
Setelah para tamu pergi dan restoran sepi, Aurora memanggil Kevin, Dion, Deni, Agus, dan Riski bersama pasangan masing-masing ke ruangan tempat Laras bekerja.
Plak..
Plak...
Plak...
Aurora menampar kelima laki laki yang sedari tadi sibuk sendiri di mejanya sendiri tanpa mau bergabung dengan yang lain di meja utama.
"Kenapa kalian asik sendiri hah! dasar tidak tau diri! pesta ini mahal mahal di siapkan mereka berdua dan menyiapkan kursi khusus untuk kalian! tapi kenyataannya apa? kalian malah pisah dan asik sendiri dengan obrolan tidak berguna kalian!" teriak Aurora marah.
'Dia ibumu bos?' tanya Kong menahan amarahnya.
'Bos?' tanya Kong lagi karena tidak mendapatkan jawaban.
"Ini uang untuk mengganti pesta ini, silahkan gelar pesta yang lebih meriah, undang para raja dan kaisar sekalian ya bu. Sudah biarkan hati menantumu yang sangat rapuh ini." ucap Kevin mengeluarkan segunung koin diamond lalu pergi keluar ruangan itu menggandeng Tania yang masih menangis.
Plak....
"Dasar labil! sudah tua masih pilih kasih!" teriak Virzha menampar Aurora lalu menyimpan gundukan koin itu.
"Kalian semua memang tidak tau di untung! baj*ngan!!" teriak Virzha yang sudah lama memendam rasa kesalnya lalu pergi begitu saja.
"Kita udahan sampai sini, aku gak mau ada kontak mata dengan kau berdua! terutama kau wanita baru baj*ngan! perusak pertemanan!" ucap Riski dengan emosi yang meluap luap.
"Jangan gitu dong ris, kita kan sahabat sampai mati!" ucap Deni.
"Iya cok, jangan gitulah." ucap Agus.
"Terserah kalian berdua, ucapanku gak bisa ku tarik lagi." ucap Riski pergi menggandeng tangan Diana.
"Arghhh! sialan!" teriak Deni keluar ruangan dengan membanting pintu.
Bruakkkk.....
"Tante silahkan renungkan kesalahan terbesarmu sebagai seorang ibu dan mertua sekaligus, kami pergi dulu." ucap Laras mengajak Dion dan Bella keluar ruangan.
Saat itu juga Aurora langsung terduduk lemas memikirkan apa yang sudah dia lakukan pada anak semata wayangnya dan calon mantunya.
Di Villa
Kevin sedang menenangkan Tania yang sedang menangis keras tidak berhenti di ruang tamu.
"Ayang aku mandul!" teriak Tania kepikiran.
"Stttt gak boleh bilang gitu! kamu itu subur cuman jarang lakuin itu aja, jadi belum dapet kepercayaan dari yang kuasa untuk menjadi seorang ibu. Udah ya jangan di pikirin yang begituan, gak baik." ucap Kevin memeluk Tania sambil mengelus lembut kepalanya.
'Aku mau keluar bos!!!' teriak Kong sedari tadi sudah mencoba seribu cara untuk menembus segel dunia jiwa.
'Udahlah Kong! tidak ada gunanya kau emosi begitu! lihat, bos saja sangat tenang menghadapi masalah ini!' ucap Kuro.
'Arghhh sialan!!!!' teriak Kong marah.
Tak lama, Virzha dan Riski serta Diana datang menyusul Kevin pulang.
"Nak, maafkan ucapan ibumu tadi ya." ucap Virzha mentransfer kembali segunung koin diamond ke cincin Kevin.
"Bukan salah ibu kok yah." ucap Kevin tersenyum paksa.
"Gak perlu bohong gitu sama ayah." ucap Virzha.
Kevin hanya tersenyum sayu lalu kembali menenangkan Tania yang masih menangis dengan keras. Tak lama kemudian Deni, Agus, dan Dion serta keluarga kecilnya datang.
"Kamu gak papa kan tan?" tanya Laras khawatir.
"Enggak papa kok." jawab Tania dengan suara serak.
"Ayo ikut aku ke kamar, aku mau bicara sebentar sama kamu." ucap Laras mengajak Tania.
Tania dan Laras pun pergi meninggalkan ruang tamu dan masuk ke kamar Kevin.
"Kamu ikut sana, kita mau bicara penting." ucap Riski menyuruh Diana.
Diana menurut dan ikut pergi ke kamar Kevin.
"Cewek yang waktu itu kemana?" tanya Deni.
.
"Katanya pergi cari orang tuanya di desa dekat sini." jawab Virzha.
"Owalah." ucap Deni menghela nafas.
"Vin." panggil Riski.
"Apa?" tanya Kevin menyaut.
"Gimana ini jadinya?" tanya Riski.
"Gak tau lah ris, pusing aku cok anj*ng!" jawab Kevin mengusap wajahnya dengan kasar.
"Jujur ya, aku dah lama muak sama wanita itu, rasanya kayak sombong banget lakinya seorang petualang tingkat SS plus sudah di ranah Master Spiritual! pingin banget ku hina hina dia tapi apalah daya nanti di anggap cupu gara gara ngejek wanita!" ucap Riski.
"Udah udah, kita bicarain kalau mereka udah sampai." ucap Kevin merebahkan tubuhnya sambil memegangi kepala.
Pukul 01.00
"Duduk." ucap Virzha dingin dan menatap tajam Aurora.
