Sleeping Beauty Wants The Throne

Sleeping Beauty Wants The Throne
19. Mendapat Suara Bangsawan



"Kenapa diam saja, hah. Biasanya kau jago melawan. Kemana perginya Odyssey yang pemberani?"


Luz terkikik geli saat memperhatikan Ochonner dengan susah payah memerah sebuah kain yang sudah ia celupkan ke dalam air dengan hati yang dongkol. Kemudian dia berdiri, mencecapkan kain setengah basah tersebut ke kulit kepala Luz hingga dia meringis kesakitan.


"Pelan-pelan, stupid!"


"Stupid, stupid. Kepalamu rasanya ingin ku jepit!" Bukannya pelan-pelan, Ochonner justru menekan kepala Luz hingga gadis itu kembali meradang. Jika digambarkan seperti kartun, mungkin hidung Luz sudah mengeluarkan asap.


"Chonner sialan, jika tidak berniat mengobatiku lebih baik tidak usah!" Luz merampas kain basah yang dipegang Ochonner sambil bersungut-sungut. "Saudara menyebalkan. Masuk ke neraka saja, sana!"


Ochonner mengerjap. Jika diingat-ingat, Odyssey rasanya tidak pernah mengumpat sama sekali. Justru gadis itulah yang dihujat banyak orang terutama saat pernikahannya dengan Marquis Galilee yang gagal. Hanya Odyssey. Dia pihak yang disalahkan, dianggap terlalu jelek sampai-sampai diputuskan. Dan berita tentangnya menyebar cepat di ibukota, selama seminggu penuh mereka bergunjing tanpa tahu Odyssey mengalami stress dan bunuh diri.


Tidak ada yang tahu jika Odyssey yang sebenarnya sudah tidak di sini. Luz sendiri pun juga tidak tahu, kemana jiwa wanita itu pergi.


"Hei, apa kau masih bangun atau sudah tidur berdiri?" Odyssey menggoyangkan tangannya di depan wajah Ochonner sampai pria itu kembali ke dunia nyata. Lamunannya buyar. "Ternyata dia benar-benar tidur. Astaga."


"Sebenarnya aku kemari ingin mengajakmu berkeliling Grand Duchy milik Grand Duke." Ia kembali duduk dan berdehem, "Sebelum tahu ibu sedang mengamuk padamu."


"Grand Duchy?"


Ochonner mengangguk. "Tempat kekuasaan Grand Duke, Kota Brighton. Letaknya di sebelah barat laut Sormenia, dibelah oleh Laut Taurus yang pasti tidak pernah bosan dipandang meski berlama-lama."


Luz sangat tertarik.


"Tapi melihat keadaanmu, sepertinya tidak cocok jika aku mengajakmu hari ini."


"Kata siapa!"


Ochonner mengedikkan bahu. "Bukan kata siapa-siapa, tapi ini realita."


"Kau harus mengajakku ke sana." Luz menggoyang-goyangkan tangan Ochonner seperti anak kecil. "Ayolah, Chonner!"


"Ya-ya, kita akan ke sana. Tapi nanti setelah kepalamu sembuh."


"Kenapa begitu?"


"Aku tidak mau mengajak orang sakit, menyusahkan," jawab Ochonner pendek.


Luz menghela napas. Memang bukan waktu yang tepat untuk berjalan-jalan di saat kulit kepalanya seperih ini. Menekan ego, akhirnya dia mengangguk patuh.


"Berjanjilah. Setelah aku sehat, kau akan mengajakku ke sana."


Ochonner mengangguk. "Tentu saja."


Pria itu beranjak dari sofa. "Kalau begitu aku harus pergi sekarang. Jika tidak ada kepentingan lain, lebih baik kunci pintu kamarmu dari dalam. Khawatirnya siapa saja bisa menerkam dirimu lagi," peringat Ochonner dan dari gestur tubuhnya saja Luz tahu bahwa dia benar-benar khawatir.


Luz tersenyum kecil. "Baiklah, Tuan Cerewet."


Tangan Ochonner hampir mendarat di kepala Luz, ingin mengacak-acak rambut kakaknya itu sebelum ingat luka-luka Luz belum nengering. Ochonner kembali menarik tangannya. "Maaf, aku lupa kepalamu sedang bermasalah."


Luz mendengus. "Sudah, keluar saja sana."


Rose tiba-tiba masuk ke dalam kamar, berselisihan dengan Ochonner yang baru saja keluar dengan wajah ditekuk. Wanita itu menunduk hormat. Setelah memastikan Ochonner sudah pergi, dia kembali melangkah cepat menuju nonanya yang duduk santai di sofa.


Duduk santai.


Rose meringis. Apa Luz sudah kehilangan rasa sakit?


"Ada apa, Rose?"


Rose tersadar. "Oh, anu. Itu ... para gentleman sudah menunggu Anda di bawah."


Luz masih belum tertarik. "Untuk apa mereka kemari?"


"Biasanya kunjungan dilakukan pria untuk bisa mengenal calon wanitanya lebih jauh." Rose terkikik. "Dalam artian, mereka ingin melamar Anda."


"Anda tidak boleh membuang kesempatan ini!" ucap Rose menggebu-gebu. "Gentleman itu dulunya mengerubungi Lady Athene setiap bulan. Kini waktunya Anda yang mendapatkan posisi itu!"


"Siapa bilang aku mengabaikan mereka?" Luz tersenyum miring. "Cepat siapkan pakaian yang indah. Kemarin Ochonner membelikan beberapa gaun lagi untukku."


"Baik!"


