
Tadi malam sesuai rencana, Luz pulang lebih dulu setelah berdansa dua lagu bersama Putra Mahkota hingga menimbulkan decak kecewa dari barisan pria bujang saat melihat kereta kuda miliknya menembus malam, menjauh dari bangunan megah itu. Sebelumnya dia sudah mengatakan pada Putra Mahkota bahwa dirinya lelah, dan pria itu memaklumi bahkan mengantarkan Luz sampai gerbang depan.
Nilai plus Evandre la Empyrean meningkat. Bagi Luz, Putra Mahkota sungguh pria yang pengertian. Dia dengan senang hati mengizinkan Luz melakukan apapun untuk posisi putri mahkota tanpa meminta bantuannya. Luz tidak ingin menginjakkan kaki di istana dengan hasil curang apalagi jika sampai meminta bantuan kepada seseorang yang bertangan besi.
Seperti pagi ini misalnya. Akhir musim semi sudah tiba. Beberapa pohon tua sudah mulai menjatuhkan helai demi helai daunnya yang coklat hingga menutupi setengah jalan. Luz sibuk membaca buku dengan Rose yang berdiri di sampingnya. Ah, omong-omong lengan Rose mulai membaik pasca terjatuh dari tembok manor house beberapa hari yang lalu. Dan ya, akibat kejadian tersebut ketakutannya terhadap ketinggian semakin besar.
Ruang utama masih sepi. Luz mengedarkan pandangannya dan tidak mendapati satupun anggota keluarga de Cera yang melintas. Dia menoleh kepada Rose. "Duduk di sini saja, Rose," pintanya ramah lalu menepuk sofa di sebelahnya.
Rose meringis, "Marquis Thompsville akan sangat marah jika tahu sofa mahal miliknya diduduki oleh pelayan rendah seperti saya."
"Kau temanku, bukan pelayan," sanggah Luz keras pada pendiriannya. "Ke mari. Aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu."
Sebelum Rose sempat menjawab, Maida pelayan Athene datang dari arah luar dengan wajah cerah. Ia berlari ke atas, bahkan memberi hormat kepada Luz pun dia tidak sempat.
"Dia kenapa?"
Rose menggeleng heran.
Baik Luz maupun Rose mereka masih betah menatap ujung tangga tempat menghilangnya sosok Maida ditelan sekat bangunan. Tapi tak lama Athene muncul, memakai gaun oranye menyala dengan gincu warna senada sedang menatap sinis Luz yang memperhatikan kelakuan anehnya.
"Kenapa menatapku begitu. Pasti kau merasa iri karena Grand Duke mau bertemu denganku, kan?" Athene tertawa puas lalu kembali menyombongkan diri. "Penggemarku banyak. Tidak seperti orang aneh yang bangga hanya karena berdansa dengan Putra Mahkota kemarin malam."
Luz sekarang mengerti. Grand Duke of Brighton berarti sedang berkunjung ke mari entah untuk apa. Tanpa mendengar ocehan panjang lebar Athene, Luz hanya mendengus kemudian lanjut membaca bukunya.
Membalas perkataan Athene sama seperti berbicara dengan batu. Sia-sia.
Athene geram tapi dia tidak punya waktu untuk itu. Sambil menghentak-hentakkan kaki, ia pergi dari sana menuju pintu utama manor house yang masih tertutup rapat. Dari balik buku diam-diam Luz melihat pergerakannya. Athene membukakan pintu dan benar saja, seorang pria berpakaian gelap tengah berdiri di depan pintu namun wajahnya tidak tampak begitu jelas karena ia membelakangi cahaya masuk. Sementara itu Athene menatapnya berbinar.
"Selamat pagi, lady."
"Selamat pagi, Grand Duke. Cuaca sangat cerah di luar, apa yang membuat Anda datang kemari?" Tanpa malu-malu Athene tersenyum lebar. "Anda ingin menemui ku, kan?"
