Sleeping Beauty Wants The Throne

Sleeping Beauty Wants The Throne
56. Berita Duka di Sormenia



Cornelius yang biasanya akan selalu santai dalam menghadapi setiap masalah, kini melangkahkan kakinya lebar-lebar menuju lapangan pelatihan. Maniknya memonitori seluruh penjuru. Setelah menemukan Evandre yang sedang berlatih pedang dengan salah satu jenderal, tanpa menunggu lama pria itu segera menghampirinya.


"Your Highness."


Mendengar panggilan itu, Evandre segera menoleh. Ia melambaikan tangan pertanda bahwa latihan dihentikan untuk sementara dan lawannya —sang jenderal pun mengangguk.


"Apakah ada hal yang sangat penting sampai kau tergesa-gesa begini?"


"Sulit mengungkapkannya. Tapi, Your Highness ... pagi ini His Majesty ditemukan tak bernyawa oleh para pelayan yang biasa membantunya membersihkan diri."


"Apa maksudmu, siapa pelakunya?!"


"Belum ditemukan. Sekarang Anda adalah pemimpin selanjutnya, tolong berikan saya perintah," sahut Cornelius gusar. Siapa yang berani membunuh raja, ia tidak akan segan-segan untuk menyiksanya sampai puas.


"Ini perintah pertamaku." Evandre menatap bawahannya itu. Bengis. "Tangkap orang terakhir yang bersama Yang Mulia Raja."


"Tetapi orang terakhir yang bersama Yang Mulia adalah Lady Clausie, selir kesayangannya," jawab Cornelius bimbang. "Apakah kita harus menginterogasinya dahulu sebelum menangkapnya?"


"Keadilan tetaplah keadilan. Tidak peduli pelakunya pria ataupun wanita, semuanya harus tetap dihukum!"


"Baik, Your Highness."


"Siapkan tiang gantung. Besok pagi kita akan mengeksekusi wanita murahan itu." Di dalam hatinya, Evandre bersorak senang. "Siapa saja yang sudah mengetahui hal ini?"


"Hanya beberapa orang pelayan, saya, dan sekarang Anda, putra mahkota."


"Nah, itu dia. Segera sebarkan berita bahwa His Majesty sudah wafat setelah dibunuh oleh salah satu selir senior."


Kilatan ragu muncul di benak Cornelius. "Tapi ... bukankah Lady Clausie belum terbukti bersalah. Apakah pantas jika kita menuduhnya sebelum ada bukti yang kuat. Kejadian ini bisa jadi disediakan sebagai jebakan untuknya. Saya harap Your Highness bisa mengusut sampai tuntas sebelum mengumumkan hukuman Lady Clausie di hadapan publik."


Mendadak ekspresi Evandre berubah. "Kau tidak mempercayaiku lagi, begitu?"


Cornelius cepat-cepat membungkuk. "Hamba tidak berani!"


"Kalau begitu cepat lakukan apa yang aku perintahkan." Evandre mengibaskan tangan. "Sore ini, aku sendiri yang turun tangan untuk mengungkap kebenarannya dari Lady Clausie. Wanita rubah itu ... sekalipun tidak akan aku lepaskan!"


Cornelius mengangguk. "Kalau begitu saya pergi." Setelah mengatakan hal tersebut, Coene lalu bangkit berdiri, kemudian menghilang di antara lorong-lorong istana yang saling berhubungan. Meninggalkan Evandre dibelakang bersama dengan tawa kemenangannya.


"Setelah beberapa hari ini, akhirnya ada juga berita bagus bisa ku dengar." Ia terkekeh kecil. "Ah, Lady Clausie. Kau sebenarnya tidak mempunyai kesalahan terhadapku, tapi kebetulan sekali kau ada di tempat kejadian. Jadi maaf, kali ini aku meminta izin untuk menjadikanmu kambing hitam. Sekali-sekali tidak masalah, kan?" ujarnya dengan seringai keji.


Orang-orang yang tidak lagi berguna memang harus disingkirkan.


...----------------...


Berita tentang kematian sang raja menyeruak ke seluruh Sormenia bagai air bah yang tidak dapat dihalang-halangi. Semua orang berkabung, toko-toko ditutup dan semua kegiatan ditiadakan. Kebetulan Alastair sedang berada di salah satu rumah mewahnya, mansion barat. Mansion yang pernah Luz inginkan dan Alastair memang berniat untuk memberikan bangunan besar itu untuk calon istrinya.


"Alastair, aku dengar Yang Mulia Raja sudah wafat. Apakah itu benar?"


Alastair mengangguk. "Beritanya sudah menyebar dimana-mana. Sepertinya kita harus segera ke ibukota untuk menghadiri pemakaman His Majesty."