"Untuk riasan, biarkan aku yang memakainya sendiri."


Luz beranjak lalu duduk di depan meja rias. Ia menyapukan pandangan di atas meja, meraih bedak dan mengaplikasikan benda tersebut ke bagian wajah dengan cara ditepuk-tepuk ringan.


Selanjutnya Luz menggunakan lipstik oranye yang digradasikan dengan warna coral. Karena tidak ada blush on, ia mengambil sedikit warna dari lipstik tersebut untuk memberi kesan berseri di bagian tulang pipi sampai mendekati ke hidung.


Let's solve one by one.


...----------------...


"Anda di sini juga Marquis Galilee?"


Achilles terkekeh saat pertanyaan yang sama lagi-lagi menerpanya. Apa yang salah dari mengunjungi mantan tunangan? Toh, tidak akan ada yang berani melarangnya.


Pria itu duduk di deret kedua paviliun kaca di taman Utara manor Thompsville. Sambil menopang kaki kanan di atas kaki kirinya, dengan santai Achilles of Galilee itu menjawab, "Memangnya kehadiranku sekarang ini sudah mengganggu Anda? Tidak, kan."


Earl of Browndel mendengus. Jelas-jelas kehadiran Galilee cukup mengganggunya secara pria itu pernah menjadi tempat berlabuhnya hati putri kedua de Cera, incaran mereka. Lebih-lebih ia sudah memiliki istri dan kabarnya Marchioness Galilee sedang hamil muda, tapi suami brengseknya ini justru mendekati gadis lain?!


Galilee, satu-satunya pria sudah beristri yang duduk di paviliun bersama bujangan lain. Saat ini.


"Selamat pagi, tuan-tuan terhormat."


Semuanya sontak menoleh saat suara dari sosok wanita yang mereka nanti-nanti sejak tadi akhirnya mengalun merdu. Para gentleman menjawab salam Luz berbondong-bondong, memperhatikan wanita itu dari jauh pun rasanya sudah menjadi anugerah yang luar biasa.


Luz mengenakan gaun bertali sepundak berwarna oranye pastel dengan sarung tangan dan sepatu yang sama. Untuk menghindari sesuatu yang bisa menambah luka di kepalanya, ia mengenakan topi lebar cantik yang cocok dengan penampilannya.


"Saya terkejut saat mendapat berita bahwa Anda semua sudi bertemu dengan saya yang tidak ada apa-apanya ini. Tapi untuk kunjungannya, saya sangat berterima kasih!" ucap Luz sambil tersenyum simpul.


"Tidak masalah, lady. Kecantikan mu yang seperti gula tentu saja mengundang semut-semut untuk datang. Kami tidak masalah menunggumu bersiap-siap walau sampai besok pagi," seloroh Lord Travis, pria yang dikenal mata keranjang dan memiliki misi untuk menikahi wanita paling cantik di Sormenia. Tidak heran di usianya yang ke-tiga puluh dua tahun sang Lord belum memiliki pasangan.


"Sebelumnya, saya meminta maaf karena tidak bisa mengundang Anda sekalian berlama-lama di sini." Luz memulai aktingnya, berekspresi sedih lalu kembali bersuara, "Paling tidak satu jam lagi Anda bisa pergi. Tidak masalah, kan?"


Viscount Axelian terlihat tidak terima, sama saja seperti gentleman lainnya yang langsung mengangguk setuju setelah Viscount Axelian mengeluarkan pertanyaannya "Kenapa seperti itu, lady?"


"Crystal Lady memiliki wewenang yang lebih dari saya. Jika kalian berlama-lama, saya khawatir dia akan menyiksa saya karena kecemburuannya yang berlebih." Luz menunduk, "Saya hanyalah seseorang yang jauh hina dari Crystal Lady. Dia bebas memperlakukan apapun pada saya, dan saya tidak boleh melawan. Apa tuan-tuan sekalian tega jika saya diperlakukan seperti itu?"


"Tidak masalah, lady. Untuk hari ini kami maklum." Earl of Browndel memberikan tatapan teduh. "Tapi lihat saja besok, gelar Crystal Lady akan kami perjuangkan untukmu supaya Lady Athene tidak berani menyentuhmu lagi."


Luz terbelalak, "Apa tuan-tuan bisa?"


"Tentu saja," sahut Lord Avacros. "Seperti dulu, bukankah keberhasilan Lady Athene menjadi Crystal Lady kurang lebih karena campur tangan suara kami?"


"Ya, menggulingkannya itu mudah."


"Jika dia benar-benar berani menyakiti Crystal Lady baru kita, kami tidak akan segan memprotesnya pada Marquis Thompsville."


"Ini semua demi kebaikan bersama. Aku yakin Lady Odyssey tidak akan melakukan hal semenjijikkan itu jika dia yang menjadi Crystal Lady."


Diam-diam Luz tersenyum kecil. Jika semua bangsawan yang berada di sini mendukungnya, tak mustahil mereka ikut mengajak bangsawan lain untuk mendukung Odyssey.


Rencananya untuk mendapat pengakuan dari kaum bangsawan sudah berhasil, juga perkamen kuning sebagai bukti masih aman di tangan Grand Duke. Tinggal beberapa persen lagi, gelar itu akan mudah berpindah ke tangannya.


Luz akan merebut. Tidak atau dengan kerelaan Athene. Karena dengan mengambil gelar penting itu, Athene akan tersiksa.


Katakan saja Luz psikopat. Tapi, menyiksa psikis seseorang jauh lebih memuaskan dibanding menyiksa fisiknya.