Strongest Hunter

Strongest Hunter
Episode 18



"Dom panggil anak itu kesini, kau tau kan kenapa." ucap Kevin tersenyum sinis.


"Baik tuan." jawab pria bertubuh kekar yang di panggil Dom menghampiri anak yang di tunjuk Kevin.


Dom berhasil membawa anak itu ke hadapan Kevin, tersenyum puas Kevin membuka segel yang tertanam pada inti dari elemen petir milik anak itu.


"Arghhhhhhh......" anak itu berteriak kesakitan sangat keras karena seluruh tubuhnya di selimuti petir merah yang sangat mengerikan.


"Mama!!!!!" teriak anak itu sebelum tak sadar kan diri.


Sepasang suami istri datang menghampiri asal teriakan tadi dan memeluk tubuh anak itu sambil menangis.


"Menjauhlah bodoh! kau mau mati tersengat!" ucap Kevin kesal karena prosesnya terhambat.


"Menjauh semua menjauh!!" teriak Virzha ketika melihat para warga klan yang mulai berkumpul mengerumuni rumahnya.


Benar saja, tubuh anak itu melayang di kendalikan oleh elemen petir merah yang sangat marah karena dirinya bertahun-tahun di segel ke dalam tubuh anak cengeng.


"Siapa yang berani menyegel ku hah!!!!" teriak anak itu dengan tubuh di selimut i petir merah.


'Woshhhh....'


"Kau siapa berani berteriak di depan tuanku?" tanya Kevin mendekati anak itu dengan pupil mata yang berubah seperti mata Naga dan tubuh yang di kelilingi petir hitam.


"T-t-tuan b-b-besar maafkan hambamu yang buta ini!" ucap anak itu bersujud meminta ampun.


'Dexter bangs*t! kaget anj*ng!' ucap Kevin kaget tiba tiba jiwanya seperti di tarik sesuatu dengan kasar.


"Kalau sampai kau berani berbuat lancang seperti itu maka jangan salahkan aku kau musnah dari dunia ini." ucap Kevin dingin.


"B-baik tuan besar!" jawab anak itu langsung pingsan.


Kevin kembali seperti biasanya dengan wajah kesalnya.


"Anak kon*ol! kau anak kon*ol! untung gak mati aku as*!" ucap Kevin mengumpati tubuh lemah anak itu karena kesal.


"Maafkan anak saya tuan muda, mohon ampuni kami!" ucap seorang wanita paruh baya bersujud memohon pada Kevin.


"Kakek aku pinjam aula ya, penting ini." ucap Kevin tersenyum senang melihat anak kecil tadi ternyata keluarga anak ber elemen petir merah ini.


"Pakai saja, aku mau makan kue mantuku dulu." ucap Adam masuk kedalam rumah.


"Ikut aku, kalian berdua juga." ucap Kevin pada wanita itu dan Dom serta temannya.


Sesampainya di aula, Kevin langsung menjelaskan apa yang terjadi tadi pada kedua orang tua anak itu dan ayahnya serta kakeknya yang ikut ke dalam aula.


"Singkatnya kekuatan anakmu di segel oleh seseorang yang iri pada bakat alaminya dan terjadilah kejadian tadi. Petir merah yang memiliki jiwanya sendiri murka karena ada yang berani menyegel dia di dalam tubuh anakmu. Jadi di sini aku menawarkan untuk mengangkat kedua anakmu menjadi murid pribadiku, anak ini akan ikut turnamen tiga bulan lagi dan yang satunya akan fokus aku latih elemen Cahaya miliknya." ucap Kevin menjelaskan.


"B-bagaimana kakak tau aku pengguna elemen cahaya?" tanya anak kecil bernama Doni.


Kevin tersenyum dan membuat sebuah jarum dari elemen cahaya di tangannya.


"Karena kita sama." jawab Kevin tersenyum manis.


"Ibu aku mau seperti kakak itu!" ucap Doni semangat.


"Tapi tuan, berapa yang harus kami bayar?" tanya ayah Doni yang bernama Bondan.


"Aku tidak memungut biaya sepeserpun jadi jangan khawatir, oh ya tentang tempat tinggal kalian bisa menempati rumah di dekat jembatan karena sayang jika tidak ada yang pakai, benarkan ayah." ucap Kevin.


"Ya benar sekali." jawab Virzha.


"Terimakasih banyak atas segala bantuannya tuan muda." ucap Ibu Doni yang bernama Kinanti.


"Tidak usah berlebihan begitu, Sen sembuhkan anak ini dan bentuk kembali penampung energinya." ucap Kevin pada bawahannya uang bertubuh lumayan kekar.


"Baik tuan." ucap Sen melinting lengan bajunya lalu memulai proses perbaikannya.


"Perlihatkan padaku apa saja yang sudah kamu kuasai." ucap Kevin menghampiri Doni.


Doni menciptakan beberapa hewan hewan kecil dari cahaya dan yang membuat Kevin terkesan adalah setelah sekian banyaknya binatang yang di buat Doni terlihat tidak kelelahan.


'Mana nya sebanyak itu? mengagumkan.' ucap Kevin tersenyum gembira.


'Benar benar jenius alami!' ucap Kong.


"Sudah sudah, besok pagi kamu dan kakakmu pergi ke aula latihan untuk memulai latihan kita." ucap Kevin mengusap kepala Doni.


"Baik kak!" jawab Doni.


"Panggil guru, tidak sopan." ucap Kinanti menasehati anaknya.


"Ehh guru maksud Doni." ucap Doni mengkoreksi ucapannya tadi.


"Petinggi juga tuan?" tanya Dom.


