Sleeping Beauty Wants The Throne

Sleeping Beauty Wants The Throne
22. Wanita yang Menarik Perhatian Grand Duke



"Astaga, bangun!"


Samar-samar Luz merasa seseorang menepuk-nepuk pipinya. Awalnya terasa lembut, seperti seorang ibu yang menimang bayinya. Tapi lama-kelamaan tepukan itu semakin keras dan mungkin sekarang pipinya sudah berubah kemerahan.


"Kenapa sampai pingsan di sini, ya Tuhan."


Walau matanya masih berat, Luz akhirnya terpaksa membuka mata. Tidurnya terganggu dan dia berjanji akan memarahi siapapun yang berani membangunkannya.


"Grand Duke?!" Luz melotot lalu terduduk. Ia memegangi pipinya yang —sesuai prediksi— sudah seperti kepiting rebus. "Apa yang kau lakukan, kau menamparku?!"


Alastair mengerjap. "Anda tidak pingsan?"


"Tidak ada sejarahnya aku pernah pingsan." Luz menatapnya kesal. "Lihat, pipiku pasti sudah tertempel cap tanganmu itu!"


Alastair berdehem, "Maaf, lady. Yang tadi itu hanya refleks."


"Refleks yang bar-bar."


"Aku hanya tidak ingin kejadian beberapa minggu yang lalu terulang, lady."


"Aku tidak mati!" Luz tahu bahwa Alastair mengungkit masalah kasus bunuh diri Odyssey. "Apa salahnya jika aku tidur di sini?"


"Ayo, Grand— ya ampun, Odyssey. Apa yang kau lakukan di situ?"


Ochonner berdiri di ambang pintu lengkap dengan setelan hangat karena sudah memasuki awal musim gugur. Wajahnya menampilkan ekspresi syok saat menyaksikan Luz duduk di bawah bangku dengan kepala yang melongok keluar. Catat, di bawah bangku.


"Kakakmu tidur di bawah bangku taman, Chonner," jawab Alastair mewakili. Ia hanya bisa geleng-geleng kepala. "Sebenarnya dia ini berasal dari mana?"


"Dari masa depan," jawab Luz jujur tapi mereka tidak menghiraukannya. "Yang tidur, 'kan, aku tapi kenapa malah kalian yang ribut?"


"Kenapa kau tidur di sana?" Ochonner hampir kehilangan muka di depan pimpinannya karena perbuatan Luz. "Puluhan kamar masih kosong!" tunjuknya pada sebuah bangunan besar di sisi lain manor house.


"Udara di sini nyaman tapi terlalu terik untuk tidur siang," sahut Luz tanpa merasa bersalah, tanpa merasa malu. Dia memakai gaun yang tebal dan terbiasa memakai air conditioner, jadi udara di sini rasanya sudah sesuai untuk tidur siang. "Jadi aku memutuskan tidur di sini. Tidak kotor, kok."


"Masuk ke kamarmu, kak."


"Hei, apa tadi. Kau menyuruhku, begitu. Ingat, siapa yang kakak dan siapa yang adik!"


"Tidak ada hubungannya, cepat masuk dan bersihkan dirimu."


"Nyenyenyenyenye." Luz jengah tapi dia tetap berdiri walau sambil bersungut-sungut. Mendengus sinis, lalu melewati Alastair dan Ochonner begitu saja.


Sebenarnya setelah Marquis Thompsville mengganggunya sewaktu beristirahat di bawah pohon apel tadi, Luz pergi dalam keadaan mengantuk sehingga dia mengambil sembarang jalan dan menemukan tempat ini dekat jendela ruang tamu. Kantuknya sudah tak tertahan. Melupakan Rose yang mungkin saja kelimpungan mencarinya, Luz memutuskan untuk tidur siang sebentar. Hanya lima menit, sepertinya. Sebelum Grand Duke datang dan mengganggu.


Tadi Marquis, sekarang Grand Duke. Dua orang pengganggu yang sama-sama menyebalkan.


"Ochonner, kenapa kita tidak mengajak Lady Odyssey sekalian?"


Luz cepat-cepat berbalik sementara Ochonner menatap horor Grand Duke yang memasang wajah tak berdosa. Habis sudah jika si biang masalah yang satu ini ikut serta.


"Kalian ingin mengajakku? Memangnya kalian akan mana?" tanya Luz antusias.


"Kami ingin ke pasar, apa Anda mau ikut?"


Ochonner menatap Alastair dengan tatapan serba salah. "Anda yakin mengajaknya?"


"Pasarnya sedikit jauh, apa tidak masalah?"


