
Doni naik ke atas arena pertarungan tanpa rasa takut sedikitpun.
"Salam senior." sapa Doni membungkukkan badan.
Joni memberikan salam lalu membuat kuda kudanya persis seperti kera yang akan bertarung. Doni memasang kuda kuda dengan kedua kakinya yang terus mengeluarkan cahaya dan tangannya yang memegang pedang cahaya.
"Mulai!" teriak wasit.
Keduanya langsung bergerak dengan kecepatan tinggi sembari saling menyerang. Kali ini kecepatan si menangkan oleh Doni dengan telak namun untuk kekuatan Doni kalah jauh dengan Joni yang di bantu sang roh sihir.
Ting....
Tang....
Ting....
Ting....
Bunyi dentingan senjata mengiringi pertarungan keduanya. Hingga akhirnya keduanya melompat kebelakang mengambil jarak untuk bernafas sejenak.
'Sial! kekuatannya sangat besar!' ucap Doni dalam hati sambil terengah-engah.
'Kecepatannya sangat di luar nalar! aku harus mengantisipasi serangan dadakan dari belakang!' ucap Joni dalam hati.
Setelah mengambil nafas sejenak keduanya lanjut bertarung habis habisan tanpa jeda sedikitpun. Karena keterbatasan fisik Doni akhirnya tertusuk senjata Joni hingga tembus ke belakang saking seriusnya Joni bertarung hingga memunculkan niat membunuh.
"Tim medis!!!!" teriak wasit panik.
Kevin langsung memecah kaca tribun lalu menghampiri tubuh Doni yang terkulai lemah.
'Healing tingkat Dewa!' ucap Kevin dalam hati memegang luka Doni yang sangat lebar dan dalam.
"Apakah kalian ini akan jadi anak brandalan! hah! kita tidak mengajarkan kalian untuk membunuh atau melukai orang! di turnamen ini kita hanya di tuntut untuk duel tanpa saling membunuh! kau! dari awal kau masuk perguruan attitude mu sudah sangat buruk! lisan yang seperti iblis tidak ada berhentinya berucap merendahkan hingga akhirnya jatuh satu korban di turnamen ini!" ucap Ketua perguruan Kera Sakti marah pada anak didiknya.
"Kau juga! kau sering terbawa suasana hingga berkali kali saat latih tanding lawanmu hampir tertusuk pedang mu! dan sekarang di turnamen juga jatuh satu korban yang benar benar tertusuk! apakah kejadian di perguruan tidak bisa merubah kalian hingga jatuh satu korban meninggal! hah!" teriak Ketua perguruan kera Sakti.
"Diam! kalau kau tidak diam aku bunuh kau!" teriak Kevin di barengi siluet gorila dan rubah mata enam keluar dari belakang tubuhnya.
Kevin sangat fokus hingga tidak memperdulikan apa yang di katakan oleh Kong dari aura yang dia keluarkan.
"Perguruan sampah! nama yang seharusnya suci menjadi tercoreng karena perbuatan kalian yang tidak bisa menjaga sikap! bajing*n! aku susah susah membuat nama tapi kalian mencoreng nya dengan kelakuan menjijikkan ini! bertarung dengan bantuan tapi masih saja ada niat membunuh dasar sampah! mulut busukmu akan aku bakar jika masih berani merendahkan sesama manusia ingat kata kataku barusan!" ucap Kong murka karena namanya yang ternodai.
"M-maafkan k-kami leluhur! kami mengaku salah!" ucap kedua murid tersebut bersujud.
"Bersujud pada orang tua anak ini dan minta maaf mereka! jika mereka memaafkan maka aku juga akan memaafkan kalian." ucap Kong.
Kedua murid itu langsung bersujud memohon maaf pada orangtua Doni yang sedang menangis menunggu kabar Kevin.
Tak lama akhirnya Kevin selesai menyembuhkan luka Doni dan akhirnya Doni terselamatkan berkat gerak cepat dari Kevin.
