
Ochonner berdehem di belakang mereka. Kuda putih miliknya sudah dibawa oleh penjaga istal dan kini tertinggal mereka bertiga. Di depan halaman tersisih dari kemewahan hall istana yang semakin ramai.
"Lord de Cera, itukah Anda?"
Ochonner berusaha beradaptasi dengan lingkungan minim cahaya. Alisnya menukik saat tahu siapa orang itu. "Lord Samuelson?"
"Lama tidak bertemu." Mereka berjabat tangan khas laki-laki. "Omong-omong selamat atas keberhasilan Anda dalam perang kemarin. Saya turut senang mendengar Anda kembali tanpa kekurangan apapun."
"Terima kasih. Datang terlambat juga?" tanya Ochonner pada pria abu-abu itu karena pesta sepertinya akan dimulai.
"Ya, masih ada beberapa urusan di tanah pertanian Baron Lanscouth yang harus saya urus sejak tadi pagi. Untungnya semua sudah aman-aman saja," jawab Lord Samuelson tenang.
"Sayang sekali pesta akan dimulai. Aku harus berkumpul bersama pasukan lain." Ochonner menatap Lord Samuelson lalu beralih pada Odyssey. "Bisakah aku menitipkan kakakku padamu. Dia harus diawasi atau sesuatu bisa saja terjadi."
"Ochonner...." geram Luz penuh peringatan.
"Tidak masalah, Lord de Cera. Silakan nikmati waktu Anda," jawab Lord Samuelson cepat.
Mendengar jawaban Lord Samuelson, Ochonner mengangguk setuju yang menyiratkan rasa terima kasih lalu pergi dari sana dengan langkah lebar-lebar. Berinisiatif, Luz akhirnya ikut pergi dari tempat tersebut menuju hall utama yang tentu saja dikejar Lord Samuelson dari belakang.
"Jadi ... Anda Lady de Cera?"
Luz menoleh. Sedikit kesal karena Lord Samuelson mengiyakan permintaan Ochonner yang aneh. Luz wanita dewasa yang bebas, tidak perlu baginya diawasi setiap detail seperti bayi yang baru belajar berjalan.
"Ya ... dan Anda sendiri?"
"Saya putra Baron Lanscouth, Derrick Samuelson. Pengagum Anda. Sejak kunjungan terakhir Baron Lanscouth ke manor house Thompsville tempo hari, dia menceritakan sedikit tentang Anda kepada saya," jawabnya berapi-api.
Luz meringis. Jika diingat-ingat rasanya sikap yang dia tunjukkan saat di ruang makan bukanlah sesuatu yang patut dipuji. Jika dilihat sepintas, dia malah terlihat seperti anak durhaka dan pembangkang.
Ckck, bagaimana dia bisa suka pada wanita yang hanya pernah didengarnya tanpa tahu realita. Maaf jika terkesan kasar, tapi pemuda ini polos atau justru bodoh?
"Memangnya apa yang Baron Lanscouth katakan tentang saya?"
"Anda adalah pribadi yang jujur, Baron Lanscouth berkata bahwa dia bisa melihat kejujuran itu dibalik mata Anda yang tidak pernah gentar. Saudari busuk Anda selalu merasa hebat, tapi Anda bisa membalasnya dengan elegan. Itu yang membuat saya merasa salut dengan Anda!"
Luz mengangguk pelan untuk menjawab ucapan Lord Samuelson. Mereka semakin masuk berjalan beriringan sampai tiba di depan pintu ganda yang tertutup rapat. Tempat pesta diadakan.
"Untuk menghindari desas-desus yang akan menyusahkan Anda ke depannya, saya akan mengawasi Anda dari jauh. Kita berpisah di sini saja, Anda bisa masuk lebih dulu."
"Tidak perlu menjaga saya. Tidak ada monster ataupun zombie di dalam sana jadi tidak perlu khawatir. Ochonner memang berlebihan, tapi aku bisa menjaga diri," jawab Luz yang keberatan.
Lord Samuelson sempat bingung apa itu monster dan zombie. Tanpa mendengar jawaban Lord Samuelson, Luz membungkuk sedikit lalu pergi dari sana. Masuk berbaur di antara bangsawan yang lain.
Lord Samuelson hanya bisa menatap punggung wanita itu berjalan pergi lalu menghela napas. Ia menyentuh dadanya yang sempat berdegup kencang. Mengikuti langkah Odyssey yang semakin menjauh, begitu juga dengan hatinya yang kembali mereda.
Perasaan yang ia rasakan berbeda. Derrick Samuelson tidak pernah menemukan perasaan yang sama saat dia bersama wanita lain. Benar kata Baron Lanscouth, pesona Lady de Cera mampu membius hingga jantungnya sempat kelebihan fungsi.
Ini pertemuan pertama mereka, tapi memori sore ini tidak pernah lepas dari ingatan Lord Samuelson. Saat pria itu tiba di mansion, parasnya tidak lelah tersenyum-senyum sendiri sampai membuat heran para pelayan yang melihat tingkah kasmaran-nya.
...----------------...
