, mereka langsung menyantapnya dengan lahap. Karena kekenyangan dan kelelahan mereka masuk ke tenda setelah mematikan api dan tidur di kasur nya masing-masing.
Bersambung.....