"Walaupun pasar itu berada di Mars, aku sama sekali tidak masalah!"


Krik. Krik.


Mars? Apa itu Mars. Pelajaran astronomi tidak ada dalam pelajaran di sini, mereka tidak tahu.


Grand Duke ingin menanyakan lebih lanjut tapi dengan cepat Luz memotongnya. "Kalian tunggu di sini. Aku akan kembali dalam sepuluh menit."


Setelah mengucapkan hal itu, Luz masuk ke dalam manor house dengan hati bahagia. Kurang lebih seminggu memikirkan cara untuk mendapatkan Crystal Lady, setidaknya dia bisa libur sebentar untuk mendinginkan otaknya yang panas.


"Sepuluh menit wanita sama dengan dua jam lebih," ucap Ochonner lalu memutuskan untuk duduk di bangku yang tadi Luz tinggalkan.


"Benarkah?" Grand Duke tercengang. Keterlambatan macam apa itu, sama sekali tidak ada sejarahnya. "Apakah ada riset resmi mengenai hal itu?"


"Tidak ada riset resmi, Grand Duke." Ochonner bersandar lalu memejamkan mata. "Jika Anda lupa, semua saudara ku perempuan. Banyak pengalaman yang ku ambil dari mereka tentang betapa ribetnya hidup bahkan keluar kamar pun mereka harus berdandan."


Grand Duke mengangguk pelan. Semua hal dirinya unggul. Dari politik, militer, hukum, bahkan *****-bengek persenjataan hanyalah hal yang kecil baginya. Tapi jika urusan wanita ... ckckck, jangan ditanya. Grand Duke tidak mengerti sama sekali.


"Tapi apa tidak masalah mengajaknya ke sana?" tanya Ochonner lagi risau.


"Kenapa kau tidak mempercayai kakakmu sendiri, dia tidak akan melukai orang lain," jawab Alastair seakan tidak peduli.


"Tidak, bukan begitu. Aku percaya, hanya saja ..." Ochonner mengacak-acak rambutnya. "Ah, sudahlah. Terserah."


"Jangan melarangnya seperti itu. Wanita juga manusia yang perlu hiburan, tidak mendekam di dalam manor saja," ejek Alastair lalu berdecak. "Lain kali cobalah berkencan sesekali agar kau bisa memahami perasaan wanita. Umurmu semakin bertambah, tidak ada yang tahu kapan dirimu akan habis usia. Sangat mengenaskan jika mati tanpa memiliki penerus."


Ochonner mengernyit. Walau Alastair adalah atasannya, tapi itu tidak menghalangi Ochonner untuk membalas ucapannya yang sangat tidak tahu diri.


"Maaf, tapi ucapan itu lebih cocok ditujukan untuk Anda. Selisih umur kita, jika Anda lupa itu sembilan tahun. Jika ingin memberi nasihat, maka berkaca lah, Grand Duke."


Alastair tidak tersinggung justru dia malah tertawa, "Untuk apa berkaca, toh aku sudah mendapatkan calon Grand Duchess-ku."


Ochonner hampir tersedak liurnya sendiri. Dia menoleh dengan mata melotot, sepanjang sejarah pengabdiannya, Grand Duke tidak pernah sekalipun membawa wanita ke mansion miliknya. Ochonner tidak pernah lengah, dia yakin jika sekarang Grand Duke sedang mengada-ada.


"Jangan bercanda!"


"Aku serius." Ia menampilkan senyum miring, "Aku berniat menjadikan kakakmu yang unik itu sebagai Grand Duchess-ku. Katakan Ochonner, kira-kira apa dia bersedia menjadi istriku?"


Rahang Ochonner hampir jatuh. Dia mengerjap penuh ketidakpercayaan. Dari sekian banyak wanita terhormat yang mengantri, pilihan Grand Duke tentu saja berada di luar ekspektasi. Bukan wanita bermartabat dan glamor yang dia incar, melainkan wanita yang suka asal bicara dengan tingkah aneh?


"Anda mencari teman hidup atau teman bermain?" tanya Ochonner lagi, memastikan.


Alastair menatapnya tajam. "Aku merasa aneh, kenapa kau bersikap seakan tidak percaya padaku begitu?"


"Bukan masalah percaya atau tidaknya, tapi ...."


Ochonner tidak bisa membayangkan jika Odyssey menjadi Grand Duchess, istri atasannya. Pasti wanita itu semakin sombong. Sudah terlahir menjadi kakak ditambah status yang naik signifikan, pasti Odyssey dengan senang hati akan menindas Ochonner sampai dia puas.


Ya Tuhan!