Setelah acara penobatan Grand Duke of Brighton yang disisipkan gelar Major General di depan namanya, pesta berlangsung meriah seperti pesta di istana pada umumnya. Ribuan kandelir cantik menghiasi sekeliling hall yang dipenuhi pasangan berdansa diikuti alunan musik yang membuat Luz menguap beberapa kali di kursinya. Membosankan. Sepertinya pergi ke luar istana lebih baik.
"Halo."
"Ya?"
"Aku Lady Sierra Avistasius, putri bangsawan Earl of Avistasius." Ia bergabung lalu mengambil minuman yang tersedia. "Ini pertama kalinya aku melihatmu di pesta, omong-omong siapa namamu?"
Sierra menarik kursi dan duduk di samping Luz yang mulai berfirasat tidak baik. Sekedar informasi, tidak semua bangsawan bisa dipercaya.
"Lady de Cera, panggil saja seperti itu," jawab Luz singkat.
"Oh, putri Marquis. Peringkat Anda di atas saya rupanya, maaf." Sierra segera memperbaiki kesopanannya. "Anda hanya minum air lemon?"
"Aku tidak ingin merusak pesta dengan meminum sampanye," Luz mencomot sebuah kue di atas nampan dan memasukkannya ke dalam mulut. "Hm, enak. Apa nama kue ini?"
Sierra tersenyum paksa. Argh, dia tidak suka basa-basi andai Crystal Lady tidak menyuruhnya membawa Odyssey ke taman.
"Sebenarnya ada banyak yang ingin saya bicarakan dengan Anda tapi sepertinya tidak cocok jika itu di bahas di sini." Sierra menyapu pandangannya ke sekeliling ditambah ekspresi resah. "Apakah Anda tidak keberatan jika kita bicara di taman?" ajaknya langsung.
Luz tertarik. Sejak tadi dirinya memang ingin angkat kaki dari ruangan super formal ini andai dia bisa mengabaikan kesopanan. Tapi melihat Lady Avistasius mengajaknya, kenapa tidak. Ini kesempatan.
"Tidak buruk. Ayo, lagi pula udara di sini mulai pengap."
Diam-diam Sierra tersenyum. Siapa sangka jika rencananya akan berhasil semudah ini?
"Lewat sini."
Sierra memimpin jalan menuju pintu timur istana. Setelah mereka keluar, pintu tersebut kembali di tutup dan alunan musik merdu yang meriah teredam hingga suasana senyap seperti malam-malam biasa. Dari kejauhan Luz bisa mendengar berbagai suara binatang malam yang beraktivitas.
"Ku rasa kita terlalu jauh dari pintu masuk. Memangnya apa yang ingin kau bicarakan di sini?"
"Bukan Lady Avistasius yang ingin berbicara denganmu, tapi aku."
Luz menaikkan sebelah alisnya tatkala melihat si Crystal Lady sialan keluar dari balik pohon dengan tangan terlipat di depan dada ditambah dagu yang diangkat tinggi.
"Silakan," jawab Luz seadanya.
Jujur, menghadapi manusia banyak bicara seperti Athene itu sangat membosankan. Tidak ada tantangannya sama sekali.
"Untuk apa kau berpakaian mewah seperti itu, sampah. Kau tahu, perhatian hanya untukku. Untukku! Kau tidak berhak merebutnya sedikitpun!" sentak Athene marah. "Dasar tidak tahu diri, kenapa kau tidak mati saja, hah?!"
"Sudah bicaranya?" Luz menggosok-gosok daun telinganya dengan ekspresi kesal. "Perhatian yang datang padaku, bukan sebaliknya."
"Apa maksudmu?!"
"Masih tidak mengerti juga?" Luz terkekeh geli. "Berlian tidak perlu berbuat apa-apa untuk terlihat istimewa, sama sepertiku. Sejak awal pesta di mulai aku sama sekali tidak bergaul dengan pria-pria di hall untuk merebut perhatian mereka."
"Tapi kau?" Luz berdecak sambil memonitori penampilan Athene dari atas ke bawah. "Sudah memakai gaun terlalu vulgar, ditambah memanfaatkan nama Crystal Lady untuk menggaet banyak pria yang mau menemanimu di manor house setiap hari. Apa tidak malu?"
Athene tidak bisa menjawab. Wajahnya memerah karena yang diucapkan Luz jelas-jelas benar. Tidak ada cara untuk mengelak tapi dibandingkan hal itu, ucapan Luz barusan jelas di dengar Lady Avistasius. Jika setelah ini Lady Avistasius menghindarinya karena jijik, maka Athene akan menyalahkan Luz sampai mati.
"Sekuat apapun kau berusaha tampil hebat memukau, kharisma milikmu akan padam saat berhadapan denganku. Sampah walau dibuat dekorasi semewah apapun nilainya masih jauh di bawah berlian. Sampai di sini apa kau mengerti?"
Luz hampir beranjak, tapi dia urungkan. "Ah, satu lagi. Jangan lupa ucapakan selamat tinggal pada gelar Crystal Lady. Karena sebelum tiga puluh hari, nama itu akan menjadi milikku," ujar Luz memberi peringatan keras.