Athene adalah salah satu putri bangsawan yang dihindari Alastair karena keagresifan-nya. Pria itu tersenyum, tapi guratnya tidak sampai ke mata. "Sebenarnya aku kemari untuk menemui Lady de Cera. Apa dia ada di manor?"
Tubuh Athene sontak membeku. Senyumnya perlahan luntur, tapi dia masih berusaha menggoda sang Grand Duke.
"Untuk apa Anda mencari wanita rendahan sementara ada yang spesial di sini?" Dia melirik ke belakang, takut jika Odyssey mendengar ucapan Grand Duke lalu mengejeknya. "Odyssey tidak lebih baik daripada aku."
"Maaf tapi aku tidak ada hubungannya dengan Anda," jawab Alastair muak. "Bisakah Anda panggilkan Lady de Cera?"
Tanpa berbicara apa-apa, Athene berbalik masuk menghiraukan sang Grand Duke yang kebingungan. Dijelaskan baik-baik salah, dijelaskan dengan tegas juga salah. Wanita memang aneh, tidak bisa ditebak.
Saat melewati Luz yang duduk santai sambil tersenyum di sofa utama, amarah Athene semakin memuncak. Dia hampir naik ke atas sesaat sebelum Luz memberikan ucapan yang menohok hatinya.
"Lain kali kontrol rasa percaya dirimu yang over narsis itu, Crystal Lady. Lihat, siapa yang akhirnya malu sendiri?"
"Aku akan membalasmu!" Athene pergi dengan wajah yang memerah. Kemarin Putra Mahkota dan sekarang Grand Duke, bagaimana bisa Luz mendapatkan keduanya?
Athene tidak bisa diam. Dia harus mengadukan hal ini kepada Marchioness.
"Letakkan kembali buku-buku ini, Rose." Luz menyerahkan semua bukunya untuk disimpan.
Rose mengangguk lalu tersenyum jahil. "Semangat, lady. Grand Duke sepertinya tertarik pada Anda."
"Ku rasa bukan seperti itu." Intuisi Luz mengatakan bahwa sang Grand Duke memiliki urusan lain. Tapi jika dipikir-pikir, mereka tidak saling mengenal, kan. "Siapkan minuman dan camilan untuk tamu kita."
"Baik, milady."
Luz berjalan menghampiri Grand Duke yang masih berdiri di depan pintu. Si kristal itu merutuki Athene, padahal Grand Duke adalah tamu mereka tapi kenapa Athene justru tidak mempersilahkan sang terhormat masuk?
"Grand Duke Brighton, sil—"
Luz melotot syok, menatap Alastair dari atas kebawah dengan tatapan menilai. Apa benar dia Grand Duke yang itu? Yang baru saja mendapatkan gelar istimewa dari raja?
Namun secepat mungkin ia mengembalikan ekspresi wajahnya. Luz berdehem canggung, lalu menggeser tubuh. "S-silahkan masuk."
Grand Duke of Brighton itu mengangguk lalu mengikuti langkah Luz menuju sofa besar yang diletakkan di tengah-tengah ruangan. Jubah hitam berukir miliknya memberikan kesan wibawa yang kuat, tapi Luz tidak akan gentar hanya karena itu. Dia akan tetap menagih hutang Grand Duke sampai ke ujung dunia, titik.
Luz berdecak. Ya Tuhan, coba lihat betapa kikirnya orang ini sampai-sampai tega memberikan uang ganti rugi sebesar lima keping perak!
"Aku akan memanggil Ochonner dulu, Anda tidak keberatan, kan, jika menunggu sebentar?" Luz sudah hampir beranjak sebelum Alastair menjawab.
"Aku ke mari bukan untuk bertemu Ochonner," jawab Alastair.
"Oh ya, lalu untuk Marquis Thompsville?"
"Bukan juga. Aku ingin kita bicara berdua."
Luz terdiam. Pelayan yang mayoritas mengabdi untuk Marchioness selalu hilir mudik di sekitar ruang utama. Pasti tidak aman jika membicarakan hal yang bersifat rahasia di sini. Perkamen, ya, pasti benda itu. Grand Duke pasti ingin memprotes dirinya karena surat sepenting itu tanpa pikir panjang diikat di kaki kudanya waktu di pasar hari itu.
