
3 Hari berlalu
Hari hari Kevin berjalan dengan lancar tanpa hambatan sedikit pun, hal ini yang membuat Kevin curiga.
"Tiga hari tanpa masalah? hemmm.... mencurigakan!" ucap Kevin menengok keluar jendela rumahnya.
[Firasat sistem juga tidak enak tuan]
'Ding....dong.....'
Bel rumah berbunyi nyaring, Kevin langsung pergi membuka gerbang. Terlihat Dion bersama Deni dan teman temannya menunggu Kevin membukakan gerbang.
'Sudah ku duga!' batin Kevin.
[Arghhhh sialan!!! ternyata mereka!!]
'Semangat bos!!!' ucap Kong menyemangati Kevin.
"Hemphhhh....masuk masuk....." ucap Kevin membuang nafas panjang.
"Terimakasih kawan!." ucap Deni masuk ke dalam rumah.
Kevin membuatkan es sirup sambil menghidupkan tv supaya tidak terlalu sunyi.
"Ada apa kalian ke mari?" tanya Kevin menghidupkan rokoknya.
"Boleh ngerokok ya?" tanya Rizki.
"Boleh, bebas di sini, yang penting jangan miras aja." jawab Kevin.
"Oke oke." ucap Rizal ikut sebat.
"Langsung intinya aja ya, kau mau gak ikut partyan besok lusa? cuman kurang satu orang lagi soalnya." ucap Deni.
"Berapa orang?" tanya Kevin.
"20 orang, soalnya portal ini kelas SSS+ dan ini permintaan langsung dari ketua Asosiasi." jawab Deni.
"Tua bangka sialan!" gumam Kevin kesal.
Di lain tempat
"Haaacciiihhhhh....... siapa yang membicarakan keburukan ku!" ucap Virzha.
Di rumah Kevin
"Bagaimana? mau atau tidak?" tanya Deni.
"Kau ikut?" tanya Kevin pada Dion.
Dion hanya menganggukkan kepalanya lalu lanjut menonton tv yang sedang menyiarkan piala dunia.
"Ya udah aku ikut." ucap Kevin setuju dengan tawaran Deni.
"Besok Minggu pagi kumpul di rumah om Dion." ucap Deni.
"Oke." ucap Kevin.
Mereka terus berbincang bincang meminta saran tentang skill pada Kevin yang membuatnya bingung kenapa mereka bisa tau luasnya pengetahuan Kevin tentang skill.
Karena hampir larut, mereka pun pamit pulang ke rumah masing-masing.
'Kenapa bos menerima tawaran mereka?' tanya Kong bingung.
"Aku cuman mau mengawasi Dion saja, apa lagi dongeon kelas SSS+ yang notabenenya belum bisa di atasi Hunter seperti dirinya. Kalau matikan kasihan anak istrinya." jawab Kevin sambil mencuci gelas.
'Benar juga omonganmu bos, masuk akal masuk akal.' ucap Kong mangguk mangguk.
Setelah semua piring sang gelas sudah bersih, Kevin pergi mematikan tv lalu tidur di kamarnya yang nyaman.
Minggu pagi
Kevin bersiap dengan jubah Dewa Kuno miliknya yang bermotif aksara Kuno. Kevin seharian kemarin sudah membuat banyak potion dan pill khusus tingkat legenda.
Setelah semua siap, Kevin pergi ke rumah Dion dengan mengendarai mobilnya. Sesampainya di rumah Dion, Kevin langsung di sambut oleh teman temannya. Namun yang menyambutnya hanya teman temannya saja berbeda dengan orang lain yang ada di sana.
Mereka menatap sinis Kevin yang di anggap sampah oleh semua orang, bahkan oleh anggota klan nya sendiri.
"Jubahmu keren sekali!! beli di mana?" tanya Riski kagum.
"Limited edition ini mah!" jawab Kevin bangga.
"Yahh sayang banget!" ucap Riski kecewa.
"Udah udah, ayo kita mulai menyusun strategi nya!" ucap Deni mengajak semua orang berkumpul untuk diskusi.
Saat sedang berdiskusi, tiba tiba seorang pria tinggi dan kekar berteriak dari jauh.
"Ayo berangkat! kalian tidak usah memikirkan strategi! aku yang akan menghadapi mereka semua!" ucapnya sombong.
"I-itu pangeran Zet!" ucap seorang pemuda.
