
Manik amethyst-nya bergulir semangat. Luz tidak pernah menginjakkan kaki ke pasar tradisional dan di sini dia bisa merasakan suasananya yang ramah, obrolan ringan orang-orang disekitar membuatnya cepat akrab dengan lingkungan baru dalam hitungan menit.
Stan-stan jualan bersusun rapi di sisi kanan dan kiri jalan. Semua penjual berusaha menarik pembeli sebanyak-banyaknya untuk membeli setidaknya satu lusin barang dagangan mereka. Semacam kompetisi tersirat antar penjual. Sayang, di antara penjual itu tidak ada satupun yang membuat Luz tertarik untuk singgah.
"Apa tuan ingin mencari perhiasan untuk wanita? Kami menyediakan cincin pertunangan sampai tusuk konde antik di sini."
Dahi Luz mengerut. Pedagang itu jelas melihat ke arahnya tapi ... Luz 'kan perempuan.
Apa mungkin karena penampilannya yang cenderung jauh dari kata feminim? Pakaiannya yang sekarang jelas mencerminkan bahwa dirinya adalah seorang laki-laki menurut abad ini.
"Aku?" ucap Luz sambil menunjuk dirinya sendiri ragu.
"Iya tuan, mari lihat barang-barang saya."
Luz mendekat, menelisik barang-barang yang dijual oleh penjual tersebut. Rata-rata barang yang dijualnya memang sejenis perhiasan mewah seperti gelang safir atau kalung berlian hitam. Jika dia menjual perhiasannya di sini, Luz yakin dia akan mendapatkan harga seadil-adilnya.
Sayangnya, sebelum semua rencana Luz terealisasi seorang pria asing berlari ke arahnya hingga sekantong perhiasan milik Luz jatuh tepat ke tengah jalan. Luz tentu saja syok, tapi tak lama kemudian seseorang dari arah yang sama ikut berlari untuk mengejar si pria pertama sambil berteriak bahwa orang yang dikejarnya adalah pencuri.
Satu hal yang Luz pikir keberuntungan berpihak padanya sebab kantong tersebut sudah diikat kuat jadi tidak ada satupun perhiasan jatuh ke tanah. Dia tidak perlu repot-repot memunguti satu-persatu.
Masalah kedua orang itu Luz tidak terlalu peduli. Dia lebih memprioritaskan perhiasan-perhiasan miliknya yang berharga. Luz selalu berpikir begitu tapi itu terjadi sebelum pasukan berkuda tiba-tiba datang dari arah berlawanan dan menginjak-injak kantong Luz sampai tak berbentuk. Satu-satunya harapan untuk membuat make up telah sirna!
"Hei, kalian tidak boleh pergi. Ganti rugi sekarang juga!"
Pasukan itu begitu cepat, mereka tidak mendengar teriakan Luz yang bagai debu. Tak lama satu orang terakhir yang terlambat berusaha menyusul pasukan di depannya dan yap, bunyi 'krak' kembali terdengar dari dalam kantong.
Atas perbuatannya dan teman-temannya, Luz tidak akan melepaskan orang terakhir ini!
"Tuan Sombong, turun dari kudamu dan ganti rugi atas semua barang-barangku yang kau injak!" Amarah Luz tentu saja meledak. Siapa yang tidak emosi jika dalam sekejap seluruh harta berharganya hancur.
Pria terakhir yang merusak perhiasannya dengan sukarela turun dari kuda. Dia memiliki surai coklat karamel dan tatapan seperti topaz belum di amplas, tajam dan kasar. Tapi bukan Luz namanya jika takut, gadis itu justru berdiri dengan sikap menantang.
"Gra—"
"Aku akan mengurusnya. Kau pulang saja dengan yang lain," jawab pria itu cepat sebelum temannya si surai hitam selesai berbicara.
"Baik, hati-hati," pesannya singkat lalu pergi menggunakan kudanya sesuai perintah si topaz.
"Kau bermasalah denganku, tuan."
Si topaz menoleh lalu mengernyit. "De Cera?"
Luz melotot. Dari mana dia tahu?!
"Aku tidak mengerti apa maksudmu. Sekarang cepat berikan ganti rugi atas hancurnya gelang-gelang milik saudariku!" pinta Luz marah sekaligus menghindar.
Luz berbohong. Gelang itu miliknya tapi jika dia jujur bisa saja orang ini curiga lebih jauh. Sekali lihat saja Luz tahu jika orang ini jelas bukan orang biasa, terlihat sangat teliti dan cenderung hati-hati dalam mengambil setiap langkah. Dia tidak ingin mengambil resiko penyamarannya diketahui oleh orang luar.
