
Tak seperti malam-malam biasanya, teruntuk malam ini bulan semerah darah tampak menyala ganas di atas langit. Binatang-binatang malam yang biasanya mendominasi, kini enggan mengeluarkan ringikan. Justru mereka memilih bersembunyi di antara lebatnya hutan belantara. Sementara itu ribuan pasukan sudah mulai bergerak menuju istana.
Tidak ada lagi yang mempercayai keluarga kerajaan. Dalam sekejap, Brighton berubah menjadi kota yang dipenuhi anak-anak. Dari wilayah keseluruhan, hanya tempat itulah yang bisa dibilang paling aman untuk mereka. Tanpa diminta, orang dewasa yang sanggup mengangkat senjata mengajukan diri sebagai prajurit. Jumlahnya bahkan jauh melebihi ekspektasi, bertekad membantu Grand Duke sampai titik darah penghabisan.
Jika semuanya sudah menjadi satu suara seperti ini, rasanya tidak akan menyesal jika Alastair mengambil takhta itu sekarang.
Demi rakyat Sormenia.
Alastair yang berkuda di pasukan paling depan tampak gagah menggunakan zirah tembaga dihiasi jubah perak yang berkibar di balik punggungnya. Kuda hitam tunggangannya tidak kalah menawan saat surai pendek hewan itu melambai-lambai kala melangkahkan kaki. Di samping kanan tampak Ochonner mengendarai kuda putih kesayangannya. Dan di sisi lain, Luz juga ikut berkuda dengan penampilan yang jauh dari kata feminim.
Wanita itu juga memakai zirah. Rambut putihnya digelung rapi lalu ditutup menggunakan kain yang dikaitkan di sepanjang tulang pipi sehingga hanya manik amethyst-nya yang terlihat dari luar. Dengan pakaian itu, identitasnya sulit dikenali. Luz, satu-satunya wanita yang ikut dalam gerakan pemberontakan malam ini sekaligus menjadi salah satu orang yang memiliki kontribusi besar terhadap Sormenia. Dan di bahunya bertengger manis seekor burung elang yang kadang memilih terbang menyaru di antara gelapnya pohon ke pohon.
Saat mereka sampai di depan gerbang timur, Luz berbalik. "Pasukan pertama silakan masuk lebih dulu untuk mengira-ngira kekuatan lawan. Jika jumlah kurang, silakan nyalakan kembang api sebagai sinyal. Untuk pasukan kedua, mereka akan memutar melewati gerbang barat agar orang-orang di dalam terkepung. Pastikan pintu selatan dan utara terkunci rapat sebelum ada komando, mengerti?!"
"Yes, milady!"
Alastair mengambil alih komando. Pasukan pertama hanya berisikan seratus orang kuat sebagai umpan.
"Serang!"
Ochonner dan Alastair termasuk ke dalam seratus orang tersebut. Grand Duke tidak bisa bercakap banyak dengan wanita yang sudah ia rindukan sejak beberapa hari itu. Mereka hanya saling berpandangan, sampai akhirnya Alastair masuk ke dalam gerbang setelah Luz memberinya kode untuk menyusul yang lain.
Dalam isyarat matanya, Alastair seolah sempat berkata, 'Berhati-hatilah, aku tidak ingin kau terluka sedikitpun.'
"Pasukan dibagi dua. Sisanya, bersegera menuju gerbang barat sebelum pasukan pertama menyalakan kembang api. Saat tahu pasukan pertama masuk melewati gerbang ini, orang Authoris sebentar lagi akan datang untuk mengawasi. Maka untuk itu, bersiap!"
Mereka serempak memacu kuda menuju gerbang barat. Medan yang dilalui untungnya tidak terlalu menyulitkan. Hanya ada beberapa becek yang kadang membuat kaki kuda tergelincir di tengah gelapnya hutan. Pun demikian, Luz semakin lega setelah mendengar ringikan kuda dari arah depan.
Pasukan Selatan yang berjumlah tujuh ratus ribu telah tiba di antara gelapnya malam. Jenderal Franklin Whitney. Kakek dari Lady Esme Whitney tampak berdiri di depan pasukannya.
"Anda sudah tiba, tuan."
"Yah, aku bisa datang tepat waktu karena tidak ada hambatan sama sekali." Sang jenderal menatap pintu besar barat yang berdiri kokoh tak jauh dari mereka. "Kapan kita akan masuk membantu Grand Duke?"
"Bersabarlah." Luz memperhatikan langit yang masih kosong, bersamaan dengan firasatnya yang tidak keruan. Namun sayang, belum ada tanda-tanda kembang api akan diledakkan. "Tunggu aba-aba dariku."
...----------------...
Alastair merasakan pengamanan istana begitu longgar, begitu juga dengan kemewahannya yang seolah benar-benar ikut pudar seiring dengan kematian raja lama. Bahkan lampu emas yang biasanya menggantung di lorong utama sudah hilang entah kemana. Hal ini tentu menarik kecurigaan Alastair semakin muncul ke permukaan.