"Semua, harus lengkap." jawab Kevin pergi keluar aula.


Kevin kembali ke rumah ayahnya untuk pamit pergi sebentar pada Tasya.


"Yang, aku pergi bentar ya, ada urusan mendadak." ucap Kevin pamit.


"Iya hati hati, pulang sebelum makan malam ya!" ucap Tasya dari dapur.


"Oke." jawab Kevin pergi mengendarai mobil nya ke arah selatan.


"Aku harus cepat ciptakan pasukan khusus ku." ucap Kevin menatap tajam ke arah jalanan.


Akhirnya Kevin sampai di sebuah kawasan milik gang The Kings yang menguasai dunia bawah Indonesia. Kevin masuk kedalam gerbang yang tinggi dan tebal setelah dibukakan oleh penjaga.


Kevin melakukan mobilnya ke sebuah rumah yang menjadi tempat persinggahan dia selama menjadi ketua gang ini.


"Sudah datang semua?" tanya Kevin pada orang yang berjaga di depan pintu.


"Tinggal menunggu bos Dom dan bos Sen tuan." jawabnya.


"Baiklah aku masuk dulu." ucap Kevin.


Kevin masuk kedalam ruangannya sambil menunggu kedatangan Dom dan Sen. Setelah 15 menit bengong akhirnya pintu ruangannya di ketika tanda dia orang tadi sudah sampai dan rapat siap di mulai.


Kevin berjalan ke ruang rapat sambil memikirkan rencana selanjutnya.


"Salam pada tuan besar!" ucap 7 orang bertubuh kekar dan sangar.


"Duduk." ucap Kevin duduk di bangkunya.


"Aku kesini bukan tanpa alasan, aku kesini untuk memerintahkan kalian menambah anggota kita dan latihan mereka menjadi pasukan yang siap perang. Mau itu dari jalanan atau dari manapun yang penting pasukan kita bertambah banyak dan kuat, tapi ingat jangan sekali kali merekrut pelajar dan penghianat dari gang lain." ucap Kevin.


"Bagaimana keuangan?" tanya Kevin.


"Lancar tuan, kami juga sudah membuka beberapa bisnis baru untuk memperluas wilayah bisnis kita. Kini keuangan kita sudah lebih dari 400T dengan ratusan hektare lahan di berbagai wilayah." ucap Jhon kepala bendahara.


"Bagus, keamanan wilayah bagaimana?" tanya Kevin.


"Aman sentosa tuanku, kami selalu melakukan penyisiran untuk mengurangi gangster gangster gadungan yang meresahkan masyarakat umum." ucap Doyok.


"Bagus!" ucap Kevin.


Kevin melanjutkan rapatnya membahas kekuatan dan kekuasaannya yang harus segera di perluas lagi. Setelah semua uneg uneg nya tersampaikan Kevin kembali ke rumah ayahnya karena terus di telepon Tasya.


Sesampainya di rumah Kevin langsung di marahi Tasya karena terus menolak panggilannya tadi.


"Sudah sudah, suamimu sepertinya sedang stress nak. Cobalah berbicara lebih tenang dan jangan berteriak-teriak. Lakukan komunikasi yang adem jangan terus memanas, komunikasi yang panas itu menyebabkan tidak adanya solusi." ucap Aurora menasehati Tasya.


"Maafkn aku ibu." ucap Tasya meminta maaf pada Aurora.


"Jangan meminta maaf pada ibu, kamu tidak punya salah dengan ibu. Minta maaflah pada suamimu, tenangkan dia supaya tidak stress. Kami akan tunggu di ruang makan." ucap Aurora pergi.


Tasya langsung memeluk Kevin dengan erat sambil menangis meminta maaf karena selalu teriak jika sedang marah.


"Gak papa udah, aku wajarin kok." ucap Kevin tersenyum.


"Ayang jangan marah ya." ucap Tasya.


"Siapa yang marah, ayok makan ayok." ucap Kevin mengajak Tasya makan malam bersama.


Mereka makan malam dengan ceria karena berbagai cerita menarik di ceritakan di sana. Andi dan Adam juga makan di sana karena rindu suasana yang telah lama tidak mereka rasakan.


[Tuan, mohon jangan terlalu membebani pikiranmu dengan Kiamat Ragnarok dan Kaisar Dewa Iblis yang akan di bangunkan. Kekuatanmu sudah 100% jadi jangan khawatir akan kekuatan musuhmu. Soal istrimu, serahkan saja pada dua penjaga yang kau utus, aku yakin mereka melakukan misinya dengan sempurna]


'Iya bos kau terlalu memikirkan nya, biarkan masalah mengalir seperti t*i di sungai, masalah akan pergi begitu saja jika kau menangani nya dengan santai. Anggap saja masalah di dalam hidupmu itu seperti t*i yang mengalir di sebuah sungai menuju lautan. Jalani hidup dengan santai jangan di buat beban plong in aja bos.' ucap Kong santai sambil minum arak.


'Lagi tinggi nih monyet, tumben lurus pikirannya.' ucap Kuro.


'Kuro kenapa kau memeluk jamur? kau sekarang jadi vegetarian ya?' tanya Kong.


'Bener bener di atas langit dia!' ucap Kuro menepuk jidat.


[Santai saja tuan, jangan di pikirkan. Nikmati hidup jangan kaku, slow aja tuan]


Kevin pun menjadi lebih enakan, hatinya lebih plong dan pikiran nya tidak melulu tentang Ragnarok dan Kaisar Dewa Iblis.


Setelah makan malam Kevin langsung tidur bersama Tasya karena kelelahan memikirkan latihan untuk dua murid pertamanya.


Bersambung......