
"Perdagangan mencurigakan terjadi di dermaga?" Alastair meletakkan kembali perkamen yang selesai ia baca. "Sudah berapa lama kau mengetahui hal ini, Lancess?"
"Kira-kira sejak dua bulan yang lalu," jawab Louise lalu buru-buru menambahkan saat menyadari tatapan tajam Ochonner. "Pelakunya sangat bersih hingga aku sulit mengorek informasi. Memerlukan waktu yang cukup lama untuk memastikan kecurigaan ku."
"Sebersih apa sampai Lancess sendiri sulit melacak jejaknya?" Alastair sempat diam lalu melanjutkan. "Ke mana dan dari mana barang-barang tersebut diantarkan?"
"Wilayahnya berbeda-beda, terkadang penerima berada di Thompsville, dan baru-baru ini di Brighton." Louise sekali lagi meneguk saliva. "Tapi yang paling sering ... barang-barang tersebut diantarkan ke pusat Sormenia."
"Mustahil jika barang-barang yang masuk ibukota tidak diperiksa lagi," ungkap Ochonner yang diangguki Louise. "Penjagaan di sana jauh lebih ketat. Apa ini menjadi jejak bahwa pelakunya bisa saja orang yang cukup berkuasa?"
"Aku sepemikiran denganmu." Alastair mengalihkan tatapannya kepada Louise. "Duke of Lancess. Hukum yang berpihak pada kita masih lemah jika kita hanya memiliki bukti se-sedikit ini. Jika sudah menapaki hukum, maka akan semakin banyak rintangan yang bisa menjatuhkan kita apalagi jika lawan kali ini bukanlah orang sembarangan. Jadi, apa kau bersedia untuk mencari bukti lebih mendetail mengenai barang-barang mencurigakan ini?"
Alastair menjeda, "Jika salah langkah, taruhannya adalah nama kita sendiri."
Louise mengangguk. "Tentu. Mulai besok seluruh anak buah ku di dermaga akan ku kerahkan."
"Pasukan mata-mata dari Brighton akan ku turunkan untuk membantu kalian."
"Aku merasa terbantu." Duke of Lancess merapikan perkamen yang dibawanya. "Kalau begitu aku harus pergi sebelum matahari terbit. Senang bertemu kalian, kawan lama."
...----------------...
Luz mengerjap kala cahaya matahari yang menerobos masuk melalui celah gorden jatuh tepat di wajahnya yang diletakkan di atas meja. Dia merenggangkan tubuh, menggeliat lalu sadar bahwa sekarang sudah pagi.
Semalaman Luz memilih tidak istirahat untuk memfokuskan pekerjaannya yang tinggal sedikit. Sekarang, semuanya sudah selesai dan siap dijual. Tidak tanggung-tanggung, Luz membuat bermacam-macam gincu dari yang berwarna terang sampai yang gelap. Lalu ada juga bedak yang cocok untuk segala jenis kulit, dan beberapa eyeliner sederhana yang bisa digunakan untuk alis dan bulu mata.
Luz beranjak. Setelah berdiri barulah ia merasakan sakit di bagian pinggang karena tidur dalam kondisi yang salah. Ia meringis, namun begitu ia tetap turun ke bawa untuk sarapan bersama Ochonner.
"Selamat pag—" Luz melotot saat tahu Grand Duke juga ada di ruang makan. Pria itu dengan santainya duduk di salah satu kursi sambil memperhatikan beberapa surat di tangannya.
"Sudah selesai bertapa, adik tersayang?" sapa Ochonner sarkastik.
Luz mendengus lalu memutuskan duduk di salah satu kursi. Diam-diam dia melirik ke arah pria paling sibuk tersebut. "Terlalu pagi untuk melihat wajahmu, Grand Duke."
Merasa namanya disebut, Alastair mengangkat wajah dan tatapan mereka sontak bertemu. Luz buru-buru mengalihkan tatapan lalu berdehem canggung sedangkan Alastair justru menyeringai geli.
"Dari kata-katamu aku tahu bahwa kau sedang merindukanku, Crystal Lady."
"Hm, percaya diri sekali," jawab Luz lalu meminta agar pelayan menuangkan teh untuknya.
"Aku mengatakan kebenaran."
Ochonner yang berada di ujung meja hanya bisa menganga lebar saat melihat interaksi keduanya yang terbilang sangat dekat. Dia mengenal Grand Duke dengan baik dan Grand Duke tidak akan sudi untuk sedekat itu dengan wanita manapun. Apalagi sampai menggodanya!
Terlepas dari pernikahan politik, apakah ini pertanda bahwa Grand Duke diam-diam menyukai Odyssey?