Mereka memutuskan untuk berpencar. Ochonner menuju tempat tertinggi di istana untuk berjaga-jaga, takutnya pasukan lawan tiba-tiba membludak dan tidak ada waktu bagi yang lainnya menyalakan kembang api.
Teknik seperti ini dilakukan agar musuh tidak dapat memprediksi banyak prajurit yang dimiliki Grand Duke. Saat mereka mengira jumlah lawannya hanya sedikit dan memutuskan bertarung tanpa menggunakan barang berarti, disitulah pasukan bantuan akan membantu pasukan pertama menghanguskan istana.
Sementara itu Alastair menyusuri lorong menuju ruang takhta, tempat yang kedengarannya paling ramai diantara ruangan lain. Alastair menempelkan telinga di depan pintu, samar-samar dia mendengar percakapan dari beberapa orang yang salah satunya ia yakini suara dari Evandre.
"Lusa aku ingin menjadi raja. Harus. Sebagai imbalannya, kalian bebas menculik siapa saja mau anak-anak atau orang dewasa aku tidak peduli."
"Tentu saja." Terdengar lagi suara lain. "Menurut sensus, jumlah rakyat Sormenia juga sudah melebihi batas. Jadi tidak ada masalah 'kan jika penduduk mu dikurangi sedikit sebagai santapan kami?"
Alastair terdiam. Orang-orang Authoris ... ternyata mereka tidak hanya meminum darah anak kecil tapi mereka juga bisa melakukan hal yang sama kepada orang dewasa.
"Yang Mulia, kenapa sebelumnya Anda hanya menyerahkan anak kecil jika pada akhirnya Anda juga memperbolehkan kami meminum darah orang dewasa?"
Tepat sekali. Hal itulah yang sempat menjadi tanda tanya Alastair.
"Sebenarnya aku memiliki banyak anak di luar sana." Terdengar kekehan kecil selama beberapa waktu sampai Evandre kembali melanjutkan. "Aku ingin kalian membunuh anak kecil agar semua anak-anakku itu kemungkinan sudah mati disantap kalian sebelum dewasa. karena takutnya kehadiran anak-anak haram itu akan menyusahkan ku di masa depan."
"Ingat, anak kecil adalah target utama kalian," sambung Evandre lagi. Yakin.
Alastair menggenggam erat gagang pedangnya. Tangannya bergetar, menahan amarah saat mendengar hal laknat nan tega itu terucap dari bibir Evandre. Dalam sekali tarik, ia menghunuskan pedang. Mendobrak pintu ruang takhta yang kini terbuka lebar menyebabkan orang yang berada di dalamnya serempak menoleh ke asal suara.
"Grand Duke, apa yang kau lakukan di sini!" Giginya menggemeretak, kedua tangannya mengepal di sisi-sisi kursi kayu gaharu yang sedang ia duduki. "Lancang sekali!!"
"Perkataan itu seharusnya ditujukan untuk dirimu sendiri, Evandre. Kau masih seorang putra mahkota yang belum diakui, tapi mengapa kau tak segan-segan duduk di atas kursi paling terhormat?" balas Alastair sengit.
Sekali lagi keanehan terjadi. Sejak kapan kursi takhta berubah menjadi kayu? Walau terbuat dari kayu paling mahal, tetap saja hal ini sangat mencurigakan. Padahal sebelumnya kursi raja terbuat dari emas murni yang memiliki harga fantastis.
"Bicaralah sepuasmu. Setelah ini katakan selamat tinggal kepada dunia." Evandre memberikan seringai jahat. "Pasukan ku, aku berubah pikiran. Mulai malam ini kalian bisa menikmati darah siapa saja yang kalian inginkan."
Karena ia duduk di atas kursi tertinggi yang jauh dari permukaan lantai, Evandre menunjuk ke arah depan menggunakan kaki. "Makanan pembuka. Grand Duke dari Brighton. Selamat bersenang-senang!"
Dalam sekejap, Alastair merasakan aura yang berbeda menguar di tempat tersebut. Semua orang bar-bar itu menatapnya lapar. Seolah ingin memisahkan kepala Alastair dari tubuhnya secepat mungkin dan menghisap darahnya sampai habis tak bersisa.
Dari sekian banyak orang melawan satu. Apakah Alastair masih memiliki kesempatan untuk menatap matahari terbit besok?
Atau kemungkinan buruknya; dia akan gugur. Malam ini.
......................
Gapapa Alastair mati kan Luz masih bisa sama Evandre iya kan🙊
Apakah kalian juga merasa janggal (sama seperti Alastair) dengan beberapa kejadian di episode ini?🤔
Atau, kalian bisa menerka-nerka kejadian selanjutnya? Contohnya begini:
Jangan-jangan kapal Luz-Evandre otw berlayar🙀
Ayo kasih komen sebanyak-banyaknya karena aku suka baca komentar kalian loh gak pernah di skip satupun ya karena mood booster banget🤯
^^^Salam dari MC cantik kita semua,^^^
^^^Lovely Anderson from New York City ^^^