Sleeping Beauty Wants The Throne

Sleeping Beauty Wants The Throne
50. Aku Ingin Melamar Putrimu



Entah sudah yang keberapa kalinya Athene menatap pantulan dirinya di depan cermin diiringi dengan decak puas. Pikirannya kembali melayang, mengingat acara debutante yang akhir-akhir ini sering mengganggu pikirannya.


*Semua orang tampak menikmati musik klasik dan sajian yang disediakan. Akan tetapi, Athene, wanita bergaun biru muda itu beberapa kali memeriksa pintu masuk. Seharusnya di jam seperti ini Grand Duke sudah berhadir karena acara utama akan dimulai namun hingga detik ini, Athene tidak melihat keberadaannya.


Tidak ingin Odyssey mendahuluinya, Athene berlari ke luar. Mendapati kereta berlambangkan bendera Brighton, tidak berpikir dua kali Athene menghampirinya. Dan benar saja, orang yang dia cari masih berada di dalamnya, berduaan di tengah gelap dengan pria lain yang wajahnya tidak cukup asing bagi Athene.


"Your Grace."


Kedua pria yang berada di dalam kereta tersebut terkejut, seolah tertangkap basah sedang melakukan hal yang jauh dari kata bermoral.


Dua orang pria. Diam-diam berada di dalam kereta yang sama. Terkejut saat melihat kehadirannya.


"Aku pergi dulu."


Dalam sekejap, pria yang awalnya bersama Grand Duke itu pergi, menyatu dalam kegelapan hingga hilang ditelan jarak.


Athene tidak bisa berpikir jernih. Semua kemungkinan negatif sudah bermunculan di otaknya. Dengan mata terbelalak, sebelah tangannya menutup mulut dan langkahnya perlahan mundur.


"Your Grace ... Apakah Anda dan pria itu .... memiliki hubungan terlarang?"


"Lady de Cera!" Grand Duke terlihat ingin menjelaskan sesuatu sebelum Athene berbalik lalu berlari kembali memasuki hall utama*.


Setidaknya itulah hal yang membuat Athene terguncang akhir-akhir ini. Dirinya masih tidak menyangka, Grand Duke tampan yang banyak diminati wanita kelas atas itu ternyata pria yang berbeda. Sekarang Athene sendiri pun tidak heran mengapa sang Grand Duke selalu menolak untuk dijodohkan.


Tapi Athene tidak mempermasalahkan apapun lagi dari Grand Duke. Terserah jika pria itu menyukai sesama pria atau apapun itu, Athene tidak peduli asalkan dirinya bisa menjadi Grand Duchess. Itu saja.


Athene memiliki kartu mati pria itu. Jika Grand Duke tidak mau menikahinya.


Maka Athene akan menyebarkan aib Grand Duke yang sebenarnya.


...----------------...


"Selamat datang, Your Grace."


Sambutan hangat yang dilemparkan Marquis padanya membuat Alastair tersenyum tipis. Tenang, ini baru permulaan. Alastair belum memerankan perannya sebagai calon menantu yang baik.


Marquis Thompsville selaku pemilik manor house mengambil langkah lebih dulu, mempersilahkan tamu istimewanya ini untuk melihat-lihat rumah mewahnya yang tidak ada tanding di Thompsville. Pahatan Cupid menghiasi banyak ornamen gipsum yang diwarnai putih gading, terlihat begitu elegan sekaligus memukau. Lampu raksasa tampak menggantung di bagian tengah ruangan, persis seperti istana putri di dalam buku dongeng anak-anak.


"Lama tidak bertemu denganmu, Marquis," ujar Alastair memulai percakapan.


Marquis Thompsville mempersilahkan mereka untuk duduk di salah satu sofa mewah yang berwarna senada dengan ruangan ini, putih gading. Ia lalu tersenyum simpul.


"Akhir-akhir ini saya memang jarang pergi ke istana karena alasan kesehatan," ujarnya lalu duduk tepat di seberang Alastair dan Ochonner yang kebetulan juga ikut. "Anda tahu sendiri, kan. Usia saya sudah tidak sebugar kalian. Tidak lama lagi, Lord muda de Cera lah yang akan menggantikan posisi saya di rumah ini."


"Aku rasa juga begitu. Putramu sudah belajar banyak, aku yakin dia akan sanggup mengantikan kepala keluarga utama di sini," jawab Alastair yang dibalas tatapan maut oleh Ochonner.


Alastair menaikkan alisnya seolah mengatakan apa-aku-melakukan-kesalahan?


"Kalau begitu, saya tidak perlu khawatir." Marquis Thompsville terkekeh kecil. "Omong-omong, Your Grace. Ada masalah apa sampai Anda mau repot-repot mengunjungi rumah kecil kami ini?"


Sangat merendah. Okay, tidak buruk. Alastair masih bisa memakluminya.


"Aku kemari karena ingin mengurus sesuatu."


"Oh ya, apa itu jika saya boleh tahu?"


"Aku ingin melamar putrimu."


Sempat terjadi keheningan di ruangan serba putih tersebut. Namun dari pengawasannya, Alastair tahu bahwa ada pelayan yang berlari masuk saat mendengar ucapannya barusan.


"Untuk siapa lamaran itu ditujukan?"


"Lady Brietta Odyssey de Cera, Crystal Lady. Aku menginginkannya."


"Tapi Anda tahu sendiri ... dia tidak berada di sini," jawab Marquis Thompsville bingung. "Saya tidak bisa memastikan apakah dia akan setuju dengan lamaran ini atau tidak."