'Pangeran? pangeran kok cuma kelas S+!' ucap Kong meludah.
'Kong, kalau dia dengar pasti wajahnya merah karena marah.' ucap Kuro.
'Hahahahahaha......' mereka berdua tertawa puas melihat kebodohan umat manusia.
"Ayo cepat berangkat dasar rakyat jelata!" teriak pemuda yang di panggil Zet itu.
Mereka langsung masuk ke mobilnya masing masing dan mengikuti mobil Zet dari belakang.
"Vin, aku numpang ya!" teriak Dion yang di angguki tiga orang lainnya.
Kevin menganggukkan kepalanya lalu ergi masuk ke dalam mobilnya. Mereka berempat pun berangkat dengan kecepatan sedang sambil berbincang-bincang di dalam mobil.
"Tadi pangeran siapa sih?" tanya Demian.
"Gak tau aku, mungkin Kevin tau." jawab Deni menggelengkan kepala.
"Yang tadi?" tanya Kevin.
"Iya, yang sombong tadi loh." jawab Demian.
"Dia itu anak sulung dari Raja Marvis, sifat nya memang menjengkelkan karena keturunan dari kakek nya yang jika kau berbicara dengannya pasi hasrat untuk membunuhnya sangat tinggi. Dan ingat, kekuatannya tidak setinggi omongannya. Jadi tetap jaga diri kalian masing-masing." ucap Kevin.
"Depan belok kiri Vin." ucap Dion.
Tak jauh dari belokan itu, akhirnya mereka sampai di sebuah lapangan luas yang sudah di jaga oleh ratusan TNI.
(Presiden kedudukan nya lebih tinggi di bandingkan Raja. Latar novel ini ada di Indonesia, tapi karena luas Indonesia jauh lebih luas di banding jaman dulu presiden membentuk sebuah kerajaan yang di pimpin langsung oleh seorang presiden)
"Loh kok gak ada orang?" tanya Rizal bingung.
"Cepat tanya om." ucap Riski.
Sambil menunggu Dion, Kevin sebat sebatang sambil mengamati portal dongeon di tengah tengah lapangan. Di langit terdengar suara drone beterbangan yang mengamati mereka berlima.
'Tuan besar, coba kau perhatikan lagi dengan cermat portal sialan itu.' ucap Dexter memperingati Kevin.
Kevin mengaktifkan mata rinnegan miliknya dan alangkah terkejutnya dia melihat aura hitam legam yang terus keluar dari portal dongeon itu.
'Sialan!!! black dongeon!!' ucap Kevin dalam hati dan langsung membuat segel tangan.
"Kevin ngapain?" tanya Rizal pada Deni.
"Gak tau." jawab Deni.
Kevin dengan kecepatan maksimal langsung membuat segel segi empat untuk menahan aura hitam yang terus keluar dari portal dongeon.
"Bagaimana? di mana yang lainnya?" tanya Kevin pada Dion.
"Mereka sudah masuk duluan, katanya setengah jam yang lalu." jawab Dion.
"Anj*ng!!!" umpat Kevin.
"Kenapa?" tanya Dion curiga.
"Black Dongeon bang***!!!" teriak Kevin kesal.
"APAAA!!!!!" teriak ketiga teman Kevin kaget.
"Cepat persiapkan diri kalian, kita akan menyusul mereka sebelum terlambat." ucap Kevin duduk di atas mobil dan bermeditasi menghubungi Vulcan untuk mengambil pedang darah yang di tempa ulang olehnya.
'Vulcan, kirimkan dua pedang darah milikku!' ucap Kevin melalui telepati.
'Ohh bagus! ini baru saja selesai! teteskan darahmu dahulu baru gunakan sesukamu.' ucap Vulcan.
'Terimakasih! upahnya sudah aku kirimkan ke cincinmu ya.' ucap Kevin mengakhiri komunikasi.
Kevin membuka mata dan sudah ada dua pedang bewarna merah dengan aksara aksara Kuno di bilahnya. Kevin melukai jempolnya lalu meneteskan darahnya ke kedua bilang pedangnya.
Seketika pedang darah itu bergetar hebat lalu berhenti sekejap karena kontrak abadi sudah terjadi.
"Kalian sudah selesai?" tanya Kevin.
"Kami sudah siap!" ucap mereka berempat.
