
"Ochonner!"
Pria yang dipanggil itu tidak menyahut. Jangankan menoleh, dia justru bangkit dan berjalan menjauhi Luz yang menghampirinya.
"Saudara durhaka, aku memanggilmu!"
"Jangan memanggil jika niatmu hanya ingin mencelakakan ku!" Ochonner akhirnya bersuara, "Kau dan peralatan rias mu itu, sama-sama mengerikan!"
"Baik, aku tidak akan melakukannya lagi, Chonner sayang," bujuk Luz padahal mereka sedang berdiri di depan balai hakim, banyak orang yang berlalu lalang sambil menonton drama si kembar putih ini. "Ayo, bantu kakakmu sebentar." sambungnya dengan bibir cemberut.
Ochonner menghela napas pasrah. Seberapa marah dirinya, ia tetap tidak tega. Dia berbalik dan menghampiri Luz yang kini menatap dirinya penuh binar bahagia. Bujuk rayuku berhasil, pikir Luz bangga.
"Hn?"
"Tidak mungkin jika aku kembali ke manor house Thompsville setelah melaporkan mereka." Bola matanya membesar, berusaha memohon. "Aku menumpang di mansion-mu, ya, boleh, kan?"
"Tidak."
"Kenapa tidak?!" Luz melotot marah, "Adik macam apa yang tega pada kakaknya sendiri?!"
"Heh, gunakan cermin. Kau yang memulai permainan tega-tegaan ini lebih dulu!"
Ok, Ochonner dendam karena perlakuan Luz beberapa hari yang lalu, catat.
"Tidak masalah. Jika Ochonner keberatan, Lady de Cera bisa tinggal di rumah kecilku sampai kapanpun dia mau."
Sontak kedua anak kembar itu menoleh. Grand Duke datang dengan pakaian kebesaran yang dibuat dari serat-serat sutra halus dan berbagai pangkat dari permata yang menggantung gagah di bagian dada bidangnya. Aura Grand Duke sangat mencerminkan kelaki-lakian, maskulin, wangi yang kuat, dan nilai lebihnya; sangat memanjakan visual.
"Benarkah? Kalau begitu aku tinggal bersama Grand Duke saj—"
"Tidak, Odyssey. Jangan menyulitkan Grand Duke." Ochonner menarik tangan saudarinya itu, "Dia akan tinggal di mansion-ku. Grand Duke jangan khawatir."
Ochonner tidak akan membiarkan Odyssey tinggal bersama La Empyrean —kasmaran— muda ini. Tidak akan!
Luz mengernyit, "Saudara aneh."
"Kapanpun Lady de Cera membutuhkan tempat tinggal, kastil ku akan terbuka untukmu," sahut Alastair lalu berdehem canggung.
Wah, kastil. Pasti ukurannya jauh lebih besar dibanding manor house Thompsville apalagi kalau hanya dibandingkan dengan mansion Ochonner.
Tampan, tajir, dan muda. Pantas saja Grand Duke diincar banyak wanita. Kalau dihitung dari kekayaan personal, Putra Mahkota pun pasti kalah kaya dengannya.
"Sepertinya aku akan tinggal dengan saudara cerewet-ku ini saja untuk sementara," putus Luz lalu ia tersenyum lebar, "Aku khawatir, jika aku tinggal di kastil Grand Duke, maka tunangan Grand Duke akan terganggu."
Tidak ada tunangan, kaulah yang diincarnya, bodoh! Umpat Ochonner di dalam hati, berbanding terbalik dengan wajahnya yang tampak santai-santai saja.
"Aku belum mempunyai tunangan."
"Woah, sungguh?" Luz geleng-geleng tidak percaya, "Tunggu apalagi? Orang sepertimu jika ingin menikah tinggal tunjuk saja, pasti wanita mana pun langsung setuju."
"Daripada membahas tunangan Grand Duke, lebih baik kita cepat-cepat kembali ke Brighton," potong Ochonner yang sudah jengah dengan kerewelan Odyssey. "Masih banyak yang harus ku kerjakan. Ini semua berkat seseorang yang tega memberikan setumpuk dokumen padaku kemarin sore."
Mereka bertiga bersama-sama berjalan menuju sebuah kereta berukuran besar yang di dorong oleh enam ekor kuda. Berpadukan warna merah tua dan hitam, juga terdapat lambang Brighton di sisi-sisi kereta. Ah, tidak lain dan tidak bukan pasti ini milik Grand Duke.
Alastair mengerti pada tatapan Ochonner yang meliriknya malas. Tapi pria itu memutuskan untuk pura-pura tidak tahu. "Jangan suka mengeluh, Lord de Cera. Orang yang memberikan tugas padamu itu pasti tahu apa yang dilakukannya."
Dalam kata lain, Grand Duke menyebut dirinya lebih tahu kemampuan Ochonner dibanding Ochonner-nya sendiri, begitu?
Pekik kagum Luz mampu memecah perhatian kedua pria yang berdiri di belakangnya.