"Jangan mengganggu pagi cerah ku!"
"Tapi aku suka merayu dirimu."
"Sinting!"
"Aku mencintaimu juga, cantik."
Luz menatap Alastair penuh permusuhan sementara pria itu justru menatap sebaliknya. Ochonner berdehem, lebih baik mendamaikan kedua orang ini lebih cepat sebelum ruang makannya berubah menjadi reruntuhan.
"Odyssey, lebih baik habiskan sarapanmu sebelum bertengkar."
Ok, anggap saja Ochonner hanya bisa menghentikan perang keduanya dalam waktu singkat.
"Grand Duke, bukankah kita akan membahas perihal pajak di tanah timur?"
"Lupakan saja, Ochonner. Masalah pajak tidak sepenting kembaran-mu ini."
Selanjutnya Alastair tertawa terbahak setelah berhasil membuat Luz marah-marah di pagi spesialnya.
"Setelah ini kau akan pergi ke toko?" tanya Ochonner yang berusaha mengalihkan pembicaraan.
Luz menatapnya namun belum menanggalkan ekspresi kesal. "Ya."
Diam-diam Ochonner mengelus dada. Ya Tuhan, galak sekali.
"Mau pergi bersamaku?" tawar Alastair.
"Tidak."
"Kenapa tidak?"
"Aku berangkat bersama Ochonner."
"Maaf, Odyss. Sepertinya hari ini kau harus pergi bersama Grand Duke," lerai Ochonner disertai tatapan bersalah. "Ada urusan di manor house Thompsville. Kira-kira selama seminggu ke depan aku akan tinggal di sana."
Ochonner mengalihkan tatapannya kepada Alastair. "Grand Duke, aku percaya padamu. Tolong jaga adik menyebalkan-ku ini selama aku tidak ada."
Alastair menyeringai, "Dengar sendiri, kan?"
Luz menatap dua pria itu tak percaya. Mereka pasti bersekongkol!
Tidak-tidak, apapun yang terjadi Luz tidak akan terpikat dengan siapapun lagi.
"Ochonner, bisa-bisanya kau menyerahkan kakakmu kepada orang asing."
"Dia bukan orang asing, Grand Duke adalah panutan ku." Ochonner terkekeh geli saat mendapati ekspresi Luz yang semakin keruh. "Dan kemungkinan besar, beberapa bulan atau tahun lagi dia akan menjadi kakak ipar ku."
"Aku sudah selesai!" Luz menghempaskan sendok dan garpu nya lalu berdiri. "Aku pergi."
Luz tanpa mendengar jawaban dari keduanya langsung keluar dari ruangan tersebut dengan perasaan dongkol. Apa-apaan kakak ipar, lebih baik Ochonner sendiri saja yang menikah dengan Grand Duke!
Beruntungnya ruang makan terletak di lantai satu sehingga Luz tidak repot lagi untuk turun tangga. Setelah berada di undakan depan mansion, seseorang terdengar memanggilnya dari belakang.
"Crystal Lady!"
Luz menghela nafas. Dia tahu siapa orang yang sedang memanggilnya.
"Aku akan mengantar dirimu."
"Tidak perlu, Grand Duke," tolak Luz terang-terangan. "Kastil mu dan toko berbeda arah. Tidak perlu repot-repot, jangan dengarkan ocehan Ochonner yang tidak jelas itu."
"Sekalian aku ingin berkunjung ke toko mu untuk melihat-lihat apa masih ada yang kurang atau rusak," jawab Alastair yang lebih lembut dan tidak ada kesan menggoda lagi. "Boleh, kan?"
Luz agak sangsi saat Grand Duke mengatakan 'toko mu' padahal toko tersebut berasal dari pemberiannya. Tidak ada pilihan, akhirnya Luz mengangguk.
"Bagus. Lalau begitu ayo kita pergi sekarang, Lovely Anderson." Alastair segera meraih lengan Luz lalu menggandengnya menuju kereta besar miliknya.
Deg
Luz memperhatikan wajah Alastair yang terbilang santai saat menyebut nama aslinya. Dari mana, kapan, dan bagaimana pria itu tahu. Berbagai pertanyaan bercokol di dalam pikiran Luz yang tiba-tiba kosong.
"Apa ... siapa Lovely Anderson?"
Alastair menoleh lalu melemparkan senyum geli. "Itu adalah nama seseorang yang bisa membuatku mencintainya."
Luz syok. Seseorang, segera tangkap Grand Duke dan siksa dia sampai mengaku, di mana dia mendapatkan nama asli Luz yang notabenenya tidak diketahui oleh siapapun di dunia ini!