Sleeping Beauty Wants The Throne

Sleeping Beauty Wants The Throne
47. Giselle Adalah Kuncinya



"Cari tahu kebenarannya dari orang terdekat Putra Mahkota. Dengan begitu informasi yang akan kita dapatkan tidak perlu diragukan."


Alastair kembali teringat akan ucapan Louis George minggu lalu saat mereka kembali bertemu untuk mendiskusikan masalah kiriman-kiriman aneh dari istana ke dermaga.


Dari data yang didapat selama ini, Alastair menyimpulkan bahwa Evandre memiliki banyak anak buah yang diam-diam menculik anak-anak untuk dijual ke luar Sormenia dalam keadaan hidup-hidup. Ah, tidak. Bukan seperti itu. Maksudnya keberuntungan.


Ya, manusia mana yang bisa bertahan lama tinggal di dalam kotak kayu yang tertutup rapat?


Setelah mengetahui kekejaman tersebut, Alastair membentuk pasukan khusus yang dijadwal untuk berjaga bergilir. Dia tidak tahu kapan para penculik keji itu akan beraksi, untuk itu Alastair banyak meletakkan orang-orangnya di sekitar taman dan pasar. Seluruh rakyatnya pun diimbau untuk menjaga anak-anak mereka agar lebih ekstra. Sejauh ini, tidak ada lagi kasus penculikan di Brighton yang terdengar.


Alastair menyapukan pandangannya saat turun dari kereta kuda. Kali ini dia sudah siap dengan setelan hitam lengkap dengan segala macam atribut. Pria tersebut tampak gagah saat memasuki hall utama. Dari jauh, musik klasik sudah terdengar mengisi suasana yang semakin ramai itu.


"Rex of Royale, Major General Grand Duke of Brighton Alastair Ephraim la Empyrean!"


Semua orang tentu tidak asing dengan nama panjang yang baru saja disebutkan penjaga tersebut. Alastair la Empyrean, seorang yang dulunya adalah Putra Mahkota sebelum raja terdahulu wafat itu, akhirnya mau menginjakkan kakinya di debutante setelah sekian lama.


Sebenarnya Alastair ke mari untuk mencari informasi, bukan untuk mencari istri.


Diam-diam para ibu-ibu sosialita merapat. Membicarakan Alastair yang sangat berpotensi mengangkat nama baik keluarga mereka jika bisa mengangkat pria itu menjadi menantu.


Wanita muda tak kalah saing. Buktinya sekarang sudah ada lima orang wanita dengan gaun warna-warni tampak mendekati Alastair dengan wajah yang berusaha dilembut-lembutkan.


"Aku tidak menyangka bisa bertemu Grand Duke di sini," ucap salah satunya sambil memainkan rambut gelapnya yang digerai jatuh sampai ke punggung.


"Apa Grand Duke akhirnya berniat mencari istri?" Tanya yang lain lalu tersipu. "Jika memang begitu, kenapa tidak memilih diriku saja, Grand Duke?"


Omongan mereka yang bagi Alastair seperti dengungan lebah itu hanya dianggap angin lalu. Alastair mengalihkan pandangannya ke arah lain. Di salah satu kursi wallflower, dia melihat Luz cantik tengah duduk sendirian seperti orang yang kesepian di tengah keramaian.


Alastair berniat menghampiri namun tak lama wanita bergaun krim tampak menghampiri Luz terlebih dahulu sehingga Alastair mengurungkan niatnya.


Setidaknya Luz sudah memiliki teman. Dia tidak perlu khawatir.


Tak jauh dari deretan wallflower, Alastair menemukan Duke of Lancess, Louis George sedang bersama empat orang wanita yang mengelilinginya. Seolah memiliki insting yang tajam, pria itu ikut menoleh ke arah Alastair lalu memberikan kode yang langsung ia pahami.


Menoleh lah ke arah jarum jam dua!


Di arah yang Louis maksudkan, Alastair melihat wanita yang sudah mereka jadikan target. Putri Giselle la Empyrean, sepupu perempuan Alastair yang kini sedang mengobrol dengan para ladies.


Hanya sebagian orang yang tahu bagaimana hubungan Putri Giselle dan Putra Mahkota Evandre yang sulit. Menurut rumor, mereka pernah berbagi ranjang bersama. Namun sayangnya kebijakan baru dari Raja Izaikhel yang melarang sesama saudara menikah membuat keduanya sempat frustasi. Tidak ada yang salah dari kebijakan Raja, sebab pernikahan antar saudara bisa memperbesar kemungkinan anak terlahir dalam keadaan cacat.


