
Luz masih memperhatikan Alastair saat pria itu pamit dari hall dan memasuki lorong-lorong istana yang terhubung dengan tangga meliuk menuju lantai dua. Mendapat ide, Luz segera bangkit dari kursinya dan memutuskan untuk mengikuti Grand Duke dari belakang.
Luz sudah membulatkan tekad. Jika pilihan Grand Duke jatuh kepada Putri Giselle, maka dia akan mundur. Dia tidak akan memaksa sebab setiap orang memiliki pilihannya masing-masing.
Tapi jangan lupa, Grand Duke belum melunasi semua hutangnya. Luz tentulah bukan tipikal orang yang diam saja saat yang berhutang tiba-tiba tidak tahu diri. Setelah masalahnya selesai dengan Alastair, barulah Luz berpikir untuk mencari tempat tinggal yang baru atau bisa jadi kembali ke Thompsville. Yang jelas bukan di Brighton. Untuk memulihkan hatinya.
Sekali lagi Luz mengejar langkah Alastair yang lebar menyusuri lorong. Sudah cukup, dirinya sudah muak, Luz benar-benar ingin mengakhiri segalanya tetapi pria itu justru memperlakukannya seakan tidak peduli.
"Alastair!"
Pria dengan pakaian berukir naga hitam itu berbalik, menatapnya penuh tanda tanya dengan sebelah alis terangkat. Jarak tinggi badan antara mereka semakin membuat Luz seperti anak kecil yang mengamuk hanya karena sebuah permen. Sialan.
"Lupakan atas semua yang terjadi selama ini. Aku hanya meminta agar kau membayar ganti rugi atas rusaknya seluruh riasan milikku!"
Bagus, Luz sudah terperangkap di dalam jebakan Alastair. Melihat dari sikapnya yang berubah drastis, sekarang pria itu sudah tahu bahwa Luz sedang dilanda cemburu.
"Kau ingin aku membayarnya sekarang?"
Luz mengangguk mantap. "Ya, tentu saja."
"Bagaimana caranya aku dapat membayar?"
Luz menggigit bibir bawahnya, "Terserah." Namun mengingat dia sudah memiliki toko kosmetik sendiri, Luz buru-buru menambahkan. "Bayar saja dengan segunung riasan jika kau mampu."
"Kau pernah mengatakan jika riasan-riasan itu sama seperti hidupmu, kan?"
"Y-ya." Kali ini Luz menjawabnya ragu-ragu saat Alastair mendekat kearahnya.
"Kalau begitu aku harus membayarnya dengan hidupku juga."
"Kenapa begitu?"
"Aku seorang ksatria, Love." Alastair mengurung Luz diantara kedua tangannya di dinding. "Apapun yang sudah ku janjikan, maka akan kuberikan dengan besar dan jumlah yang sama."
Luz diam-diam tersenyum miring. Ah, di otaknya sudah banyak rencana tersusun rapi untuk memeras si Grand Duke nomor satu di Sormenia ini. Jika Luz kaya bukankah dia tidak perlu repot-repot tinggal di manor house Thompsville? Dan juga dia tidak akan diganggu oleh bajingan Evandre lagi untuk selama-lamanya.
"Baguslah jika kau sadar, tuan Grand Duke. Sekedar informasi, mansion barat milikmu itu menurutku tidak terlalu buruk. Ku rasa jika kau mau menyerahkan mansion itu untukku maka hutangmu akan ku anggap lunas sampai ke akar-akarnya," jawab Luz tenang sama sekali tidak memperlihatkan rasa antusiasnya agar Duke memberikan bangunan besar itu secara sukarela.
"Tidak, lady. Aku akan menyerahkan semua hartaku padamu."
"Apa maksudmu? Kau ingin hidup miskin, begitu? Oh, tidak perlu aku tidak memerlukan semua hartamu jika pada akhirnya aku hidup dengan hujatan dari bangsawan lain karena difitnah telah merampas harta milik duke paling diminati para ladies. Kau tidak perlu melakukannya."
"Masih tidak mengerti juga?" Alastair semakin mendekat lalu berbisik tepat di samping Luz. "Mari kita menikah. Dengan begitu seluruh harta Grand Duke of Brighton ini otomatis akan menjadi milikmu juga, calon Duchess-ku."
Luz membeku. Dia menatap Alastair syok namun bibirnya masih terkatup rapat.
"Sampai jumpa lagi. Aku akan berkunjung ke manor house besok siang untuk membicarakan tentang pernikahan kita pada Marquis Thompsville," ucap Alastair terakhir kali sebelum ia kembali berbalik dan hilang diantara belokan lorong.
Seluruh rencana yang tersusun di otak cantik Luz menguap sempurna. Tidak tersisa. Pergerakan Grand Duke tidak bisa ia baca apalagi prediksi, berbeda dengan bangsawan-bangsawan yang ia temui selama ini. Dan dengan terpaksa Luz akui, bahwa kecerdikan Grand Duke of Brighton melebihi putra mahkota bahkan dalam segala aspek.
Luz masih berdiri ditempatnya. Apa yang merasuki Alastair barusan. Apa pria itu melamarnya?
Apa Grand Duke favorit Sormenia itu sudah gila?!
