Sleeping Beauty Wants The Throne

Sleeping Beauty Wants The Throne
26. Hubungan Mutualisme



"Ibu, ayah!"


Athene berlari mengelilingi manor house. Dia tidak melihat dua orang yang dicarinya, tidak ada di ruang tamu ataupun di dalam kamar. Tapi setelah sampai di paviliun belakang, barulah gadis itu bisa bernapas lega.


"Ada apa, Athene. Seperti membawa berita buruk saja," ucap Marchioness lalu menyesap teh herbal-nya kembali.


"Aku tidak tahu ini berita buruk atau bukan." Athene menyerahkan surat yang dia dapatkan. "Istana mengundang kita siang ini."


Marquis Thompsville segera bereaksi. "Raja memanggil?" Dahi pria itu mengerut. Biasanya jika bukan hal bersifat darurat, ia tidak dipanggil menghadap apalagi kali ini mereka sekeluarga yang diminta berhadir.


"Terkait ketimpangan keadilan yang menimpa Lady Odyssey de Cera, dengan ini Raja dan Ratu Sormenia mengundang Marquis Thompsville, Marchioness Thompsville, dan Crystal Lady untuk menghadiri sidang istana." ucap Marchioness Thompsville membaca sebagian isi surat. "Peradilan ulang untuk gelar Agung wanita de Cera, Crystal Lady akan dilakukan seadil-adilnya untuk kemajuan Sormenia."


Marquis Thompsville menggebrak meja. "Pasti anak itu yang melapor pada anggota keluarga kerajaan!" semburnya marah. "Cepat, panggil dia kemari!"


Pelayan yang berdiri di sana segera menunduk dan bergegas menuju kamar sang lady yang dimaksud.


"Ibu ...." lirih Athene, "Apa gelar ku akan dicabut?"


"Tidak akan ibu biarkan!" Marchioness memeluk tubuh Athene. "Selamanya, gelar itu selamanya akan menjadi milikmu jadi kau jangan risau."


Marquis Thompsville hanya menatap istri dan anak sulungnya. Dalam hati, dia menyumpah-serapahi Odyssey berkali-kali. Seharusnya aku sudah menyingkirkan gadis itu sejak jauh-jauh hari, pikirnya kacau. Sekarang dia takut, takut jika ramalan buruk akibat Odyssey akan berdampak pada keluarganya.


Dia mencintai manor house Thompsville, March, dan aset-aset lainnya. Jika mengorbankan satu anak bisa menyelamatkan semua kekayaannya, Marquis Thompsville akan rela walau awalnya dia juga berberat hati.


Dan sekarang setelah dibiarkan. Perilaku Odyssey semakin menjadi-jadi!


"Maaf, My Lord." Pelayan yang tadi ditugaskan untuk memanggil Luz di kamarnya kembali. "Tapi nona tidak ada di kamarnya."


"Dia pasti keluyuran," sahut Marchioness memprovokasi. "Anak itu tidak akan bisa menyamai Athene. Dia tidak taat peraturan, padahal dia tahu bagaimana peraturan bangsawan terhadap wanita yang tidak boleh pergi tanpa izin dan pengawalan."


Tapi bukankah menurut perjanjian dalam perkamen kuning, Luz bebas kemana saja terlepas dari waktu dan tempat yang ditentukan?


"Anak tidak tahu di untung!" geram Marquis Thompsville lalu beranjak dari sana. "Aku akan mencarinya sampai ketemu!"


"Ini sudah siang. Kita harus bergegas menuju istana," sahut Marchioness lagi memperingatkan. "Lagipula, percuma mencarinya di jalanan. Anak itu pasti sudah duduk manis di ruang sidang istana sambil menunggu kedatangan kita untuk dicecar nya."


"Mari kita lihat, siapa yang akan menindas siapa," ujar Marquis lalu menoleh. "Ayo bersiap-siap, kita harus pergi."


...----------------...


"Putra mahkota," panggil Lord Cornelius. "Lady de Cera meminta izin untuk menemui Anda."


"Sebentar." Evandre segera merapikan barang-barang di atas mejanya yang sudah bersih. "Persilahkan dia masuk."


Setelah Lord Cornelius kembali keluar, tak lama sesosok wanita tercantik di keluarga Thompsville itu sudah berdiri di ambang pintu, memakai gaun biru langit gradasi putih berenda ditambah topi lebar dan sepatu dengan warna senada.


Evandre mengerjap. Uh, dia sungguh terpesona.


"Selamat siang, Putra Mahkota," sapa Luz ditambah senyuman menawan.


"Belum," jawab Luz jujur. "Seharian ini saya sibuk, jadi belum sempat menyentuh makanan. Tapi ya ... tadi pagi saya sudah meminum secangkir susu."


"Susu saja tidak cukup. Setidaknya makanlah sedikit. Setelah ini ada sidang, kan?" Evandre segera memanggil pelayannya. "Tolong siapkan makan siang untuk kami."


