
Setelah hampir 30 menit terbang, akhirnya Kevin sampai di tempat yang sistem tadi bilang.
"Mana? gak ada wujudnya!" ucap Kevin sedikit berteriak untuk memancing sang ular iblis keluar.
Woshh.....
Boommm...
Kevin dengan kecepatan tidak terlihat menangkis serangan tiba tiba itu dengan tangan kosong.
"Wess santai!" ucap Kevin tertawa kecil.
"Beraninya kau tikus kecil masuk ke wilayah teritorial ku!" teriak seekor ular hitam dengan dua kepala dan ukuran tubuh yang sangat besar dan panjangnya mencapai 2km.
"Wah wah wah...besarnya di luar perkiraan!" ucap Kevin takjub.
"Mati saja!!!" teriak ular iblis menyerang Kevin tanpa ba bi bu.
Kevin dengan mudah menghindari setiap serangan yang di buat oleh ular iblis itu.
"Serangan jarak jauh, artinya dia tidak punya kecepatan untuk serangan jarak dekat!" gumam Kevin mengeluarkan pedang yin yang miliknya yang sudah sangat lama tidak di pakai.
Ting....
Kevin menebas kepala belakang salah satu kepala ular iblis itu namun pedangnya malah mental.
"Sial!" umpat Kevin buru buru menghindar sebelum terkena semburan racun dari ular itu.
"Hahaha....kulit baja ku ini tidak akan bisa di tembus oleh senjata apapun!" teriak ular iblis sombong.
"Baiklah aku paham!" ucap Kevin tersenyum lalu meregangkan tangannya.
"70%!" gumam Kevin mengaktifkan kekuatan pedangnya ke tahap 70%.
Sing...
Sing...
Slash....
Bugh...
Satu kepala ular iblis itu terjatuh dan terpisah dari tubuhnya.
"Groahhhhh....." teriak ular iblis kesakitan.
Aumannya terdengar hingga ke ibukota kerajaan Valhala, para petualang di Asosiasi di buat kaget sekaligus takjub dengan suara auman barusan.
"Dia benar benar bisa mengalahkan monster iblis kelas Abyss! benar benar gila!" gumam Anya melotot kaget.
"Suara apa itu tadi?" tanya Bams kepala Asosiasi Petualang yang sudah menapaki ranah Tyrant.
"Ular iblis, seorang pria bertopeng dan berjubah mengambil misi Legendaris itu tadi." jawab Anya membuat Bams terkaget-kaget.
"Suruh pria itu ke ruangan ku nanti, aku mau bertemu dengannya." ucap Bams pergi ke ruangannya.
Di tempat Kevin
Saat ini Kevin sedang asik melawan ular iblis yang sudah menggila dengan Combat Mode miliknya. Kepalanya yang tadi terputus kini tumbuh kembali karena efek Combat Mode yang sangat OP.
"Selamat tinggal!" ucap Kevin menjaga jarak.
"Lighning Dragon!" gumam Kevin.
Seketika langit yang tadinya cerah menjadi gelap segelap gelapnya.
"Groahhhhh......"
Seekor naga petir yang sangat amat besar berwarna emas muncul dari atas langit.
"Bunuh ular menjijikkan ini!!" teriak Kevin.
"Groahhhhh....." naga petir emas itu dengan kecepatan yang sangat amat cepat menyerang ular iblis tanpa ampun.
Hanya dalam waktu 10 menit ular iblis itu mati dengan tubuh penuh luka bekas terkena sengatan listrik. Kevin menarik kembali naga petir itu dan menguliti kulit ular iblis, mencabut semua taringnya, dan mengambil kelenjar racun yang sangat besar namun hanya tinggal setengah saja.
'Jangan di bakar bos! daging enak tuh!' ucap Kong dengan cepat.
"Ya udah deh!" ucap Kevin memindahkan tubuh raksasa ular iblis itu ke dalam dunia jiwa.
Setelah itu Kevin duduk di bawah pohon rindang untuk istirahat sambil makan siang dan sebat sebentar.
"Butuh inspirasi nih bro!" ucap Kevin tiduran di bawah pohon rindang yang sangat sejuk.