Itulah mengapa Evandre berakhir menjadi haus akan wanita dan Giselle yang asal memilih calon suami. Teman masa kecilnya yang dijadikan pelarian. Tapi tak lama ini Giselle sedang mengincar Alastair yang lebih tampan dan kaya. Sayangnya pria berbola mata topaz itu tidak mudah didekati.


Intinya kedua orang itu sama-sama mudah mencintai banyak pasangannya. Ya, sama seperti ayah mereka yang bisa mencintai ratunya dan kakak iparnya sekaligus. Ratu Monetta dan mantan Ratu Isabelle, Ibu Alastair.


Jika Evandre dan Giselle memang sedekat itu, pasti setidaknya Giselle mengetahui sesuatu ....


"My Lord, apa Anda mendengar kami?"


Lamunan Alastair pecah tatkala salah seorang lady menghampiri dan berani menyentuh lengannya. Alastair menyentak tangan wanita itu dengan gerakan lembut. "Maaf, ladies. Aku ada urusan lain, permisi."


Alastair mendengar desah kecewa dari belakangnya namun pria itu tidak peduli dan terus berjalan mendekati Putri Giselle. Awalnya wanita itu tidak menyadari kehadirannya. Tapi setelah salah satu temannya berbisik, sontak matanya langsung mengarah kepada Alastair dengan tatapan berbinar.


"Grand Duke!"


Giselle lekas berdiri dan menghampiri Alastair yang tidak jauh dari tempatnya. Alastair meraih tangan Giselle yang tertutupi sarung tangan lalu mengecupnya, memperlakukan wanita itu sama seperti wanita terhormat lain.


"Sebentar lagi dansa akan dimulai, Your Highness. Apakah Anda mau berdansa denganku?"


Tanpa memikirkan apa-apa, Giselle mengangguk setuju. Bertepatan dengan musik klasik putaran pertama berakhir, maka tibalah waktunya untuk berdansa.


Kali ini gesekan biola terdengar lebih lembut. Alastair menarik tangan Giselle ke tengah-tengah hall, sebagai pasangan pertama yang melakukan dansa. Sekali lagi, Alastair melirik ke arah kursi wallflower. Di sana Luz masih sibuk dengan tiga orang wanita yang tampak beradu mulut, berdiri tepat di depannya.


Love, tatap ke arahku sekarang. Apa kau tidak merasa cemburu?!


Namun penantian Alastair tidak kunjung datang. Justru Luz terlihat berdiri sambil melayangkan ucapan yang —sepertinya— kurang enak didengar dilihat dari gerak-gerik wanita bergaun krim yang menunduk hormat lalu pergi.


"Grand Duke, sedang memperhatikan apa?"


Perhatian Alastair kembali kepada Giselle yang menatapnya ingin tahu.


"Tidak perlu dipusingkan, Your Highness." Alastair melemparkan senyum tipis. "Bagaimana kabar Anda dan Putra Mahkota akhir-akhir ini?"


"Mengapa seperti itu?"


Alastair, salah satu orang yang termasuk tahu akan hubungan rumit Evandre dan Giselle itu sudah mendapat kepercayaan.


"Putra Mahkota sepertinya tertarik pada wanita lain," jawabnya jujur. Tak pelak, manik yang biasanya selalu ceria itu perlahan sendu. "Setiap kali aku menghampirinya, dia selalu beralasan sibuk."


"Itu karena pasangan sekaligus saudaramu itu sedang mengincar Crystal Lady!"


Giselle kembali menatapnya. Seolah tahu isi hati Alastair, ia kembali berucap, "Apa Anda mengetahui apa yang sedang dia sembunyikan dariku? Kalian sama-sama pria, pasti pemikiran kalian sama."


"Aku tidak sama dengan Putra Mahkota, Your Highness." Alastair mencoba bersabar. Enak saja, dirinya yang bersih ini disamakan dengan Evandre yang suka keluar masuk rumah bordil. "Mungkin Putra Mahkota mempunyai kesibukan lain?"


"Ah, ya. Lagipula untuk apa aku penasaran dengan perubahan sikapnya. Toh, aku sudah menyukai Grand Duke." Giselle memberikan senyuman termanisnya. "Dan kau benar, akhir-akhir ini Evandre terlihat lebih sibuk."