"Dem, suruh istrimu istirahat, kasian kandungannya." ucap Kevin masih bisa tersenyum pada Demian dan Dita.
"Siap ndan!" ucap Demian tegas lalu menuntun Dita menuju kamarnya.
"Kamu istirahat dulu ya, aku mau ke ruang tamu dulu. Apapun yang kamu dengar jangan sesekali keluar kamar." ucap Demian.
"Kalau gitu aku mandi dulu ya." ucap Dita tersenyum lembut.
"Iya jangan lama lama." ucap Demian membelai rambut Dita lalu pergi kembali ke ruang tamu.
"Kamu ngerasa gak nyakitin hati Tania? kamu ngerasa habis nyakitin hati Kevin?" tanya Virzha.
Aurora hanya bisa menundukkan kepala tanpa bisa menjawab pertanyaan Virzha.
"Sudah ayah, ini bukan salah ibu." ucap Kevin menenangkan Virzha.
"Kamu dengar? setelah kamu menyakiti hatinya dan hati istrinya yang tak bersalah dia masih bisa membela mu dan masih menyebutmu dengan nama 'IBU' apakah kamu masih buta akan keadaan ini? hah!" teriak Virzha di akhir kata.
"Ayah lebih baik selesaikan masalah dengan ibu di kamar, tidak baik pertengkaran kalian di lihat anak anak seperti kami." ucap Kevin.
"Sialan! ayo ikut aku!" ucap Virzha menyeret Aurora ke kamarnya.
"Fiuhhh...kok jadi gini sih!" teriak Kevin memukul dinding dengan keras.
"Aku minta maaf vin." ucap Rizal menundukkan kepala.
Prangg...
"Bukan kau yang salah bodoh! jangan minta maaf kalau tidak salah!!!" teriak Kevin marah membanting vas bunga.
Deni, Agus, Dion, Riski, dan Demian hanya bisa diam ketika melihat kemarahan Kevin saat ini.
"Bang*at!!!" teriak Kevin mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kau tau gimana perasaan seorang wanita yang tidak tau apa apa tapi tiba tiba di tuduh mandul? hah? mentang mentang kau sedang hamil jadi kau anggap bisa jadi ratu disini dan bicara seenak jidat? tidak!!!!!" teriak Kevin menunjuk Kinar dengan wajah yang sangat marah.
"Tau gini mending kemarin ku biarin kau mati! gak usah aku susah suah menolong!" ucap Kevin.
"Kau memang ratu sebelumnya, tapi sekarang hanya seorang wanita lemah tanpa title dan kekuatan! aku bisa membunuh mu saat ini juga, tapi aku mengingat kalau suamimu itu sahabatku!" ucap Kevin.
[Sudah tuan, lebih baik fokus pada tujuanmu saja, jangan pedulikan ucapan orang orang!]
"Arghhh sudahlah! gak ada gunanya marah marah sama wanita kayak kau! besok kita ke Asosiasi Petualang!!" ucap Kevin pergi.
"Ajari istrimu cara bicara! jangan sampai menghina orang yang lebih kejam dari Kevin!" ucap Riski.
"Maaf." ucap Rizal.
Buaghhh....
"Jangan minta maaf kalau tidak salah!!!! yang salah dia bukan kau baj*ngan!!!!!" teriak Deni marah di depan muka Rizal setelah memukulnya dengan keras.
"Ayo istirahat, besok kita harus bangun pagi." ucap Agus menarik kerah Deni dan berjalan ke kamarnya.
"Jaga mulutmu kalau masih mau selamat, ingat mulutmu harimaumu." ucap Dion pergi.
"Ubah mulut busuknya supaya Kevin memaafkan mu." ucap Demian pergi.
Hening...
"Maafkan aku." ucap Kinar mulai menangis.
"Gak ada gunanya kamu meminta maaf padaku, yang kamu sakiti bukan aku tapi Tania. Minta maaf padanya besok dan tutup mulut busukmu itu." ucap Rizal menggandeng Kinar ke kamarnya.
Di dalam kamar Kevin
"Sudah jangan di pikirkan, ucapan Kinar tadi tidak ada yang nyata. Kamu bisa hamil anak Kevin berapapun yang kamu mau, tinggal bagaimana keseriusan kalian membuat seorang anak." ucap Laras.
Tania hanya diam tak menjawab.
"Sudah kamu istirahat saja, besok kita lanjut ngobrol lagi." ucap Laras beranjak pergi bersama Diana dan Dita.
"Istirahat ya Tania, jangan terlalu di pikirkan ucapan bohong itu." ucap Dita.
"Kalian juga istirahat ya." ucap Tania tersenyum paksa.
Tak lama setelah mereka bertiga keluar kamar, Kevin masuk ke dalam kamar dengan wajah yang terlihat sangat amat marah.
"Kok gak istirahat?" tanya Kevin mencoba meredam amarahnya.
"Ini mau istirahat." jawab Tania merebahkan tubuhnya.
"Tidur ya, jangan di inget lagi ucapan tadi." ucap Kevin.
Setelah melihat Tania tertidur, Kevin naik ke atas genteng Villa untuk menenangkan hatinya.
"Kenapa jadi gini!" gumam Kevin menghembuskan nafas berat.
[Inilah cobaannya tuan]
"Ya mau gimana lagi!" ucap Kevin lirih menatap langit malam yang mendung.
Kevin duduk melamun di atas genteng Villa berjam-jam sampai pukul 04.00 pagi, karena sudah mengantuk Kevin pun ikut tidur dengan memeluk Tania yang sudah terlelap.