'Bos buat sebuah perguruan dulu! di sekitar sini lumayan bagus spot nya, tuan tinggal buat jalur ke spot itu supaya lebih aman. Beberapa bulan lagi juga akan ada turnamen yang melibatkan semua perguruan dan sekte di seluruh alam fana. Hadiahnya lumayan bos, 1M koin diamond! cocok untuk mengembangkan perguruan!" ucap Kuro.
"Nanti dulu deh kalau perguruan, masih belum terlalu minat! sementara kita petualang dulu!" ucap Kevin memutuskan.
Karena angin sepoi sepoi yang terus menerjang tubuh Kevin, akhirnya Kevin pun ketiduran dan bangun di sore harinya. Kevin bergegas menuju ke Asosiasi Petualang untuk mengumpulkan kulit, taring, dan racun ular iblis.
Sesampainya di Asosiasi Petualang, Kevin langsung di cegat oleh para prajurit dari Kerajaan Envuella yang membuat para petualang di sana keringat dingin.
"Apa?" tanya Kevin dingin mengeluarkan aura ranah Heavenly Emperor.
"Di dalam sedang ada pertemuan privasi! tidak ada yang boleh mengganggu!" ucap prajurit menahan ketakutan.
"Siapa perduli!" ucap Kevin cuek lalu masuk ke dalam gedung Asosiasi Petualang.
"Aku mau mengumpulkan misi ku tadi pagi." ucap Kevin dingin pada Anya.
"Bisa kami lihat hasilnya tuan?" tanya Anya sedikit ketakutan karena aura yang di keluarkan oleh Kevin.
"Di mana tempatnya?" tanya Kevin.
"Di luar saja tuan." jawab Anya.
Kevin dan Anya keluar dari gedung dan berdiri di halaman gedung yang amat sangat luas. Kevin mengibaskan tangannya dan keluarlah kulit ular iblis yang sangat panjang dan besar, taring ular iblis yang lebih besar dari bangunan Asosiasi petualang, dan kelenjar racun yang sebesar pohon beringin 50 tahun.
"Berapa?" tanya Kevin membuyarkan Anya yang melongo melihat ukuran bagian tubuh monster di depannya.
"Biar saya hitung dulu tuan, silahkan tuan menunggu di ruang tunggu." jawab Anya.
Kevin berjalan pergi ke ruang tunggu, sambil menunggu Kevin sebat dan bermain ponsel. Saat sedang asik bermain ponsel, tiba tiba telepon masuk dari Tania.
"Halo, kenapa sayang?" tanya Kevin.
"Kamu di mana?" tanya Tania dengan nada hampir menangis.
"Bentar lagi pulang kok." jawab Kevin.
"Ayang ada di mana!" ucap Tania mulai menangis walaupun sudah berusaha di tahan.
"Di Asosiasi Petualang, kenapa?" tanya Kevin.
"Kenapa gak ajak aku?" tanya Tania balik.
"Kamu tidur pules banget, aku gak tega bangunin kamu. Ya udah aku tinggal aja deh." jawab Kevin.
"Jahat! ayang jahat! hiks..." ucap Tania menangis.
"Ini bentar lagi pulang, tunggu ya." ucap Kevin menutup telepon karena melihat Anya yang berjalan menghampirinya.
"Tuan, totalnya 1.000.000 koin diamond, silahkan ambil di administrasi." ucap Anya memberikan cek.
"Terimakasih." ucap Kevin pergi.
Kevin menarik semua uangnya dan menyimpan ke cincin penyimpanan lalu pergi. Saat ingin keluar gedung Kevin kembali di cegat oleh seorang pria tinggi besar dan kekar dengan wajah sangar.
"Ada yang mau bertemu denganmu." ucap pria itu yang ternyata adalah Bams.
"Tidak ada keperluan, aku mau pulang!" ucap Kevin pergi meninggalkan Bams yang terkena ilusi dari mata Rinnegan Kevin.
'Sampah!' ucap Kong.
Kevin terbang ke arah Villa dengan buru buru supaya Tania tidak ngambek lagi. Sesampainya di Villa, Kevin melihat teman temannya baru mau pergi ke restoran milik Boy yang di kelola oleh Laras.
