Sleeping Beauty Wants The Throne

Sleeping Beauty Wants The Throne
43. Tunggu Aku Kembali, Jangan Rindu!



Sudah kotak yang kedelapan belas. Luz menghela napas sehingga asap-asap putih berhembus dari bibirnya. Sesuai prediksi, hari ini salju mulai berjatuhan dari atas langit. Pagi hari masih terasa seperti malam, gelap gulita dan tentu saja dingin.


Sekali lagi wanita bersurai putih itu mengeratkan mantel yang ia pakai. Berbalik, menyaksikan ekspresi senang bukan kepalang dari rakyat Brighton setelah menerima pekerjaan mereka. Untuk percobaan pertama, Luz hanya mengizinkan orang dewasa yang ikut bergabung bersamanya. Selain karena cuaca yang sangat dingin, dia tidak ingin mengambil resiko tak terduga jika anak-anak ikut serta.


Jason Alexandre selaku ketua perdagangan mendekat ke arah Luz. Sejenak ia kembali melirik ke arah orang-orang yang berkerumun. "Milady, saya melihat berkotak-kotak riasan berada di dekat dermaga. Apa Anda ingin mencoba menjualnya ke luar Sormenia?"


Luz mengangguk, "Rencananya begitu," ujarnya gamang. "Aku belum meminta izin kepada Grand Duke. Walau bagaimanapun, bisnis yang aku miliki ini masih berada di wilayahnya."


Jason mengerti. "Apa saya perlu membantu Anda dengan meminta izin kepada Grand Duke?"


"Aku saja!"


Mendengar jawaban Luz yang luar biasa cepat tentu membuat Jason sedikit terkejut.


"Maksudku ... setelah ini aku akan bertemu Grand Duke jadi tidak perlu repot-repot," sambung Luz dengan senyum se-kaku papan.


"Baik, milady." Jason menunduk hormat. "Jika ada suatu masalah, tolong hubungi saya."


Luz mengangguk kaku setelah itu Jason beranjak meninggalkannya untuk membantu rakyat yang masih bingung dengan cara penjualan produk. Luz menghela napas panjang. Tidak buta, wanita itu tahu bahwa sikapnya pada Grand Duke akhir-akhir ini perlahan agak berubah.


Tapi ... Ya, Luz memang sedikit merindukannya, terakhir pria itu mengantarkannya ke toko dan jika dihitung-hitung ... kira-kira sudah tiga hari mereka tidak bertemu.


Hei, Luz. Apa yang kau pikirkan?!


Refleks Luz menepuk kepalanya sendiri lalu meringis. Sialan, jika tahu keadaan hatinya akan berbalik seperti ini, sudah jauh-jauh hari Luz akan menghindari Grand Duke.


"sedang pusing, Crystal Lady?"


Luz menoleh lalu melotot, "Grand Duke, kenapa kau ada di sini?!"


"Di sini tempat umum, memangnya ada yang salah?" tanya Alastair terheran-heran. "Ah, ya. Sekalian aku ingin mengucapkan terima kasih. Ide kreatif mu ternyata sangat membantu pekerjaanku."


"Aku pun juga. Terima kasih, Grand Duke. Jika kau tidak menawarkan pekerjaan di sini mungkin sampai hari ini aku sudah mati kebosanan di dalam manor house."


Alastair tersenyum mengejek, "Berlebihan."


Luz mengedikkan bahu. "Well, aku wanita bebas. Duduk manis di dalam rumah sambil menunggu suami pulang sama sekali bukan tipikal diriku."


Alastair terdiam. Tiba-tiba dia kembali melemparkan pertanyaan. "Apa pekerjaanmu sudah selesai?"


"Kotak terakhir sudah dikirimkan." Luz menunjuk beberapa tumpuk kotak yang akan diantarkan ke dermaga. Walau barangnya terbatas, tapi Luz ingin melihat sejauh mana antusias orang-orang terhadap produk barunya. "Ada apa?"


"Ikut aku."


Alastair menarik pergelangan tangan Luz menjauhi kerumunan yang masih sibuk berbincang-bincang. Beberapa orang menyadari kedekatan mereka lalu berbisik pelan. Mungkin sebentar lagi gosip tentang hubungan Grand Duke dan Crystal Lady akan merebak di kalangan sosialita.


Luz memperhatikan tangannya yang saling bertautan. Dulu saat mereka awal bertemu, Grand Duke tidak nyaman dengan kondisi yang seperti ini. Dia tidak suka bersentuhan. Tapi sekarang justru pria ini yang menarik tangannya lebih dulu.


"Kau punya hutang penjelasan padaku."


Luz mendongak, merasa dihakimi saat Alastair berdiri menjulang di depannya yang duduk di atas bangku kecil di sudut toko.


"Penjelasan apa, tidak ada yang perlu dijelaskan," sahut Luz lalu berusaha berdiri.


"Ingin kabur, hm?" Alastair menunduk, kedua tangannya mengunci ruang gerak Luz hingga wanita itu mau tidak mau harus kembali duduk dengan tatapan yang saling bertabrakan.


"Siapa dan dari mana kau berasal."


Pertanyaan Grand Duke terdengar mudah, tapi tidak bagi Luz. Ia menatap manik topaz itu semakin dalam dan menimbang-nimbang, antara memberitahunya atau tidak.


"Bukankah kau sudah tahu siapa aku?"


"Aku membutuhkan jawaban yang detail, Love."