Kereta tersebut di desain mewah dengan empat buah bangku empuk dan sebuah meja selutut, mirip seperti dekorasi di ruang tamu. Di bagian dinding penuh dengan benda-benda hias mewah yang sangat menguntungkan jika berhasil dicuri sedikit. Sedangkan untuk lantai, karpet bludru hitam digelar rapi sampai ke pojok.
"Seperti yang tampak, ini adalah kereta," jawab Grand Duke asal-asalan. "Silakan masuk, lady."
Tanpa mempersilahkan dua kali, Luz lah orang pertama yang menaiki kereta mewah tersebut. Dari dalam sepatunya, Luz langsung tahu bahwa bludru yang diinjak nya ini benar-benar empuk!
Ok, Odyssey. Jangan jadi orang kampungan.
Setelah mereka sudah duduk nyaman di atas bangku, barulah kereta tersebut bergerak pelan menyusuri jalan besar yang terbentang dari depan gerbang ganda utama istana yang terbuka lebar untuk mereka lalui.
"Omong-omong, aku tidak pernah melihat pusat kota di Brighton," ungkap Luz jujur. Sebab saat pergi ke pasar Brighton hari itu, mereka tidak melewati jalan utama yang menjadi jalur menuju sentral kota.
"Kota yang cukup suram untuk gadis sepertimu."
Mendengar jawaban Ochonner, Grand Duke sempat meliriknya sekilas.
"Oh, pantas saja Grand Duke ingin aku bekerja padanya. Kota Brighton kurang berwarna?" Luz tertawa lalu beberapa detik kemudian barulah ia tersadar. "Maaf, Grand Duke. Aku tidak bermaksud."
"Kota Brighton terkenal sebagai kota para ksatria," ucap Grand Duke sebagai jawaban atas pernyataan Ochonner yang benar adanya. "Jadi kami tidak sempat memikirkan kepentingan perempuan di sana. Semua hal yang bersangkutan dengan kota harus meminta izin padaku, termasuk perizinan tempat perawatan kecantikan."
"Tapi kau tidak ada waktu untuk membuat pernyataan perizinan pada hal sesimpel itu, kan?"
Brighton tampak puas, "Benar sekali."
"Tapi bagi perempuan terutama kaum bangsawan, kecantikan adalah hal yang paling penting. Bagaimana kau bisa melupakannya?"
"Bangsawan di Brighton biasanya pergi ke kota sehari sebelum acara agar bisa tampil maksimal." Lama-kelamaan Grand Duke bingung sendiri, "Ah, sudahlah. Yang penting kau sudah ada untuk hal itu."
"Aku merasa beruntung karena dipilih menjadi orang pertama yang bisa mengelola tempat kecantikan di Brighton," balas Luz ringan, "Selain merias, aku ingin toko milikku digabung dengan spa, perawatan rambut, dan pusat mode pakaian. Apa boleh, Grand Duke?"
Grand Duke tertawa, "Banyak sekali mau mu."
"Eh?" Luz membalasnya dengan tatapan lebar. "Pilihan untukmu hanya ada dua; mengabulkan keinginanku atau lupakan saja tentang kerja sama kita."
Ochonner menoleh. Wah, kembarannya ini benar-benar. Dia berani mengeluarkan jurus mengancam kepada orang nomor satu di Brighton?
"Kerja sama tidak bisa dibatalkan karena aku sudah membantumu, bukankah harus ada timbal balik?" Alastair tersenyum miring, "Tapi jika hanya itu tadi mau mu, kenapa tidak. Sebagai tambahan, aku juga bisa memberikan tempat yang lebih besar dari yang kau inginkan."
Luz menatapnya penuh binar. Jarang sekali ada manusia seperti Grand Duke di muka bumi ini. Kaya, pengertian, dan tidak pelit. Benar-benar tipikal suami idaman. Tapi beberapa saat kemudian barulah pikiran Luz terganggu.
"Grand Duke, kau sangat aneh. Untuk apa dirimu bersikap begitu baik padaku?" tanya Luz curiga, "Apalagi, kita tidak memiliki hubungan apa-apa. Bagaimana kau bisa mempercayakan sebuah toko besar dengan begitu mudahnya padaku?"
Grand Duke sebenarnya tidak ingin mengatakan hal ini, tapi perkataan terakhir Lady Odyssey benar-benar membuatnya kembali ke realita.
Mereka tidak memiliki hubungan apapun.
"Oh, iya. Satu lagi, Grand Duke."
"Apa?"
"Ini masalah utang," bisik Luz agar Ochonner yang sedang sibuk memakan cemilan tidak mendengarkan percakapan mereka. "Perlu ku ingatkan. Gaji ku dan hutangmu padaku adalah dua hal yang berbeda, jadi jangan sekali-kali mengaku bahwa hutangmu telah lunas hanya dengan gaji ku yang selalu di bayar. Mengerti, Grand Duke?"
Grand Duke mengerjap. Ah, benar. Jika Grand Duke lupa ... gadis di depannya ini memang sangat perhitungan!