Masih dengan memakai topeng dan jubah Kevin melewati mereka tanpa menyapa.
"Gak." jawab Kevin dingin tanpa berhenti berjalan.
"Cool bet anjay!" ucap Agus.
"Kevin slebew!" ucap Deni di sambut gelak tawa Agus.
"Ayo kita duluan aja, nanti Kevin nyusul." ucap Virzha.
Mereka pun berangkat duluan bersama sama, sedangkan Kevin masuk ke kamar untuk menemui Tania.
"Kamu kemana aja!" teriak Tania memeluk erat tubuh Kevin sambil menangis tersedu sedu.
"Test naik plat petualang sekalian ambil misi buat isi waktu luang." jawab Kevin mencopot topeng dan jubahnya.
"Kenapa enggak bangunin aku! jahat!" teriak Tania memukul dada Kevin.
"Iya iya maaf." ucap Kevin lembut sambil membelai rambut halus Tania.
Hening...
"Kamu udah makan sayang?" tanya Kevin lembut karena melihat wajah pucat Tania.
Tania hanya menggelengkan kepala tanpa menjawab atau menengok ke wajah Kevin.
"Makan dulu ya, habis itu kita nyusul yang lainnya." ucap Kevin.
Tania menganggukkan kepala, Kevin membeli beberapa makanan di toko sistem lalu menyuapi Tania yang sedari pagi tidak mau makan.
"Kenapa enggak mau makan tadi?" tanya Kevin.
Tania hanya diam tidak menjawab karena takut jawabannya membuat Kevin marah atau apa.
"Udah habisin dulu ya sayang, habis ini aku mau mandi dulu." ucap Kevin terus menyuapi Tania.
Setelah selesai menyuapi Tania, Kevin langsung pergi mandi dan memakai pakaian rapi untuk ke kondangan.
"Ayo berangkat." ajak Kevin menggandeng tangan Tania.
Mereka berdua berangkat ke restoran Boy yabg sudah sangat ramai di penuhi orang yang diundang oleh Rizal dan Demian.
"Lama banget vin! makan makan dulu sana, kau belum makan kan!" ucap Deni yang sedari tadi menunggu Kevin di luar bersama Agus dan Riski.
"Ya maap, tadi harus mandi yang bersih dulu biar bisa darahnya hilang." ucap Kevin mengikuti ketiganya masuk ke dalam restoran.
[Gawat tuan!]
'Kenapa?' tanya Kevin panik.
[God Of Eyes akan bangkit! cepat ke kamar mandi untuk bersiap!]
"Titip Tania bentar, kebelet berak aku! kamu sama mereka dulu ya sayang." ucap Kevin pergi.
"Gak papa, sama kita aman, gak usah dengerin kata kata dia." ucap Deni.
Sistem memasang dinding kedap suara di sekitar Kevin, sedetik kemudian jidat Kevin terasa ada sesuatu yang menusuk, kemudian sesuatu terasa keluar dari dalam kepala Kevin.
"Arghhhhh.....sialan apa ini!!!!" teriak Kevin kesakitan.
[Tahan tuan!]
Benar, proses ini hanya memakan waktu 5 menit tetapi rasa sakitnya masih terasa cenut cenut di dahi Kevin. Saat Kevin melihat kaca, dia kaget sebuah mata Rinnegan merah 8 titik muncul di dahinya.
"Anj*ng kek dajal!" umpat Kevin.
"Bisa di sembunyiin gak ni?" tanya Kevin.
[Bisa tuan, tinggal bilang nonaktif saja nanti hilang sendiri]
"Nonaktif!" ucap Kevin.
Benar saja, mata itu menghilang dari dahi Kevin yang membuatnya lega. Setelah memenangkan hatinya, Kevin pun keluar dari kamar mandi dan menghampiri Tania yang entah ada masalah apa sedang cekcok dengan mantan permaisuri yang kini menjadi istri Rizal yang bernama Kinar.
"Kenapa ini?" tanya Kevin pada Deni yang bingung mau melerai.
"Lerai dulu mereka, nanti ku ceritain." ucap Deni.
Kevin menutup mulut Tania lalu membawanya pergi ke meja tempat Riski dan Diana duduk.
