
"Kaisar Alastair Ephraim la Empyrean, bersediakah Anda membagi hidup bersama Brietta Odyssey de Cera, berjanji menjadi pasangan sehidup semati, selalu ada di saat suka maupun duka, dan saling setia sampai maut memisahkan?"
Suasana hening, semua orang menunggu jawaban Alastair atas pertanyaan pimpinan kuil.
"Aku bersedia."
Sang pimpinan kuil tersebut menoleh lagi ke arah Luz. "Crystal Lady, Brietta Odyssey de Cera, bersediakah Anda membagi hidup bersama Kaisar Alastair Ephraim la Empyrean, berjanji menjadi pasangan sehidup semati, selalu ada di saat suka maupun duka, dan saling setia sampai maut memisahkan?"
"Bersedia."
"Sekarang Anda berdua resmi menjadi pasangan suami istri."
Usai sang pimpinan mengatakan hal tersebut, riuh yang berasal dari luar terdengar sampai ke dalam aula istana. Rakyat menyambut kaisar dan permaisuri pertama mereka dengan suka cita, tangis bahagia tidak dapat dibendung oleh beberapa orang yang terbawa suasana.
Alastair menyatukan bibir mereka, membawa Luz terbang dalam beberapa saat sampai gadis itu kembali sadar dan menarik diri. Jangan lupakan, wajahnya akan selalu memerah jika Alastair melakukan hal demikian.
Alastair terkekeh, "Kenapa, apa kau masih malu, istriku?"
Luz menggeleng, tampak kontras dengan wajahnya yang merona merah. "Ini di depan umum, Alastair!"
"Aku hanya ingin menunjukkan kepada dunia bahwa kita benar-benar pasangan yang paling bahagia." Alastair menarik Luz ke dalam pelukannya, mengelus lembut surai putih Luz penuh kasih sayang. "Lain kali, aku akan mengajarimu cara agar tidak malu-malu lagi."
"Oh ya, bukankah yang sering malu-malu itu Anda, Yang Mulia Kaisar?"
"Aku tidak tahu. Memangnya kapan aku pernah malu-malu?"
"Jika sudah lupa, akan ku ingatkan kembali. Dulu saat aku memegang tanganmu saja bukankah kau sudah salah tingkah," balas Luz sengit.
"Itu dulu."
"Sekarang?"
"Rasa malu-malu itu sudah digantikan dengan rasa lain."
"Wow, rasa apa itu?"
"Rasa cinta," jawab Alastair ringan dengan senyum yang mengembang di bibir. Luz yang melihatnya lagi-lagi tersipu. Ditambah dengan pakaian pengantinnya, Alastair terlihat semakin ... er—luar biasa.
"Ekhem."
Merasa diganggu, mereka berdua sontak menoleh ke arah pimpinan kuil yang berdehem canggung. Merasa seperti obat nyamuk diantara sepasang pengantin baru.
"Rakyat menunggu Anda, Yang Mulia."
"Ah, benar. Aku sampai lupa," jawab Alastair lalu tersenyum lembut. "Salahkan permaisuri ku ini. Siapa suruh dia terlalu cantik sampai-sampai aku lupa bagian inti dari acara ini?"
"Grand—eh."
Mendengar Luz yang ingin marah namun salah menyebutkan gelarnya, justru membuat Alastair lagi-lagi menyunggingkan senyum geli. "Kaisar, sayang. Panggil aku kaisar. Atau kau ingin memanggilku sayang? Tidak masalah, justru sangat dianjurkan."
Luz semakin salah tingkah dibuatnya. "S-sudahlah. Rakyat sudah menunggumu."
Alastair kembali terkekeh akibat jawaban yang Luz berikan. Ia berbalik, gemerisik jubah sutra murni yang dihiasi sulaman serat emas berpola kan naga meliuk itu tampak sangat megah. Di kepalanya, Alastair memakai mahkota keagungan yang berukir rumit. Mahkota kaisar pertama. Ditempa khusus, menggunakan bahan-bahan yang mencakup seluruh hasil bumi unggul dari Sormenia sebagai simbolis bahwa sang Kaisar akan berlaku adil dan rata bagi seluruh rakyat.
"Rakyatku semua, sekarang negeri kita sudah terbebas dari kezaliman orang-orang bar-bar. Seperti yang kita tahu, sejak dulu Sormenia selalu menutup diri dari dunia luar, akibatnya banyak dari kita yang masih kekurangan pekerjaan. Oleh karena itu, pelabuhan Lancess akan dibangun besar-besaran diikuti pembukaan pelabuhan baru di semua arah mata angin. Jalan darat dari Sormenia ke kerajaan sebelah juga akan dibangun secepatnya. Diperkirakan, dalam lima tahun ke depan Sormenia akan semakin berjaya!"
Atau Alastair justru lebih kritis dibandingkan Raja Izaikhel?
"Tunggu apalagi, mari kita rayakan hari besar ini!"