"Muridku tidak bisa melanjutkan pertandingan, kami menyerah." ucap Kevin pada wasit.
"Tapi peserta bernama Joni itu melanggar peraturan dan akan di diskualifikasi." ucap wasit.
"Tidak perlu, kami menerima dengan lapang dada. Anak itu juga tidak sengaja melakukannya jadi dia berhak menjadi pemenang." ucap Kevin tersenyum ramah.
"Baiklah kalau begitu." ucap wasit.
Kevin menyuruh Dion menggotong tubuh Doni ke ruang perawatan untuk melanjutkan proses penyembuhan yang belum sepenuhnya tuntas.
"Parah sekali lukanya hemphhh...." ucap Kevin membuang nafas kasar.
"Ayang mau makan apa? biar aku belikan." tanya Tasya melihat wajah pucat Kevin.
"Apa aja, sate boleh, gado-gado boleh." jawab Kevin.
"Tunggu ya." ucap Tasya pergi mengajak Lia dan Laras membeli makanan.
"Vin, kau dapet perempuan perhatian kek gitu dimana si? pingin aku as*!" ucap Deni iri.
"Cari lah, kau diem di rumah gak pernah keluar! mana ada cewek yang mau berhubungan sama anak introvert yang kalau ngomong ama cewek gagap!" ucap Kevin yang membuat Deni terjatuh memegangi dadanya karena tertusuk oleh fakta.
"Tertusuk fakta!" ucap Riski.
"Dah, ini pil suruh Doni makan kalau udah sadar. Jangan lupa sebelum makan pil ini wajib makan minimal roti dulu." ucap Kevin memberikan kantong obat berisi dua buah pil pada orang tua Doni.
"Jangan sekali kali bersujud padaku! kau itu jauh lebih tua dariku, akan tidak sopan jika orang melihat seorang ayah bersujud pada anak muda yang lemah ini." ucap Kevin membuat Bondan terharu.
"Sekali lagi aku ucapkan terimakasih tuan muda!" ucap Bondan menangis tersedu-sedu.
"Aku masih ada urusan di luar, aku pergi dulu." ucap Kevin keluar ruang perawatan dan kembali ke ruang VIP yang sudah ada Tasya, Laras, dan Lia menunggu dengan berbagai makanan di sana.
"Ini untuk ayang, yang lain bebas pilih." ucap Tasya memberikan sebungkus sate ayam yang masih hangat dengan beberapa gorengan panas pada Kevin.
"Terimakasih." ucap Kevin mencium pipi Tasya lalu makan dengan lahap sambil berbincang-bincang dengan Tasya yang juga sedang makan gado-gado.
"Aku iri! besok aku mau cari cewek!" ucap Deni menangis di pojokan sambil makan nasi goreng udang.
"Nangis dia! kasihan ya nasibnya." ucap Rizal menggelengkan kepala.
"Pray for Deni!" ucap Demian.
"Jangan menggunjingkan aku!" ucap Deni kesal sambil menangis.
Setelah satu jam break, akhirnya acara pengumuman pun di mulai. Aron Smith sebagai tamu yang menjadi host kali ini.
"Selamat sore semuanya! perkenalkan saya Aron Smith dari Asosiasi Hunter Inggris akan mengumumkan juara turnamen nasional kali ini! juara ketiga, Supri Wiliam dari klan Wiliam!!! silahkan naik ke atas arena untuk menerima hadiah." ucap Aron.
Supri naik ke atas arena sambil dadah dadah ke semua penonton.
"Juara kedua, Doni Faturochi!!! si kecil cabe rawit!!!! silahkan naik ke atas arena untuk menerima hadiah!" ucap Aron di ikuti tepukan tangan yang meriah.
Doni dengan di bantu tongkat penyangga berjalan perlahan ke atas arena sambil meneteskan air mata kekecewaan.
"Dan juara pertama turnamen nasional kali ini adalah....Joni Supratman dari perguruan Kera Sakti!!! silahkan naik ke atas arena untuk menerima hadiah!" ucap Aron di barengi cemoohan dari para penonton atas tindakannya yang melukai lawan dua kali berturut-turut.