"Aku sudah mengantongi jawabannya, yang ku perlukan sekarang adalah izin darimu, Marquis. Sebagai ayah kandung Lady Odyssey, aku ikut menghormatimu."


Sebagai ayah kandung Lady Odyssey, aku ikut menghormatimu.


Kata-kata yang dipilih Alastair begitu manis di pendengaran Marquis Thompsville. Sangat sopan dan dirinya merasa dihargai. Siapa yang bisa menolak penghormatan dari orang nomor satu di Brighton? Tidak ada. Oleh karena itu, tanpa pikir panjang Marquis Thompsville mengangguk cepat.


"Aku merestui hubunganmu dengan putriku, Lady Odyssey de Cera."


Diam-diam Alastair tersenyum miring. Marquis Thompsville ... dari dulu, pria ini hampir tidak pernah berubah. Selalu saja tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan dan menginginkan hal yang bersifat instan seperti ketenaran.


Tapi berkat ketergesa-gesaannya itulah Alastair bisa mendapatkan restunya dengan mudah.


Alastair melirik ke arah Ochonner. "Bagaimana, Lord de Cera. Apa kau bersedia menjadi saksi atas ucapan Marquis Thompsville barusan?"


Ochonner mengangguk yakin. "Jika itu keputusan Marquis Thompsville, maka aku mendengarkannya. Tapi untuk mendapatkan restu dariku, Anda tidak bisa mendapatkannya dengan mudah."


"Tidak masalah, lain kali akan ku pastikan kau yakin terhadap kakakmu ini."


Mendengar tingkat kepercayaan diri Alastair membuat Ochonner memutar bola matanya.


Alastair kembali bersuara, "Untuk itu, Marquis. Aku membawakan sedikit hadiah untukmu."


Alastair mengisyaratkan anak buahnya untuk membawa masuk peti-peti emas yang mereka bawa langsung dari Brighton. Dua puluh lima peti kini bertumpuk-tumpuk di dalam manor house. Melihat benda sebanyak itu, Marquis Thompsville tidak tahan untuk bertanya.


"Grand Duke, apa isi benda sebanyak ini?"


"Aku membawakan hasil alam Brighton berupa batu permata, emas, dan hasil tambang lainnya. Aku harap kalian akan senang," jawab Alastair ringan.


"B-batu permata?!" Marquis Thompsville segera menghampiri peti-peti tersebut dengan mata berbinar. Aish, andai tidak perlu bekerja lagi pun, rasanya hidup selama apapun akan aman-aman saja selama semua harta ini menjadi miliknya.


Dan Grand Duke hanya menginginkan Odyssey? Ha, ambil saja!


"Selamat siang, Your Grace. Maaf baru menyapa kedatangan Anda karena saya baru mendapat kabar bahwa Anda berkunjung ke mari."


Nyonya besar de Cera, Marchioness Thompsville tampak menuruni anak tangga dengan anggun. Langkahnya terhenti saat melihat suaminya sudah berada bersama tumpukan harta berharga tak bernilai.


"Astaga, ada apa sehingga Grand Duke rela repot-repot membawakan banyak barang berharga seperti ini?" tanyanya pura-pura terkejut.


"Lamaran. Grand Duke akan melamar putri kita," jawab Marquis Thompsville senang bukan kepalang.


"Benarkah? Saya merasa sangat terhormat bisa memiliki besan seperti Yang Mulia Raja dan Ratu terdahulu," sahut Marchioness lalu duduk di sofa tunggal, bersebelahan dengan Ochonner.


Alastair semakin sadar bahwa Marquis Thompsville merupakan pecinta harta berharga. Jika begini, tidak akan sulit untuk mendapatkan keinginannya. "Crystal Lady masih sibuk di Brighton sehingga dia tidak bisa ikut bersamaku ke mari. Untuk masalah acara, serahkan saja padaku. Semuanya akan ku tangani sampai kalian merasa puas."


"Kenapa harus Lady Odyssey, sementara Anda bisa mendapatkan yang lebih baik seperti—"


"Your Grace, itukah Anda?"


Bantahan Marchioness terhenti. Empat orang yang berada di ruangan itu sontak menoleh berbarengan dengan seruan seorang wanita yang melangkah riang dari salah satu pintu yang menghubungkan antar lorong. Athene dengan gaun merah, tampak cocok dengan surainya yang berwarna merah muda.


"Apa dugaan saya benar, bahwa kedatangan Anda kemari untuk melamar?"


Alastair mengangguk. "Aku yakin kau mengetahuinya dari para pelayan."


Athene tidak bisa menahan senyum lebarnya. Dirinya menang. Sebentar lagi ia akan menjadi Grand Duchess, orang berkuasa di Brighton. Athene sempat berpikir jauh, saat dirinya sudah resmi menjadi istri sah Grand Duke, ia tidak akan segan-segan untuk mengusir Odyssey dan toko busuknya itu keluar dari wilayah kekuasaannya. Kalau perlu, keluar dari Sormenia.


Membuatnya miskin hingga Odyssey kehilangan muka. Itu adalah bentuk balas dendam yang terbaik.


"Apa ada yang lucu sampai kau tersenyum seperti itu? Berita baik hari ini, sebentar lagi Grand Duke akan menjadi adik ipar mu, kak." Ochonner menimpali setelah sadar akan sikap aneh Athene.


"Ap-apa maksudnya?!" Athene mundur satu langkah. Dia menatap Marchioness yang kini balik menatapnya pasrah.


Benar, kan. Grand Duke ingin melamar Odyssey, bukan Athene. Kenapa wanita itu bisa memiliki kepercayaan diri berlebih?


Athene tidak terima!


"Grand Duke ... kita perlu berbicara empat mata," ucapnya final.