Strongest Hunter

Strongest Hunter
Episode 26



Keesokan harinya


Kevin terbangun dari tidurnya dengan kondisi kaget.


"Mimpi sialan!" umpat Kevin mengucek matanya dan memegang kepalanya karena merasa sedikit pusing.


"Ayang udah bangun! ahahaha....ayang!" ucap Tasya yang masuk kedalam kamar karena mendengar umpatan dan langsung memeluk erat Kevin setelah melihat Kevin yang sudah sadar.


"Aku mau bubur buat makan, laper yang." ucap Kevin meminta pada Tasya.


"Aku ambilin dulu soalnya tadi udah di buat sama ibu." ucap Tasya pergi dengan hati gembira.


"Haihhhh.....tinggal tunggu waktunya dah!" ucap Kevin merebahkan kembali tubuhnya.


Tak lama Tasya datang dengan semangkuk bubur dan air putih untuk minumnya di temani Virzha dari belakang.


"Bagaimana keadaanmu bocah tengik!" ucap Virzha mengusap usap rambut Kevin.


"Masih sedikit pusing ayah, bagaimana persiapanmu? apa sudah matang?" tanya Kevin yang sedang di suapin bubur oleh Tasya.


"Aku sih siap tidak siap ya, kejadian itu hanya khusus untuk manusia bukan untuk ras kita jadi ya mau serius juga tidak ada gunanya juga." jawab Virzha santai.


"Kau selalu saja meremehkan lawan, coba dulu tidak aku selamatkan bisa mati di makan monster kau ayah!" ucap Kevin kesal.


"Waktu itu aku belum sepenuhnya bangkit! kalau sekarang boleh lah kalau di adu." ucap Virzha sombong.


"Besok biar aku sampaikan pada paman kalau kau menantang duel." ucap Kevin tersenyum.


"Jangan dong! kalau dia sudah pasti kalau akunya! yang lain kayak misal monster kelas Setan! nah itu aku setuju!" ucap Virzha sedikit panik.


"Hmphh..cupu!" ucap Kevin.


"Bukan cupu tapi bijak! aku sadar diri kalau kekuatanku tidak sehebat pamanmu jadi aku gak akan pernah memaksakan diri melawan musuh yang jauh lebih kuat dariku. Bijaklah dalam memilih lawan jangan sampai mati karena gengsi." ucap Virzha pergi keluar untuk merokok.


Tak lama setelah Virzha keluar, Dion dan yang lainnya masuk termasuk Doni dan Kenzo yang membawakan buah buahan titipan ibunya.


"Bagaimana keadaan guru?" tanya Doni sambil menyodorkan buah buahan pada Tasya.


"Aku baik baik saja, kemarin cuma kecapekan aja." jawab Kevin.


"Kau udah lihat berita?" tanya Dion melihat ponsel Kevin yang terus mengeluarkan notifikasi tetapi di suaranya di bisukan oleh Tasya karena takun mengganggu istirahat Kevin.


"Gak penting, lagian aku dah tau akhirnya bakalan gini." jawab Kevin setelah meminum air putih dan menyelesaikan makannya.


"Yang sabar ya, emang kalau udah penyakit hati tuh susah hilangnya." ucap Deni menepuk-nepuk pundak Kevin.


"Gimana lukamu don?" tanya Kevin pada Doni.


"Sudah sembuh total guru! pil yang guru berikan waktu itu sangat ampuh!" jawab Doni semangat.


"Baguslah kalau begitu." ucap Kevin tersenyum senang.


Mereka berbincang-bincang sangat lama hingga waktu makan siang tiba. Mereka di panggil Virzha untuk makan siang bersama di ruang keluarga. Kevin berjalan perlahan sambil di papah oleh Dion karena kaki Kevin yang masih lemah untuk berjalan.


"Gimana keadaanmu nak?" tanya Aurora yang tidak bisa tidur semalaman karena khawatir dengan keadaan Kevin anaknya.


"Sudah lebih enak bu, cuman kalau buat jalan belum bisa. Kaki masih lemes total soalnya hehe.." jawab Kevin tertawa kecil.


"Ya udah ayo makan semua, ngobrolnya lanjut habis makan." ucap Aurora mempersilahkan mereka untuk makan.


"Permisi." saat sedang enak enak makan tiba tiba pintu rumah di ketuk.


"Siapa tuh?" tanya Kevin kenal dengan suara nya.


"Ayah saja yang buka." ucap Virzha berdiri dan membukakan pintu rumah.


Terdengar suara obrolan yang sangat asik seperti teman lama yang bertemu setelah sekian lama berpisah.


"Sayang suruh temanmu ikut makan saja!" teriak Aurora.


"Mari masuk kita makan bersama." ajak Virzha.


Virzha datang bersama seorang pria yang membuat Kevin tersenyum senang.


"Tuan muda, bagaimana keadaan anda?" tanya pria itu yang ternyata adalah Thomas Eriksson tangan kanan Virzha di Asosiasi Hunter yang belakangan sedang berlibur di luar negeri.


"Aman." jawab Kevin tersenyum.


"Ayo makan bodoh malah diam seperti patung!" ucap Virzha kesal melihat Thomas yang malah berdiri mematung.


"Oh maaf maaf." ucap Thomas duduk dan mengambil makanan secukupnya.