"Aku bahkan belum sempat menghitung total barang-barang berharga itu," balas Luz sengit, "Jadi jika Anda ingin membayarnya, saya rasa Anda cukup tahu diri dengan membayarnya sesuai atau lebih dari harga pasaran."
"Masalahnya gelang-gelang mu sudah remuk tak bersisa." Si topaz menunjuk ke arah kantong kempes milik Luz yang teronggok di tengah jalan. "Lagipula itu bukanlah sepenuhnya salahku. Sudah tahu mahal, kenapa kau malah meletakkan barang berharga di tengah jalan saat pasukan berkuda ingin lewat? Ah, jangan-jangan kau sengaja ingin memeras ku, begitu?"
Luz tidak terima jika dirinya dituduh sembarangan, "Aku tidak mungkin melakukan hal semenjijikkan itu!"
Pria itu mengangkat bahu, "Tidak ada yang tahu isi hati manusia."
Geram? Jangan ditanya, saat ini rasanya Luz ingin mencakar-cakar wajah tampannya sampai puas.
"Aku tidak tahu berapa yang harus ku bayar tapi di sini ada sedikit uang." Pria itu mencari-cari kantong di sekitaran tubuh kudanya yang tertutupi jubah besi. Oh, pria itu sebenarnya juga memakai zirah perak yang memukau hanya saja sifat buruknya membuat Luz lupa akan kekaguman itu. Di New York tidak ada lagi orang memakai zirah kesana kemari apalagi sambil mengendarai kuda. Bisa-bisa ditertawakan satu negara dan dianggap orang gila yang tersesat atau jika sedang lucky mungkin akan diikutsertakan dalam sirkus keliling.
Tapi berbeda di sini. Mereka yang menggunakan zirah dianggap seorang terhormat karena tugasnya sebagai wakil negara dan mempertahankan kekuasaan dari serangan negara lain.
Luz memerhatikan pria itu sibuk mencari-cari sesuatu. Saat dia lengah, Luz secepat mungkin mengikatkan sesuatu di balik kaki kudanya yang tertutupi jubah besi.
"Ini, ambil saja semuanya. Hutangku sudah lunas, kan, jadi sampai jumpa." Pria itu menaiki kudanya dan berlalu begitu saja bergegas seolah ada hal paling penting yang harus ia kerjakan tepat waktu.
"Orang kaya memang selalu aneh," cibir Luz sambil menatap sinis ujung jalan yang digunakan pria tadi.
Senyum Luz kembali cerah. Tidak masalah, setidaknya uang ganti sudah berada di tangannya.
Luz berbalik, tapi ia begitu terkejut saat baru menyadari tatapan orang-orang mengarah padanya bak belati siap tusuk. Dia menjadi pusat perhatian, tapi Luz yakin itu bukanlah hal yang merujuk pada sesuatu yang positif.
Padahal Luz hanya menagih haknya, bukan mencuri apalagi menjarah tapi kenapa mereka ... geez, kemenangan selalu berpihak pada orang dengan kehormatan tinggi dan nilai utamanya; tampan.
"Tidak tahu malu!"
"Bisa-bisanya dia bersikap seperti itu!"
"Laki-laki aneh. Sudah penyakitan tapi tidak ingat mati malah meminta-minta tidak jelas!"
Untuk umpatan terakhir Luz melotot kesal. Kulitnya memang terbilang sangat pucat ditambah lagi warna rambutnya yang putih silau saat tertimpa cahaya matahari. Luz maklum karena Odyssey lama memang jarang keluar dari manor house bahkan untuk sekadar jalan-jalan. Tapi penyakitan? Hell, Luz masih sehat bugar. Masih sanggup lari keliling pasar dan adu mulut dengan orang yang mengatainya itu jika perlu.
Dasar, biggest fan!
Tapi peduli apa, wanita-wanita itu tidak tahu apa-apa tentang Luz yang harus hidup mandiri. Daripada membuat keributan lebih besar, ia akhirnya mengalah dan angkat kaki dari pasar.
Setelah menemukan spot yang cocok —di bawah pohon rindang sejuk depan perkebunan— Luz membuka isi kantong yang diberikan pria tadi dengan semangat.
Tapi secepat angin musim gugur yang menyerempet daun kering, begitu juga cepatnya senyum Luz luntur. Ekspektasinya terhadap kantong tersebut sangat besar. Misalnya ratusan keping koin atau benda berharga lain yang tidak sengaja pria itu serahkan padanya. Tapi kembali ke kenyataan bahwa isinya tidak mencerminkan khayalan Luz.
Isinya hanyalah lima koin perak. Mungkin hanya cukup untuk membeli sekantong ceri.
"Bangsawan sialan!" raung Luz frustasi.