Usai pidato tersebut disampaikan, pesta pun digelar ramai. Tamu-tamu dari luar kerajaan tampak menikmati semua hal yang diperlihatkan, mulai dari ornamen unik istana Sormenia sampai makanan khas mereka. Tidak sedikit yang memilih tinggal lebih lama untuk beberapa hari ke depan. Lagipula, akan sangat menguntungkan jika berhasil bersekutu dengan mereka, mengingat Sormenia seorang yang berhasil mengalahkan Authrine.
Militer Sormenia bukan main-main. Sama sekali tidak ada tandingannya.
"Bersulang untuk Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri yang baru!"
Tidak hanya di istana, di jalanan pun bergentong-gentong arak dengan kadar rendah diturunkan untuk rakyat yang ingin minum. Manisan, permen, bahkan makan siang pun dihidangkan langsung dari istana. Semua toko tutup, sangat menikmati hari-hari bahagia seperti ini yang jarang datang dua kali.
Lady Clausie, selir Raja Izaikhel yang sempat dituduh pun kini sudah di bebaskan kembali. Wanita itu terlihat duduk di salah satu paviliun, mengobrol ringan bersama Lady Esme Whitney yang selalu membawa keceriaan dan sahabatnya, Lady Debora Carter.
Omong-omong bagaimana mereka bisa dekat, ternyata ibu Lady Clausie dulunya adalah pengasuh Esme saat ia masih kecil. Dengan topik si bibi pengasuh, tentu saja Esme tidak bisa berhenti berbicara dengan antusias sampai mereka bisa sedekat sekarang.
"Selamat, Yang Mulia. Semoga pernikahan kalian diberkahi Tuhan."
Luz tersenyum senang, "Ochonner!"
"Ada beberapa hal yang ingin ku sampaikan padamu," ucap Alastair lalu menepuk pundak Ochonner. "Adik ipar."
Ochonner membalasnya dengan senyuman paksa. Ya ampun, tidak jadi atasan, kini malah merangkap menjadi kakak ipar. Sungguh malang nasibnya. Kedepannya, Alastair pasti semakin senang melihat dirinya susah.
"Tidak perlu terburu-buru." Ochonner perlahan menurunkan tangan Alastair yang bertengger manis di atas bahunya. "Anda baru melangsungkan pernikahan. Bersenang-senanglah sedikit, setidaknya untuk hari ini. Saya juga merasa kasihan kepada Yang Mulia Permaisuri jika Anda lagi-lagi meninggalkannya sendirian."
Mendengar ocehan Ochonner, Luz spontan melotot. Bolehkah dia menarik bibir kembarannya yang asal bicara itu sampai maju beberapa senti?!
"Ah, iya. Saran adik ipar memang benar." Alastair melirik Luz, "Omong-omong, permaisuri-ku. Apakah kau sudah lelah? Bagaimana jika kita segera ke kamar?"
Luz ingin—ralat. Sangat ingin berteriak di hadapan kedua orang gila di depannya ini. Tapi apa daya, mereka sedang berdiri di hadapan publik. Tidak mungkin Luz melakukannya dan merusak reputasinya sebagai permaisuri pertama tepat di hari pernikahan.
Sabar. Tarik napas, buang perlahan. Luz harus sabar.
Tapi jika Luz terlihat malu, dia akan kalah dalam perang mental ini. Maka dari itu, daripada kembali merona, dia harus bisa melawan balik.
"Ayo, Yang Mulia. Saya juga sudah lelah. Lebih baik kita langsung pergi ke kamar saja," tantang Luz yang disambut seringai penuh arti dari suaminya.
......................
...END...
Eh, engga deng, canda. Belum tamat kok tenang aja🤣
Bagaimana, Luztair mau dibikin happy ending atau sebaliknya? Tapi bagi author yaa, kalau mau happy ending tentu tidak semudah itu mueheheh. Oh, satu lagi nih. Sekedar announcement aja, AUTHOR ENGGA AKAN MENULISKAN ADEGAN M4TURE PASCA PERNIKAHAN DAN SEBAGAINYA. Hal ini juga berlaku bagi karya aku yang lainnya, bukan hanya di SBWTT. Kenapa? Banyak faktornya dan terlebih lagi, niat aku nulis di sini itu untuk menghibur kalian yang lagi capek, penat, dan lelah akan realita kehidupan. Uhuk.
Bukan untuk cari keuntungan dari menampilkan adegan dewasa supaya menarik minat pembaca atau apapun itu. Kalau ingin mencari adegan masyaallah, jangan nyari disini. Ga bakal nemu. Kalau ada, itupun paling sebatas ciuman, ga lebih.
Paling aku khawatirkan, bocil-bocil pada baca. Kasian pikiran mereka yang suci tiba-tiba dikotori oleh tulisanku😥
Sudah, itu saja yang ingin aku sampaikan. Bukan bermaksud menyinggung pihak manapun atau merasa sok suci, tulisan ini benar-benar berasal dari lubuk hati author yang terdalam.
Harap maklum, my readers. See you next episode😎🤙🏻