Sleeping Beauty Wants The Throne

Sleeping Beauty Wants The Throne
6. Sebuah Rencana untuk Mendepak Orang Bodoh



"Apa kau masih ingat kenapa kau tidak sadarkan diri, Odys?"


Luz menggoyang-goyangkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan sambil menyanyikan lagu kesukaannya di dalam hati. Ah sayang sekali Luz tidak bisa mendengarkan lagu itu lagi. Tidak ada musik, tidak ada karaoke, apalagi konser. Mungkin kedepannya hidup Luz akan monoton dan membosankan.


"Odys?"


"Aku tidak tahu," jawabnya jujur. "Mungkin jika kau berkenan menceritakannya—"


"Kau bunuh diri karena Marquis Galilee membatalkan pernikahan kalian dan memilih menikah dengan wanita lain."


Jadi si Odyssey ini mati karena ditolak?


Sontak tawa Luz meledak seolah mendengar lelucon paling konyol di hidupnya. Ditolak? Pft, padahal ada bermiliar-miliar lelaki di muka bumi ini dan tentu berjuta-juta orang jauh lebih baik dibandingkan siapa tadi ... si Gali Gali. Oh, Galilee tapi kenapa Odyssey justru menyelesaikan masalahnya dengan bunuh diri?


Jadi ini maksud Rose tadi pagi. Odyssey terkenal karena dia ditolak oleh mempelai pria. Ditolak saat sudah berstatus tunangan merupakan sebuah aib bagi wanita di era ini. Kasihan. Pasti orang-orang mengenalnya sebagai 'Gadis malang yang ditolak oleh satu-satunya pria yang mau menikah dengan dirinya.'


Reaksi Luz barusan jauh dari bayangan Marchioness. Odyssey yang dia kenal tidak pernah tertawa meremehkan seperti itu apalagi jika berhadapan dengan dirinya. Odyssey akan menciut, bahkan menatap balik matanya pun tidak pernah. Sekarang Marchioness makin yakin bahwa Odyssey memang hilang ingatan.


Tidak perlu dokter untuk mendiagnosis Odyssey. Marchioness bisa melakukannya sendiri daripada membuang-buang pundi uang Thompsville.


"Kau pasti memerlukan istirahat yang lebih banyak, aku sepertinya terlalu memaksakan kehendak ku sendiri dengan menyuruhmu kemari padahal kau baru bangun," ucap Marchioness seolah merasa bersalah. Tapi memang sifatnya seperti itu, berbeda antara isi hati dan ucapan yang ia lontarkan.


"Aku memang perlu istirahat tapi kita belum membicarakan hal yang lebih penting."


"Oh ya, apa itu?"


"Riasan yang ku minta. Kapan barang-barang itu sampai di kamarku?"


"Mengenai riasan, aku memiliki inisiatif lain."


"Katakan."


"Aku tertarik dengan tawaran mu saat makan malam tadi. Jadi begini, aku memperbolehkan mu pergi kemana saja dan melakukan apapun dalam kurun waktu sebulan untuk membuktikan diri apakah kau memang pantas menjadi anggota keluarga bangsawan de Cera atau tidak. Konsekuensi dari tawaran ini sangat besar, jika kau terbukti melakukan sedikit saja kesalahan dan mempermalukan nama keluarga di luar sana, maka siap-siaplah angkat kaki dari manor house. Bagaimana?"


"Bagaimana jika aku berhasil?"


"Posisi Athene sebagai Crystal Lady, lambang keluarga de Cera akan digantikan oleh dirimu."


Puas rasanya jika Luz bisa melihat Athene menangis meraung-raung saat gelar istimewanya di ambil. Kenapa dirinya tidak mencoba?


"Setuju," jawab Luz mantap. Ia suka tantangan.


"Baik, jadi kembali ke topik awal. Karena dalam satu bulan kau dibebaskan dari aturan manor house, maka urusan perhiasan, riasan, bahkan pakaian akan diserahkan bulat-bulat kepada dirimu sendiri," jawab Marchioness tersenyum manis.


Rahang Luz rasanya hampir jatuh. Apa Marchioness sengaja membuatnya seperti pengemis tanpa modal apapun? Dia tidak memiliki pekerjaan atau uang di dunia barunya ini dan ... geez, si Marchioness jelas ingin membuat masalah dengan dirinya.


"Kenapa? Apa kau keberatan?"


"Sedikit tidak adil tapi aku tidak masalah sama sekali," ucap Luz pada akhirnya.