Joni naik ke atas arena sambil menangis dan menundukkan kepala karena merasa bersalah.
"Oh ya maaf, juara harapan satu sampai empat lupa saya ucapkan! Kenzo juara harapan satu, Joni juara harapan dua, Agung juara harapan tiga, dan Son juara harapan empat! semuanya silahkan naik ke atas arena untuk menerima hadiah!" ucap Aron di iringi tepukan tangan yang meriah.
Mereka semua menerima piagam penghargaan, mendali emas murni, uang tunai masing masing 500 juta dan kitab teknik sesuai juara masing masing. juara satu dapat S, dua A, tiga B, harapan satu C, harapan dua C, harapan tiga C dan harapan empat C.
Setelah menerima hadiahnya mereka pun kembali ke kursi peserta untuk beristirahat sambil merayakan kemenangan dengan merencanakan untuk makan besar di restoran mewah.
"Untuk pengumuman perwakilan turnamen akan di sampaikan langsung oleh sang ketua Asosiasi Hunter Indonesia Virzha Bailly! silahkan naik ke atas arena untuk berpidato atau pengumuman secara langsung." ucap Aron turun dari arena untuk minum sebentar.
Virzha berpidato sebentar lalu mengumumkan perwakilan turnamen internasional.
"Perwakilan dari negara kita adalah Doni, Yoga, Kenzo, Roni, Joni, dan Pepi! ke-enam anak ini akan di latihan langsung oleh Kevin Bailly yang berhasil mendidik murid pertamanya masuk ke semi final dan final!" ucap Virzha di sambut tepuk tangan yang amat meriah dari para penonton.
Saat sedang melanjutkan pidatonya tiba-tiba langit berubah menjadi merah dengan aura hitam legam yang sudah menutupi seluruh bagian bumi dan siap mengambil energi kehidupan setiap makhluk hidup.
[Tuan gunakan 30% kekuatanmu untuk menutupi seluruh bagian bumi dengan aura Mahadewa milikmu yang bisa memusnahkan aura dewa iblis ini]
"Jangan bergerak! kalau masih ingin hidup diam di tempat dan berdoalah!" teriak Kevin berdiri di tengah arena dan menyuruh ayahnya kembali untuk melindungi Lia dan Joseph.
'Lepas!' ucap Kevin dalam hati lalu menggenggam kedua tangannya.
Woshhhhh......
"Arghhhhh.......lindungi semua!!!!" teriak Kevin kesakitan karena di paksa memaksimalkan kekuatan 30% yang tidak berasa ini.
Aura keagungan yang berwarna oranye terbang membalut bumi yang akan di jamahi oleh aura iblis. Setelah semua bagian bumi terbalut Kevin langsung pingsan karena tidak terbiasa menggunakan energi sebanyak itu dalam sekali pakai.
"Bawa ke rumah!" ucap Virzha menyuruh Dion membawa tubuh Kevin ke rumah untuk di tangani sesegera mungkin.
Sesampainya di rumah Kevin langsung di tangani oleh tabib terkenal yang didatangkan oleh Abraham demi sangat cucu kesayangan.
"Dia baik baik saja, tubuhnya hanya kaget karena memakai energi yang sangat amat besar dalam sekali pakai. Besok dia akan pulih seperti semula." ucap sang tabib.
"Terimakasih banyak sudah bela belain kesini sahabatku!" ucap Abraham.
"Santai saja, mari kita minum sebentar." jawab sang tabib.
Akhirnya mereka semua pun lega, karena khawatir dengan keadaan Kevin, Dion dan teman temannya menginap di sana demi menjaga tubuh Kevin yang belum siuman.
Tasya tidur di kamar sambil memeluk Kevin dengan air mata yang terus mengucur karena tidak membayangkan bagaimana pedihnya kehidupan Kevin sebelum mendapatkan kekuatan ini.
Hingga karena terus menangis Tasya pun akhirnya tertidur juga.