"Terlalu tiba-tiba. Seperti ada yang tidak beres." Luz mengusap dagu. Bak benang-benang yang saling terhubung, titik terang langsung ia dapatkan. "Apa pendapatmu mengenai Putra Mahkota?"


"Kau mencurigainya?"


"Dilihat dari banyaknya keuntungan yang bisa Putra Mahkota dapatkan setelah kejadian ini, membunuh ayahnya sendiri bukanlah hal mustahil."


"Calon istriku memang cerdas. Kenapa masih berdiri di sana? Kemari dan duduklah di sampingku." Alastair menepuk sofa kosong tepat di sebelahnya dan ajakan tersebut tentu tidak Luz sia-siakan.


"Katakan, Grand Duke. Apa saja yang kau ketahui tentang kejadian ini?" Luz sudah duduk di sampingnya. Manik amethyst itu lagi-lagi menatap penuh minat pada topik pembicaraan mereka.


"Hm, aku tidak mengetahui apa-apa. Bukankah kita berdua sedang bersama, kenapa harus memikirkan masalah orang lain?" goda Alastair lalu ia terkekeh geli saat mendapati wajah Luz tertekuk masam akibat tidak puas dengan jawaban yang ia berikan.


"Kematian Yang Mulia adalah masalah besar. Putra Mahkota sudah berani bertindak sejauh ini. Sebagai pemimpin Brighton, apakah tidak seharusnya kau memberinya peringatan?"


Alastair melirik sebentar lalu tersenyum tipis. "Aku akan menceritakan segalanya. Tapi kau harus memenuhi satu syarat."


"Apa itu?"


"Setelah mengetahuinya, tolong jangan pernah berpikir untuk berpaling meninggalkanku."


Kedua pasangan itu saling tatap. Alastair mencoba meyakinkan Luz, sedangkan gadis itu justru berusaha menyelam di dalam gelapnya manik Alastair yang ternyata menyimpan banyak misteri.


Alastair. Pria itu seperti samudra yang tenang. Tidak ada yang bisa mengetahui sedalam apa dirinya.


"Aku tahu kau tidak akan bertindak jika tidak ada seseorang yang berani mengusik ketenangan mu lebih dulu."


Kalimat yang diucapkan Luz terkesan ambigu. Alastair mengangguk, ia mengerti bahwa gadis putih ini memiliki rasa percaya yang tinggi terhadap dirinya.


"Mereka hanyalah bonekaku, Love. Kematian Yang Mulia melalui tangan putranya sendiri sudah menjadi rencanaku sejak awal." Alastair menghela napas. "Ini baru permulaan. Sejak Raja Derrick dan Ratu Isabelle wafat, mereka tidak pernah mengizinkan seulas senyum-pun menemaniku. Sehari setelah pemakaman, mereka memakzulkan diriku dari jabatan putra mahkota. Dan sekarang setelah memiliki kekuasaan, biarkan aku datang dan menjadi malaikat maut untuk mereka. Bukan kebahagiaan saja, nyawa dan kedudukan mereka. Semua. Akan ku ambil kembali."


Alastair memperhatikan gadis di sebelahnya. "Tindakanku ini ... menurutmu tidak salah, kan?"


Luz menahan napas saat tahu bahwa di balik kematian orang nomor satu di Sormenia ternyata berasal dari campur tangan Grand Duke. Kehidupan Alastair di masa lalu bisa dikatakan jungkir balik. Dari putra mahkota yang tinggal di istana menjadi anak biasa yang tinggal di kamp perang. Terlunta-lunta tanpa ada yang melindungi ... Luz sendiri tidak yakin bisa bertahan hidup jika berada di posisi Grand Duke remaja.


"Lakukan saja hal yang bisa menenangkan hatimu." Luz meraup wajah pria itu menggunakan kedua telapak tangannya yang lentik. "Takhta, kekayaan, dan semua hal yang berada di istana adalah milikmu sebagai penerus yang sah. Tidak perlu repot-repot meminta izin untuk mengambilnya kembali."


"Love, kau selalu mengerti diriku." Alastair menyentuh tangan Luz yang membingkai wajahnya. Pria itu melukiskan senyum hangat. "Bersabarlah sebentar lagi. Di hari pernikahan kita, bukan hanya menjadi ratu, kau akan menjadi permaisuri pertama dalam sejarah Sormenia."


Itu adalah janji Alastair sebagai hadiah untuk Luz yang bersedia menemaninya selama ini.


Dia tidak akan main-main. Karena setelah Evandre naik takhta, ia akan memulai pemberontakannya.