
"Sayang...."
Alastair mengalihkan perhatiannya dari laptop yang menyala dihadapannya menuju Luz yang tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu. Sebenarnya tidak masalah jika wanita itu masuk sesuka hatinya, tapi yang menjadi masalah di sini adalah bagaimana cara Luz berpakaian.
Gaun tidur tipis berwarna marun transparan dilengkapi tali spageti di pundaknya— ugh, terlihat sangat seksi apalagi dengan perutnya yang sedikit membuncit itu.
Wajar, Luz sedang mengalami masa kehamilan bulan ketiga. Bulan kehamilan yang sangat panjang menurut ayah mertua Alastair mengingat Luz selama mengidam selalu menginginkan hal-hal aneh. Dari membeli puluhan bajaj pribadi yang diimpor dari India, ingin membangun rumah tepat di bawah menara Eiffel, sampai ingin membotaki Ken yang berakhir disetujui oleh empunya dalam keadaan terpaksa. Demi sang cucu, imbuh Ken berberat hati. Yap, cucu durhaka yang tidak memiliki rasa iba sama sekali.
Kembali ke realita. Luz masih berdiri di seberang sana.
Dan kembali diingat, bagaimana cara Luz memanggilnya tadi membuat Alastair sempat gagal fokus.
"Ada apa?" Pria itu langsung menyingkirkan laptopnya. Merentangkan tangan yang dihampiri Luz dengan pelukan manja.
"Bosan."
Alastair menghela napas. Luz yang biasanya mengoceh panjang lebar sebelum hamil tiba-tiba terbiasa berbicara singkat padat seperti ini pada semua orang. Apakah itu bawaan si bayi? Kalau begitu sifatnya berarti sama persis seperti ayahnya.
"Mau berkeliling?"
Luz melirik ke atas, suaminya itu memang memiliki tubuh yang jauh lebih tinggi darinya. "Ke mana?"
"Keliling rumah."
Luz semakin memberengut kesal namun lain halnya dengan Alastair yang malah terbahak akibat respon wanita itu. Ia mengacak rambut Luz gemas. Merasa dipermainkan, Luz melepaskan pelukannya dan berdecak sebal.
"Tidak peka!"
Kalau sekedar berkeliling rumah Luz bisa melakukannya sendiri. Tidak perlu ditemani apalagi diajak!
"Baik-baik." Alastair masih terlarut dalam tawanya sampai dia berdehem, merasa kasihan dengan ekspresi Luz yang sebentar lagi akan turun hujan di balik kedua matanya. "Ibu hamil, ingin jalan-jalan ke mana?"
"Aku bosan dengan Amerika dan Eropa."
Mendengar hal tersebut, Alastair tersenyum hangat. Ia mendekat, menyapukan jempolnya untuk menyingkirkan bulir air di ujung mata sang istri.
"Bagaimana dengan Asia?"
"Itu dia yang sedang kupikirkan!" balas Luz antusias berbanding terbalik dengan keadaannya yang mengenaskan beberapa detik yang lalu. Senyumnya terangkat lebar, "Katanya Dubai banyak menyediakan olahraga yang memacu adrenalin!"
"Memacu adrenalin?" Alastair menyentil pelan dahi Luz sampai wanita itu mengaduh. "Sedang hamil. Jangan berniat mencoba olahraga yang seekstrim itu."
"Tapi ini kemauan Cookies."
"Cookies?"
"Itu nama bayi kita," jawab Luz sambil mengelus perutnya dengan bangga. Tentu saja bangga, toh nama pertama anaknya 'kan berasal dari pemikirannya.
"Kenapa namanya Cookies?" tanya Alastair yang berusaha menahan tawa. Sudah cukup, jika ia kembali tertawa Alastair jamin Luz akan menangis sungguhan.
"Karena aku sering mengidam kue kering dengan topping choco chips saat dia masih berusia mingguan," ujar Luz mengingatkan. "Lagipula aku yakin sikapnya akan sama seperti ayahnya. Dingin dan keras. Tapi setelah bertemu air, dia pasti akan luluh lembek!"
Mendengar perumpamaan yang seperti itu, Alastair spontan terbatuk.
Lembek katanya?
"Dan siapa 'air' bagiku?"
"Tentu saja aku," balas Luz sambil menunjuk dirinya dengan rasa —yang lagi-lagi— bangga. Hoho, tentu saja bangga. Merasa menjadi wanita limited edition versi Alastair merupakan suatu anugerah yang tentunya diinginkan setiap wanita. "Benar kan, Papa?"
"Terlalu percaya diri tapi jawabanmu kuakui sedikit benar," ungkap Alastair malas untuk mengakui bahwa jawaban Luz benar adanya. "It's okay, kau menang. Kita akan pergi ke Dubai bulan depan. Dengan syarat tanpa mencoba olahraga ekstrim atau sejenisnya, cukup berbelanja sepuas mungkin dan jalan-jalan, titik."