"Baiklah waktumu dimulai dari besok." Marchioness tampak menulis sesuatu di sebuah perkamen lalu menyerahkannya pada Luz.


"Di sini tertera semua poin-poin perjanjian kita dari perizinan keluar dari manor house Thompsville sampai sebulan dan juga bukti cap stempel de Cera di ujungnya beserta namaku. Ku rasa sudah selesai, kau bisa pergi."


"Bolehkah aku meminta sesuatu?"


"Aku tidak ingin langsung diusir keluar jadi biarkan aku tinggal di manor house sesekali jika ada kesempatan," ucap Luz telak.


Marchioness rasa putri keduanya ini jelas bukan orang yang sama. Mata sang Marchioness sempat bergetar, memancarkan keraguan sambil sesekali melirik perkamen yang baru diserahkannya.


Apa tindakannya kali ini benar?


Dia menelisik jauh manik amethyst yang sama dengan manik suaminya itu. Seolah ada sesuatu yang berbeda dari Odyssey. Sesuatu yang mencakup segala aspek tapi perubahan itu berasal dari mana, Marchioness juga tidak mengerti.


"Jika itu mau mu pintu manor house Thompsville selalu terbuka kapan saja."


"Baguslah sekarang biarkan aku menyelesaikan sisanya." Luz beranjak dari sofa perak milik Marchioness tak lupa ia membawa perkamen kuning perjanjian mereka.


"Aku permisi dulu. Terima kasih atas waktunya."


Kemudian seperti biasa Luz langsung berbalik dan hilang di balik pintu dengan santai seolah tidak ada beban apapun.


Marchioness sekarang bisa bernapas lega. Dia yakin seratus persen bahwa gadis lemah itu tidak akan bisa bertahan lama hidup di luar sana. Paling tidak dia akan menjadi wanita pecundang yang dibuang atau syukur-syukur dia diculik atau dijadikan budak sehingga tidak perlu lagi bagi de Cera lainnya untuk melihat gadis itu di dalam manor house. Marchioness tidak peduli bagaimana pun caranya asal Odyssey pergi dari de Cera atau lebih baik lagi keluar dari Sormenia.


Ramalan buruk tentang Odyssey akan terjadi pada saat usia gadis itu mencapai sembilan belas tahun. Sebelum hari itu tiba, setidaknya Odyssey sudah harus pergi dari manor house Thompsville secepat mungkin.


Odyssey adalah kutukan, dan Marchioness tidak ingin kutukan itu menjangkiti seisi manor house Thompsville jika ia masih tinggal di atap yang sama dengan de Cera lain.


...----------------...


"Eum, pakaian sederhana saja sepertinya lebih baik lalu ... Ah, sepertinya sepasang sepatu saja juga sudah cukup."


"Nona, apa yang Anda lakukan?!"


Rose merasa sangat syok saat melihat nona mudanya masuk kamar lalu tiba-tiba mengeluarkan buntalan kain dan memasukkan sebuah kemeja katun, celana panjang, dan sepasang sepatu boots ke dalamnya. Apa dia berfikir untuk kabur? Oh, ya Tuhan, setelah percobaan bunuh diri, kali ini apalagi yang akan nonanya coba.


"Apa ini ada hubungannya dengan Marchioness? Nona, tolong katakan sesuatu!" tanya Rose lagi frustasi.


"Rose, daripada kau bertanya yang tidak penting lebih baik kau membantuku bersiap-siap," balas Luz sibuk.


"Tapi Anda mau pergi ke mana!"


"Terserah."


"Bagaimana Anda bisa mengatakan hal seperti itu dengan mudah?" Rose tidak habis pikir. "Selama ini anda tidak pernah keluar dari manor kecuali jika ada undangan yang kadang datang enam bulan sekali dan itupun belum pasti. Bagaimana Anda bisa berpikir bertahan hidup sendirian di luar sana?!"


"Kau meremehkan ku?" nada bicara Luz terdengar kesal.


"Saya berkata seperti ini demi kebaikan nona!"


Luz terdiam. Memang benar sejak kedatangannya di sini hanya Rose yang betul-betul peduli pada dirinya. Wanita muda ini tidak munafik, dia kadang terlihat begitu polos dan murni melayani Odyssey sampai sanggup bertahan tujuh tahun padahal jarang ada orang yang sanggup bekerja sebagai pelayan dari anak terbuang seperti dirinya.


"Mau ikut bersamaku, Rose?" tanya Luz pada akhirnya.


"Apa boleh?"


"Siapa yang melarang?"


"Baik, saya ikut!"