"Benarkah, apa Putra Mahkota sedang berencana untuk membuat sesuatu untuk Sormenia?"


"Dia sering pergi ke Lancess bersama Cornelius entah untuk apa. Dia hanya pernah bercerita bahwa di sanalah gudang uangnya tersimpan," jawab Giselle tanpa beban lalu tertawa lembut. Tidak menyadari bahwa Alastair tengah mengorek informasi darinya.


"Putra Mahkota sangat beruntung. Terlahir menjadi pangeran sekaligus orang kaya, pasti dia selalu bekerja keras untuk mewujudkan hal itu."


"Yang kita bicarakan saat ini adalah Putra Mahkota, Grand Duke. Bukan putra raja yang lain," sahut Giselle ikut merasa bangga dengan kehebatan saudaranya. "Putra Mahkota berarti penerus raja, begitu 'kan. Jadi apapun perintahnya pasti orang-orang berusaha untuk menyanggupi. Dan apa tadi, bekerja? Huh, dia hanya perlu berbicara sebentar dan pekerjaannya akan langsung dikerjakan oleh Cornelius."


Jadi tangan kanan Evandre ikut andil dalam penculikan anak-anak Sormenia?


"Aku memiliki kenalan di Lancess. Jika Putra Mahkota mengalami kesulitan, dia bisa meminta tolong kepada temanku itu," tawar Alastair yang sekali lagi mampu memancing Giselle untuk membongkar rahasia Evandre.


"Dia tidak akan mengalami kesulitan. Putra Mahkota memiliki banyak markas di sana dan rencananya pelabuhan Lancess sebentar lagi akan di belinya dari Duke Lancess. Kita tinggal menunggu kabarnya saja," jawab Giselle ringan.


Alastair merasa informasi yang dia butuhkan sudah cukup. Akan mencurigakan jika dirinya terus-terusan menanyakan Putra Mahkota yang notabenenya tidak bersama mereka. Setelah itu, pembicaraan yang Giselle lemparkan hanya disambut seadanya. Dan jika boleh, Alastair sangat mengharapkan musik selesai agar mereka bisa berpisah.


Tak lama permintaan Alastair seolah terkabulkan. Musik putaran kedua telah selesai. Pria itu melepaskan tautan tangannya walau Giselle menanggapi hal itu dengan berat hati.


"Senang bisa berdansa dengan Anda, Your Highness." Alastair menunduk, Giselle tentu mengikutinya dengan sedikit mengangkat ujung gaun.


"Apakah kita bisa berdansa bersama lagi, Your Grace?"


Alastair terdiam, namun selanjutnya ia tersenyum. "Tentu saja. Lain kali."


Setelah selesai berpamitan dengan sang putri, Alastair meminta izin untuk menghadap Putra Mahkota yang saat ini masih berada di ruang kerjanya.


Setelah kembali ke tempat duduknya, Putri Giselle mendapatkan banyak ucapan selamat atas kesuksesannya menarik Grand Duke ikut berdansa di hall. Giselle tersenyum lebar. Seraya mengarahkan tatapannya kepada seorang wanita yang tampak murung di salah satu kursi wallflower, dia berbicara penuh kemenangan di dalam hatinya sendiri.


Lihatlah, Crystal Lady. Grand Duke saja bahkan lebih memilih diriku dibandingkan dirimu. Jadi jangan pernah bermimpi untuk mendapatkan Grand Duke-ku terlebih lagi Putra Mahkota!


Dan ya, sebenarnya Giselle tahu apapun yang sudah Evandre lakukan. Termasuk perasaannya kepada anak kedua Marquis Thompsville itu.


Selanjutnya, Giselle tidak akan membiarkan wanita itu merebut kedua prianya!


......................


Halo readers!


Sebagai permintaan maaf karena jarang update akhir-akhir ini, bab 47 aku up hari ini juga. Semoga suka dan maaf juga buat kalian yaa. Lain kali author berusaha lebih sering update lagi~ semangat!!🤯


Btw, itu Giselle kayaknya lebih cocok melihara Harem😂


Siapa jagoan kalian? Silakan Jawab di kolom komentar~


• Luz - Alastair


• Luz - Evandre


• Giselle - Alastair


• Giselle - Evandre


• isi sendiri


See u next episode👋😆