"Bagaimana jika kita bicara di balkon saja, Your Grace?"
Alastair mengangguk. "Tidak masalah."
Luz menjauh diikuti sang Grand Duke di belakangnya. Mereka naik ke lantai empat, tempat di mana pemandangan paling indah di Sormenia bisa dilihat dari sini. Burung-burung yang biasanya terlihat jauh, bisa dilihat dari jarak dekat bahkan pelangi pun tampak sangat menawan dengan setengah lingkaran penuh warna-warninya.
"Jadi?"
Alastair sempat tidak bersuara. Matanya masih terarah jauh ke bawah sana. "Untuk apa Anda meletakkan sebuah perkamen penting di kaki kuda ku?"
"Sangat terus terang." Luz tertawa kecil lalu menyeruput tehnya sedikit. "Apa Anda tidak mau sedikit berbasa-basi denganku, Grand Duke?"
"Aku memerlukan jawaban cepat."
"Yah, mau bagaimana lagi. Keadaan memaksaku untuk melakukannya hari itu. Tapi ... Anda masih menyimpannya, kan?" tanya Luz penuh harap. "Oh, saya baru mengenali Anda, Grand Duke. Waktu itu Anda baru kembali berperang, kan, apa Anda ingat?'
Alastair mengangguk. "Perkamennya ada di rumahku," jawabnya sebelum kembali menatap Luz sinis. "Aku juga baru mengenalmu. Caramu boleh juga, tapi tolong jangan ubah topik pembicaraan kita."
Luz mendesah lelah. Grand Duke tidak bisa dimanipulasi, dia berpendirian dan tegas. Sampai mendapatkan jawaban, dia mungkin tidak akan menyerah. Tipikal manusia dengan ke-kepoan tingkat tinggi, mungkin jika di New York Grand Duke bisa menjadi CEO.
"Itu berisi perjanjian ku dengan Marchioness tentang gelar Crystal Lady."
"Hanya itu?"
"Yap. Dia bisa mendapatkannya kapan saja jika aku meletakkan perkamen itu di dalam manor. Di sana tertulis banyak hak yang bisa ku peroleh jika mampu membawa nama baik untuk de Cera. Tolong simpan saja sebentar sampai aku mengambilnya lagi, Grand Duke."
"Lalu kenapa Anda menyembunyikannya padaku?"
"Itu namanya firasat." Luz membalasnya dengan senyum lebar, seolah ngobrol dengan seorang teman lama. "Aku merasa kita akan bertemu lagi, dalam waktu dekat."
Alastair mengernyit. "Atas dasar apa firasat seperti itu?"
"Atas hutang Anda tentu saja."
Alastair hampir tersedak saat Luz mengucapkannya tanpa beban.
"Ada yang salah?"
Alastair menggeleng. Ha, mengorek maksud dari Odyssey sepertinya tidak semudah yang Alastair kira.
"Tapi, Grand Duke." Luz menjeda, kemudian tersenyum lembut. "Mohon rahasiakan perkamen itu pada siapapun termasuk Ochonner."
"Kenapa aku harus melakukannya?"
"Keberhasilanku berada di tanganmu." Luz menghela napas lalu menyentuh punggung tangan Alastair di atas meja. Pria itu tersentak, berbeda dengan Luz yang biasa saja dalam kontak fisik selama di New York, Alastair yang notabenenya selalu sibuk menangani urusan perang hampir tidak pernah menyentuh perempuan dalam hidupnya.
"B-baik. Secepatnya ambil benda itu sebelum aku buang." Grand Duke berdiri canggung sambil berdehem. "Terima kasih atas waktumu, Lady de Cera. Kalau begitu aku permisi."
"Tunggu!"
Alastair berbalik, ia menaikkan sebelah alisnya.
"Bolehkah aku meminta tolong?"