Luz rasanya hampir tersedak. Dia hanya memanggil nama aslimu, Luz. Tidak ada maksud apa-apa, ujar hatinya merutuk.


"Untuk apa kau tahu?" tantang Luz dengan alis terangkat dan tangan yang dilipat di depan dada. "Dunia tempatku berasal tidak ada hubungannya denganmu, Your Grace."


"Kenapa?"


"Karena aku calon suamimu."


"Sialan!"


"Mulut ini lancang sekali." Alastair memperhatikan bibir Luz dengan tatapan kesal. "Lain kali akan kuberikan hukuman jika kau kembali mengumpat."


"Grand Duke, lepaskan tanganmu." Luz berusaha keras agar tangan Alastair yang mengunci di sampingnya bisa terlepas. "Orang yang kita seperti ini bisa salah paham."


"Biarkan saja mereka salah paham. Lagipula salah paham mereka tidak mengurangi uangmu juga, kan?"


"Bukan masalah uang, tapi reputasi ku dipertaruhkan." Luz menatapnya kesal lalu memperhatikan keadaan sekitar dengan awas. Semoga tidak ada orang yang lewat di dekat sini.


"Aku tinggal di New York, Amerika Serikat yang bekerja sebagai senior make up artist. Gaji hampir ratusan juta perhari, sering muncul di talk show dan memiliki calon suami yang sialnya tidak sengaja ku tinggalkan dengan tiba-tiba tinggal di sini, puas?"


"Bagaimana cara mu sampai ke sini?"


Kemudian penjelasan Luz mengalir cepat dan dia memutuskan untuk berkata sejujur-jujurnya tanpa menutupi apapun. Kadang Alastair menampilkan ekspresi sebal, lalu tersenyum maklum dan mengerti.


Sampai dia melayangkan sebuah pertanyaan yang membuat Luz kelu.


"Love, jawab aku sesuai isi hatimu. Apa kau masih ... mencintai calon suamimu itu?"


Luz mengenal Erickson yang notabenenya calon suaminya di New York itu bukan sehari dua hari tapi belasan tahun. Dan dalam belasan tahun tersebut, sudah banyak momen yang membuat hati kecilnya meletup bahagia. Merasa dibutuhkan, dihargai, dan Erickson pun serius dalam hubungan mereka.


Tapi semenjak mengenal Grand Duke ... semua perasaan belasan tahun itu perlahan sirna. Luz memang belum mengenal Alastair sepenuhnya akan tetapi rasa aman dan nyaman kadang menyuruhnya untuk tetap bersama pria ini.


Apakah Luz salah?


"Aku ..."


"Grand Duke, tolong saya!"


Luz maupun Alastair sama-sama menoleh ke arah jalan kecil yang berada di samping toko lalu mereka sama-sama berdiri. Seorang wanita pertengahan tiga puluh tahun terlihat panik, wajahnya memucat lalu berlari mendekat.


"Grand Duke, putra saya belum kembali sejak tiga hari yang lalu," ujarnya dengan air mata yang hampir menetes. "Apa yang bisa saya lakukan sekarang. Teman-temannya bahkan tidak tahu kemana dia pergi."


"Apa putramu sempat bercerita akan pergi ke mana?"


"Terakhir kali dia meminta izin pergi ke pasar," ucapnya frustasi. "Setelah itu tidak ada kabar."


Alastair tiba-tiba teringat akan barang-barang aneh yang tidak bisa dibuka seperti laporan Duke of Lancess sebutkan tempo hari. Apa mungkin ....


"Aku akan menyelidikinya, jangan khawatir." Tangis wanita tersebut pecah hingga Luz prihatin dan membantu menangkannya. "Pulang dan tenangkan lah dirimu."


"Saya percaya kepada Grand Duke." Wanita itu mengusap sudut matanya yang basah. "Dan juga Crystal Lady. Saya harap kalian bisa memimpin kami. Sudah banyak anak yang hilang dan tidak ada yang tahu di mana mereka sekarang."


Sesuai perintah Alastair, wanita tersebut berbalik pergi menuju rumahnya masih dengan perasaan khawatir. Luz menatap sendu punggung ringkih yang semakin menjauh itu. Walau belum pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu, tapi sebagai seorang wanita, dirinya juga merasakan penderitaan yang sama.


"Maaf, Love. Kali ini aku tidak bisa mengantarmu kembali ke mansion. Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan dengan Duke of Lancess jadi aku harus pergi sekarang."


"Tidak masalah, aku mengerti kondisinya." Luz tersenyum tipis. "Apa aku perlu mengatakan pada rakyatmu agar tetap di rumah saja sampai keadaan kembali normal?"


"Ide bagus." Alastair menepuk pundaknya pelan. "Untuk sementara, aku mempercayakan Brighton padamu, calon istri."


"Omong kosong!"


"Aku serius. Mau bukti?" Secepat kilat Alastair mencuri ciuman di pipi Luz lalu berlari sebelum wanita putih itu mengamuk. Dari jauh dia menampilkan senyum lebar. "Tunggu aku kembali, jangan rindu!"


"Alastair bodoh!" umpat Luz memanggilnya tanpa sebutan Grand Duke seperti biasanya.


Perlahan senyum Luz terbit lalu ia memegang pipinya sendiri.


Ah, sudah jelas. Selain buruk untuk kesehatan jantung, Grand Duke juga tidak baik untuk kewarasannya yang semakin minim.