"Jangan gitu lagi ya, gak enak sama Rizal." ucap Kevin memperingati Tania.
"Kamu di hina sayang! aku sebagai istri gak terima dong!" ucap Tania masih marah.
"Sttt udah gak boleh marah marah." ucap Kevin menyenderkan kepala Tania dadanya supaya diam dan tenang.
"Kenapa kok bisa gini den?" tanya Kevin.
"Dari tadi pagi mereka berdua ini udah cekcok, ya awalnya emang si Kinar yang mulai duluan dengan ngejek Tania gak bisa punya anak, terus Tania marah marah sambil nangis. Bahkan dia juga hampir mukulin Kinar tapi di tahan sama bibi Rora dengan alasan si Kinar lagi hamil. Ya sampai tadi kau dengar sendiri istrimu bilang kalau asal cekcok di sini gara gara Kinar ngehina kau sebagai pria mandul di hadapan para tamu." jawab Deni.
"Berat berat..." ucap Kevin menekan kedua alisnya karena pusing.
"Aku tadi sebenarnya juga udah kesel banget mau tampar mulutnya tapi di tahan sama Riski." ucap Diana jujur.
"Kamu jangan sampai lakuin itu ya, bisa jadi perang nanti di rumah." ucap Kevin memperingati Diana.
"Terus gimana Vin?" tanya Deni bingung.
"Udah kita di sini seneng seneng dulu, nanti biar aku yang selesaiin masalahnya sama Rizal di rumah." jawab Kevin santai.
"Kau mau minum apa vin? biar aku ambilin." ucap Agus menawarkan.
"Cola aja, sama teh anget." jawab Kevin tersenyum senang dengan kepekaan Agus di saat situasi sedang keruh begini.
"Tapi itu udah parah banget sih, mulutnya minta di belek!" ucap Diana masih sangat kesal.
"Sayang udah ya, emosiku masih belum stabil." ucap Riski.
"Maaf." ucap Diana menunduk.
"Dion mana?" tanya Kevin masih mengelus elus punggung Tania supaya tenang.
"Lagi ambil makanan sama Bella tadi." jawab Deni menghidupkan rokok.
"Tante Laras kemana?" tanya Kevin.
"Di ruangannya, dia tadi juga hampir aja nendang perut Kinar tapi masih untung bisa di cegah sama om Dion." jawab Deni.
Tak lama, Agus bersama Dion dan Bella datang membawa berbagai buah buahan, kue, makanan berat untuk Kevin dan Tania, serta minuman untuk Kevin dan Tania.
"Tante jangan sedih ya, Bella ada di sini kok." ucap Bella memeluk tubuh Tania yang terlihat masih sangat marah.
"Iya, tante enggak sedih kok." ucap Tania membalas pelukan Bella sambil tersenyum paksa.
"Makanannya di makan dulu tante, nanti kalau enggak di makan Bella sedih lo." ucap Bella.
"Ini tante mau makan." ucap Tania.
Tania memakan makanan yang di bawakan oleh Bella dengan terpaksa karena nafsu makannya sudah hilang dari tadi. Kevin memakan makanannya dengan lahap, selesai makan Kevin kembali menenangkan Tania yang di matanya terdapat tatapan pembunuh yang sangat jelas di pandangan Kevin.
"Kalau kau berani bertindak jangan salahin aku pakai cara kasar!" ucap Kevin tegas.
"Aku enggak terima kamu di hina di depan umum kayak gitu!" ucap Tania membela diri yang membuat Kevin kaget, tidak biasanya Tania membantahnya begini.
"Ya sudah silahkan kalau mau bertindak, aku gak akan menghalangi lagi, silahkan." ucap Kevin membuat Tania sadar.
"Maaf.." ucap Tania menyesal.
"Kapan kita balik?" tanya Kevin tidak memperdulikan Tania yang mulai menangis.
"Kita duluan juga gak papa sebenernya, tapi kata bibi Zoya kita harus pulang barengan, soalnya ada yang mau dia bicarakan nanti." jawab Agus.
"Oh ya udah." ucap Kevin bermain ponsel mendiamkan Tania yang terus meminta maaf.
Bersambung.....