"Saya membawakan sesuatu untuk Anda."


Evandre menatapnya tertarik, "Apa itu?"


Luz mengeluarkan sebuah kotak. "Saya tahu ini tidak cukup berharga bagi putra mahkota, tapi saya benar-benar tulus memberikannya kepada Anda."


Evandre meraih kotak beludru itu lalu membukanya. Sebuah bros berbentuk pedang bertakhtakan batu amethyst yang luar biasa mewah. Sangat cocok jika dipadukan dengan pakaian kebesaran sang Putra Mahkota.


"Jangan merepotkan diri, sayang. Ini sangat indah," balas Evandre.


"Apa Anda tidak menyukainya?"


"Kata siapa? Aku sangat suka!" Dia mendekat dan memeluk tubuh Luz. "Terima kasih banyak, dear."


"Tidak seberapa jika dibandingkan dengan pemberian Anda." Luz menjawabnya sambil membalas pelukan Evandre. "Omong-omong, apa putra mahkota juga belum makan?"


"Aku sebenarnya sudah," jawab Evandre lalu tangannya terulur mengelus lembut surai putih Luz. "Tapi aku akan menemanimu supaya kau bersemangat untuk menghabiskan semua makanannya."


"Baiklah, senang Anda mau makan bersama saya," sahut Luz gembira.


"Ya ... selagi menunggu makan siang, kau bisa melakukan apapun. Aku harus mengurus masalah pelik yang satu ini." Evandre mengambil sebuah surat penting berisi deretan angka dan rincian yang tidak bisa Luz lihat dengan jelas.


"Apa itu?"


"Oh, ini?" Evandre memperlihatkan dokumen yang dipegangnya. Berisikan jumlah statistik prajurit istana dengan jumlah anggaran dan bahan pokok untuk mereka. "Jumlah prajurit terlalu banyak, tapi saat ini istana memang memerlukan banyak prajurit jadi memberhentikan mereka bukanlah keputusan yang tepat. Tapi di sisi lain, persediaan gandum terbatas dan hanya cukup untuk menggaji mereka kurang lebih lima tahun ke depan. Itupun jika pendapatan sekarang sudah dipotong, belum lagi anggaran untuk pengawal khusus dan jenderal," ungkap Evandre lalu menghela napas.


"Kalau begitu, tidak usah susah-susah. Tingkatkan sektor pertanian dan perkebunan negara. Lagipula, bukankah bagian selatan Sormenia masih banyak lahan tidak terpakai?" Luz menjelaskan dengan rinci. "Anda bisa membuka lahan untuk membuat pertanian khusus istana di sebelah sana. Lima puluh persen dibayarkan untuk prajurit, sisanya bisa disimpan di lumbung padi atau diimpor ke negara lain. Sormenia akan mendapatkan banyak keuntungan."


Evandre tercengang. Menutupi rasa malu yang terlanjur tampak, ia menjawab, "Ah, ya. Aku lupa pada tanah kosong di sebelah selatan itu."


Evandre buru-buru menulis saran Luz dengan hati yang lega. Masalah besarnya kini sudah selesai berkat bantuan dari Lady de Cera. Saat ini mereka baru sedikit dekat, bagaimana jika pada akhirnya nanti mereka benar-benar akan menikah? Bah, pasti seluruh tugas Evandre akan ia serahkan bulat-bulat pada istrinya yang cerdas. Sedangkan pekerjaan Evandre? Mudah, dia akan sibuk memperbesar haremnya saja.


"Dari caramu memecahkan permasalahan ku tadi, aku benar-benar yakin untuk mendukungmu sebagai Crystal Lady," ungkap Evandre tanpa repot-repot menutupi rasa terpukaunya.


"Bukan apa-apa." Luz kembali memasang senyum polosnya. "Senang membantu Anda."


"Ya, bagaimana jika kau akan terus membantuku sampai akhir?" Evandre meraih tangan Luz lalu mengecupnya penuh pujaan. "Odyssey, aku sungguh mencintaimu. Jangan tinggalkan aku dan duduklah bersamaku di kursi teratas Sormenia."


Evandre kembali berucap, "Aku berjanji akan selalu memberikan yang terbaik untukmu dan anak-anak kita, kelak."


Luz menatapnya berbinar, "Terima kasih karena telah memilih saya, putra mahkota," balasnya lembut. Tapi tidak ada satupun yang tahu bahwa di dalam hatinya, gadis itu sedang bersorak-sorai karena putra mahkota sudah jatuh ke dalam genggamannya. "Selama Anda memiliki hati saya, semua keinginan Anda terhadap saya akan saya berikan dengan senang hati."


Tidak ada cinta. Tanpa saling menyadari, bahwa keduanya memiliki ambisi masing-masing atas kekuasaan. Evandre, pewaris takhta serakah yang tidak bisa melakukan apa-apa. Dan Luz, putri Marquis yang menginginkan dunia ada pada genggamannya.