Ia membalasnya dengan anggukan cepat. Luz tidak masalah jika tidak diizinkan menaiki base jump setinggi 2720 kaki di puncak gedung Burj Khalifa demi keselamatan sang bayi. Luz juga baik-baik saja jika dilarang mengikuti scuba diving bersama para hiu di The Dubai Mall, tapi ...
"Loh, kenapa bulan depan. Keburu melahirkan!"
"Sekarang saja kandungan mu masih berusia tiga bulan dan satu bulan yang ku janjikan itu berarti saat kehamilan mu berusia empat bulan. Belum ada tanda-tanda melahirkan, jangan mengarang."
"Tapi aku mau secepatnya, pak bos. Ini keinginan Cookies!"
"Baik. Minggu depan, deal?"
"Tapi aku belum mengurus schedule baru. Tidak bisa meninggalkan pekerjaan begitu saja, sayang."
"Sekretaris mu 'kan ada," balas Luz lagi. Sengit. "Lagipula sudah lama kita tidak traveling berdua saja semenjak honeymoon. Kemanapun kita pergi, ayah selalu ikut," sambungnya lagi dengan bibir mengerucut.
"Ayah ikut karena dia mengkhawatirkan dirimu."
"Atau jangan-jangan dia selalu ikut karena kesepian? Ingin sekali rasanya aku mencarikan dia istri baru."
Alastair melirik tajam. Kalau biasanya anak yang melarang orang tua untuk menikah kembali, berbeda dengan Luz. Hebat, teruskan!
Alastair berdehem, "Masalah istri baru, seharusnya kau berdiskusi dulu dengannya."
"Iya-iya, aku tahu. Jadi besok kita pergi, iya, kan?" tanyanya lagi penuh harap.
Alastair menghembuskan napas panjang. "As you wish, My Lady."
"Terima kasih!" Luz memeluk tubuh pria itu. Membenamkan wajahnya di dada Alastair sebagai ungkapan rasa bahagia.
"Siapa bilang aku melakukannya cuma-cuma?"
"Huh?"
"Harus ada bayarannya."
"Apa itu?"
Alastair menyeringai, "Mari mandi bersama."
"Jadi kau belum mandi?" Luz mendorong dada suaminya sambil mengapit hidung. "Sudah jam sembilan, dari tadi duduk di depan laptop saja. Lebih baik mandi sekarang juga!"
"Mandi berdua, kan?"
"Maaf, Tuan Miller. Aku sudah mandi," sahut Luz sambil menjulurkan lidahnya penuh ejekan. Ia beranjak. Namun belum mencapai daun pintu, Alastair menarik lembut tangannya.
"Apa?"
"Aku—"
"Permisi, apakah ada orang di rumah? Ayah sudah datang. Mana sambutannya?"
Luz menoleh ke arah luar. Senyumnya mengembang saat tahu suara cempreng yang berasal dari ayahnya itu terdengar dari lantai satu.
"Ayah sudah datang, ayo ke bawah!"
Dengan berberat hati Alastair melepaskan genggamannya dan membiarkan Luz lepas darinya. Lagi. Namun itu belum seberapa sampai Luz berteriak dari arah pintu.
"Ayah, Alastair bilang dia ingin mencarikan istri baru untukmu supaya tidak kesepian lagi!"
Hoax!
Alastair terperangah, terpaksa dia melepaskan semua pekerjaannya dan menyusul wanita itu ke lantai satu. Si mertua tidak bisa disinggung, dan perkataan Luz barusan tentu bisa membuat Ken salah paham.
Saat Alastair berada di undakan tangga, sang ayah sudah duduk di sofa panjang. Menyambut kedatangan menantunya dengan mata melotot seperti seorang guru yang tengah memergoki salah satu siswanya tengah tidur di jam pelajaran.
"Begitu, ya, nak. Bagaimana jika kau saja yang mencari istri baru?" sindir Ken yang disambut Luz dengan tawa terbahak.
Dasar ibu hamil, tunggu saja pembalasanku!
......................
Bagian akhir, nih. Apa gaada gitu yang mau ngasih vote dan komen terakhir juga?🤣
Anaknya cool kayak bapaknya atau barbar kek emaknya, ya? gatau juga dah itu campuran kali yak🤔😭
Akhir kata, saya atas nama Zet, dengan nama pena Pelangizigzag mengucapkan terima kasih atas kesediaan readers untuk membaca cerita ini sampai tuntas. Salah dan kurangnya, tolong dimaklumi. Jika ada salah kata dan ungkapan, tolong dimaafkan dan jangan sampai di bawa masuk ke dalam hati eaa🤣
Akhir kata, good bye and see u next time di cerita berikutnya, ya~