...----------------...
Sekali lagi, Evandre memijit keningnya yang terasa pening. Percuma dirinya bersiap-siap sejak sore jika pada akhirnya ia masih disibukkan dengan pekerjaan yang menumpuk sejak kemarin siang. Berkutat dengan banyak tugas, dan yang paling menyebalkan, dirinya tidak bisa melihat-lihat ladies di bawah sana.
Ah, pasti Crystal Lady yang tercantik. Pasti.
Lama dalam keheningan, suara ketukan dari arah pintu membuat Evandre menoleh ke arah sumber suara. Seperti biasa, Cornelius menghampirinya untuk menyampaikan siapa tamu yang datang.
"Grand Duke of Brighton berada di depan, Your Highness."
"Untuk apa dia kemari?" Evandre mengepalkan tangan. Namun dia tidak berdaya untuk menolak. "Persilakan dia masuk."
Cornelius pun demikian. Walau ia mengerti bagaimana risau-nya Evandre, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Memilih patuh, ia kembali keluar dan tidak lama, sumber kegelisahan Evandre hadir dengan balutan pakaian gelap dan jubah dengan warna yang senada.
"Lama tidak melihatmu di parlemen, Your Highness." Alastair tampak tenang. Tanpa disuruh, pria itu duduk di salah satu sofa putih gading dengan sebelah kaki yang ditopang angkuh.
Evandre menatapnya awas. "Apa lagi mau mu."
Alastair terkekeh, "Tenang, Putra Mahkota. Aku hanya berusaha membuka percakapan yang damai, tolong jangan meledak-ledak seperti itu," ujar Alastair menatapnya lurus.
Evandre menggemertakkan gigi. Sebagai pelampiasan, ia menggenggam kuat pena miliknya hingga retak di beberapa bagian. "Aku harap kau selalu tutup mulut."
Alastair menatapnya dengan alis terangkat. "Apa maksudmu? Apakah kau sedang membicarakan tentang kebiasaan burukmu yang ingin ku laporkan kepada His Majesty?"
Evandre menggebrak mejanya. "Grand Duke, jaga batasan mu!"
"Kenapa? Apa kau takut jika His Majesty tahu bagaimana dirimu yang sebenarnya. Ingat, Putra Mahkota. Kebiasaan mu itu bisa membawa petaka bagi kerajaan kita."
Evandre menggeram marah.
"Semua wanita yang pernah kau tiduri sudah diamankan. Lain kali berpikirlah lebih jauh. Pikirkan bagaimana nasib Sormenia saat putra-putri mu itu menginginkan takhta?"
Evandre sempat terkejut. "Mereka hamil?"
"Empat orang wanita sudah dalam keadaan hamil dan mereka sendiri mengakui bahwa anak yang mereka kandung itu merupakan anakmu," jawab Alastair ringan. "Empat anak ditambah putra-putri sah dan putra-putri selir mu di masa depan. Jika mereka saling bunuh untuk mendapat takhta, kira-kira apa yang akan terjadi?"
Evandre terdiam. Dirinya tidak menyangka jika kebiasaannya menginap di rumah bordil bisa membawa dampak sebesar itu.
"Kau tidak perlu susah-susah mengakui kesalahanmu di hadapan His Majesty. Aku sudah melaporkannya sejak satu minggu yang lalu." Alastair berdiri, masih banyak hal yang perlu dilakukan setelah urusannya dengan Evandre sudah selesai. "Makanya aku sempat bertanya, kenapa akhir-akhir ini kau tidak hadir di parlemen. Kau tahu apa alasannya?"
Pria dihadapannya diam. Namun Alastair tahu Evandre menunggu jawabannya.
"His Majesty tidak mengundangmu dalam rapat karena dia tidak mempercayai dirimu lagi."
Tangan Evandre bergetar. Matanya memerah, namun ia tidak bisa melepaskan semua kemarahannya selagi Grand Duke masih berdiri di depannya.
"Ku lihat kau tertekan, ya?" Alastair tersenyum geli. "Kalau begitu aku pergi. Lebih baik kau pikirkan lagi langkah selanjutnya sebelum raja mengumumkan putra mahkota yang baru."
"Yang baru?"
Alastair yang sudah berada di depan pintu kembali menoleh. "Ah, ralat. Maksudku mengembalikan posisi putra mahkota yang lama."
Setelah itu Alastair benar-benar hilang dari pandangan Evandre setelah pintu kembali tertutup.
"Brengsek!" Evandre menendang kasar meja kerjanya hingga semua benda yang berada di atas benda tersebut berhamburan. Cairan tinta merebak di atas lantai, semua kertas berterbangan kemana-mana. Evandre yang awalnya pusing, sekarang semakin bertambah pusing dan rasanya kepalanya akan pecah.
Nafasnya memburu, namun kemarahan Evandre tidak akan tuntas hanya dengan merusak benda-benda disekitarnya. Raja harus tetap percaya pada dirinya, Raja tidak boleh mengembalikan Alastair ke kursi putra mahkota. Apapun jalannya, jika ada yang berani menghambat Evandre menuju takhta maka ia tidak akan segan-segan menghabisinya.
Siapapun. Termasuk Grand Duke.
Dan juga ... Raja.