Kevin melihat keluar jendela dan terlihat langit yang masih merah dan aura hitam yang masih berusaha masuk menembus penghalang yang di buat Kevin.


'Sepertinya bakalan begini terus sampai Ragnarok nanti.' ucap Kevin dalam hati sambil bengong menatap makanannya.


'Fokus kembalikan kebugaran tubuhmu dulu tuan, malam ini akan ada kekacauan besar di dekat sini.' ucap Dexter yang sudah bangun dari meditasi panjangnya.


"Di makan nak, jangan di pelototin gitu. Gak enak ya?" ucap Aurora merasa kalau tadi sudah memasak sesempurna mungkin.


"Enak kok enak, tadi cuman kepikiran hal kecil aja." jawab Kevin lanjut makan.


Virzha menghidupkan TV beranggapan kalau menyalakan TV suasana tidak sesepi di kuburan. Namun anggarannya itu salah besar karena di semua chanel TV berisi berita yang mencemooh Kevin yang menghancurkan euforia turnamen.


"Gak ada kartun gitu ya?" tanya Deni sedikit emosi mendengar berita yang sangat memancing amarah.


"Matiin aja yah, gak enak di denger beritanya." ucap Kevin tersenyum paksa.


"Oh maaf ya buat kamu kecewa." ucap Virzha merasa bersalah dan membuang TV nya keluar lalu membakarnya hingga hangus.


"Aman, besok kita beli TV yang lebih banyak chanelnya!" ucap Virzha lanjut makan.


Dion hanya bisa tepuk jidat melihat kelakuan konyol bosnya yang sama persis seperti kelakuan Kevin sahabatnya.


"Paman jangan sedih ya, Bella ada disini buat menghibur paman!" ucap Bella yang juga menginap di sana.


"Paman enggak sedih kok." ucap Kevin tersenyum manis walaupun di paksakan.


"Nah gitu dong senyum!" ucap Bella senang.


Dion melihat mimik palsu sahabatnya yang satu ini merasa geram dengan para manusia di luar sana yng tidak tau terimakasih. Jika Kevin tidak melakukan ini semua maka tubuh mereka akan mengering dan mati karena energi kehidupan mereka di sekitar habis oleh aura hitam tersebut.


'Rasanya aku ingin sekali mengamuk!!' teriak Kong marah besar.


'Kalau kita bisa keluar dari tadi aku sudah mengamuk menghancurkan planet ini!' ucap Kuro berubah ke mode Combat.


'Aku bisa saja membuka portal keluar tetapi aku tidak mau membuat tuan besar marah karena emosi kita yang tidak bisa di kontrol.' ucap Dexter.


'Kita harus menunggu waktunya!' ucap Kong menimbun amarahnya dalam dalam.


Kevin lanjut makan lalu setelah selesai makan dia meminta tolong untuk di antar ke kamarnya untuk istirahat.


"Terimakasih, aku boleh sendiri dulu?" tanya Kevin memohon.


"Nanti sore aku masuk ya." ucap Tasya.


"Ya." jawab Kevin.


Tasya dan Dion keluar kamar meninggalkan Kevin sendirian yang menutup matanya. Bukan tidur tetapi sedang me recovery seluruh bagian tubuhnya ke tingkat kebugaran terbaik.


Sambil menunggu Kevin memilih untuk tidur supaya memaksimalkan elemen kayunya yang sedang melakukan pemulihan tubuh.


Malam harinya


Kevin terbangun karena mendengar jeritan wanita dan anak kecil yang ketakutan di luar. Kevin dengan kondisi tubuh yang sudah pulih langsung keluar dan melihat keadaan di klan.


Terlihat di luar seekor monster banteng yang amat sangat besar sedang melawan titan yang di sumon oleh Tasya.


"Benar benar kacau!" ucap Kevin membuat clone untuk mengevakuasi para warga klan lalu terbang mendekati pertarungan.


'Ashura Susano'o!' ucap Kevin dalam hati.


Woshhhhhh......


Sebuah patung hologram dengan petir emas di setiap sendinya dan ukuran yang benar benar raksasa muncul. Aura keagungan yang di keluarkan nya membuat semua hunter di sana menengok dan merinding.


"Beraninya serangga rendahan sepertimu mengganggu ketenangan klan ku!" teriak Kevin marah.


Kevin menyiksa monster Banteng tersebut hingga mati tanpa adanya perlawanan sedikitpun.


'Thunder Strom!' batin Kevin.


'Duarrr...'


Awalnya hanya satu petir yang menyambar, namun sepersekian detik tiba tiba ratusan petir menyambar seperti hujan membunuh semua monster disana.


10 menit kemudian hujan petir tersebut berhenti dan membuat para hunter lega karena mereka terselamatkan hidup berkat kedatangan Kevin.


Kevin menghilangkan susano'o nya lalu menghampiri Tasya yang sedang di tangani lukanya oleh Demian.


"Aku mungut crystal dulu ya." ucap Riski pergi bersama Rizal memungut crystal yang berceceran.


"Gimana tangannya?" tanya Kevin pada Demian.


"Cuman luka ringan doang, besok dah sembuh inimah." jawab Demian.


"Baguslah kalau gitu." ucap Kevin lega.


Mereka pun kembali ke rumah Virzha dan istirahat setelah capek berperang.


Bersambung.......