Mereka berlima langsung masuk ke dalam portal tanpa ba-bi-bu lagi. Saat tubuh kelima orang tadi masuk ke dalam portal, tiba tiba terjadi ledakan energi yang amat sangat besar dan beruntung nya ledakan besar itu tertahan oleh segel segi empat yang Kevin buat tadi.
"Sayang, dia anak kita?" tanya Virzha yang menonton melalui layar kaca.
"Sepertinya bukan." jawab Aurora bingung.
"Dasar orang tua bodoh! anaknya sendiri tidak di akui!" ucap Lia kesal.
"Hehehe ayah dan ibumu terlalu kaget nak." ucap Virzha nyengir.
Di dalam dongeon
"Tetap di belakangku! jaga bagian belakang dan samping! tetap waspada dengan semua sudut buta!" ucap Kevin sambil berlari mengikuti aura milik Zet yang semakin melemah.
"Depanmu Den!!!" teriak Dion memperingati Deni.
"Aman Om!" ucap Deni setelah menebas monster kuda setengah ular di depannya.
Akhirnya mereka sampai di depan sebuah kastil besar yang banyak tergeletak Hunter Hunter yang sekarat.
"Selamatkan mereka, biar aku yang masuk ke dalam. Ingat tetap waspada! jangan lengah sedikitpun!" ucap Kevin sebelum menghilang.
'Anak ini, jiwa kepemimpinan nya sangat tinggi, tidak salah aku mengabdikan hidupku padanya.' ucap Dexter dalam pikirannya sambil tersenyum tenang.
"Semangat bos!!!!" teriak Kong dan Kuro bersamaan.
[Tuan, keluarkan saja patung Gedo milikmu supaya cepat terselesaikan, saya merasa dongeon ini tidak beres]
"Gedomazo!!!!!" teriak Kevin yang di dengar hingga keluar kastil.
'Groahhhhhhh.......'
Semua Hunter yang sudah sadar sangat kaget mendengar teriakan barusan.
"Patung itu!" gumam Dion kaget setengah mati.
"Cepat sembuhkan diri kalian!!!! aku akan mencari pangeran Zet!!" teriak Deni berlari.
Kevin mengendalikan patung Gedo untuk melawan monster ular kepala lima, dan dengan mudahnya ular itu di rantai lalu di makan untuk di serap kekuatannya.
"Kerja bagus!!!" ucap Kevin sebelum menarik kembali patung Gedo.
Setelah menjarah semua harta di dalam kastil, Kevin keluar untuk menemui para Hunter yang sedang menyembuhkan diri.
"Cepat keluar! dongeon ini akan meledak dalam 30 menit!" teriak Kevin terbang dengan kecepatan tinggi.
"Elang petir!!!!" teriak Dion memanggil hewan suci miliknya.
Seekor Elang petir bertubuh raksasa muncul dan Dion menyuruh semua orang untuk naik ke atasnya. Akhirnya mereka pun keluar dengan selamat walaupun masih memendam rasa kesal pada Kevin.
"Kerja bagus!" ucap Kevin pada Dion sambil mengacungkan jempol.
"Besok besok jangan langsung minggat bang***!! untung aku punya hewan suci, kalau enggak mati kita!" ucap Dion memukul kepala Kevin karena kesal.
"Ya maap." ucap Kevin nyengir.
"Mending kalian latihan reflek deh, sama latihan pertahan." ucap Kevin memberikan saran.
"Iya iya, aku juga berpikir gitu." ucap Deni.
"Ya udah, pulang yok." ajak Kevin.
Mereka berlima kembali ke rumah Dion tanpa memperdulikan Hunter Hunter yang merasa bersalah pada Kevin.
Setelah mengantar teman temannya, Kevin pulang dan langsung mandi karena merasakan lengket pada tubuhnya.
Setelah mandi, Kevin membuat steak Wagyu A5 untuk melepas penat.
"Hahhhh..... nikmatnya hidup di zaman modern!!" ucap Kevin merasakan kenikmatan kehidupan yang sesungguhnya.
[Apalagi kalau ada ayang tuan]
"Ahhh....wanita hanya akan menimbulkan setres! lebih baik begini dulu sampai puass!!" ucap Kevin tidak perduli dengan yang namanya wanita.
[Ya benar juga sih]
Setelah puas menikmati hidangan buatan sendiri, Kevin pun tidur dengan nyenyak.